Share

Bab 04

Author: @doumbojoe
last update publish date: 2026-03-04 10:54:48

Tangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda.

"Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan.

"Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran.

Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya.

"Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak.

Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak.

"Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar.

Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlutut dan mencoba memastikan keadaan gadis itu.

"Ya ampun... Ya Tuhan..." tubuh Rahayu gemetar hebat. "Pah, dia, Pah... Dia sudah tiada," ucapnya dengan suara yang pecah.

"Apa maksudmu, Rahayu?" tanya Biantara yang belum sepenuhnya memahami situasi.

"Hizk... Hizk... Ayah... Ayana telah pergi, meninggalkan Brilian..." ucap Brilian dalam dekapan ayahnya.

Degh.

Biantara terdiam. Detak jantungnya memacu sangat cepat. Ia mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Brilian yang masih gemetaran.

"Tenang, Sayang... Bukan salah kamu, oke," ucap Biantara berusaha menenangkan putrinya.

Rahayu tidak menunggu lama. Tangannya gemetar saat menghubungi ambulans untuk menjemput jasad Ayana.

Tak lama kemudian, sirine ambulans terdengar meraung di tengah jalan. Mobil itu berhenti di depan rumah. Beberapa petugas medis turun dengan perlengkapan lengkap.

Tanpa membuang waktu, mereka membawa jasad Ayana ke dalam mobil.

Brilian yang berdiri di samping ayahnya kembali menangis. Rasa bersalah menghantam dadanya. Selama ini ia mengabaikan Ayana. Bahkan ikut menjauh.

"Sudah, jangan menangis. Kita akan ke sana mengikuti jasad Ayana," ucap Biantara yang kemudian diangguki Rahayu.

"Penghuni rumah pada ke mana sih, Pah? Dari tadi tidak kelihatan," ucap Rahayu kesal.

"Mungkin lagi di luar," jawab Biantara sekenanya.

"Huh... Padahal Ayana anak mereka. Kenapa malah dikunci di gudang? Kasihan sekali nasib anak itu," ucap Rahayu sendu.

Brilian mengepalkan tangannya. Ia teringat perlakuan Donggala dan Ayuna pada Ayana di sekolah tadi. Kini ia mulai memahami posisi Ayana di rumah itu.

Selama ini ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan Ayana. Yang ia lihat hanyalah senyuman ceria yang dipaksakan.

Padahal kini Ayana sudah tiada.

Ayana selalu bungkam. Tidak pernah bercerita meskipun Brilian sempat mendesak. Memang hubungan mereka sempat merenggang. Bahkan Brilian sempat membenci Ayana.

"Ini semua salahku..." ucap Brilian pelan, namun cukup terdengar oleh kedua orang tuanya.

Rahayu segera memeluknya lagi. "Tenang, Sayang. Bukan salah kamu," ucapnya sambil mengusap punggung Brilian yang masih gemetar.

Di Rumah Sakit Enam Kota, ambulans yang membawa jasad Ayana baru saja tiba. Para petugas medis bekerja cepat tanpa membuang waktu.

Di ruangan lain, Ayuna sedang dirawat. Di sekelilingnya, orang tua dan kakaknya setia menemani.

"Bunda... Aku kangen Ayana," ucap Ayuna lirih. Untuk pertama kalinya ia merindukan kembarannya sendiri.

"Lalu kamu mau apa, Sayang? Mau pulang?" tanya Nilam lembut.

"Jangan dulu pulang. Papa tidak mengizinkan," ucap Rafael tegas.

"Aku kangen Ayana, Ayah. Kangen... Kangen banget," ucap Ayuna sambil merintikkan air mata, menahan sesak di dadanya.

Donggala terdiam. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang kosong dalam dirinya.

"Ayah... Selama ini aku salah, Ayah. Tolong pertemukan aku dengan kembaranku," ucap Ayuna memohon.

Nilam menatap suaminya dengan wajah memelas. Rafael menarik nafas panjang.

"Baiklah. Tunggu di sini sebentar. Ayah akan mengurus administrasinya dulu," ucap Rafael sebelum keluar dari ruangan.

Di dalam ruangan tersisa Ayuna, Nilam, dan Donggala.

Tatapan Ayuna tak sengaja menangkap sosok yang familiar di balik jendela kaca.

"Bunda... Itu sahabatnya Ayana. Ngapain dia ke sini?" tanya Ayuna.

Nilam menoleh. Benar, Brilian terlihat bersama kedua orang tuanya. Wajah mereka tampak tegang.

"Bunda, aku ingin ke sana," ucap Ayuna.

