Share

Chapter 4

Author: Rilla
last update publish date: 2026-03-10 05:46:05

Selama perjalanan menuju rumah yang pria itu maksud, Mia benar-benar tak pernah berhenti berdoa dalam hatinya. Ia belum ingin mati. Ia tahu hidupnya penuh kesialan, namun ia masih ingin hidup dan tak mau mati konyol.

Mia melirik Dirga secara diam-diam. Pria itu tertidur? Entahlah. Yang jelas sejak mobil kembali melaju, ia tak pernah mendengar suara pria itu lagi.

Mia tak tahu sudah berapa menit ia di perjalanan, sampai mobil memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Ia menatap rumah mewah di hadapannya.

"Ini rumah siapa?" Tanya Mia berbisik pada Dion.

Dion sedikit mencondongkan tubuhnya pada Mia, "Tentu saja milik pria gila di belakangmu."

"HA? semewah ini?" Pekik Mia tanpa sadar, mengangetkan Dirga yang tadi tertidur.

Dion hanya tertawa melihat reaksi Mia. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah.

"Turunlah. Di sini kau aman." Ucap Dion.

Ia turun dan membantu Dirga untuk turun dari mobil.

"Kau, obati aku sekarang." Ucap Dirga tak terbantahkan.

Namun bukan Mia namanya kalau tak protes. "Hei, kenapa aku? Kamu nggak punya dokter pribadi? Dari banyak drama yang kulihat, pria kaya raya itu punya dokter pribadi sendiri!" Ucap Mia dengan nada suara sedikit keras.

Dion menatap Dirga yang ada di sampingnya. Dalam benak Dion saat ini, ia merasa jika Mia dan Dirga akan menjadi hal yang menarik.

Dirga melangkah masuk meninggalkan Mia yang sedang menahan rasa kesal.

Namun malam sudah semakin larut. Mia menatap ke sekelilingnya. Mendadak ia dibuat merinding. Dengan cepat ia masuk mengikuti Dirga dan Dion yang sudah masuk ke dalam lebih dulu.

"Ini." Dion menyerahkan sebuah kotak padanya, "Ini P3K. Di dalamnya lengkap dan kau bisa obati pria itu di dalam."

Mia berdecak, "Temanmu itu sangat menyebalkan!" Mia merebut kotak itu dari tangan Dion.

Dion hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan Mia.

Mia melangkah masuk ke dalam kamar yang tadi Dion tunjuk. Ia membuka pintu kamar tanpa mengetuk.

"Tutup pintunya!" Perintah Dirga.

Mia menatap kaget, "Kenapa harus tutup pintu?"

"Karena aku tak ingin ruang privasiku di ganggu."

"Ha?"

"Tutup pintunya!!"

Mia benar-benar dibuat kesal. Mimpi apa ia semalam? Kenapa nasibnya bisa se-sial ini.

Ia menutup pintu dengan kesal membuat dentuman yang cukup keras.

"Kau ingin menghancurkannya?"

"Menurutmu!!!"

"Sial! Kau benar-benar membuatku muak Mia!" Dirga melepaskan kemejanya dan hanya menyisakan celana kerjanya saja.

Mia dibuat mematung. Ia tak pernah melihat tubuh pria tanpa atasan secara langsung seperti ini. Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri.

"Ka--kau mau apa?" Tanya Mia mendadak gugup.

Dirga menyadari itu namun ia tak mau ambil pusing. Dirga berbaring di ranjangnya, "Bersihkan lukaku.!!" Perintah tak terbantahkan itu keluar dari mulut Dirga.

"Tapi kenapa harus buka baju?" Teriak Mia kesal.

"Kenapa? Kau ingin aku membuka celanaku juga?"

"DIRGA!" Teriak Mia kesal.

Dirga menautkan alisnya, "Kau tahu namaku?"

"Hah! Tak peduli aku tahu atau tidak, yang jelas pakai bajumu kembali!!"

"Ck! Obati aku sekarang, atau kau kubawa lagi ke tempat tadi!"

Mia tanpa sadar melangkah dua langkah ke depan. Ancaman Dirga merespon tubuhnya untuk melangkah mendekat.

Mia mengepalkan jemarinya kesal. Ia  mendekat pada Dirga dan duduk di samping pria tersebut.

Tanpa mempedulikan rasa malunya lagi, Mia mulai membersihkan bekas jahitan Dirga yang sepertinya masih basah.

Situasi mendadak sunyi dan tegang. Mia melirik Dirga dan kembali menunduk karena pria itu ternyata juga sedang menatapnya.

Mia fokus dengan pekerjaannya. Ia juga mengganti perban dan menyelesaikannya dengan baik.

"Sudah." Ucapnya.

Ia menyimpan kembali semua peralatan P3K ke dalam kotak.

Kali ini ia memberanikan diri menatap Dirga, "Kau benar-benar mafia?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Mia.

Dirga mengangkat sebelah alisnya. Dirga tak menjawab. Ia justru memilih untuk memejamkan matanya. Padahal pria itu belum memakai atasan sama sekali.

