LOGINSelama perjalanan menuju rumah yang pria itu maksud, Mia benar-benar tak pernah berhenti berdoa dalam hatinya. Ia belum ingin mati. Ia tahu hidupnya penuh kesialan, namun ia masih ingin hidup dan tak mau mati konyol.
Mia melirik Dirga secara diam-diam. Pria itu tertidur? Entahlah. Yang jelas sejak mobil kembali melaju, ia tak pernah mendengar suara pria itu lagi.
Mia tak tahu sudah berapa menit ia di perjalanan, sampai mobil memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Ia menatap rumah mewah di hadapannya.
"Ini rumah siapa?" Tanya Mia berbisik pada Dion.
Dion sedikit mencondongkan tubuhnya pada Mia, "Tentu saja milik pria gila di belakangmu."
"HA? semewah ini?" Pekik Mia tanpa sadar, mengangetkan Dirga yang tadi tertidur.
Dion hanya tertawa melihat reaksi Mia. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah.
"Turunlah. Di sini kau aman." Ucap Dion.
Ia turun dan membantu Dirga untuk turun dari mobil.
"Kau, obati aku sekarang." Ucap Dirga tak terbantahkan.
Namun bukan Mia namanya kalau tak protes. "Hei, kenapa aku? Kamu nggak punya dokter pribadi? Dari banyak drama yang kulihat, pria kaya raya itu punya dokter pribadi sendiri!" Ucap Mia dengan nada suara sedikit keras.
Dion menatap Dirga yang ada di sampingnya. Dalam benak Dion saat ini, ia merasa jika Mia dan Dirga akan menjadi hal yang menarik.
Dirga melangkah masuk meninggalkan Mia yang sedang menahan rasa kesal.
Namun malam sudah semakin larut. Mia menatap ke sekelilingnya. Mendadak ia dibuat merinding. Dengan cepat ia masuk mengikuti Dirga dan Dion yang sudah masuk ke dalam lebih dulu.
"Ini." Dion menyerahkan sebuah kotak padanya, "Ini P3K. Di dalamnya lengkap dan kau bisa obati pria itu di dalam."
Mia berdecak, "Temanmu itu sangat menyebalkan!" Mia merebut kotak itu dari tangan Dion.
Dion hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan Mia.
Mia melangkah masuk ke dalam kamar yang tadi Dion tunjuk. Ia membuka pintu kamar tanpa mengetuk.
"Tutup pintunya!" Perintah Dirga.
Mia menatap kaget, "Kenapa harus tutup pintu?"
"Karena aku tak ingin ruang privasiku di ganggu."
"Ha?"
"Tutup pintunya!!"
Mia benar-benar dibuat kesal. Mimpi apa ia semalam? Kenapa nasibnya bisa se-sial ini.
Ia menutup pintu dengan kesal membuat dentuman yang cukup keras.
"Kau ingin menghancurkannya?"
"Menurutmu!!!"
"Sial! Kau benar-benar membuatku muak Mia!" Dirga melepaskan kemejanya dan hanya menyisakan celana kerjanya saja.
Mia dibuat mematung. Ia tak pernah melihat tubuh pria tanpa atasan secara langsung seperti ini. Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Ka--kau mau apa?" Tanya Mia mendadak gugup.
Dirga menyadari itu namun ia tak mau ambil pusing. Dirga berbaring di ranjangnya, "Bersihkan lukaku.!!" Perintah tak terbantahkan itu keluar dari mulut Dirga.
"Tapi kenapa harus buka baju?" Teriak Mia kesal.
"Kenapa? Kau ingin aku membuka celanaku juga?"
"DIRGA!" Teriak Mia kesal.
Dirga menautkan alisnya, "Kau tahu namaku?"
"Hah! Tak peduli aku tahu atau tidak, yang jelas pakai bajumu kembali!!"
"Ck! Obati aku sekarang, atau kau kubawa lagi ke tempat tadi!"
Mia tanpa sadar melangkah dua langkah ke depan. Ancaman Dirga merespon tubuhnya untuk melangkah mendekat.
Mia mengepalkan jemarinya kesal. Ia mendekat pada Dirga dan duduk di samping pria tersebut.
