Share

Bab 3

Author: Niana
Jantungku yang memang sudah lemah tidak sanggup lagi menanggung beban itu. Rasa sesak dan nyeri seperti diremas datang bertubi-tubi.

Dengan tubuh lemas, aku berusaha mengambil pil.

Baru saja menuangkan pil di telapak tangan, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengambil obat, lalu membantingnya ke lantai.

"Siapa yang suruh kamu minum obat? Tanpa seizin Paman, kamu nggak boleh pegang apa pun.

Mira memelototiku dengan tajam.

Rasa nyeri di dada makin hebat. Aku tidak punya waktu berdebat, akhirnya aku membungkuk dan memungut pil-pil yang berjatuhan di lantai.

Namun tidak lama kemudian, ada sebuah kaki yang menginjak dengan keras, lalu menggeseknya sampai hancur.

Butiran obat bercampur debu, lalu masuk ke sela-sela lantai.

Mira berteriak keras, "Dasar nggak tahu malu! Dasar pencuri! Pergi dari rumahku!"

Telingaku berdenging hebat. Beban pada jantung buatanku sudah mencapai batas maksimal.

Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan, hingga akhirnya jatuh pingsan, sementara kenangan masa lalu terus terbayang di benakku tanpa henti.

Sejak kecil, tubuh Mira lemah dan sering sakit-sakitan. Saat mengetahui dia mengidap penyakit jantung, kondisinya sudah terlalu kritis untuk menunggu donor jantung.

Diam-diam aku menjalani tes kecocokan donor. Tanpa ragu, aku menyerahkan jantungku yang masih sehat kepadanya, sementara aku sendiri memakai jantung buatan.

Aku berjuang di ambang hidup dan mati selama dua minggu lebih.

Namun pada hari Mira boleh turun dari ranjang, dia tidak menjengukku, melainkan pergi mencari Juan.

"Paman, kapan paman menjadi ayahku?"

"Ayahku itu sangat menyebalkan. Ibu cuma merokok sebatang saja, dia mengomel panjang lebar. Aku menonton TV sebentar saja juga dimarahi."

"Paman jauh lebih baik, suka membelikanku burger, mengajakku ke taman bermain. Aku dan Ibu paling suka saat bersama dengan Paman."

Aku berdiri di luar dan mendengar semuanya dengan jelas.

Bekas luka operasi terasa sangat perih.

Sambil menahan tangis, aku maju melangkah.

"Mira, ayah rela dioperasi demi kamu, bahkan hampir meninggal, tapi kamu tega memperlakukan ayah seperti ini?"

Juan segera melindungi Mira di belakangnya, lalu berkata dengan lembut.

"Kak, Mira masih kecil,jadi suka asal bicara, ngapain kamu marah dan galak sama dia?"

Karena dilindungi Juan, Mira makin tidak takut, dia mendongak dan membentakku.

"Aku muak sama Ayah! Ayah nggak pernah bersikap lembut! Kenapa nggak mati saja waktu dioperasi?"

"Lagi pula, Ibu sedang mengandung anak paman, sebentar lagi aku punya adik. Ada atau nggak ada ayah, sama saja bagiku."

Kata-katanya bagaikan petir yang menyambarku.

Tubuhku seketika menegang, darahku terasa naik, pandanganku menjadi gelap, lalu jatuh pingsan.

Ketika terbangun lagi, Gina sedang duduk di samping ranjang.

Setelah melihatku terbangun, dia terdiam lama, lalu berkata dengan nada datar.

"Karena kamu sudah tahu, aku juga nggak akan menutupinya darimu lagi."

"Aku tidur dengan Juan sejak hari pemakaman ibumu."

"Aku berbohong saat bilang nggak bisa angkat karena mabuk, sebenarnya Juan nggak mau lepas dariku sedikit pun, sehingga aku nggak bisa angkat telepon."

Kepalaku berdengung.

Aku ingat pada hari itu, Juan menangis di ruang duka hingga jatuh pingsan.

Karena khawatir, aku suruh Gina mengantarnya pulang.

Kerabatku tidak banyak. Acara pemakaman belum selesai, para paman dan kerabatku lainnya sudah datang memperebutkan warisan.

Demi mempertahankan rumah tua kami, aku dan ayahku dihajar sampai babak belur.

Selama itu, aku berulang kali menghubungi Gina, tetapi dia tidak mengangkat telepon.

Ternyata saat aku berada di titik paling tidak berdaya, Gina justru bermesraan dengan Juan.

Hatiku terasa seperti terkoyak, perasaan malu dan kebencian menyelimuti hatiku.

Aku menampar wajahnya berkali-kali.

Dia memejamkan mata, tidak menghindar, membiarkanku melampiaskan amarah.

Namun, ketika aku mau pergi menemui Juan, Gina langsung meraih pergelangan tanganku, lalu memarahiku.

