Share

Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku
Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku
Penulis: Pelan-pelan Saja

Bab 1

Penulis: Pelan-pelan Saja
Namaku Rifki, seorang sales.

Karena sepanjang tahun jarang di rumah, aku merasa sangat bersalah pada istriku.

Oleh karena itu, sepulang dari dinas luar kota, aku sengaja tak memberitahunya karena ingin memberikan kejutan padanya.

Namun, begitu melangkah masuk ke dalam rumah, terdengar suara helaan napas yang memburu dari arah kamar tidur.

“David… kamu hebat sekali… kamu suami terbaikku malam ini….”

Suara istriku saat bermesraan terdengar sangat khas, mirip seperti suara kucing betina yang sedang birahi. Setelah bertahun-tahun mendengarnya, tentu saja aku tak mungkin salah mengenali suara itu.

Hanya saja aku tak menyangka wanita genit itu begitu berani, malah berselingkuh selagi aku tak ada di rumah.

Membayangkan hal itu, tiba-tiba hatiku terbakar amarah. Aku ingin langsung menerobos masuk untuk melihat siapa pria bajingan itu.

Aku pun memelankan langkah kaki, mengambil tongkat bisbol di dekat pintu, lalu pelan-pelan mengintip dari celah pintu kamar.

Dua orang di dalam sana sedang asik-asiknya bermesraan, tubuh mereka saling menempel erat.

Bokong montok istriku sampai tertekan, bahkan suaranya ikut terputus-putus karena hantaman yang kuat.

“Cepat… cepat sedikit, nikmat sekali….”

Pria bajingan itu mendaratkan tamparan ke bokong yang terus bergoyang itu hingga terdengar suara plak yang keras.

Melihat guncangan tubuh mereka, kesabaranku benar-benar habis.

Aku menggenggam erat tongkat bisbol di tanganku dan langsung mengayunkannya kuat-kuat ke arah pria yang sedang bergeliat di atas ranjang.

Pria itu langsung merasa kesakitan dan menjerit histeris, “Ah….”

Pria itu langsung reflek mengambil jaketnya untuk membungkus tubuhnya dan langsung melarikan diri secepat mungkin.

Aku terus mengejarnya dari belakang, tapi tak disangka, dia malah kabur ke rumah David, sahabat baikku sendiri.

Mengingat kembali ucapan istriku saat aku baru masuk tadi, “David, kamu hebat sekali….”

Aku langsung mematung di tempat. Sama sekali tak menyangka sahabat terbaikku sendiri tega berselingkuh dengan istriku.

Hal ini jauh lebih memancing emosiku daripada diselingkuhi oleh orang asing. Aku langsung mengepalkan tangan dan menggedor pintunya dengan kuat.

“David! David! Buka pintunya! Jangan jadi pengecut!”

Aku menggedor pintu cukup lama, tapi David tak punya nyali untuk membukanya.

Pada akhirnya, ibu mertuanya yang berstatus janda, Susi yang datang membuka pintu untukku.

Saat pintu terbuka, aku hampir tak mengenalinya.

Biasanya Susi memang merawat dirinya dengan sangat baik, tapi gaya berpakaiannya selalu tertutup.

Namun hari ini, dia tak hanya memakai gaun tidur bertali yang sexy, tapi juga membiarkan rambutnya terurai.

Seluruh tubuhnya memancarkan pesona wanita dewasa yang sangat memikat.

Bahkan dari jarak yang cukup jauh pun, aku sudah bisa menghirup aroma harum tubuhnya yang menyegarkan, seperti bunga teratai yang baru mekar.

Pemandangan itu langsung membuat tenggorokanku kering dan menelan ludah berkali-kali, sampai-sampai aku lupa menyapanya.

Malah Susi yang berbicara duluan, menarik kembali kesadaranku.

“Rifki? Sudah malam begini… ada apa kamu ke sini?”

Tatapan Susi tampak heran. Aku memaksa diriku mengalihkan pandangan dari bagian dadanya yang mulus dan menjawabnya,

“Tante Susi… maaf mengganggumu malam-malam begini. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan langsung pada David!”

