مشاركة

Bab 3

مؤلف: Starry Sky
Tanpa perlu berpikir panjang, aku sudah tahu kalau penelepon itu pasti Kirana dan anaknya. Kalau dulu, mungkin aku sudah marah besar.

Namun kali ini, aku malah berterima kasih atas telepon dari ibu dan anak itu.

Saat mengangkat kepala, dia sempat terlihat panik ketika melihatku, lalu buru-buru merendahkan suaranya dan bertanya, "Kenapa kamu masuk?"

"Minta tanda tangan."

Kemudian aku membuka halaman terakhir surat perjanjian cerai, lalu mengeluarkan pena dan menunjuk pada bagian tanda tangan. "Tanda tangan di sini."

Mikho menerima pena itu dan langsung menandatangani di tempat yang kutunjuk tanpa ragu sedikit pun. Selama proses itu, pandangannya sama sekali tidak melihat isi perjanjian tersebut.

Aku pun keluar dari ruang kerja tanpa menoleh lagi.

Melihat tanda tangannya yang tertera di surat perjanjian cerai itu, aku hanya bisa menertawakan diri sendiri dalam hati. Perbedaan antara cinta dan tidak cintanya memang terlalu jelas.

Untuk seseorang yang tidak dicintainya, dia bahkan tak sudi meluangkan sedikit pun perhatian.

...

Keesokan harinya, aku membawa surat perjanjian cerai itu ke kantor catatan sipil.

Aku menelepon Mikho, tetapi setelah sembilan kali mencoba, teleponnya tetap tidak diangkat.

Baru pada panggilan kesepuluh telepon itu tersambung. Aku pun segera berkata, "Halo, sekarang juga datang ke kantor catatan sipil …. "

"Jangan bikin ulah, aku sedang rapat. Nanti aku telepon lagi."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon. Melihat riwayat panggilan yang diputus itu, aku segera menghampiri petugas dan mengajukan gugatan cerai secara online.

Setelah mengisi berbagai dokumen di ponsel dan memastikan pengajuan telah diterima, aku pun bangkit dan pergi.

Begitu keluar dari kantor catatan sipil, aku kembali menelepon Pak Willy.

"Aku sudah mengajukan gugatan online. Di hari sidangnya nanti, mohon bantuannya pada Pak Willy."

Pak Willy bergerak sangat cepat. Hari itu juga aku menerima pesan dari pengadilan mengenai jadwal sidang online.

Di sana tertulis bahwa sidang online akan dilaksanakan tiga hari lagi.

Pada saat yang sama, Mikho juga menerima pesan tersebut.

Kebetulan saat itu dia sedang bekerja. Setelah melihat pesan dari pengadilan, dia langsung mengernyitkan dahi.

"Gugatan cerai? Aku bahkan diminta ikut sidang tiga hari lagi! Sidangnya dilakukan secara online, dan aku diwajibkan menyalakan kamera ponsel?!"

"Udahlah. Sekarang penipu makin nekat aja, sampai-sampai ngaku dari pengadilan. Masa sidang perkara lewat video online? Penipu zaman sekarang makin aneh."

Rekan di sampingnya mendengar perkataannya lalu ikut menimpali, "Benar. Belum lama ini aku juga ditelepon orang yang pura-pura jadi polisi. Benar-benar berani."

Di tengah obrolan dan candaan itu, Mikho pun melupakan pesan tersebut begitu saja.

Setelah menerima pemberitahuan dari pengadilan, aku kembali pulang ke rumah dengan niat membawa semua barang milikku dan putriku pergi.

Sesampainya di rumah, aku mulai membereskan barang-barang milikku dan putriku.

Saat melihat foto keluarga yang tergantung di dinding rumah, aku tiba-tiba merasa semuanya begitu menggelikan.

Dulu, ketika foto keluarga itu diambil, saat itu adalah pesta ulang tahun pertama putriku. Aku harus memohon pada Mikho agar mau mengambil satu-satunya foto keluarga kami itu.

Di dalam foto tersebut, Mikho berdiri dengan wajah dingin, tangannya dimasukkan ke saku, sangat kontras dengan aku dan putriku yang tersenyum bahagia di sampingnya.

Menahan pahit di dalam hati, aku memotong foto itu dan hanya menyisakan Mikho sendiri sebelum menaruhnya kembali ke tempat semula.