"Ezra, kamu selalu disayangi orang tuamu sejak kecil, punya aku yang selalu melindungimu, kamu punya segalanya."

"Tapi Juan menumpang di rumah orang lain sejak kecil, nggak punya tempat bersandar, dia nggak punya siapa-siapa! Apa kamu nggak bisa mengalah sedikit dengannya?"

Melihatnya membela Juan, aku merasa sudah tidak ada harapan lagi, jadi aku berkata dengan suara serak.

"Gina, kita cerai saja!"

"Aku nggak mau!" Gina memelukku dengan erat, suaranya langsung melembut.

"Maafkan aku, tadi aku hanya asal bicara."

"Ezra, aku hanya anggap Juan sebagai adik. Dia orangnya sensitif. Dia takut setelah Ibu meninggal, kita mengusirnya, makanya dia memberiku obat bius."

"Aku bersumpah, itu hanya terjadi sekali. Setelah ini, aku nggak akan melakukannya lagi."

"Coba pikirkan Mira. Dia baru punya jantung sehat, sekarang kamu tega dia kehilangan keluarga yang utuh?"

Pada saat itu, hatiku goyah.

Sekalipun marah, Mira tetaplah anak yang kubesarkan sendiri.

"Aku mau memberimu kesempatan, tapi kamu harus menggugurkan anak itu, lalu usir Juan, dan putuskan hubunganmu dengan Juan."

Gina ragu sejenak, akhirnya dia terpaksa mengangguk.

"Baiklah, aku janji."

Dia menghapus semua kontak Juan di depanku.

Setiap hari pulang tepat waktu, bersikap lembut, dan mengalah padaku.

Bahkan Mira juga meredam emosinya dan berubah menjadi lebih penurut.

Aku mengira hidup kami benar-benar perlahan bisa kembali membaik.

Sampai pada hari ulang tahun Mira, aku sengaja pulang kerja lebih awal karena ingin mengajak Mira bermain di taman bermain.

Begitu sampai di depan pintu, aku mendengar percakapan Gina dan Mira.

"Bu, kapan kita bisa bertemu paman dan adik? Aku merindukan paman."

Gina mengingatkan dengan suara pelan.

"Jangan buru-buru. Tunggu sampai ayahmu pulang, nanti kita cari cara untuk memberi ayahmu obat tidur. Setelah ayahmu tidur, kita pergi menemui pamanmu."

Aku berdiri di luar, hatiku terasa hancur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 9

    Gina masih belum mau menyerah.Dia terus berusaha mencari orang yang dulu membantuku memalsukan kematian, seolah selama dia bisa menemukan orang itu, aku bisa hidup kembali.Usahanya memang tidak mengecewakan, akhirnya dia berhasil melacak keberadaan orang itu di wilayah barat daya.Dia pergi ke sana malam itu juga.Ternyata orang itu bukanlah dukun, melainkan seorang lelaki tua berseragam militer.Gina berlutut."Tolong beri tahu saya, di mana dia?"Lelaki tua itu menggelengkan kepala, suaranya tenang dan tegas."Dulu aku bantu dia karena aku berutang budi pada ayahnya, makanya aku membantunya memalsukan kematian."Mata Gina berbinar. "Berarti kali ini ….""Nggak bisa untuk kali ini."Lelaki tua itu menyela dengan suara tenang."Dia masih hidup saat itu, aku bisa membantunya. Kali ini, dia sudah meninggal. Aku nggak bisa membantu orang yang sudah meninggal."Setelah itu, lelaki tua itu memberikan dokumen rahasia."Lihat sendiri. Ini adalah informasi yang belum sempat dia sampaikan pad

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 8

    Gina tidak percaya aku sudah meninggal.Sekalipun tenaga medis sudah menyatakan aku sudah meninggal, sekalipun tubuhku sudah dingin ….Dia masih menangis, lalu menaruh jasadku dengan lembut ke dalam ruang pendingin yang dia perintahkan untuk dibuat dalam semalam.Gina mulai mencari bukti seperti orang gila.Dia memeriksa semua rekaman CCTV di rumah dan memeriksa semua catatan medisku di rumah sakit.Dia masih bersikeras menyatakan bahwa aku masih hidup."Dia pura-pura mati tiga tahun lalu, kali ini dia pasti pura-pura lagi."Pada hari ketiga, dia pergi ke panti rehabilitasi.Dia ingin menjemput ayahku kembali ke rumah Keluarga Surya.Begitu masuk kamar pasien, dia mendapati ranjang kosong.Gina terkejut."Di mana ayahnya?"Kepala perawat menunduk."Pak Heri … sudah meninggal tiga hari lalu.""Nggak mungkin!""Aku memberinya perawatan medis yang terbaik, obat terbagus, dokter terbagus! Kenapa dia bisa meninggal?"Kepala perawat mengeluarkan rekaman suara, lalu menyerahkannya kepada Gina

