Partager

Bab 3

Auteur: Pelan-pelan Saja
Suara percakapan di luar pintu tak berlangsung lama. Tak sampai dua menit, pintu kamar pun terbuka.

Lampu di dalam kamar sengaja tak kunyalakan. Begitu ada orang yang melangkah masuk, aku yang sudah tak sabar langsung memeluknya dari belakang.

Susi yang terkejut langsung reflek menjerit, “Ah!”

Namun begitu menyadarinya, dia langsung segera menutup mulutnya sendiri.

Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma harum manis dari tubuhnya. Lidahku yang kasar meluncur dari samping leher menuju cuping telinganya.

Setelah menggigitnya pelan, aku menggodanya,

“Tante Susi… kamu sensitif sekali!”

Susi merasa sangat malu. Dia menggeliatkan tubuhnya di dalam pelukanku, berusaha keras untuk melepaskan diri.

Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja? Aku langsung mengunci tubuhnya erat-erat menggunakan kedua kakiku.

Sambil berbisik pelan, aku memperingatkannya, “Tante Susi, jangan lupa janjimu barusan… kamu mau putrimu tahu kalau….”

Belum selesai aku berbicara, Susi sudah lebih tenang dan menghentikan perlawanannya.

“Begitu dong….”

Aku tersenyum nakal, lalu perlahan menyusupkan tanganku ke balik kerah bajunya. Begitu menyentuh sepasang dada yang montok itu, tubuhku langsung bergetar hebat.

Tak disangka, wanita seusia Susi masih memiliki bentuk tubuh yang begitu kencang dan kenyal.

Sensasinya bahkan tak kalah dengan wanita muda.

“Hm… Rifki… pelan… pelan-pelan remasnya….”

Padahal aku belum mengeluarkan banyak tenaga, tapi Susi sudah mulai mendesah memohon ampun dengan suara manja.

Wanita seperti ini benar-benar racun mematikan bagi pria mana pun, siapa pun yang menyentuhnya pasti bakal gila dibuatnya.

Aku sama sekali tak menghiraukan ucapannya, lalu dengan kasar merobek baju tidurnya.

Sepasang buah dada yang putih seperti puding menyembul keluar, bergetar hebat hingga membuat hatiku terasa geli tak karuan.

Seketika, aku mengunci kedua pergelangan tangannya dan menindih tubuhnya di atas ranjang.

Lalu, aku membenamkan wajahku ke dadanya, menikmati pesona wanita dewasa ini.

Susi tak berani mengeluarkan suara yang keras, jadi dia hanya bisa menggigit bibirnya sambil mendesah pelan,

“Hm… ah… Rifki… jangan….”

Merasakan reaksi tubuhnya yang begitu jujur, aku terkekeh dan semakin terbakar gairah.

Jelas-jelas tubuhnya sudah sangat menginginkannya, tapi mulutnya masih saja menolak.

“Dasar genit… jangan pura-pura lagi! Kamu bahkan sudah basah kuyup!”

Begitu melepaskan gigitanku, aku melontarkan godaan itu, lalu perlahan meraba ke bawah untuk membuktikannya.

Tak disangka, ternyata Susi memakai celana dalam thong di balik gaun tidurnya.

Begitu menyadari model celana dalamnya, emosiku semakin membara. Aku langsung menarik salah satu celana dalamnya kuat-kuat.

“Sudah basah kuyup… Tante Susi, kamu nggak risih memakainya? Hm?”

Dengan nada suara yang sengaja kunaikkan di akhir kalimat, aku terus memainkan talinya.

Seketika, pertahanan Susi benar-benar runtuh. Kedua kakinya melilit pinggangku dengan kelenturan seperti seekor ular.

“Jangan… jangan mempermainkanku lagi… aku sudah nggak kuat….”

Susi benar-benar wanita dewasa yang sangat berpengalaman. Gerakannya membuat tubuh kami saling menempel erat.

Bagian celanaku rasanya sudah seperti terbakar dan benda milikku terasa membumbung sangat tinggi.

Aku sengaja menghentakkan pinggulku ke depan dengan nakal, membuat Susi tak sanggup menahan desahan manjanya.