Tanpa mempedulikan rasa malunya lagi, Mia mulai membersihkan bekas jahitan Dirga yang sepertinya masih basah.
Situasi mendadak sunyi dan tegang. Mia melirik Dirga dan kembali menunduk karena pria itu ternyata juga sedang menatapnya.
Mia fokus dengan pekerjaannya. Ia juga mengganti perban dan menyelesaikannya dengan baik.
"Sudah." Ucapnya.
Ia menyimpan kembali semua peralatan P3K ke dalam kotak.
Kali ini ia memberanikan diri menatap Dirga, "Kau benar-benar mafia?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Mia.
Dirga mengangkat sebelah alisnya. Dirga tak menjawab. Ia justru memilih untuk memejamkan matanya. Padahal pria itu belum memakai atasan sama sekali.
"Hei, Paman, aku bertanya padamu."
Dirga seketika membuka mata, "Siapa yang kau panggil paman?"
"Tentu saja dirimu. Karena hanya pria tua yang telinganya bermasalah."
Dirga menajamkan tatapannya pada Mia.
Mulut gadis ini ternyata harus di tertibkan, Batin Dirga.
Dirga duduk secara tiba-tiba tanpa peduli rasa sakit di bekas lukanya.
Kini jarak wajahnya dan Mia sangat dekat.
"Jangan pernah bermain denganku, Mia. Kau ku minta untuk mengobati ku, bukan berarti kau bebas memanggilku seperti itu."
"Dan kamu pikir aku takut? Mana ada mafia wajahnya begini. Yang kutahu Mafia itu penuh dengan tato dan wajahnya sangar. Kamu berkulit bersih dan, cantik?"
Untuk kata yang terakhir, Mia cukup ragu untuk mengucapkannya, namun ia tak punya kata lain yang bisa ia gunakan untuk mewakili kata 'cantik'.
Tatapan Dirga padanya membuat Mia jadi gugup. Ia berdehem.
"Lukamu sudah selesai dibersihkan. Jadi aku," Mia berdiri namun tanpa permisi dan tiba-tiba, Dirga menariknya kembali duduk, menahan tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.
Mia membola kaget sementara Dirga sudah memejamkan matanya. Ia tak memberi jeda untuk tenang. Dirga langsung menggerakkan bibirnya, melumat inci demi inci bibir Mia, seolah itu adalah hukuman yang harus Mia terima selamanya.
Dirga geram. Ia menggigit bibir Mia membuat Mia spontan membuka mulut. Dirga tak membiarkan kesempatan itu hilang. Ia mengeksplor rongga mulut Mia dengan lidahnya.
Sadar dengan yang sedang terjadi, Mia mencoba memberontak. Ia memukul bahu Dirga, mendorongnya kuat namun tak bisa. Tenaganya tak cukup kuat untuk menghadapi pertahanan Dirga.
Satu hal yang bisa ia lakukan. Yaitu menggigit bibir Dirga.
Tanpa pikir panjang lagi, Mia menggigit bibir bawah Dirga dengan kuat yang membuat Dirga mau tak mau langsung melepaskan ciuman tersebut.
Mia bisa melihat bibir bawah Dirga berdarah karena ulahnya. Namun ia tak peduli sama sekali.
Mia kesal setengah mati. Ia menghapus bibirnya yang basah karena ulah Dirga. "Kamu, Iiiihh dasar pria mesum!!" Mia mengambil bantal lalu melemparnya kuat pada Dirga.
Ia langsung berlari keluar kamar. Dirga menyentuh bibirnya. Bukannya marah karena Mia menggigitnya, ia justru tertawa kecil, "Manis." Ucapnya.
Namun perlahan, tawa kecil itu berubah jadi tawa dingin dan syarat akan emosi.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Bawa keempat pria sialan itu ke gudang!"
Setelah panggilan terputus, Dirga berdiri dari duduknya dan keluar kamar.
Ia melihat Mia ada di ruang tengah sedang mengomel tak jelas.
"Kau ikut denganku!"
*****
Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da
Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba
Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r
Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah
Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar
Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp







