เข้าสู่ระบบPOV Angela
Dua hari berlalu tanpa makna. Aku makan, tidur, kadang mengobrol dengan Lana. Gadis itu cukup menyenangkan untuk seseorang yang dibayar untuk menjaga wanita simpanan bosnya.
Tapi hari ini, aku bosan. Ada sesuatu dalam diriku yang ingin bergerak.
Aku melangkah ke dapur.
Ruangan itu terlalu bersih dan rapi. Wajar, tidak ada yang memakainya. Pelayan Aaron memasak di properti belakang jadi dapur utama ini hanya seperti pajangan.
Aku
POV AaronPintu kamar rumah sakit menutup pelan di belakangku lalu aku berjalan menuju lift.Begitu pintu lift terbuka, ingatanku langsung kembali pada kejadian itu.Mobil yang hancur.Bau bensin yang menyengat.Pecahan kaca yang berserakan di sepanjang jalan.Mobil yang membawa Angela ringsek menghantam pembatas jalan.Dia masih terjebak di dalamnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.Salah seorang polisi memecahkan jendela di sisi penumpang, sementara aku memaksa membuka pintu mobil yang sudah penyok.Aku masuk ke dalam, menjangkau tubuh Angela, lalu melepaskan sabuk pengamannya."Angela."Kelopak matanya bergerak pelan. Dia membuka mata sesaat dan menatapku dengan pandangan yang mulai kehilangan fokus. "Tetap denganku," kataku lagi. Tidak ada jawaban.Aku menyelipkan satu tangan ke belakang punggungnya dan tangan lainnya ke bawah kedua lututnya, bersiap mengangkatnya keluar.Lalu...Sebuah tangan berlumuran darah tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Angela.Ian Bennett. Dar
POV AngelaDia mengenakan kemeja biru tua, jas luarnya sudah tidak dipakai dan samar-samar terlihat lingkaran gelap di bawah matanya.Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari kami yang berbicara.Lalu dia memecah keheningan."Kau sudah sadar."Aku mengangguk pelan.Ekspresinya tidak berubah sedikit pun."Bagus."Tatapannya tetap tertuju padaku."Ian sudah ditangkap."Mataku langsung membelalak."Apa?""Dia selamat dari kecelakaan itu. Polisi langsung menangkapnya."Aku menatapnya, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja kudengar."Jadi..."Aku menelan ludah dengan susah payah."Semuanya sudah berakhir?""Iya."Rasa lega menyapu dadaku begitu cepat.Akhirnya...Ian akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.Dia tidak akan bisa menguntitku lagi.Dia juga tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...Aku tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan terhadap seseorang yang rela melakukan apa pun hanya karena obsesi.Tatapanku perlahan kem
POV AngelaKelopak mataku terasa begitu berat.Butuh beberapa kali usaha sebelum akhirnya berhasil kubuka perlahan.Langit-langit putih mulai terlihat jelas di atas sana.Selama beberapa detik aku hanya menatapnya, tidak benar-benar mengerti di mana aku berada.Sinar matahari yang hangat menembus celah tirai, menyelimuti ruangan asing itu dengan cahaya lembut.Aku berkedip beberapa kali hingga pandanganku akhirnya benar-benar fokus.Lalu semuanya kembali memenuhi ingatanku.Ian telah menculikku.Kami melarikan diri dengan mobil.Kecelakaan itu.Bayiku.Jantungku langsung mencelos.Refleks, tanganku bergerak menuju perutku.Namun baru sedikit bergerak, rasa nyeri yang tajam menjalar dari bahu hingga tulang rusukku.Aku terkesiap pelan.Baru saat itulah kusadari ada infus yang terpasang di punggung tanganku. Pelipisku terasa tertarik oleh balutan perban, sementara seluruh tu