“Ahh….”

“Tante Susi… menantumu sudah meniduri istriku, sepertinya nggak berlebihan kalau aku gantian meniduri ibu mertuanya, ‘kan?”

Aku meraba pelan bagian sensitifnya, sambil bernapas memburu untuk menggodanya.

Tatapan Susi sudah tampak sayu akibat godaanku. Kedua tangannya yang mulus melingkar erat di leherku, seolah ingin menyerahkan seluruh tubuhnya yang hangat dan lembut padaku.

Karena dia enggan menjawab, aku semakin gencar memainkannya.

Pada akhirnya, Susi benar-benar tak sanggup menahannya lagi, lalu merintih dengan suara tertekan,

“Rifki… cepat… berikan padaku….”

Mendapat perintah yang begitu terang-terangan, aku pun tak ragu lagi. Aku langsung menurunkan celana dalamnya.

Setelah itu, menarik celana ritsletingku dan dengan mahir mengarahkannya dan menghentaknya….

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 7

    Namun, tak disangka, baru tiga hari dinas keluar kota, aku sudah menerima surat cerai yang dikirim oleh pengacara atas utusan istriku.Begitu menerima surat cerai itu, aku langsung terkejut.Setelah mencoba tenang dan membaca isi perjanjian, aku semakin merinding.Tak disangka, istriku yang berselingkuh lebih dulu malah membalikkan fakta. Dia memfitnahku telah mengkhianati pernikahan kami sejak lama, bahkan menuduhku melakukan kekerasan dalam rumah tangga.Bahkan bukti perselingkuhanku pun sudah lengkap dia kumpulkan, termasuk catatan transfer uang dua puluh juta dariku untuk Susi.Setiap pasal dan rincian di dalamnya mencantumkan kesalahan-kesalahanku dengan sangat detail. Pada akhirnya, dia menuntut pengadilan untuk mengesahkan perceraian kami dan memutuskan diriku cerai tanpa membawa harta sepeser pun.Usai membaca surat cerai itu, keningku sudah dibasahi keringat dingin.Aku tak pernah menyangka dua wanita yang pernah tidur seranjang denganku, tega bekerja sama untuk menjebakku sep

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 6

    Hari-hari berikutnya, aku dan istriku terlihat tetap menjaga keharmonisan demi mempertahankan formalitas rumah tangga.Namun di belakangnya, aku malah menjalin hubungan gelap dengan Susi, ibu mertuanya David.Semakin lama bersama Susan, aku semakin merasa dia sangat memikat. Bahkan sampai timbul niat untuk menceraikan istriku.Sebelum berangkat dinas keluar kota, aku tak bisa menahan diri untuk mengajak Susan keluar. “Sayang… aku mau pergi dinas setengah bulan, kamu harus layani diriku sampai benar-benar puas dulu!”Mendengar ucapanku yang liar, Susan terus mengomel dan mengatakan aku tidak sopan.Pergi dinas setengah bulan, yang merasa tersiksa jelas bukan hanya diriku seorang.Meski sebelum bersamaku perawatan tubuh Susan sudah cukup bagus, setelah sekian lama mendapat belaian ekstra dariku, kini rona wajahnya tampak lebih segar dan berseri-seri.Benar-benar seperti wanita muda umur tiga puluhan.Seluruh dirinya memancarkan pesona wanita yang begitu menggoda dan semakin memikat hati

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 5

    Setelah menjelaskan alasannya, Susi menggenggam tanganku dan memohon, “Rifki, karena kamu juga sudah dapat ganti ruginya, bisa nggak kamu anggap kejadian ini nggak pernah ada? Aku bakal bujuk David supaya putus hubungan dengan istrimu. Jangan ceraikan istrimu, ya?”Melihat tatapannya yang kasihan, hatiku pun goyah.Aku sungguh tak tega menolaknya.Lagipula, apa yang tak seharusnya terjadi di antara kami sudah terlanjur terjadi tadi malam. Sekarang aku dan istriku sama-sama pengkhianat di dalam pernikahan, jadi apa hakku untuk menyalahkannya?Setelah terdiam cukup lama, aku mengangguk setuju dan menjawab, “Iya… Tante Susi. Demi kamu, aku nggak akan memperpanjang masalah ini, tapi….”“Tapi apa?” Susi tiba-tiba terlihat agak panik.Dengan tatapan mesum, aku memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu perlahan menjilat sudut bibirku dan berkata, “Tapi, nggak cukup kalau hanya tidur sekali… siapa yang tahu mereka sudah tidur berapa kali? Aku nggak mau rugi!”Mendengar ucapanku