Susi seolah bisa membaca amarahku, raut wajahnya langsung berubah tegang.

Dia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi mengurungkan niatnya. Setelah ragu-ragu cukup lama, akhirnya dia berkata perlahan,

“Rifki… kamu… kamu sudah menyadari sesuatu?”

Mendengar pertanyaan itu, mana mungkin aku masih tidak mengerti. Tampaknya Susi juga tahu soal hubungan antara istriku dan David.

Jika tidak, mana mungkin dia melontarkan pertanyaan seperti itu?

Emosiku langsung memuncak tanpa kendali. Tanpa peduli soal batasan umur dan status, aku langsung memojokkan Susi ke dinding dan menguncinya, lalu bertanya padanya,

“Tante Susi… kamu tahu sesuatu, ‘kan? Jawab!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 7

    Namun, tak disangka, baru tiga hari dinas keluar kota, aku sudah menerima surat cerai yang dikirim oleh pengacara atas utusan istriku.Begitu menerima surat cerai itu, aku langsung terkejut.Setelah mencoba tenang dan membaca isi perjanjian, aku semakin merinding.Tak disangka, istriku yang berselingkuh lebih dulu malah membalikkan fakta. Dia memfitnahku telah mengkhianati pernikahan kami sejak lama, bahkan menuduhku melakukan kekerasan dalam rumah tangga.Bahkan bukti perselingkuhanku pun sudah lengkap dia kumpulkan, termasuk catatan transfer uang dua puluh juta dariku untuk Susi.Setiap pasal dan rincian di dalamnya mencantumkan kesalahan-kesalahanku dengan sangat detail. Pada akhirnya, dia menuntut pengadilan untuk mengesahkan perceraian kami dan memutuskan diriku cerai tanpa membawa harta sepeser pun.Usai membaca surat cerai itu, keningku sudah dibasahi keringat dingin.Aku tak pernah menyangka dua wanita yang pernah tidur seranjang denganku, tega bekerja sama untuk menjebakku sep

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 6

    Hari-hari berikutnya, aku dan istriku terlihat tetap menjaga keharmonisan demi mempertahankan formalitas rumah tangga.Namun di belakangnya, aku malah menjalin hubungan gelap dengan Susi, ibu mertuanya David.Semakin lama bersama Susan, aku semakin merasa dia sangat memikat. Bahkan sampai timbul niat untuk menceraikan istriku.Sebelum berangkat dinas keluar kota, aku tak bisa menahan diri untuk mengajak Susan keluar. “Sayang… aku mau pergi dinas setengah bulan, kamu harus layani diriku sampai benar-benar puas dulu!”Mendengar ucapanku yang liar, Susan terus mengomel dan mengatakan aku tidak sopan.Pergi dinas setengah bulan, yang merasa tersiksa jelas bukan hanya diriku seorang.Meski sebelum bersamaku perawatan tubuh Susan sudah cukup bagus, setelah sekian lama mendapat belaian ekstra dariku, kini rona wajahnya tampak lebih segar dan berseri-seri.Benar-benar seperti wanita muda umur tiga puluhan.Seluruh dirinya memancarkan pesona wanita yang begitu menggoda dan semakin memikat hati

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 5

    Setelah menjelaskan alasannya, Susi menggenggam tanganku dan memohon, “Rifki, karena kamu juga sudah dapat ganti ruginya, bisa nggak kamu anggap kejadian ini nggak pernah ada? Aku bakal bujuk David supaya putus hubungan dengan istrimu. Jangan ceraikan istrimu, ya?”Melihat tatapannya yang kasihan, hatiku pun goyah.Aku sungguh tak tega menolaknya.Lagipula, apa yang tak seharusnya terjadi di antara kami sudah terlanjur terjadi tadi malam. Sekarang aku dan istriku sama-sama pengkhianat di dalam pernikahan, jadi apa hakku untuk menyalahkannya?Setelah terdiam cukup lama, aku mengangguk setuju dan menjawab, “Iya… Tante Susi. Demi kamu, aku nggak akan memperpanjang masalah ini, tapi….”“Tapi apa?” Susi tiba-tiba terlihat agak panik.Dengan tatapan mesum, aku memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu perlahan menjilat sudut bibirku dan berkata, “Tapi, nggak cukup kalau hanya tidur sekali… siapa yang tahu mereka sudah tidur berapa kali? Aku nggak mau rugi!”Mendengar ucapanku