POV AngelaAir mataku hampir jatuh, tetapi kutahan sekuat mungkin.Saat itulah pintu kamar terbuka begitu saja.Salah satu pria bertubuh tinggi bergegas masuk. Napasnya memburu, wajahnya tegang.Ian langsung menoleh dengan kesal karena gangguan itu."Apa?"Nada suaranya tajam."Kau sudah membeli makanannya?""Belum, Tuan."Pria itu sempat melirik ke arahku sebelum kembali menatap Ian."Kami mendapat informasi kalau polisi sudah bergerak. Mereka berhasil menemukan tempat ini."Dadaku langsung mengencang. Polisi...Harapan yang tadi nyaris padam kembali menyala.Aku berharap mereka akan menemukanku di sini. "Kita harus pergi sekarang," lanjut pria itu.Ian tidak tampak terkejut. Dia hanya mengangguk singkat, lalu mengalihkan tatapannya padaku. "Sepertinya kita harus pindah," katanya tenang. Aku menggeleng tegas."Aku tidak akan ikut denganmu."Rahang Ian langsung mengeras."Apa yang baru saja kau katakan?" suaranya nyaris seperti geraman."Aku bilang aku tidak ikut."Dalam dua langk
POV AngelaAku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri.Kesadaranku perlahan kembali saat suara seorang pria terdengar samar di telingaku."Tuan... jika Nyonya Bennett tahu tentang ini, dia pasti tidak akan setuju."Lalu suara pria lain terdengar."Aku tidak butuh persetujuannya."Hening beberapa detik."Sekarang pergi. Dan jangan pernah mempertanyakan perintahku lagi.""Baik, tuan."Aku mendengar suara langkah kaki menjauh.Lalu terdengar bunyi pintu yang terbuka dan kembali tertutup.Aku berusaha membuka mata.Pandanganku masih buram.Hal pertama yang kulihat saat penglihatanku akhirnya fokus adalah Ian Bennett.Dia duduk di sebuah kursi beberapa langkah dariku, menatapku dalam diam.Jantungku nyaris berhenti berdetak.Aku mencoba menggerakkan tubuhku tetapi tidak bisa.Kepanikan langsung menyergapku saat menyadari kedua pergelangan tangan
POV AngelaSudah lebih dari sebulan sejak aku meninggalkan Los Angeles. Bersamaan dengan kepergianku dari kota itu, aku juga meninggalkan kehidupan yang selama ini kubangun sebagai seorang aktris.Kebencian itu tidak pernah benar-benar berhenti.Sesekali, aku masih membuka media sosialku, hanya untuk menemukan gelombang komentar kejam yang kembali memenuhi layar.Entah sejak kapan, semua itu berhenti menyakitiku.Lalu, pada suatu pagi, sebuah berita utama yang kubaca membuatku membeku.Evelyn Tewas. Ian Bennett Ditetapkan sebagai Tersangka Utama.Menurut laporan, Ian menghilang sebelum polisi sempat menangkapnya dan kini menjadi buronan."Angela."Suara Beth membuyarkan lamunanku.Aku segera mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja tamu.Selama sebulan terakhir, Beth tetap menemaniku.Entah sudah berapa kali aku mengatakan bahwa dia tidak perlu tinggal bersamaku, tetapi dia selalu menolak meninggalkanku sendirian.Sekarang kami tinggal di sebuah kota kecil di dekat Eureka,
POV AngelaAku memejamkan mata sebentar."Aku ada di rumah Aaron.""Apa?""Angela," suara Beth terdengar frustasi. "Sekarang seluruh internet sudah berpikir macam-macam tentang kalian berdua. Jadi ini benar-benar waktu yang buruk untuk mengatakan kalimat itu."
POV AngelaBeberapa minggu terakhir jadwalku benar-benar padat.Syuting iklan kampanye kecantikan, kerja sama dengan brand mewah, meeting dengan brand.Aku masih memenuhi kontrakku dengan Aaron.Aku hanya perlu sedikit waktu lagi.Begitu uangku cukup
POV AaronAku berdiri beberapa detik di sana setelah tangannya terlepas dari lenganku.Dia sudah tertidur tapi kata-katanya masih menggantung di kepalaku.Aku berbalik keluar dari kamarnya dan berjalan turun menuju kamarku.Aku masuk ke kamar mandi. Air shower langsung
POV AngelaAku langsung berbalik begitu aku melihat Aaron mencium Lyla dan berjalan cepat kembali ke dalam toilet. Dadaku menegang dan mataku terasa panas. Aku mencengkeram tepi wastafel, menatap bayanganku di cermin. Bodoh. Aku seharusnya tidak membiarkan semuanya sejauh ini. Aku tahu posisiku







