Share

Bab 59

Auteur: Atieckha
last update Date de publication: 2026-05-06 14:51:36

Rasa sakit di ulu hatinya begitu terasa menyesakkan. Kabar dari rumah sakit soal kondisi Aurora yang terus semakin memburuk menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. Tidak ada jalan lain, ia harus segera mendapatkan dana besar untuk operasi kedua putri kecilnya. Meski harga diri harus diinjak-injak sampai ke titik terendah, Laura sudah bulat tekad untuk menemui William. Ia rela memenuhi syarat kejam pria itu untuk menjauh dari Aurora, asalkan nyawa anaknya bisa tertolong dan Aurora segera sehat.

L
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 69

    Jika di rumah, kedua orang tuanya sedang sibuk-sibuknya menyambut para pelayat serta menjawab berbagai macam pertanyaan terkait meninggalnya Aurora, di rumah sakit William sedang berjuang untuk membujuk Laura agar mau bicara padanya.“Sayang, mau makan apa?” tanya William lembut. Suaranya kembali terdengar seperti William yang dulu sangat mencintai Laura sebelum isu perselingkuhan itu menghancurkan rumah tangga mereka.Laura tetap diam. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Bahkan dia memilih memejamkan matanya ketimbang bersitatap dengan sang suami.William menarik napas berat, dia bingung harus gimana membujuk istrinya. Tiba-tiba pintu ruang rawat inap Laura terbuka. Brian yang datang bareng Jessica. Mereka datang sudah dengan pakaian biasa bukan pakaian kerja. William melihat Brian membawa banyak makanan sementara Jessica membawa parcel buah. Tapi keduanya tidak ada menyapa William atau memberi salam saat masuk ke ruangan Laura. Mereka seakan menganggap William tidak

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 68

    William hanya bisa terdiam, tangannya masih melingkar erat pada jemari Laura yang terasa sangat dingin. Ia tidak berani memutus pandangan, meski matanya mulai terasa panas melihat betapa redupnya sorot mata wanita di hadapannya itu. Tidak ada binar yang tersisa, hanya ada sepasang mata yang menatapnya dengan kehampaan yang dalam.Laura tetap membisu. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menarik tangannya, tapi juga tidak memberikan balasan sedikit pun pada genggaman William. Ia membiarkan suaminya tetap di sana, menjadi saksi atas kehancuran yang terpancar dari wajahnya yang pucat pasi. Keheningan di antara mereka terasa begitu jelas, seolah waktu sengaja berhenti untuk memberi ruang bagi luka yang tak kasatmata.Tanpa suara, air mata mulai mengalir dari sudut mata Laura. Butiran bening itu jatuh satu per satu, melewati pelipis dan menghilang di balik bantal yang ia tiduri. Tidak ada isakan, tidak ada bahu yang terguncang, Laura hanya menangis dalam diam, membiarkan rasa sakitnya me

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 67

    Aldo bergegas menuju rumah sakit dengan berkas-berkas penting yang sudah tuntas ia kerjakan. Langkahnya terhenti tepat di lorong depan kamar rawat saat melihat William baru saja tiba dan berdiri mematung di ambang pintu."Sebentar ya, Aldo. Saya lihat istri saya dulu," ucap William dengan suara yang terdengar sangat lirih."Baik, Pak," jawab Aldo patuh.Aldo tahu betul, untuk urusan pekerjaan, William lebih nyaman dipanggil 'Pak', berbeda dengan para pelayan di rumah yang tetap memanggilnya 'Tuan'. Aldo pun memilih duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat inap Laura, membiarkan majikannya mendapatkan waktu pribadi di dalam sana.William melangkah masuk dengan perasaan penuh luka dan penyesalan. Di tangannya ada setangkai mawar, bunga yang selalu bisa membuat mata Laura berbinar dulu. Ia mendekati ranjang, lalu mencium kening istrinya yang masih terpejam erat. Lantas ia letakkan bunga itu di samping bantal Laura."Bagaimana keadaan istri saya, Suster?" tanya William pelan, nyaris s

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 66

    “Coba kamu waktu itu gak halangin Mama untuk bertemu Aurora, mungkin saat ini Mama gak akan nyesel gini. Cucu pertama Mama meninggal dunia tanpa sekalipun Mama dan Papa melihat wajahnya,” gumam sang Mama tiba-tiba ada di samping William.“Maafkan William, Ma,” sahutnya lirih.“Udah, Ma. Jangan kayak gini, ini takdir,” sahut Papanya William pada sang istri. Tadi Mereka sudah pergi ke makam, tapi istrinya pengen balik lagi ke sini. Padahal harusnya Papanya William menemani Aldo di kantor untuk mengambil semua data yang dulunya bisa diakses oleh Paula. Mereka harus segera mengganti semua password yang terkait dengan perusahaan maupun data pribadi William.“Takdir yang dibuat orang lain. Apa itu takdir? Ini cucu pertama kita, Pa. Dia baru memakai nama Harrington setelah meninggal. Malang sekali nasibnya,” lirih Soraya. Wanita itu kembali nangis memeluk batu nisan sang cucu. Uang yang mereka miliki tidak berseri, setelah mendengar dari Brian kalau Aurora tak bisa diselamatkan karena Willia

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 65

    Sekitar jam delapan pagi William sudah menandatangani surat pengalihan kekayaannya menjadi nama Laura. Kedua orang tuanya sama sekali tidak keberatan karena itu hasil kerja William bukan warisan keluarga Harrington. Saat William masih sibuk bicara dengan pengacaranya dan beberapa tim yang dibawa pengacaranya ke rumah sakit, kedua orang tuanya memutuskan untuk ziarah ke makam Aurora. Sementara Laura masih belum bangun sama sekali. Kata dokter sih Laura baru akan bangun setelah jam dua belas siang nanti. Wajah William sangat berantakan, bahkan jauh dari kata perfect. Kondisinya saat ini seperti bukan seorang William Harrington yang terkenal sangat mengutamakan penampilannya. “Semua akan saya proses hari ini, Tuan, termasuk mencabut berkas di pengadilan,” ucap pengacaranya.“Baik, Pak. Terima kasih banyak,” balas William. Setelah itu mereka pun berpisah. William berdiri dari duduknya dan kembali menghampiri Laura di ranjang pasien. Dia membungkuk untuk bisa mencium kening dan bibir is

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 64

    William berjalan mendekati ranjang pasien. Laura benar-benar dibuat seperti orang yang tak sadarkan diri. Tubuhnya kurus, pipinya kempot, bahkan luka di pipi dan sudut bibir Laura masih tampak jelas akibat tamparan William.William kembali menangis. Dia mencium luka di wajah istrinya sambil menangis penuh penyesalan. Rasanya untuk bilang maaf saja William sudah tak pantas lagi.“Ya Tuhan, betapa jahatnya aku jadi suami dan Ayah. Sejak Laura mengandung aku selalu memperlakukannya dengan buruk. Ampuni aku, Tuhan.” William mencengkram keras rambutnya lalu membenturkan kepalanya di meja nakas. Demi apapun William menyesal. Sangat menyesal pernah menjadi manusia paling bodoh dan menjijikkan di dunia ini. Jessica datang berniat untuk memeriksa kondisi Laura karena hari ini dia langsung tugas malam di rumah sakit itu. Brian yang menempatkan calon istrinya untuk menangani Laura.“Pak William. Jangan seperti ini, Pak.” Jessica berusaha menghentikan tindakan William yang bahkan sudah membuat da

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status