Share

Dia Memilih Pergi

Penulis: Tiwie Sizo
last update Tanggal publikasi: 2023-10-31 07:44:17

Ainun masuk ke dalam kamar, meninggalkan kami semua yang sedang berada di ruang keluarga. Sekali lagi aku menatap sinis kearah pintu kamar yang dia tutup barusan. Setelah beberapa bulan belakangan berhasil mengambil hati kedua orang tuaku, lihatlah tingkahnya yang jadi semakin jumawa. Berani-beraninya dia pergi begitu saja saat aku belum selesai bicara.

"Mama Papa bisa lihat? Sekarang menantu kesayangan yang selalu kalian bela itu sudah menjadi semakin luar biasa. Memangnya salah kalau aku ingin melakukan tes DNA? Bukannya justru aku terlalu bodoh kalau percaya begitu saja pada pengakuannya. Bagaimana pun, aku sama sekali tidak ingat kejadian malam itu. Apa memang benar aku yang sudah membuatnya hamil, atau justru orang lain?" Aku berusaha setengah mati meredam gemuruh di dadaku agar nada bicaraku terdengar normal.

Mama dan Papa bergeming. Begitu pula dengan beberapa keluarga yang lain. Mereka semua yang berada di rumahku saat ini adalah orang-orang yang sudah mendorongku untuk menikahi Ainun beberapa bulan lalu. 

"Tidak salah jika kamu ingin membuktikan Farhan benar-benar putramu atau bukan, tapi tidak begini caranya juga, Arkan. Jika kamu ingin melakukan tes DNA, lakukan saja diam-diam tanpa harus mengatakannya di depan seluruh keluarga seperti ini." Papa akhirnya angkat suara. Lelaki yang selama ini sangat aku banggakan, untuk pertama kalinya aku tak senang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku sengaja. Biar dia tahu bagaimana rasanya dipermalukan. Waktu itu dia mengaku hamil anakku saat semua keluarga kita sedang berkumpul seperti ini juga, kan? Padahal dia bisa menemuiku tanpa sepengetahuan orang lain. Apa tujuannya jika tidak ingin mempermalukan dan menjebakku? Aku tidak ingin berpura-pura baik lagi, Pa. Sudah cukup selama beberapa bulan ini aku bersabar menghadapi perempuan itu," ujarku pada Papa. 

Papa hanya menghela nafasnya dan tak berkata apapun lagi, begitu pula dengan Mama. Mungkin mereka berpikir jika kata-kataku tadi ada benarnya. Selama ini mereka begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aiun. Aku sendiri heran bagaimana kedua orangtuaku ini bisa lebih percaya pada perempuan itu daripada aku, anak kandung mereka sendiri.

Tapi sekarang tidak lagi! Aku tidak akan membiarkan Ainun mengendalikan Mama dan Papa seperti sebelumnya. Akan kubuka mata semua orang agar tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Jika Ainun bersikeras tak mau melakukan tes DNA, berarti benar jika selama ini dia telah menipuku dan seluruh keluargaku. Anak yang dilahirkannya itu bukan anakku, tapi anak orang lain.

"Mbak Ainun itu perempuan baik, Mas. Aku tidak percaya kalau Mbak Ainun sengaja menjebak Mas Arkan. Pasti disini dia juga korban dari perbuat orang lain. Lagian, seperti yang Tante bilang tadi, wajah Farhan juga mirip sekali dengan wajah Mas Arkan. Tidak perlu di tes DNA juga kita sudah bisa lihat kalau Farhan itu memang anak Mas Arkan." tiba-tiba terdengar suara Disha memecah keheningan, salah satu anak dari saudara Papa. Sepupu yang paling dekat denganku.

Aku menoleh kearah gadis itu. Dia duduk di antara Mama dan Papanya sambil menatapku lekat. Agak kutautkan kedua alisku saat melihat ekspresinya. Entah kenapa saat ini dia terlihat sedang kecewa padaku.

Hish, bahkan Disha yang sejak kecil selalu mengikuti, kini sudah berpihak pada perempuan itu. Ainun, Ainun, ternyata kamu benar-benar sangat luar biasa. Aku sungguh takjub dibuatnya. Kamu layak untuk diberikan sebuah penghargaan untuk aktingmu yang sempurna itu.