"Hei, Paman, aku bertanya padamu."

Dirga seketika membuka mata, "Siapa yang kau panggil paman?"

"Tentu saja dirimu. Karena hanya pria tua yang telinganya bermasalah."

Dirga menajamkan tatapannya pada Mia.

Mulut gadis ini ternyata harus di tertibkan, Batin Dirga.

Dirga duduk secara tiba-tiba tanpa peduli rasa sakit di bekas lukanya.

Kini jarak wajahnya dan Mia sangat dekat.

"Jangan pernah bermain denganku, Mia. Kau ku minta untuk mengobati ku, bukan berarti kau bebas memanggilku seperti itu."

"Dan kamu pikir aku takut? Mana ada mafia wajahnya begini. Yang kutahu Mafia itu penuh dengan tato dan wajahnya sangar. Kamu berkulit bersih dan, cantik?"

Untuk kata yang terakhir, Mia cukup ragu untuk mengucapkannya, namun ia tak punya kata lain yang bisa ia gunakan untuk mewakili kata 'cantik'.

Tatapan Dirga padanya membuat Mia jadi gugup. Ia berdehem.

"Lukamu sudah selesai dibersihkan. Jadi aku," Mia berdiri namun tanpa permisi dan tiba-tiba, Dirga menariknya kembali duduk, menahan tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.

Mia membola kaget sementara Dirga sudah memejamkan matanya. Ia tak memberi jeda untuk tenang. Dirga langsung menggerakkan bibirnya, melumat inci demi inci bibir Mia, seolah itu adalah hukuman yang harus Mia terima selamanya.

Dirga geram. Ia menggigit bibir Mia membuat Mia spontan membuka mulut. Dirga tak membiarkan kesempatan itu hilang. Ia mengeksplor rongga mulut Mia dengan lidahnya.

Sadar dengan yang sedang terjadi, Mia mencoba memberontak. Ia memukul bahu Dirga, mendorongnya kuat namun tak bisa. Tenaganya tak cukup kuat untuk menghadapi pertahanan Dirga.

Satu hal yang bisa ia lakukan. Yaitu menggigit bibir Dirga.

Tanpa pikir panjang lagi, Mia menggigit bibir bawah Dirga dengan kuat yang membuat Dirga mau tak mau langsung melepaskan ciuman tersebut.

Mia bisa melihat bibir bawah Dirga berdarah karena ulahnya. Namun ia tak peduli sama sekali.

Mia kesal setengah mati. Ia menghapus bibirnya yang basah karena ulah Dirga. "Kamu, Iiiihh dasar pria mesum!!" Mia mengambil bantal lalu melemparnya kuat pada Dirga.

Ia langsung berlari keluar kamar. Dirga menyentuh bibirnya. Bukannya marah karena Mia menggigitnya, ia justru tertawa kecil, "Manis." Ucapnya.

Namun perlahan, tawa kecil itu berubah jadi tawa dingin dan syarat akan emosi.

Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Bawa keempat pria sialan itu ke gudang!"

Setelah panggilan terputus, Dirga berdiri dari duduknya dan keluar kamar.

Ia melihat Mia ada di ruang tengah sedang mengomel tak jelas.

"Kau ikut denganku!"

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    99. Piknik

    Pagi hari menyambut kediaman Dirga dengan langit biru yang cerah dan udara yang terasa begitu segar. Sejak pukul enam pagi, Mia sudah sibuk mondar-mandir di dalam rumah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Keranjang piknik yang ia persiapkan sejak semalam sudah berada di dekat pintu, lengkap dengan berbagai makanan, minuman, tikar, hingga kamera instan yang sengaja ia bawa untuk mengabadikan momen mereka.Sementara itu, Dirga yang baru selesai bersiap keluar dari kamar sambil mengenakan kaus putih polos dan celana chino berwarna krem. Penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Tidak ada jas mahal ataupun sepatu formal yang biasa melekat pada dirinya sebagai seorang direktur perusahaan besar. Hari ini, Dirga hanya ingin menjadi seorang suami yang menikmati waktu bersama istrinya."Sudah siap semuanya, Sayang?" tanya Dirga.Mia mengangguk antusias.Mia nampak tak sabar untuk segera sampai di tempat piknik. Walaupun mereka di sana tak sampai seharian, namun Mi

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    98. Kolam Berenang 21+

    Hari mulai berganti minggu, minggu pun mulai berganti bulan. Dan kini satu bulan sudah Mia dan Dirga menjadi sepasang suami istri. Waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang Mia sendiri sulit percaya bahwa dirinya kini benar-benar menyandang status sebagai istri Dirga. Setelah hiruk-pikuk pernikahan mereka berakhir, kehidupan rumah tangga yang dijalani justru jauh lebih hangat dan menyenangkan daripada yang pernah ia bayangkan.Apalagi maminya Dirga. Walaupun wanita itu belum mau bertemu dengannya sepenuhnya, namun Sudah beberapa hari belakangan ini, mertuanya itu selalu mengirimkan makanan kesukaan Dirga ke rumah. Bukan itu saja, dalam makanan tersebut, kadang diselipkan beberapa buah yang memang bagus untuk kandungan. Dan Mia tahu buah itu dikhususkan untuknya.Di luar itu semua, yang jelas terlihat mencolok adalah perubahan dari sosok Dirga. Pria itu semakin manja, posesif, dan selalu mencari kesempatan untuk mengganggunya di sela-sela kesibukan. Jemari Dirga semakin nakal men