Tepat ketika aku hampir selesai membereskan semuanya, terdengar suara pintu dibuka dari lantai bawah.

Aku segera keluar untuk melihat. Ternyata Kirana masuk begitu saja dengan santainya.

Bagaimana dia bisa tahu kode pintu rumah kami? Apa jangan-jangan Mikho yang memberitahunya lagi?

Begitu melihatku, Kirana sempat terkejut, tetapi segera memasang ekspresi polos dan tak bersalah.

"Wanda, tadi Mikho yang nyuruh aku masuk. Dia minta aku ngambil kartu bank yang disimpan di brankas kamar kalian."

Kartu bank di dalam brankas kamar?

Aku diam-diam menyentuh saku pakaianku untuk memastikan barang di dalamnya masih ada. Setelah itu, aku baru bisa menghela napas lega.

Lalu, diam-diam aku menyalakan fitur rekam suara di ponselku.

"Di mana Mikho? Kenapa bukan dia sendiri yang naik buat mengambilnya?"

"Katanya dia sedang buru-buru. Kalau harus parkir lalu naik sendiri terlalu merepotkan, jadi dia suruh aku yang ambil dan langsung pergi."

"Udahlah, nanti aja kita lanjutin ngobrolnya."

Setelah mengatakan itu, dia sama sekali tidak meminta persetujuanku dan langsung melewatiku masuk ke kamar tidurku dan Mikho. Bahkan dengan mudah dia memasukkan kode sandi dan membuka brankas itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 11

    "Dia yang duluan gangguin istriku, sampai-sampai istriku ngalamin tanda-tanda keguguran!""Dia yang lebih dulu berjanji mau nikahin aku!"….Melihat mereka saling menyerang dan membongkar begitu banyak kebenaran, hatiku terasa sangat dingin, sementara kedua tanganku tanpa sadar mengepal erat."Harap tenang!"Setelah hakim mengetukkan palu peringatan, akhirnya Kirana berhenti berdebat dengan Mikho.Setelah mempertimbangkan seluruh bukti dan pengakuan dari kedua pihak, hakim pun memberikan putusan akhir.Pada akhirnya, Mikho dinyatakan bersalah atas tindak penganiayaan dan perampokan rumah, lalu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.Karena gugatan perceraianku juga masih dalam proses persidangan, setelah putusan kasus ini keluar, gugatan ceraiku pun segera diproses.Tak lama kemudian, perceraian kami resmi dikabulkan.Sementara itu, Kirana sebagai rekan pelaku dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.Setelah keluar dari pengadilan dan melihat sinar matahari yang menyilaukan di luar, aku

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 10

    "Wanda, aku tahu aku salah. Tolong maafin aku, aku nggak mau masuk penjara."Melihat dirinya serapuh itu, ada kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mati-matian menahan senyum di bibirku, lalu memasang wajah serba salah."Aku juga nggak mau kamu masuk penjara. Bagaimanapun juga kita masih punya Rara. Kalau ayahnya punya catatan kriminal, masa depan dia pasti ikut kena dampaknya.""Iya, iya … Rara nggak boleh punya ayah mantan narapidana. Wanda, tolong lepasin aku kali ini."Setelah mendengar perkataanku, mata Mikho yang tadinya suram mendadak kembali berbinar. Dia langsung berlutut dan maju beberapa langkah ke arahku dengan wajah penuh harap."Cuma … semua bukti sudah telanjur aku serahkan. Yonan juga pasti nggak akan bantu aku.""Wanda, aku benar-benar nggak bisa masuk penjara.""Aku tahu. Bagaimanapun juga kamu tetap ayahnya Rara, jadi aku juga berharap .… "Aku sengaja menggantung kalimatku. Begitu melihat sudut bibir Mikho mulai terangkat,dia langsung merasa paham ma

