Share

Bab 4

Author: Starry Sky
Namun, begitu brankas itu dibuka, isinya ternyata sudah kosong.

Kirana langsung berbalik dengan wajah panik.

"Mana kartu banknya?"

Aku menjawab dengan tenang, "Kartu bank yang mana? Maksudmu kartu tabungan yang memang punya putriku itu?"

"Iya, yang itu!"

Kirana langsung mengiyakan. Aku menahan amarah yang sudah meluap di dada, lalu berkata pelan namun tegas, "Itu rekening khusus buat putriku. Semua uang di dalamnya itu tabungan yang aku simpan buat dia. Kirana, kamu ini orang luar, punya hak apa kamu ambil harta anakku?"

Aku baru saja hendak memperjelas semuanya pada Kirana ketika Mikho masuk sambil menggendong Juan.

"Kok lama banget? Kartunya belum ketemu?"

Melihat sikapnya yang seolah menganggap semua ini wajar, kemarahan di hatiku kian memuncak.

"Mikho, itu uang tabungan anakku! Atas hak apa kamu biarin orang lain masuk ke rumahku lalu ngambil barang putriku tanpa seizinku?"

Mikho malah menjawab dengan nada kesal, "Ya ampun, ini 'kan keadaan darurat! Lagi pula Juan terluka karena didorong Rara. Pakai uang dia buat beliin Juan asuransi kesehatan juga masih masuk akal sebagai ganti rugi."

Lalu Mikho menurunkan Juan dan berjalan ke kamar. Begitu melihat isi brankas yang kosong, dia langsung menoleh tajam ke arahku.

"Kartunya mana?"

"Itu tabungan yang aku kumpulin buat putriku. Aku berhak untuk nggak ngasih."

"Aku cuma mau beliin asuransi buat Juan, bukan beli pesawat atau apa. Memangnya habis berapa sih? Lagian keluargamu juga bukan nggak punya uang. Nanti kalau biaya sekolah anak kurang, keluargamu tinggal nambahin aja. Kenapa sekarang jadi pelit banget soal beginian?"

Miko berbicara seolah-olah itu hal yang wajar, sampai-sampai aku terlihat seperti orang yang terlalu pelit, bahkan tidak rela meminjamkan uang untuk membelikan asuransi demi seorang anak.

Akhirnya aku benar-benar tidak bisa lagi menahan amarah. Sementara Juan yang sejak tadi menonton sambil berlindung di belakang ibunya ikut berteriak, "Perempuan jahat! Sana mati aja!"

Sambil berteriak, dia langsung menerjang ke arahku. Aku buru-buru melindungi perutku agar tidak terkena benturan. Untungnya aku hanya terdorong beberapa langkah ke belakang dan masih bisa menjaga keseimbangan. Namun begitu mengangkat kepala, Mikho sudah mencengkeram daguku dengan kasar.

"Mana kartunya? Aku tanya terakhir kali!"

Aku menatapnya balik penuh kebencian.

"Aku nggak akan kasih."

"Kamu ...!"

Dalam kemarahannya, Mikho mendorongku dengan keras. Kali ini aku tidak sempat menjaga keseimbangan. Pinggangku menghantam sudut meja makan di belakangku.

Seketika rasa sakit menusuk menjalar dari perutku. Kedua kakiku lemas hingga aku jatuh terduduk di lantai.

Aku memegangi perutku sambil memohon dengan suara lemah kepada Mikho, "Tolong aku … kumohon … tolong selamatin aku …. "

Melihat darah terus mengalir dari sela kakiku, wajah Mikho seketika berubah panik dan menyesal. Dia baru saja ingin menghampiriku ketika Kirana tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.

"Mikho! Aku juga sakit!"

Mikho menoleh dan melihat telapak tangan Kirana entah sejak kapan tergores hingga berdarah. Begitu melihat wanita yang dicintainya menangis sambil menahan sakit, hatinya sekali lagi memilih untuk berpihak padanya, bukan padaku.

