LOGINGina masih belum mau menyerah.Dia terus berusaha mencari orang yang dulu membantuku memalsukan kematian, seolah selama dia bisa menemukan orang itu, aku bisa hidup kembali.Usahanya memang tidak mengecewakan, akhirnya dia berhasil melacak keberadaan orang itu di wilayah barat daya.Dia pergi ke sana malam itu juga.Ternyata orang itu bukanlah dukun, melainkan seorang lelaki tua berseragam militer.Gina berlutut."Tolong beri tahu saya, di mana dia?"Lelaki tua itu menggelengkan kepala, suaranya tenang dan tegas."Dulu aku bantu dia karena aku berutang budi pada ayahnya, makanya aku membantunya memalsukan kematian."Mata Gina berbinar. "Berarti kali ini ….""Nggak bisa untuk kali ini."Lelaki tua itu menyela dengan suara tenang."Dia masih hidup saat itu, aku bisa membantunya. Kali ini, dia sudah meninggal. Aku nggak bisa membantu orang yang sudah meninggal."Setelah itu, lelaki tua itu memberikan dokumen rahasia."Lihat sendiri. Ini adalah informasi yang belum sempat dia sampaikan pad
Gina tidak percaya aku sudah meninggal.Sekalipun tenaga medis sudah menyatakan aku sudah meninggal, sekalipun tubuhku sudah dingin ….Dia masih menangis, lalu menaruh jasadku dengan lembut ke dalam ruang pendingin yang dia perintahkan untuk dibuat dalam semalam.Gina mulai mencari bukti seperti orang gila.Dia memeriksa semua rekaman CCTV di rumah dan memeriksa semua catatan medisku di rumah sakit.Dia masih bersikeras menyatakan bahwa aku masih hidup."Dia pura-pura mati tiga tahun lalu, kali ini dia pasti pura-pura lagi."Pada hari ketiga, dia pergi ke panti rehabilitasi.Dia ingin menjemput ayahku kembali ke rumah Keluarga Surya.Begitu masuk kamar pasien, dia mendapati ranjang kosong.Gina terkejut."Di mana ayahnya?"Kepala perawat menunduk."Pak Heri … sudah meninggal tiga hari lalu.""Nggak mungkin!""Aku memberinya perawatan medis yang terbaik, obat terbagus, dokter terbagus! Kenapa dia bisa meninggal?"Kepala perawat mengeluarkan rekaman suara, lalu menyerahkannya kepada Gina
Suara sirine ambulans makin menjauh, bekas darah di taman bermain juga segera dibersihkan.Juan menepuk ujung pakaiannya, lalu berbalik dan pergi ke tempat parkir.Mira berdiri di tempat, menatap lantai yang sudah dibersihkan dengan tatapan kosong."Paman … kita nggak pergi ke rumah sakit?"Juan tidak menoleh."Rumah sakit banyak virus, kondisi tubuhku sedang nggak sehat, bagaimana kalau sampai aku tertular virus?"Mira menatap Juan, meski sebenarnya belum sepenuhnya mengerti.Paman tidak pergi ke rumah sakit pasti karena takut sakit.Ibu pernah bilang, kondisi paman sangat lemah."Kalau begitu … setelah ibu pulang, baru kita menjenguk ayah, ya?"Juan tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi penumpang depan.Mira membuka pintu. Saat melihat kursi belakang kosong, dia merasa agak takut.Mira berkata dengan suara pelan."Paman, boleh nggak temani aku duduk di belakang? Aku … takut sendirian."Juan menoleh sambil mengerutkan alis."Kamu sudah umur berapa? Masih minta d
Pisau itu menembus dadaku, darah langsung menyembur keluar.Jantung buatanku berhenti.Tubuhku tiba-tiba terasa ringan, seolah melayang.Di tengah pandanganku yang mulai kabur, Gina terlihat panik dan berteriak sampai suaranya serak."Ezra!"Jiwaku melayang, aku melihat Gina memeluk tubuhku yang berlumuran darah.Gina menekan lukaku dengan keras, mencoba menghentikan pendarahan.Sayang makin ditekan kuat, darah makin banyak yang keluar. Darah terus mengalir melalui sela-sela jarinya, sama sekali tidak bisa berhenti."Ezra! Ezra!"Dengan suara bergetar, dia terus memanggil namaku."Lihat aku! Jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur!"Mira terdiam di tempat. Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Dengan mata sembap, Gina berteriak seperti orang gila sambil melihat ke orang-orang di sekitarnya."Dokter! Panggil ambulans! Cepat!"Orang-orang berhamburan dengan panik, petugas ambulans pun segera datang.Petugas memeriksa nadi dan mataku."Nona, maaf, dia sudah meni
Ruangan rawat itu sunyi mencekam. Dokter menatapku dengan wajah tak berdaya dan berkata."Turut berduka cita. Pasien mengalami guncangan emosi kuat, hingga akhirnya meninggal dunia."Aku terduduk lemas di lantai, seluruh harapanku hancur.Saat membereskan barang-barang peninggalan ayahku, aku menemukan perekam suara di bawah bantalnya.Aku memutar rekaman suara itu, lalu terdengar suara Juan yang lembut, tetapi jahat."Paman, aku kasihan padamu. Aku akan memberitahumu sebuah fakta. Aku bukan anak angkat Ibu, sebenarnya aku anak haramnya.""Kamu terus bersaing dengan ayahku, tapi membesarkan anaknya selama puluhan tahun, itu konyol, 'kan?""Oh ya, kamu dan Ezra berjuang mempertahankan rumah tua itu, sayangnya Ibu sudah menyerahkan rumah itu padaku. Terima kasih kalian membantuku mempertahankan rumah itu ….""Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa menang bersaing dengan ayahku, anakmu yang nggak berguna itu juga nggak bisa mengalahkanku. Mulai sekarang, istrinya, putrinya, asetnya … semu
Malam itu, aku minum susu yang diberikan Gina seperti biasanya.Setelah Gina dan Mira diam-diam meninggalkan rumah, aku bangun, lalu mengikuti mereka.Sampai di sebuah apartemen mewah.Melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat, aku melihat Juan duduk di sofa.Gina menyuapinya buah dengan lembut, lalu membantu memijat kakinya."Aku nggak bisa menemanimu beberapa hari ini, pasti berat bagimu."Mira bersandar di samping ibunya sambil mengomel, "Semua gara-gara Ayah yang pelit, dia melarang Ibu menjemput Paman pulang."Aku mendorong pintu dengan keras, lalu meluapkan emosiku dengan nada bergetar."Bukankah aku sudah menyuruhmu mengusirnya?""Gina, sebenarnya berapa banyak ucapanmu yang masih bisa kupercaya?"Gina melindungi Juan di belakangnya, lalu berhadapan denganku."Cukup, Ezra!""Juan nggak pernah ingin merebut apa pun darimu. Mau menemaniku tanpa status sudah berat baginya, bisakah kamu jangan bersikap egois seperti ini?"Juan juga berkata dengan penuh keyakinan, "Kak, kamu suda