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 4

    “Tante Susi… kamu sexy sekali!”Sebelum mulai beraksi, aku tak tahan untuk tidak mencium pipi Susi, sambil memujinya.Pujian itu membuat Susi semakin malu. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dadaku, lalu meninju dadaku pelan dengan kepalan tangan kecilnya.“Dasar mesum… kamu jahat sekali!”Aku tersenyum tipis dan memeluknya semakin erat, sambil berkata, “Kalau nggak nakal, kamu nggak suka!”Tepat saat aku hendak melanjutkan aksi, tiba-tiba Susi teringat sesuatu dan mengingatkanku, “Rifki… itu, kamu pakai pengaman, nggak?”“Apa?” Otakku mendadak linglung sejenak, tak mengerti apa maksudnya.Susi agak malu-malu dan memalingkan wajahnya, lalu menjelaskan, “Itu… itu, lho….”Melihat wajahnya yang sangat malu-malu, barulah aku sadar apa pengaman yang dia maksud.Emangnya wanita seusia Susi masih perlu pakai pengaman?Tanpa sadar, aku pun bertanya, “Tante Susi… emangnya kamu belum menopause?”Mendengar ucapanku, Susi langsung cemberut dan menyalahkanku, “Dasar kamu, asal bicara apa, sih

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 3

    Suara percakapan di luar pintu tak berlangsung lama. Tak sampai dua menit, pintu kamar pun terbuka.Lampu di dalam kamar sengaja tak kunyalakan. Begitu ada orang yang melangkah masuk, aku yang sudah tak sabar langsung memeluknya dari belakang.Susi yang terkejut langsung reflek menjerit, “Ah!”Namun begitu menyadarinya, dia langsung segera menutup mulutnya sendiri.Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma harum manis dari tubuhnya. Lidahku yang kasar meluncur dari samping leher menuju cuping telinganya.Setelah menggigitnya pelan, aku menggodanya, “Tante Susi… kamu sensitif sekali!”Susi merasa sangat malu. Dia menggeliatkan tubuhnya di dalam pelukanku, berusaha keras untuk melepaskan diri.Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja? Aku langsung mengunci tubuhnya erat-erat menggunakan kedua kakiku.Sambil berbisik pelan, aku memperingatkannya, “Tante Susi, jangan lupa janjimu barusan… kamu mau putrimu tahu kalau….”Belum selesai aku berbicara, Susi sudah

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 2

    Susi jelas tak menyangka aku bakal senekat ini, tubuhnya langsung membeku.Wajahnya langsung merona, sampai-sampai irama napasnya jadi tak beraturan.Sambil menggigit bibirnya, dia menundukkan pandangan dengan malu-malu dan membela diri dengan suara pelan, “Nggak… aku nggak tahu… nggak tahu apa-apa….”Wanita memang paling jago berbohong.Apalagi wanita seperti Susi yang daya pikatnya masih sangat terpancar. Jika tak diberi sedikit gertakan, dia pasti tak akan mau jujur padaku.Aku pun terkekeh, lalu mengangkat tangan mencengkeram dagu Susi untuk memaksanya bertatapan dengan mataku.“Tante Susi… barusan aku lihat pakai mata kepalaku sendiri, David lari dari kamar istriku dengan pakaian yang tak lengkap!”“Sebagai orang tuanya, tante nggak mau memberi penjelasan apa-apa padaku?”Ucapanku langsung membuat Susi tak berkutik. Dia tergagap cukup lama, tapi tak mampu memberikan alasan yang masuk akal.Malah di bawah tatapan intimidasiku, seluruh tubuhnya mulai gemetaran.“Rifki… aku… kamu….”

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status