Partager

Bab 2

Auteur: Pelan-pelan Saja
Susi jelas tak menyangka aku bakal senekat ini, tubuhnya langsung membeku.

Wajahnya langsung merona, sampai-sampai irama napasnya jadi tak beraturan.

Sambil menggigit bibirnya, dia menundukkan pandangan dengan malu-malu dan membela diri dengan suara pelan,

“Nggak… aku nggak tahu… nggak tahu apa-apa….”

Wanita memang paling jago berbohong.

Apalagi wanita seperti Susi yang daya pikatnya masih sangat terpancar. Jika tak diberi sedikit gertakan, dia pasti tak akan mau jujur padaku.

Aku pun terkekeh, lalu mengangkat tangan mencengkeram dagu Susi untuk memaksanya bertatapan dengan mataku.

“Tante Susi… barusan aku lihat pakai mata kepalaku sendiri, David lari dari kamar istriku dengan pakaian yang tak lengkap!”

“Sebagai orang tuanya, tante nggak mau memberi penjelasan apa-apa padaku?”

Ucapanku langsung membuat Susi tak berkutik. Dia tergagap cukup lama, tapi tak mampu memberikan alasan yang masuk akal.

Malah di bawah tatapan intimidasiku, seluruh tubuhnya mulai gemetaran.

“Rifki… aku… kamu….”

Suara Susi terdengar memburu akibat tubuhnya yang gemetaran.

Malah terdengar seperti desahan wanita yang sedang dihajar habis-habisan.

Mengingat kembali betapa nikmatnya istriku saat bermesraan di ranjang bersama David, amarah yang membakar di dadaku tak bisa padam sama sekali.

Tangan yang tadinya mencengkeram dagunya perlahan turun ke bawah tanpa bisa dikendalikan, hingga akhirnya langsung menyentil jatuh tali gaun tidur rendanya.

Melihat tindakanku, mata Susi langsung membelalak lebar, dia panik bukan main.

“Rifki, kamu apain… aku ini ibu mertuanya David, lho! Bisa-bisanya kamu….”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Sstt… Tante Susi, ibu mertua itu termasuk setengah ibu kandung. Dia melakukan kesalahan, tentu saja kamu yang harus menanggung akibatnya, dong?”

Awalnya aku hanya ingin menutup mulutnya agar tak perlu mendengar ceramahnya, tapi begitu menyentuh bibirnya yang lembut, diriku langsung tak sanggup menahannya lagi.

Tanpa ragu, aku menyusupkan dua jariku yang lumayan besar dan langsung masuk ke dalam rongga mulutnya.

Aku mengaduk-aduk lidah merah mudanya dengan liar, membuat Susi tersedak dan mendesah tak berdaya.

“Hm… ah….”

Mana ada pria yang sanggup menahan diri mendengar suara rintihan yang begitu sexy dan menggoda. Gairah di area perut bawahku langsung bergejolak hebat.

Begitu melirik ke bawah, aku tak tahan untuk mengumpat,

“Sialan! Reaksinya kuat sekali!”

Di saat bersamaan, Susi juga menyadari perubahan pada diriku, matanya membelalak lebar karena terkejut.

Tubuhnya semakin lemas tak bertenaga. Kalau bukan karena sebelah tanganku menopang bokongnya yang kenyal, mungkin dia sudah merosot jatuh dari dinding.

Mengingat Susi sudah menjanda cukup lama, niat jahat di benakku semakin menjadi-jadi.

Sambil terus memainkan air liurnya, aku menajamkan sudut bibir dan memancingnya dengan pertanyaan menggoda,

“Tante Susi… kamu sudah lama nggak disentuh laki-laki, ‘kan?”

“Pantas saja tubuhmu… sensitif sekali!”

Sambil berbicara, tanganku sesekali mencubit daging empuk di pinggangnya, membuat Susi seperti kelinci yang ketakutan dan gemetaran hebat.

Tepat saat aku hendak melanjutkan aksi nakalku padanya, tiba-tiba terdengar suara putri Susi dari dalam kamar,

“Ibu… sudah begitu malam, ada tamu yang datang?”