Tanpa berkata apa pun, Mikho langsung menggendong Kirana. Setelah melirikku sekilas, dia berbalik dan pergi dengan tega.

Aku menyeret tubuhku yang dipenuhi rasa sakit luar biasa. Baru saja berhasil berdiri, nyeri tajam dari perutku kembali membuatku jatuh tersungkur. Sambil memegangi perut yang terasa seperti ditusuk-tusuk, aku mengandalkan sisa kesadaranku untuk meraih ponsel dan menelepon polisi.

"Halo … kantor polisi? Aku di Laguna Biru Residence Blok 4 nomor 201 … baru aja ada perampok masuk rumah … mereka mukulin aku setelah ketahuan … lalu kabur …."

Pandanganku mulai kabur. Aku bahkan sudah tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan pihak kepolisian di ujung telepon.

Hingga saat kesadaranku hampir hilang sepenuhnya, samar-samar aku mendengar sebuah teriakan panik.

"Wanda!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 11

    "Dia yang duluan gangguin istriku, sampai-sampai istriku ngalamin tanda-tanda keguguran!""Dia yang lebih dulu berjanji mau nikahin aku!"….Melihat mereka saling menyerang dan membongkar begitu banyak kebenaran, hatiku terasa sangat dingin, sementara kedua tanganku tanpa sadar mengepal erat."Harap tenang!"Setelah hakim mengetukkan palu peringatan, akhirnya Kirana berhenti berdebat dengan Mikho.Setelah mempertimbangkan seluruh bukti dan pengakuan dari kedua pihak, hakim pun memberikan putusan akhir.Pada akhirnya, Mikho dinyatakan bersalah atas tindak penganiayaan dan perampokan rumah, lalu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.Karena gugatan perceraianku juga masih dalam proses persidangan, setelah putusan kasus ini keluar, gugatan ceraiku pun segera diproses.Tak lama kemudian, perceraian kami resmi dikabulkan.Sementara itu, Kirana sebagai rekan pelaku dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.Setelah keluar dari pengadilan dan melihat sinar matahari yang menyilaukan di luar, aku

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 10

    "Wanda, aku tahu aku salah. Tolong maafin aku, aku nggak mau masuk penjara."Melihat dirinya serapuh itu, ada kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mati-matian menahan senyum di bibirku, lalu memasang wajah serba salah."Aku juga nggak mau kamu masuk penjara. Bagaimanapun juga kita masih punya Rara. Kalau ayahnya punya catatan kriminal, masa depan dia pasti ikut kena dampaknya.""Iya, iya … Rara nggak boleh punya ayah mantan narapidana. Wanda, tolong lepasin aku kali ini."Setelah mendengar perkataanku, mata Mikho yang tadinya suram mendadak kembali berbinar. Dia langsung berlutut dan maju beberapa langkah ke arahku dengan wajah penuh harap."Cuma … semua bukti sudah telanjur aku serahkan. Yonan juga pasti nggak akan bantu aku.""Wanda, aku benar-benar nggak bisa masuk penjara.""Aku tahu. Bagaimanapun juga kamu tetap ayahnya Rara, jadi aku juga berharap .… "Aku sengaja menggantung kalimatku. Begitu melihat sudut bibir Mikho mulai terangkat,dia langsung merasa paham ma

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 9

    Saat menggugat Kirana, aku sudah memperkirakan bahwa dia akan menggunakan Yonan untuk menekanku. Karena itu, sejak beberapa hari dirawat di rumah sakit, aku sengaja mengajak Yonan bertemu di sebuah kafe di seberang pengadilan.Benar saja, Yonan menolak pertemuan itu. Alasannya, sibuk bekerja dan tidak punya waktu karena sedang rapat.Saat aku mengira akan sulit mendapatkan sesuatu dari Yonan, tanpa diduga dia sendiri justru yang menyerahkan bukti itu kepadaku.Pria yang mengaku sedang rapat itu ternyata sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik di sudut jalan tak jauh dari pengadilan. Sebelum berpisah, mereka bahkan sempat berciuman, dan Yonan secara refleks menepuk pantat wanita itu.Keduanya tampak begitu mesra sampai seolah tak menyadari orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.Aku langsung memotret adegan penuh keambiguan itu lalu mengirimkannya kepada Yonan. Begitu menerima fotonya, Yonan langsung mendongak dan mulai melihat ke sekeliling. Setelah tidak menemukan keber