"Jika dia memang yakin bayinya adalah anakku, harusnya dia tidak keberatan untuk melakukan tes DNA," sanggahku.

"Mas Arkan terlalu kasar pada Mbak Ainun. Kalau Mas minta baik-baik, aku rasa Mbak Ainun tidak akan keberatan. Jangan seperti ini, Mas. Kami semua tahu Mas terpaksa menikah dengan Mbak Ainun, tapi sekarang dia sudah menjadi istri Mas Arkan. Dia berhak diperlakukan dengan lebih baik," ujar Disha lagi.

Aku menatap Disha dengan sorot mata tak percaya. Begitu jahatkah aku di mata gadis itu sekarang? Padahal dulu dia selalu menggodaku dengan mengatakan hanya akan menikah jika telah bertemu dengan lelaki seperti aku. Kemana semua pujian itu sekarang? Tampaknya setiap hal baik tentangku menguap begitu saja sejak Ainun masuk ke dalam keluarga kami.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum sinis. Bahkan Reina dulu harus berusaha setengah mati agar terlihat baik di hadapan seluruh keluargaku untuk mendapatkan restu. Perempuan yang telah mengisi hatiku lebih dari tiga tahun lamanya itu telah melakukan banyak hal hingga akhirnya kami bisa bertunangan. Dia juga telah berkorban banyak untuk tetap berdiri di sisiku. Tapi kemudian semuanya sia-sia saja saat Ainun datang menghancurkan segalanya. 

Entah bagaimana caranya, Ainun bisa membuat seluruh keluarga besarku menerimanya. Aku didesak untuk segera menikahi Ainun yang katanya hamil karena perbuatan ku, dan harus meninggalkan Reina, perempuan yang teramat sangat aku cintai.

Ah, sangat tak adil rasanya. Aku dianggap jahat oleh keluargaku sendiri. Dan Ainun yang sudah membuat hidupku menderita dianggap sebagai istri yang teraniaya.

Tiba-tiba pintu kamar Ainun kembali terbuka. Perempuan itu keluar dengan menggendong bayinya sembari menyeret sebuah koper.

Mataku kembali melihat kearahnya, begitu pula dengan semua orang yang ada di ruang keluarga saat ini.

"Pak Arkan, tidak perlu melakukan tes DNA, karena apapun hasilnya tidak akan mengubah pandangan Anda tentang saya," ujar Ainun dengan nada datar. Bicaranya berubah menjadi formal seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

"Maaf, kalau selama ini saya sudah banyak menyusahkan Anda. Saya akan membawa anak saya pergi dari rumah ini. Mulai sekarang saya tidak akan muncul di hadapan Anda lagi. Terima kasih untuk kebaikan Anda sekeluarga selama ini." Ainun menyeret kopernya dan berlalu menuju pintu utama.

Seluruh orang yang ada di sana terperangah dengan apa yang dilakukan Ainun. Kemudian tatapan mereka beralih padaku, seakan mengatakan jika apa yang dilakukan Ainun sekarang adalah kesalahanku. 

Bagus. Bagus sekali, Ainun. Drama yang sangat menakjubkan sekali lagi dimainkannya di hadapan seluruh keluarga besarku. Benar-benar licik!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Cinta Abadi (Ekstra Part 2)

    Seminggu lebih sudah aku dirawat di rumah sakit. Sejauh ini tak ada perkembangan yang berarti dari kondisi tubuhku. Sudah terlalu banyak penyakit yang hinggap, mulai dari gangguan sistem pencernaan, kelebihan gula darah, tekanan darah tinggi hingga kolesterol, bahkan ada gangguan serius juga pada sistem kerja jantungku. Dokter yang memeriksaku pun hanya bisa menghela nafas panjang sambil agak menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan jika tubuhku mungkin sudah tak ada gunanya diberi pengobatan lebih jauh lagi. Aku hanya tersenyum simpul melihat ekspresi dokter. Bukankah wajar jika sekarang aku mengidap banyak penyakit. Toh, aku juga sudah tua, tak masalah jika waktuku di dunia ini sudah tak lama lagi. Selesai memeriksa kondisi tubuhku, dokter meminta Farhan untuk datang ke ruangannya. Tampaknya ada hal yang sangat serius ingin disampaikan oleh dokter pada Farhan. Farhan pun mengikuti dokter untuk ikut ke ruangannya. Selang beberapa saat, Farhan kembali dengan wajah yang terlihat tak be