Mendengar suara itu, tubuh Susi semakin gemetaran.

Dia langsung mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mendorongku, lalu buru-buru menutup mulutku dengan tangannya sambil memohon,

“Rifki… kumohon, jangan sampai putriku melihatnya! Asal kamu mau kerja sama denganku, aku bakal turuti semua kemauanmu….”

Mendengar ucapan Susi, hatiku semakin terangsang.

“Tante Susi, kamu benaran mau menuruti semua kemauanku? Hm?”

Tanpa berpikir panjang lagi, Susi mengangguk berkali-kali, “Iya… aku bakal menuruti semua kemauanmu….”

Kalau begitu, aku akan memercayainya kali ini.

Sebelum ketahuan, aku langsung menyusup masuk ke dalam kamar tidur Susi, lalu berbaring dan bersembunyi di balik selimutnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 7

    Namun, tak disangka, baru tiga hari dinas keluar kota, aku sudah menerima surat cerai yang dikirim oleh pengacara atas utusan istriku.Begitu menerima surat cerai itu, aku langsung terkejut.Setelah mencoba tenang dan membaca isi perjanjian, aku semakin merinding.Tak disangka, istriku yang berselingkuh lebih dulu malah membalikkan fakta. Dia memfitnahku telah mengkhianati pernikahan kami sejak lama, bahkan menuduhku melakukan kekerasan dalam rumah tangga.Bahkan bukti perselingkuhanku pun sudah lengkap dia kumpulkan, termasuk catatan transfer uang dua puluh juta dariku untuk Susi.Setiap pasal dan rincian di dalamnya mencantumkan kesalahan-kesalahanku dengan sangat detail. Pada akhirnya, dia menuntut pengadilan untuk mengesahkan perceraian kami dan memutuskan diriku cerai tanpa membawa harta sepeser pun.Usai membaca surat cerai itu, keningku sudah dibasahi keringat dingin.Aku tak pernah menyangka dua wanita yang pernah tidur seranjang denganku, tega bekerja sama untuk menjebakku sep

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 6

    Hari-hari berikutnya, aku dan istriku terlihat tetap menjaga keharmonisan demi mempertahankan formalitas rumah tangga.Namun di belakangnya, aku malah menjalin hubungan gelap dengan Susi, ibu mertuanya David.Semakin lama bersama Susan, aku semakin merasa dia sangat memikat. Bahkan sampai timbul niat untuk menceraikan istriku.Sebelum berangkat dinas keluar kota, aku tak bisa menahan diri untuk mengajak Susan keluar. “Sayang… aku mau pergi dinas setengah bulan, kamu harus layani diriku sampai benar-benar puas dulu!”Mendengar ucapanku yang liar, Susan terus mengomel dan mengatakan aku tidak sopan.Pergi dinas setengah bulan, yang merasa tersiksa jelas bukan hanya diriku seorang.Meski sebelum bersamaku perawatan tubuh Susan sudah cukup bagus, setelah sekian lama mendapat belaian ekstra dariku, kini rona wajahnya tampak lebih segar dan berseri-seri.Benar-benar seperti wanita muda umur tiga puluhan.Seluruh dirinya memancarkan pesona wanita yang begitu menggoda dan semakin memikat hati

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 5

    Setelah menjelaskan alasannya, Susi menggenggam tanganku dan memohon, “Rifki, karena kamu juga sudah dapat ganti ruginya, bisa nggak kamu anggap kejadian ini nggak pernah ada? Aku bakal bujuk David supaya putus hubungan dengan istrimu. Jangan ceraikan istrimu, ya?”Melihat tatapannya yang kasihan, hatiku pun goyah.Aku sungguh tak tega menolaknya.Lagipula, apa yang tak seharusnya terjadi di antara kami sudah terlanjur terjadi tadi malam. Sekarang aku dan istriku sama-sama pengkhianat di dalam pernikahan, jadi apa hakku untuk menyalahkannya?Setelah terdiam cukup lama, aku mengangguk setuju dan menjawab, “Iya… Tante Susi. Demi kamu, aku nggak akan memperpanjang masalah ini, tapi….”“Tapi apa?” Susi tiba-tiba terlihat agak panik.Dengan tatapan mesum, aku memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu perlahan menjilat sudut bibirku dan berkata, “Tapi, nggak cukup kalau hanya tidur sekali… siapa yang tahu mereka sudah tidur berapa kali? Aku nggak mau rugi!”Mendengar ucapanku