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    97. Dua kisah 21+

    Dua jam telah berlalu sejak pesta pernikahan mereka berakhir. Setelah mengantar para tamu penting, berpamitan dengan keluarga dan sahabat-sahabat mereka, Dirga akhirnya membawa Mia pulang ke rumah yang kini resmi menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Kelelahan jelas terlihat di wajah keduanya, namun senyum bahagia tak pernah benar-benar hilang. Mia bahkan masih sesekali melirik cincin di jari manisnya seolah belum percaya bahwa hari yang selama ini hanya ada dalam mimpi akhirnya benar-benar terjadi.Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Dirga turun lebih dulu lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Mia. Jemarinya langsung menggenggam tangan sang istri saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama. Namun langkah mereka terhenti ketika sebuah kotak besar berlapis kertas hadiah berwarna krem terlihat tergeletak tepat di depan pintu rumah.Kening Dirga langsung berkerut. Instingnya sebagai pria yang terbiasa men

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    96. Cucu untuk Mami

    Aula utama Hotel Daisy siang itu berubah menjadi lautan cahaya yang begitu memukau. Langit-langit tinggi dihiasi ribuan kristal yang menggantung bak bintang-bintang, memantulkan kilauan lampu ke seluruh ruangan. Hamparan bunga mawar putih, peony, dan anggrek memenuhi setiap sudut aula, menciptakan suasana yang elegan sekaligus hangat. Para tamu undangan dari kalangan pebisnis, sahabat, hingga keluarga memenuhi kursi-kursi yang telah disusun rapi menghadap altar megah yang berdiri di ujung ruangan.Di balik pintu khusus pengantin, Mia berdiri terpaku di depan cermin besar. Gaun pernikahan yang membalut tubuhnya tampak begitu sempurna. Gaun itu didesain dengan potongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya dengan anggun. Ribuan kristal Swarovski dijahit tangan memenuhi bagian dada hingga menjuntai ke rok panjang berlapis tulle yang mengembang megah. Ekor gaunnya membentang beberapa meter di belakangnya, sementara veil transparan bertabur mutiara halus menutupi sebagian ram

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    95. Melepaskan

    Mia mengikuti kemana maminya Dirga pergi. Dan wanita itu melangkah menuju kolam berenang samping rumah."Tante.." panggil Mia membuat maminya Dirga terkejut.Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan menatap Mia tajam."Mau apa anda ke sini." Tanyanya geram.Mia belum mau menjawab. Ia menatap wanita itu dengan seksama.Ia menghela napas panjang."Pada dasarnya, tak ada seorangpun manusia yang ingin dilahirkan jika hanya untuk menjadi permainan dunia." Ucap Mia memulai."Aku tahu masa laluku tak membuat siapapun suka. Tapi itu bukan salahku. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku. Jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin lahir dari rahim mu, tante. Karena aku bisa melihat se sayang apa Tante sama Dirga."Suasana hening seketika. "Aku hanya seorang anak yang menjadi korban jahatnya orang tua. Aku juga nggak mau hidup seperti ini. Aku bahkan sudah beberapa kali bunuh diri namun tetap tak mati. Dari situ aku tahu kalau Tuhan memang ingin aku bertahan."Mia melangkah semakin

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    94. Berharap Restu

    Setelah melamar Mia, Maminya Dirga mendengar kabar itu dan ia bertengkar hebat dengan Dirga.Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir yang penuh ketegangan itu. Selama satu bulan pula, Dirga tak pernah berhenti mendatangi mamanya. Lima kali pria itu datang dengan tujuan yang sama, meminta restu untuk menikahi Mia. Namun lima kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama; penolakan.Akan tetapi, Dirga bukan lagi pria yang mudah goyah oleh penolakan. Ia sudah terlalu lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini berbeda. Restu memang ia harapkan, tetapi bukan sesuatu yang akan menentukan langkahnya. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin memberitahukan kepada mamanya bahwa wanita yang dicintainya akan segera menjadi istrinya.Di sisi lain, segala sesuatu berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Rasya berdiri di belakangnya tanpa ragu. Bahkan pria itu ikut membantu mencari keberadaan ayah Mia yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi,

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    21. Dalam Mobil (21+)

    (Area 21+)*****Dirga menarik Mia keluar dari pembicaraan tak masuk akal itu. Bahkan pria itu tak menghiraukan papi dan kakeknya yang memanggil."Hei, kenapa kau kabur? Bukannya bagus kalau kau bisa punya istri secantik itu?" Ucap Mia bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil."Aku tak tert

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    10. Kontrak Menyesatkan

    Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertar

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    9. Perawat pribadi?

    Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, j

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 8

    Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status