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Kebahagiaan Orang Tua (Ekstra Part 1)

    Langit hari ini tampak begitu cerah. Hembusan angin terasa lembut membelai wajahku, membuat ku merasa nyaman dan tanpa sadar memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, kubuka mata kembali dan sekali lagi kupandangi birunya langit dengan sejuta perasaan yang tertahan.Cukup lama aku tertegun, sebelum akhirnya kugerakkan kursi roda yang kududuki dengan kedua tangan tuaku. Mungkin sudah cukup aku memandangi langit pagi untuk hari ini. "Ayah." Terdengar suara seseorang memanggilku. Tampak seorang lelaki dewasa nan gagah menghampiri ku dengan raut wajah yang sedikit cemas."Aku 'kan sudah bilang, kalau Ayah mau keluar, jangan sendirian," ujarnya khawatir.Aku hanya tersenyum padanya, mengisyaratkan jika aku baik-baik saja biarpun tak ada yang menemani. Tentu saja raut khawatir di wajah lelaki itu tak hilang hanya karena senyumanku. Segera dia mengambil alih kursi roda yang tadinya berusaha untuk kugerakkan sendiri.Lelaki adalah Farhan, putraku yang kini sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa y

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Akhirnya, Bahagia Itu Menyapa (End)

    Aku mendorong kursi roda yang diduduki Ainun, menyusuri taman bunga yang saat ini sedang dipenuhi berbagai macam bunga-bunga yang sedang mekar sempurna. Udara terasa segar, aroma harum yang berasal dari kelopak-kelopak bunga pun samar menyapa indra penciuman. Kuhela nafas dalam, mengisi penuh paru-paruku dengan oksigen yang terasa begitu melegakan. Didekat sebuah bangku taman, aku berhenti, lalu duduk di bangku itu menghadap kearah Ainun. "Indah, kan?" tanyaku. Ainun mengangguk mengiyakan sembari tersenyum senang. "Harusnya kita ke sini sama Farhan juga, Mas," protes Ainun kemudian dengan raut wajah yang sedikit berubah. Aku agak menghela nafas. Padahal sejak awal aku sudah bilang kalau liburan kami kali ini hanya berdua saja, tanpa Farhan. Lagipula, Farhan juga tidak mau ikut bersama kami karena dia lebih memilih untuk pergi ke taman bermain dan berlibur bersama Oma dan Opanya. Entah apa yang sudah dijanjikan oleh kedua orang tuaku itu pada cucu mereka, hingga bocah itu tak ke

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Kejutan Manis untuk Ainun

    Pagi ini, Ainun telah berpenampilan rapi. Selepas sholat subuh tadi dia sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia bahkan telah menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya sejak malam tadi. Tampaknya istriku itu benar-benar sudah tak sabar lagi untuk kembali ke rumah."Kamu pakai jilbab?" tanyaku saat melihat Ainun telah menutup kepalanya dengan balutan jilbab yang rapat, bukan dengan menggunakan selembar pashmina ringan seperti sebelumnya."Iya, Mas," jawab Ainun sambil tersenyum."Memangnya bekas jahitannya tidak terasa sakit lagi?" tanyaku lagi."Masih sedikit, tapi tidak sesakit sebelumnya, jadi sudah bisa pakai jilbab." Ainun kembali menjawab masih sambil menyungging senyuman manisnya.Aku menatapnya sejenak, memastikan jika dia tidak sedang berbohong hanya karena ingin berpenampilan dengan baik."Beneran tidak sakit pakai jilbab rapat begitu?" Aku kembali meyakinkan.Ainun mengangguk mantap."Ya sudah." Aku akhirnya hanya bisa mengatakan itu sambil sedikit menghela nafas. Jika berkaitan