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 8

    Setelah itu dia langsung berlutut di samping ranjangku dengan wajah penuh penyesalan. "Wanda, aku tahu aku salah. Kita jangan cerai ya, maafin aku kali ini."Bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, ayahku lebih dulu memarahinya, "Mikho! Setelah cerai baru kamu nyesal, memangnya kamu nggak malu? Dulu waktu aku serahkan putriku sama kamu, gimana janjimu sama aku? Apa kamu udah nepatin?""Aku ingat, Yah, aku nggak lupa. Kasih aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan jaga Wanda dengan baik dan nggak akan biarin dia terluka atau nangis lagi.""Pergi!"Ayahku sudah muak mendengar janji-janjinya. Dia langsung mencengkeram kerah baju Mikho dan hendak mengusirnya keluar, untungnya polisi segera menghentikannya.Saat itu kepalaku mulai terasa sakit karena keributan mereka, jadi aku pun angkat bicara, "Tunggu sebentar. Pak Polisi, aku akan panggil pengacaraku. Dia bisa buktiin kalau hubungan pernikahan kami memang udah hancur."Polisi pun setuju. Setelah itu aku langsung menelepon Pak Willy, dan

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 7

    Kebetulan hasil visum dari dokter juga baru saja keluar. Setelah pemeriksaan menyeluruh, luka yang kualami dinyatakan sebagai penganiayaan ringan.Itu berarti Mikho kemungkinan besar akan menghadapi hukuman penjara hingga 6 bulan.Akan tetapi, yang kuinginkan bukan hanya itu."Pak Polisi, aku ingin melaporkan Mikho dan Kirana atas percobaan pencurian harta bawaanku sebelum menikah. Waktu aku memergoki mereka, Mikho sengaja mendorongku hingga menyebabkan pendarahan hebat dan keguguran.""Wanda, kamu ngomong apa sih!"Mendengar perkataanku, Mikho langsung panik. Dia hendak menarik lenganku, tetapi ayahku segera menghalanginya."Pak, Pak Polisi, dia ngarang! Dia itu istriku, mana mungkin aku berniat celakain dia? Lagi pula luka itu juga bukan karena aku dorong. Aku cuma nyentuh dia sedikit, nggak mungkin sampai bikin luka separah itu."Mikho segera berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi polisi tentu tidak mudah dibohongi."Tenang dulu. Kita masih perlu bukti untuk memastikan a

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 6

    Sambil berbicara, orang tuaku langsung mendorong Mikho ke hadapan dokter."Gimana sih kamu jadi suami! Udah bikin istrimu sampai ngalamin tanda-tanda keguguran, sekarang malah didorong lagi sampai jatuh dan pendarahan hebat sampai keguguran. Lalu kamu sama sekali nggak peduli? Apa hati nurani kamu udah hilang?!"Dokter itu langsung memarahi Mikho habis-habisan. Suara tegurannya bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitar untuk menonton."Astaga, pria ini keterlaluan sekali. Bagaimana bisa tega mendorong istrinya yang sedang hamil?""Iya, tadi aku juga lihat. Dia malah gendong anak selingkuhannya sambil nemanin selingkuhannya ganti perban. Dari tadi tatapannya lembut banget. Ih, sekarang kalau dipikir-pikir, menjijikkan!""Dasar bajingan, cepat mati saja!"Semua orang bergantian memarahi Mikho sampai dia tak sanggup mengangkat wajahnya.Sementara itu, untuk menghindari agar dirinya tidak ikut terkena imbas, Kirana juga memeluk Juan dan bersembunyi di tengah kerumunan tanpa berani be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status