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 4

    “Tante Susi… kamu sexy sekali!”Sebelum mulai beraksi, aku tak tahan untuk tidak mencium pipi Susi, sambil memujinya.Pujian itu membuat Susi semakin malu. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dadaku, lalu meninju dadaku pelan dengan kepalan tangan kecilnya.“Dasar mesum… kamu jahat sekali!”Aku tersenyum tipis dan memeluknya semakin erat, sambil berkata, “Kalau nggak nakal, kamu nggak suka!”Tepat saat aku hendak melanjutkan aksi, tiba-tiba Susi teringat sesuatu dan mengingatkanku, “Rifki… itu, kamu pakai pengaman, nggak?”“Apa?” Otakku mendadak linglung sejenak, tak mengerti apa maksudnya.Susi agak malu-malu dan memalingkan wajahnya, lalu menjelaskan, “Itu… itu, lho….”Melihat wajahnya yang sangat malu-malu, barulah aku sadar apa pengaman yang dia maksud.Emangnya wanita seusia Susi masih perlu pakai pengaman?Tanpa sadar, aku pun bertanya, “Tante Susi… emangnya kamu belum menopause?”Mendengar ucapanku, Susi langsung cemberut dan menyalahkanku, “Dasar kamu, asal bicara apa, sih

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 3

    Suara percakapan di luar pintu tak berlangsung lama. Tak sampai dua menit, pintu kamar pun terbuka.Lampu di dalam kamar sengaja tak kunyalakan. Begitu ada orang yang melangkah masuk, aku yang sudah tak sabar langsung memeluknya dari belakang.Susi yang terkejut langsung reflek menjerit, “Ah!”Namun begitu menyadarinya, dia langsung segera menutup mulutnya sendiri.Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma harum manis dari tubuhnya. Lidahku yang kasar meluncur dari samping leher menuju cuping telinganya.Setelah menggigitnya pelan, aku menggodanya, “Tante Susi… kamu sensitif sekali!”Susi merasa sangat malu. Dia menggeliatkan tubuhnya di dalam pelukanku, berusaha keras untuk melepaskan diri.Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja? Aku langsung mengunci tubuhnya erat-erat menggunakan kedua kakiku.Sambil berbisik pelan, aku memperingatkannya, “Tante Susi, jangan lupa janjimu barusan… kamu mau putrimu tahu kalau….”Belum selesai aku berbicara, Susi sudah

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 2

    Susi jelas tak menyangka aku bakal senekat ini, tubuhnya langsung membeku.Wajahnya langsung merona, sampai-sampai irama napasnya jadi tak beraturan.Sambil menggigit bibirnya, dia menundukkan pandangan dengan malu-malu dan membela diri dengan suara pelan, “Nggak… aku nggak tahu… nggak tahu apa-apa….”Wanita memang paling jago berbohong.Apalagi wanita seperti Susi yang daya pikatnya masih sangat terpancar. Jika tak diberi sedikit gertakan, dia pasti tak akan mau jujur padaku.Aku pun terkekeh, lalu mengangkat tangan mencengkeram dagu Susi untuk memaksanya bertatapan dengan mataku.“Tante Susi… barusan aku lihat pakai mata kepalaku sendiri, David lari dari kamar istriku dengan pakaian yang tak lengkap!”“Sebagai orang tuanya, tante nggak mau memberi penjelasan apa-apa padaku?”Ucapanku langsung membuat Susi tak berkutik. Dia tergagap cukup lama, tapi tak mampu memberikan alasan yang masuk akal.Malah di bawah tatapan intimidasiku, seluruh tubuhnya mulai gemetaran.“Rifki… aku… kamu….”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status