LOGINTangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda.
"Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan. "Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran. Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya. "Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak. Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak. "Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlutut dan mencoba memastikan keadaan gadis itu. "Ya ampun... Ya Tuhan..." tubuh Rahayu gemetar hebat. "Pah, dia, Pah... Dia sudah tiada," ucapnya dengan suara yang pecah. "Apa maksudmu, Rahayu?" tanya Biantara yang belum sepenuhnya memahami situasi. "Hizk... Hizk... Ayah... Ayana telah pergi, meninggalkan Brilian..." ucap Brilian dalam dekapan ayahnya. Degh. Biantara terdiam. Detak jantungnya memacu sangat cepat. Ia mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Brilian yang masih gemetaran. "Tenang, Sayang... Bukan salah kamu, oke," ucap Biantara berusaha menenangkan putrinya. Rahayu tidak menunggu lama. Tangannya gemetar saat menghubungi ambulans untuk menjemput jasad Ayana. Tak lama kemudian, sirine ambulans terdengar meraung di tengah jalan. Mobil itu berhenti di depan rumah. Beberapa petugas medis turun dengan perlengkapan lengkap. Tanpa membuang waktu, mereka membawa jasad Ayana ke dalam mobil. Brilian yang berdiri di samping ayahnya kembali menangis. Rasa bersalah menghantam dadanya. Selama ini ia mengabaikan Ayana. Bahkan ikut menjauh. "Sudah, jangan menangis. Kita akan ke sana mengikuti jasad Ayana," ucap Biantara yang kemudian diangguki Rahayu. "Penghuni rumah pada ke mana sih, Pah? Dari tadi tidak kelihatan," ucap Rahayu kesal. "Mungkin lagi di luar," jawab Biantara sekenanya. "Huh... Padahal Ayana anak mereka. Kenapa malah dikunci di gudang? Kasihan sekali nasib anak itu," ucap Rahayu sendu. Brilian mengepalkan tangannya. Ia teringat perlakuan Donggala dan Ayuna pada Ayana di sekolah tadi. Kini ia mulai memahami posisi Ayana di rumah itu. Selama ini ia tidak pernah benar-benar tahu kehidupan Ayana. Yang ia lihat hanyalah senyuman ceria yang dipaksakan. Padahal kini Ayana sudah tiada. Ayana selalu bungkam. Tidak pernah bercerita meskipun Brilian sempat mendesak. Memang hubungan mereka sempat merenggang. Bahkan Brilian sempat membenci Ayana. "Ini semua salahku..." ucap Brilian pelan, namun cukup terdengar oleh kedua orang tuanya. Rahayu segera memeluknya lagi. "Tenang, Sayang. Bukan salah kamu," ucapnya sambil mengusap punggung Brilian yang masih gemetar. Di Rumah Sakit Enam Kota, ambulans yang membawa jasad Ayana baru saja tiba. Para petugas medis bekerja cepat tanpa membuang waktu. Di ruangan lain, Ayuna sedang dirawat. Di sekelilingnya, orang tua dan kakaknya setia menemani. "Bunda... Aku kangen Ayana," ucap Ayuna lirih. Untuk pertama kalinya ia merindukan kembarannya sendiri. "Lalu kamu mau apa, Sayang? Mau pulang?" tanya Nilam lembut. "Jangan dulu pulang. Papa tidak mengizinkan," ucap Rafael tegas. "Aku kangen Ayana, Ayah. Kangen... Kangen banget," ucap Ayuna sambil merintikkan air mata, menahan sesak di dadanya. Donggala terdiam. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang kosong dalam dirinya. "Ayah... Selama ini aku salah, Ayah. Tolong pertemukan aku dengan kembaranku," ucap Ayuna memohon. Nilam menatap suaminya dengan wajah memelas. Rafael menarik nafas panjang. "Baiklah. Tunggu di sini sebentar. Ayah akan mengurus administrasinya dulu," ucap Rafael sebelum keluar dari ruangan. Di dalam ruangan tersisa Ayuna, Nilam, dan Donggala. Tatapan Ayuna tak sengaja menangkap sosok yang familiar di balik jendela kaca. "Bunda... Itu sahabatnya Ayana. Ngapain dia ke sini?" tanya Ayuna. Nilam menoleh. Benar, Brilian terlihat bersama kedua orang tuanya. Wajah mereka tampak tegang. "Bunda, aku ingin ke sana," ucap Ayuna. "Tidak. Kamu di sini saja," tolak Nilam. Ayuna tidak menyerah. Ia meraih selang infusnya dan hendak menariknya. Namun tangan Donggala lebih dulu menahan. "Apa yang kamu lakukan, Ayuna?" tanya Donggala terkejut. "Aku ingin ke sana. Tolong aku... Aku ingin ke sana," ucap Ayuna sambil menangis deras. Donggala menatapnya iba. Ia mengangguk. Tanpa menghiraukan tatapan Nilam yang melarang, Donggala mengambil kursi roda dan mendudukkan Ayuna di atasnya. Ia mendorong kursi roda keluar ruangan, sementara Nilam mengikuti dari belakang dengan langkah berat. Di depan ruangan pemeriksaan, Brilian dan kedua orang tuanya menunggu dengan wajah tegang. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus petugas otopsi keluar membawa berkas hasil pemeriksaan. "Apakah Nona Ayana pernah mengatakan pada kalian bahwa dia menderita kanker stadium akhir?" Pertanyaan itu terasa seperti ledakan di dada Brilian. Tidak hanya Brilian, Biantara dan Rahayu pun terkejut. Di belakang mereka, Ayuna mendengar dengan jelas pertanyaan dokter itu. Ia menolak percaya. Ayana? Kenapa nama Ayana disebut oleh dokter? pikirnya. Donggala sama terkejutnya. Ia pun menolak mempercayai apa yang didengarnya. Nilam lebih terpukul lagi. Wajahnya memucat seperti kertas. Ia melangkah tergesa mendekati dokter, meraih kedua bahunya hingga membuat dokter terkejut. "Dokter... Ayana... Ayana yang mana?" tanya Nilam dengan suara gemetar. Dokter itu terdiam sejenak, menenangkan diri, lalu membaca nama yang tertera pada berkas. "Jasad atas nama Ayana Shahab," ucap dokter itu tegas. Nilam terjatuh. Jantungnya seolah dihantam kenyataan yang tak mampu ia terima."Apa maksud Anda, Dok?" Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara. Degh. Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah b
Tangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda. "Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan. "Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran. Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya. "Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak. Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak. "Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlut
Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya. Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni. Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana. "Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi. Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya. Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut. Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tang
Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri. Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya. "Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat. "Hoeeeekkk." Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar
Tap. Tap. Tap. Sepasang kaki kurus kering menapaki setiap anak tangga itu dengan susah payah. Langkahnya pelan, berat, seolah tiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan lelah yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Begitu tiba di lantai dasar, gadis itu berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas lega, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Baru saja ia menarik nafas, tiba-tiba dari arah depan, sepasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Tatapan itu penuh kebencian yang sudah terlalu sering ia lihat. Plaaak! Suara tamparan itu menggema di ruangan luas berlantai marmer dingin. Wajah gadis itu tertoleh ke samping. Tubuhnya hampir limbung, namun ia bertahan. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, menetes tipis ke dagu. "Bunda... Apa lagi salah ku kali ini?" tanya Ayana dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya agar tidak ja