"Tidak. Kamu di sini saja," tolak Nilam.

Ayuna tidak menyerah. Ia meraih selang infusnya dan hendak menariknya. Namun tangan Donggala lebih dulu menahan.

"Apa yang kamu lakukan, Ayuna?" tanya Donggala terkejut.

"Aku ingin ke sana. Tolong aku... Aku ingin ke sana," ucap Ayuna sambil menangis deras.

Donggala menatapnya iba. Ia mengangguk.

Tanpa menghiraukan tatapan Nilam yang melarang, Donggala mengambil kursi roda dan mendudukkan Ayuna di atasnya. Ia mendorong kursi roda keluar ruangan, sementara Nilam mengikuti dari belakang dengan langkah berat.

Di depan ruangan pemeriksaan, Brilian dan kedua orang tuanya menunggu dengan wajah tegang. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus petugas otopsi keluar membawa berkas hasil pemeriksaan.

"Apakah Nona Ayana pernah mengatakan pada kalian bahwa dia menderita kanker stadium akhir?"

Pertanyaan itu terasa seperti ledakan di dada Brilian.

Tidak hanya Brilian, Biantara dan Rahayu pun terkejut.

Di belakang mereka, Ayuna mendengar dengan jelas pertanyaan dokter itu. Ia menolak percaya.

Ayana? Kenapa nama Ayana disebut oleh dokter? pikirnya.

Donggala sama terkejutnya. Ia pun menolak mempercayai apa yang didengarnya. Nilam lebih terpukul lagi. Wajahnya memucat seperti kertas.

Ia melangkah tergesa mendekati dokter, meraih kedua bahunya hingga membuat dokter terkejut.

"Dokter... Ayana... Ayana yang mana?" tanya Nilam dengan suara gemetar.

Dokter itu terdiam sejenak, menenangkan diri, lalu membaca nama yang tertera pada berkas.

"Jasad atas nama Ayana Shahab," ucap dokter itu tegas.

Nilam terjatuh. Jantungnya seolah dihantam kenyataan yang tak mampu ia terima.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 31

    Di gerbang sekolah, Ayna masih terlihat sedang menunggu. Gadis itu terus menatap ke arah jalan raya dengan harapan mobil Daddy-nya segera terlihat.Namun, waktu terus berjalan. Mobil yang ditunggu tak kunjung datang."Neng, kenapa nggak ditelepon saja?" satpam yang menjaga gerbang itu merasa kasihan melihat gadis tersebut.Ayna bahkan baru teringat bahwa ia memiliki handphone. Tanpa membuang banyak waktu, ia langsung menelepon Daddy-nya.Namun, walaupun beberapa kali ia berusaha menelepon, panggilan itu sama sekali tidak tersambung. Bahkan, suara operator mengatakan bahwa nomor tersebut tidak bisa menerima panggilan."Daddy kenapa ya?" tanya Ayna lirih. Ia menatap handphone-nya dengan tatapan datar. Berbagai spekulasi mulai muncul di kepalanya.Hingga, handphone-nya berdering. Nama kakak pertamanya langsung terpampang jelas di layar."Hallo, Abang... Abang di mana?" tanya Ayna cepat.["Kamu masih di sana, Princes?"]Suara Logan terdengar dari seberang telepon."Benar, Bang. Aku di ger

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 30

    Jam menunjukkan pukul dua siang. Seluruh murid Aurora Summit telah bergegas pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, Ayna sedang berdiri di depan gerbang, ditemani oleh satpam yang berjaga di pos. "Neng, kenapa nggak pulang sekarang?" tanya satpam itu dengan rasa ingin tahu, sekadar membuka percakapan dengan gadis tersebut. Ayna menoleh pelan. Raut wajahnya tampak murung. "Paman satpam. Daddy belum datang. Katanya mau menjemput, tapi sampai sekarang belum datang," ucap Ayna lirih. Suaranya terdengar menyedihkan, sekelebat bayangan masa lalu menyerang ingatannya dengan ganas. Sebenarnya ia bisa saja pulang sendiri, namun ia tidak melakukannya karena berpikir Daddy-nya benar-benar akan datang. "Mungkin sebentar lagi, Nona," ucap satpam itu. Ayna mengangguk. Ia berharap di mana pun Daddynya berada, mereka selalu berada dalam lindungan Tuhan. Pemuda itu mendekat, memangkas jarak hingga lebih dekat dengan Imanuel. "Tuan Zuank," ucap pemuda itu. Ia menatap Imanuel dengan