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Seberkas Kisah Lalu

    Sekembalinya ke ruang perawatan Ainun, kudapati istriku itu sedang termenung, terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil duduk menghadap kearah jendela. Dia bahkan sampai tak menyadari kedatanganku karena tenggelam dalam pikirannya sendiri."Sedang memikirkan apa?" tanyaku sambil menyentuh bahunya.Ainun agak terkejut, tapi langsung tersenyum saat menoleh kearahku."Mas Arkan, bikin kaget saja," gumamnya."Kamu melamun," ujarku.Ainun menggeleng."Tidak, kok, aku cuma kepikiran undangan dari Rahma tadi. Kemungkinan aku tidak akan bisa menghadiri pernikahannya." Ainun bergumam dengan agak sedih.Aku terdiam sejenak. Ternyata itu yang sedang dia pikirkan saat ini."Rahma sudah sangat banyak membantu ku. Selama lima tahun terakhir, aku banyak berhutang budi padanya. Agak sedih rasanya jika menghadiri pernikahannya saja aku tidak bisa, apalagi jika harus membalas kebaikannya dengan cara yang lain," tambah Ainun lagi.Aku merapatkan tubuhku pada Ainun dan merangkul bahunya yang ringkih."Ac

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Kedatangan Rahma

    Dokter baru saja memeriksa kondisi Ainun hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun keadaan Ainun terus membaik. Tubuhnya memberikan respon yang positif terhadap obat-obatan yang dikonsumsi, hingga dokter menyatakan jika Ainun tidak perlu menjalani operasi lanjutan, hanya perlu mengkonsumsi obat-obatan dan melanjutkan kemoterapi saja. Ainun juga sudah jauh lebih segar dan diperbolehkan pulang besok. Terlihat jelas raut wajah senangnya saat mendengar berita itu. Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan bertemu dengan Farhan. "Aku sudah agak bosan berada di rumah sakit, Mas. Tidak sabar rasanya menunggu besok," ujar Ainun antusias.Aku tersenyum sambil membereskan beberapa barang yang sekiranya akan dibawa pulang."Mas juga pasti sudah kangen rumah, kan? Sudah lama tidak tidur di kasur yang nyaman. Tiap malam tidur di sofa terus, pasti badan Mas sakit semua," tambah Ainun lagi."Tidak juga. Sofanya cukup nyaman," kilahku."Bohong. Aku lihat Mas sering pijat-pijat bahu s

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Ancaman Mama

    "Ini salah Mama. Harusnya Mama tidak terlalu banyak bicara sama Ainun. Harusnya Mama tidak mengatakan ini dan itu ... hiks ... hiks ...." Mama masih menangis terisak di sampingku.Aku melirik Mama sekilas, lalu kembali fokus menyetir. Pagi ini terpaksa aku tidak pergi bekerja karena kedatangan Mama

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Tanpa Ainun

    Hari demi hari terlewati, dan Ainun benar-benar tak kembali. Aku menikmati kesendirianku tanpa berusaha untuk keluar dari rasa sepi.Beberapa kali tanpa sadar aku masuk ke kamar yang dulu ditempati Ainun. Biasanya hal itu kulakukan saat mataku tak kunjung terpejam, sedangkan malam semakin larut. Ta

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Kosong

    Tiga hari sudah Ainun pergi. Jelas ada yang aku rasakan sejak kepergian perempuan itu. Hening, suasana itulah yang mendominasi setiap sudut rumah. Hanya ada suara Bik Minah, asisten rumah tangga, yang terkadang bertanya tentang beberapa hal. Perempuan paruh baya yang bekerja sejak aku menikah deng

  • Penyesalan Suami yang Terlambat   Sama-sama Terluka

    Malam itu Ainun benar-benar pergi. Dengan menaiki sebuah taksi, perempuan itu meninggalkan rumah, disaksikan seluruh kekuatan besarku. Tak dihiraukannya isak tangis Mama yang memintanya untuk tidak pergi. Tampaknya dia ingin aku sendiri yang membujuknya, bukan orang lain. Tapi dia harus kecewa kali

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status