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 4

    “Tante Susi… kamu sexy sekali!”Sebelum mulai beraksi, aku tak tahan untuk tidak mencium pipi Susi, sambil memujinya.Pujian itu membuat Susi semakin malu. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dadaku, lalu meninju dadaku pelan dengan kepalan tangan kecilnya.“Dasar mesum… kamu jahat sekali!”Aku tersenyum tipis dan memeluknya semakin erat, sambil berkata, “Kalau nggak nakal, kamu nggak suka!”Tepat saat aku hendak melanjutkan aksi, tiba-tiba Susi teringat sesuatu dan mengingatkanku, “Rifki… itu, kamu pakai pengaman, nggak?”“Apa?” Otakku mendadak linglung sejenak, tak mengerti apa maksudnya.Susi agak malu-malu dan memalingkan wajahnya, lalu menjelaskan, “Itu… itu, lho….”Melihat wajahnya yang sangat malu-malu, barulah aku sadar apa pengaman yang dia maksud.Emangnya wanita seusia Susi masih perlu pakai pengaman?Tanpa sadar, aku pun bertanya, “Tante Susi… emangnya kamu belum menopause?”Mendengar ucapanku, Susi langsung cemberut dan menyalahkanku, “Dasar kamu, asal bicara apa, sih

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 3

    Suara percakapan di luar pintu tak berlangsung lama. Tak sampai dua menit, pintu kamar pun terbuka.Lampu di dalam kamar sengaja tak kunyalakan. Begitu ada orang yang melangkah masuk, aku yang sudah tak sabar langsung memeluknya dari belakang.Susi yang terkejut langsung reflek menjerit, “Ah!”Namun begitu menyadarinya, dia langsung segera menutup mulutnya sendiri.Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma harum manis dari tubuhnya. Lidahku yang kasar meluncur dari samping leher menuju cuping telinganya.Setelah menggigitnya pelan, aku menggodanya, “Tante Susi… kamu sensitif sekali!”Susi merasa sangat malu. Dia menggeliatkan tubuhnya di dalam pelukanku, berusaha keras untuk melepaskan diri.Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja? Aku langsung mengunci tubuhnya erat-erat menggunakan kedua kakiku.Sambil berbisik pelan, aku memperingatkannya, “Tante Susi, jangan lupa janjimu barusan… kamu mau putrimu tahu kalau….”Belum selesai aku berbicara, Susi sudah

  • Perangkap Manis Ibu Mertua Sahabatku   Bab 2

    Susi jelas tak menyangka aku bakal senekat ini, tubuhnya langsung membeku.Wajahnya langsung merona, sampai-sampai irama napasnya jadi tak beraturan.Sambil menggigit bibirnya, dia menundukkan pandangan dengan malu-malu dan membela diri dengan suara pelan, “Nggak… aku nggak tahu… nggak tahu apa-apa….”Wanita memang paling jago berbohong.Apalagi wanita seperti Susi yang daya pikatnya masih sangat terpancar. Jika tak diberi sedikit gertakan, dia pasti tak akan mau jujur padaku.Aku pun terkekeh, lalu mengangkat tangan mencengkeram dagu Susi untuk memaksanya bertatapan dengan mataku.“Tante Susi… barusan aku lihat pakai mata kepalaku sendiri, David lari dari kamar istriku dengan pakaian yang tak lengkap!”“Sebagai orang tuanya, tante nggak mau memberi penjelasan apa-apa padaku?”Ucapanku langsung membuat Susi tak berkutik. Dia tergagap cukup lama, tapi tak mampu memberikan alasan yang masuk akal.Malah di bawah tatapan intimidasiku, seluruh tubuhnya mulai gemetaran.“Rifki… aku… kamu….”

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status