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 29

    Gedung Aurora Summit Iringan mobil dengan tanda khas keluarga Artha masuk ke dalam gerbang sekolah itu. Semua murid yang telah hadir menatap keramaian itu dengan rasa ingin tahu. "Bukankah itu tanda dari keluarga Artha?" "Sepertinya begitu. Menurutmu, apakah itu murid baru?" "Mungkin, tumben banget nggak ada pemberitahuan dari forum keluarga Artha." "Iya, biasanya masalah sekecil apa pun transparan." "Kalian nggak ingat kalau keluarga Artha memiliki anak gadis yang disembunyikan? Tidak diketahui oleh umum?" "Gotcha! Aku baru ingat! Apa dia adalah anak gadisnya?" "Mana?" "Eh, bukankah itu anak kelas dua ya? Si... si apa sih kemarin yang masuk BK? Ah, si Ayna." "Masa iya, Ayna anak mereka? Kok lebih mirip ke Ayuna ya?" "Baru mau aku bicarakan, ternyata pemikiran kita sama." Di mobil yang paling pertama, dengan tanda keluarga Artha yang paling mencolok, Ayna turun dengan kedua pipi mengembung. "Ayna tidak mau tahu ya, Dad... nanti Ayna mau pulang sendiri," ucapny

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 28

    Di tempat parkir rumah sakit jiwa, sebuah mobil hitam baru saja masuk. Pintu terbuka, Rafael terlihat gagah. Di tangannya, ia membawa dokumen. Rafael menatap Nilam yang tertidur sejenak, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit jiwa itu. Tidak lama setelah itu, Rafael pun keluar. Ia sudah mengurus dokumentasi dan juga membayar untuk beberapa tahun ke depannya. Di belakang Rafael, para suster dengan pakaian khusus datang untuk menjemput pasien. Pintu mobil terbuka, Nilam sudah bangun. Nilam menatap suaminya dengan tatapan kosong. Tidak ada senyuman, tidak ada tangisan. Ekspresinya seperti biasa, seolah tak punya semangat hidup. "Bawalah dia. Jika suatu saat dia sudah sembuh, tolong hubungi saya," ucap Rafael. Para suster itu menganggukkan kepala serentak. Dengan pelan, mereka meraih tangan Nilam, kemudian mengeluarkannya dari mobil dengan perlahan. Nilam dikeluarkan, pintu mobil kembali tertutup. Tanpa basa-basi, Rafael masuk ke dalam mobil dan segera melaju pergi dari

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 27

    Ayna berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi empuk itu, disertai hela napas panjang. "Ada apa, Princess? Are you okay?" tanya Tarina. Ia ikut duduk di samping putrinya. Ayna mengangguk pelan. Namun, helaan napasnya tidak juga berhenti. "Ada apa, Princess?" Imanuel ikut bertanya, rasa penasarannya tak bisa disembunyikan. "Huuuh..." Ayna menghela napas panjang. "Daddy, Mommy, Ayna punya masalah dengan teman sekolah. Padahal aku nggak pernah melakukan apa-apa pada mereka," ucap Ayna. "Memangnya ada masalah apa?" tanya Tarina. Ayna tidak menjawab. Ia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati, ia tahu betul bahwa mencari tahu apa yang terjadi di sekolah adalah hal yang sangat mudah bagi orang tuanya. Tanpa diberi tahu pun, mereka pasti tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini. "Mommy, Daddy, aku ke kamar dulu ya. Ayna capek," ucap Ayna. Tarina dan Imanuel menganggukkan kepala pelan. Setelah kepergian Ayna, Tarina dan Ima

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 26

    Keesokan harinya, suasana di gedung sekolah Aurora Summit terlihat lebih ramai daripada sebelumnya. Beberapa mobil sudah terparkir di ruang parkir khusus tamu. Para orang tua keluar dari mobil, kemudian melangkahkan kaki mereka dengan elegan menuju ruang kepala sekolah. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka pun tiba di ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa murid yang bermasalah kemarin. Kepala mereka tertunduk dalam, seolah malu dengan apa yang mereka hadapi. Setiap orang tua masing-masing duduk di kursi yang telah disediakan. "Apakah orang tua kamu belum datang, Ayna?" tanya kepala sekolah pada seorang gadis bernama Ayna. "Aku bisa menghadapinya sendiri. Keluargaku tidak perlu turun tangan dalam hal yang sepele seperti ini. Silakan dimulai, Pak Kepala Sekolah," ucap Ayna. Kepala sekolah menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia duduk dengan tegas dan menatap ke depan dengan tatapan yang tak kalah tegas. "Seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status