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 7

    Suara sirine ambulans makin menjauh, bekas darah di taman bermain juga segera dibersihkan.Juan menepuk ujung pakaiannya, lalu berbalik dan pergi ke tempat parkir.Mira berdiri di tempat, menatap lantai yang sudah dibersihkan dengan tatapan kosong."Paman … kita nggak pergi ke rumah sakit?"Juan tidak menoleh."Rumah sakit banyak virus, kondisi tubuhku sedang nggak sehat, bagaimana kalau sampai aku tertular virus?"Mira menatap Juan, meski sebenarnya belum sepenuhnya mengerti.Paman tidak pergi ke rumah sakit pasti karena takut sakit.Ibu pernah bilang, kondisi paman sangat lemah."Kalau begitu … setelah ibu pulang, baru kita menjenguk ayah, ya?"Juan tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi penumpang depan.Mira membuka pintu. Saat melihat kursi belakang kosong, dia merasa agak takut.Mira berkata dengan suara pelan."Paman, boleh nggak temani aku duduk di belakang? Aku … takut sendirian."Juan menoleh sambil mengerutkan alis."Kamu sudah umur berapa? Masih minta d

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 6

    Pisau itu menembus dadaku, darah langsung menyembur keluar.Jantung buatanku berhenti.Tubuhku tiba-tiba terasa ringan, seolah melayang.Di tengah pandanganku yang mulai kabur, Gina terlihat panik dan berteriak sampai suaranya serak."Ezra!"Jiwaku melayang, aku melihat Gina memeluk tubuhku yang berlumuran darah.Gina menekan lukaku dengan keras, mencoba menghentikan pendarahan.Sayang makin ditekan kuat, darah makin banyak yang keluar. Darah terus mengalir melalui sela-sela jarinya, sama sekali tidak bisa berhenti."Ezra! Ezra!"Dengan suara bergetar, dia terus memanggil namaku."Lihat aku! Jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur!"Mira terdiam di tempat. Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Dengan mata sembap, Gina berteriak seperti orang gila sambil melihat ke orang-orang di sekitarnya."Dokter! Panggil ambulans! Cepat!"Orang-orang berhamburan dengan panik, petugas ambulans pun segera datang.Petugas memeriksa nadi dan mataku."Nona, maaf, dia sudah meni

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 5

    Ruangan rawat itu sunyi mencekam. Dokter menatapku dengan wajah tak berdaya dan berkata."Turut berduka cita. Pasien mengalami guncangan emosi kuat, hingga akhirnya meninggal dunia."Aku terduduk lemas di lantai, seluruh harapanku hancur.Saat membereskan barang-barang peninggalan ayahku, aku menemukan perekam suara di bawah bantalnya.Aku memutar rekaman suara itu, lalu terdengar suara Juan yang lembut, tetapi jahat."Paman, aku kasihan padamu. Aku akan memberitahumu sebuah fakta. Aku bukan anak angkat Ibu, sebenarnya aku anak haramnya.""Kamu terus bersaing dengan ayahku, tapi membesarkan anaknya selama puluhan tahun, itu konyol, 'kan?""Oh ya, kamu dan Ezra berjuang mempertahankan rumah tua itu, sayangnya Ibu sudah menyerahkan rumah itu padaku. Terima kasih kalian membantuku mempertahankan rumah itu ….""Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa menang bersaing dengan ayahku, anakmu yang nggak berguna itu juga nggak bisa mengalahkanku. Mulai sekarang, istrinya, putrinya, asetnya … semu

  • Penyesalan di Ujung Perpisahan   Bab 4

    Malam itu, aku minum susu yang diberikan Gina seperti biasanya.Setelah Gina dan Mira diam-diam meninggalkan rumah, aku bangun, lalu mengikuti mereka.Sampai di sebuah apartemen mewah.Melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat, aku melihat Juan duduk di sofa.Gina menyuapinya buah dengan lembut, lalu membantu memijat kakinya."Aku nggak bisa menemanimu beberapa hari ini, pasti berat bagimu."Mira bersandar di samping ibunya sambil mengomel, "Semua gara-gara Ayah yang pelit, dia melarang Ibu menjemput Paman pulang."Aku mendorong pintu dengan keras, lalu meluapkan emosiku dengan nada bergetar."Bukankah aku sudah menyuruhmu mengusirnya?""Gina, sebenarnya berapa banyak ucapanmu yang masih bisa kupercaya?"Gina melindungi Juan di belakangnya, lalu berhadapan denganku."Cukup, Ezra!""Juan nggak pernah ingin merebut apa pun darimu. Mau menemaniku tanpa status sudah berat baginya, bisakah kamu jangan bersikap egois seperti ini?"Juan juga berkata dengan penuh keyakinan, "Kak, kamu suda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status