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 9

    Saat menggugat Kirana, aku sudah memperkirakan bahwa dia akan menggunakan Yonan untuk menekanku. Karena itu, sejak beberapa hari dirawat di rumah sakit, aku sengaja mengajak Yonan bertemu di sebuah kafe di seberang pengadilan.Benar saja, Yonan menolak pertemuan itu. Alasannya, sibuk bekerja dan tidak punya waktu karena sedang rapat.Saat aku mengira akan sulit mendapatkan sesuatu dari Yonan, tanpa diduga dia sendiri justru yang menyerahkan bukti itu kepadaku.Pria yang mengaku sedang rapat itu ternyata sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik di sudut jalan tak jauh dari pengadilan. Sebelum berpisah, mereka bahkan sempat berciuman, dan Yonan secara refleks menepuk pantat wanita itu.Keduanya tampak begitu mesra sampai seolah tak menyadari orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.Aku langsung memotret adegan penuh keambiguan itu lalu mengirimkannya kepada Yonan. Begitu menerima fotonya, Yonan langsung mendongak dan mulai melihat ke sekeliling. Setelah tidak menemukan keber

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 8

    Setelah itu dia langsung berlutut di samping ranjangku dengan wajah penuh penyesalan. "Wanda, aku tahu aku salah. Kita jangan cerai ya, maafin aku kali ini."Bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, ayahku lebih dulu memarahinya, "Mikho! Setelah cerai baru kamu nyesal, memangnya kamu nggak malu? Dulu waktu aku serahkan putriku sama kamu, gimana janjimu sama aku? Apa kamu udah nepatin?""Aku ingat, Yah, aku nggak lupa. Kasih aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan jaga Wanda dengan baik dan nggak akan biarin dia terluka atau nangis lagi.""Pergi!"Ayahku sudah muak mendengar janji-janjinya. Dia langsung mencengkeram kerah baju Mikho dan hendak mengusirnya keluar, untungnya polisi segera menghentikannya.Saat itu kepalaku mulai terasa sakit karena keributan mereka, jadi aku pun angkat bicara, "Tunggu sebentar. Pak Polisi, aku akan panggil pengacaraku. Dia bisa buktiin kalau hubungan pernikahan kami memang udah hancur."Polisi pun setuju. Setelah itu aku langsung menelepon Pak Willy, dan

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 7

    Kebetulan hasil visum dari dokter juga baru saja keluar. Setelah pemeriksaan menyeluruh, luka yang kualami dinyatakan sebagai penganiayaan ringan.Itu berarti Mikho kemungkinan besar akan menghadapi hukuman penjara hingga 6 bulan.Akan tetapi, yang kuinginkan bukan hanya itu."Pak Polisi, aku ingin melaporkan Mikho dan Kirana atas percobaan pencurian harta bawaanku sebelum menikah. Waktu aku memergoki mereka, Mikho sengaja mendorongku hingga menyebabkan pendarahan hebat dan keguguran.""Wanda, kamu ngomong apa sih!"Mendengar perkataanku, Mikho langsung panik. Dia hendak menarik lenganku, tetapi ayahku segera menghalanginya."Pak, Pak Polisi, dia ngarang! Dia itu istriku, mana mungkin aku berniat celakain dia? Lagi pula luka itu juga bukan karena aku dorong. Aku cuma nyentuh dia sedikit, nggak mungkin sampai bikin luka separah itu."Mikho segera berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi polisi tentu tidak mudah dibohongi."Tenang dulu. Kita masih perlu bukti untuk memastikan a

  • Penyesalan di Ujung Cinta   Bab 6

    Sambil berbicara, orang tuaku langsung mendorong Mikho ke hadapan dokter."Gimana sih kamu jadi suami! Udah bikin istrimu sampai ngalamin tanda-tanda keguguran, sekarang malah didorong lagi sampai jatuh dan pendarahan hebat sampai keguguran. Lalu kamu sama sekali nggak peduli? Apa hati nurani kamu udah hilang?!"Dokter itu langsung memarahi Mikho habis-habisan. Suara tegurannya bahkan menarik perhatian orang-orang di sekitar untuk menonton."Astaga, pria ini keterlaluan sekali. Bagaimana bisa tega mendorong istrinya yang sedang hamil?""Iya, tadi aku juga lihat. Dia malah gendong anak selingkuhannya sambil nemanin selingkuhannya ganti perban. Dari tadi tatapannya lembut banget. Ih, sekarang kalau dipikir-pikir, menjijikkan!""Dasar bajingan, cepat mati saja!"Semua orang bergantian memarahi Mikho sampai dia tak sanggup mengangkat wajahnya.Sementara itu, untuk menghindari agar dirinya tidak ikut terkena imbas, Kirana juga memeluk Juan dan bersembunyi di tengah kerumunan tanpa berani be

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status