Share

Chapter 3

Author: Rilla
last update publish date: 2026-03-09 19:33:07

Jam pulang sudah tiba. Mia keluar dari swalayan dengan gerak yang cukup waspada. Pasalnya seharian ini terasa sangat aneh. Beberapa pria ber jas hitam muncul di swalayan saat ia menjaga kasir. Dan itu cukup membuatnya risih.

Sembari memperhatikan di sekelilingnya, Mia terus melangkah. Kini bahkan langkahnya semakin cepat. Ia melihat beberapa lampu jalan tak berfungsi membuatnya mengumpat kesal. Mia mengeratkan peluknya pada tas sandang kecil yang ia punya. Langkahnya semakin cepat dan jantungnya memburu.

Ia yakin ada yang mengikutinya. Dan ia sama sekali tak berani melirik ke belakang. Napasnya memburu, keringat kecil sudah mengalir keluar dari pelipisnya.

Air matanya nyaris terjatuh karena rasa takutnya. "Lindungi aku Tuhan." Ucapnya.

Saat ia hendak ingin berlari, sebuah benda jatuh menghentikan langkahnya. Dengan tubuh bergetar, ia memberanikan diri untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.

"Hai nona. Kau butuh bantuan?" Sapa salah satu dari mereka.

Mia memucat. Ia memeluk tas sandangnya erat. Ia juga sangat ingin berteriak namun suaranya tertahan. Seolah ada bongkahan batu besar yang menahan pita suaranya.

Ia mencoa mundur, Namun keempat pria itu juga ikut melangkah.

"Mau kemana kau nona manis."

"Siapa kalian? Kalian mau apa?" teriaknya.

"Kami hanya ingin mengajakmu bermain."

Mia menggeleng kuat. Ia ingin berteriak kali ini, namun sialnya, ia tak bisa.

"Kenapa suaraku tak mau keluar!," teriaknya dalam hati.

Tak mau terjebak lama di sini. Mia langsung berlari kencang namun sialnya, ia tertangkap.

"Lepas! Lepaaas!" Pekiknya. Tubuh Mia dipeluk salah satu pria. Mulutnya langsung di bekap. Ia tak bisa berteriak lagi.

Ia memberontak sekuat tenaga, bahkan dengan  berani menggigit tangan pria yang membekapnya membuat bekapan itu terlepas. Mia melawan dengan menginjak kaki pria tersebut membuat kurungannya pada Mia terlepas.

Mia mengambil kesempatan untuk berlari namun ia kembali tertangkap.

"Mau kemana sayang." Ucap pria yang lain membuat Mia jijik.

"Lepas!!"

"DIAM DULU!!"

"Kalian mau apa? Aku nggak kenal sama kalian semua."

"Tapi kau sudah membuat bos kami marah. Kau harus,"

"Bos? bos mana? Aku nggak kenal sama bos kalian."

"SUDAH! Jangan banyak bicara lagi. Sepertinya kita berpesata malam ini." Sorak si botak di depan Mia. Mia menggigil. Ia ingin memberontak lagi namun sesuatu yang menyilaukan menyapa penglihatannya.

Mia melihat ke arah pengemudi.

Itu pria yang ia tolong semalam. Mia nyaris ambruk saat pria itu melajukan mobil dengan sangat kencang, membuat empat pria itu menyingkir.

"Masuk!" Teriaknya pada Mia.

Mia dengan sisa tenaga yang ia punya, langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Beruntung ia menguncinya dengan cepat sebelum pria jahat itu mencoba membukanya.

Mia memejamkan matanya. Suara teriakan dan umpatan masih ia dengar dari luar mobil.

Mia bisa mendengar suara klakson yang keras sebelum mobil akhirnya mundur dengan kencang. Mia belum ingin membuka mata.  Ia benar-benar ketakutan.

Saat ia sudah berada di depan gang, pria di sampingnya ini menginjak pedal gas dengan kuat membuat mobil langsung melaju kencang meninggalkan keempat penjahat tersebut.

Mia bisa bernafas lega saat mobil yang menolongnya sudah berada di  pinggiran jalan raya di samping hotel. Ia terpejam sebentar namun terbuka kembali saat ia menangkap suara desisan di sampingnya. Ia langsung melirik ke sebelah dan mendapati pria yang menolongnya itu kesakitan.

Mia spontan mendekat membuat pria itu terkejut.

"Kau mau apa?"

"Kamu terluka lagi. Ini berdarah."

"Menjauhlah!!"

"Tidak! Ini pasti sangat sakit. Aku akan, "

"Kubilang menjauhlah!"

Mia terkejut.

"Tapi kamu... Be--berdarah lagi." Mia menatap ngilu darah yang terlihat.

Mia membuka pintu mobil, membuat pria itu langsung menahannya.

"Kau mau kemana!"

"Turunlah. Di depan sana ada apotek, jadi,"

"Kau gila!" bentak tiba-tiba Dirga. "Kau ingin ditangkap lagi?"

"Tapi mereka nggak ada.. Lagian, ini jika dibiarkan akan infeksi."

Dirga menghela nafas kesal. Ia tak punya tenaga untuk berdebat. menghela napas kesal. Ia memberikan ponselnya, "Hubungi kontak dengan nama Dion."

"Ha?"

"Cepat, sialan!" Umpatnya.

Mia terkejut mendengar umpatan Pria itu padanya. Namun sekarang bukan saatnya ia menghajar pria di sampingnya.

Ia mengambil ponsel dan mencari kontak dengan nama Dion. Tak lama ia menunggu, panggilan tersebut langsung diangkat.

"Halo bro.." sapa Dion di seberang sana.

"Ha--halo mas, ini..."

"Ck! Lama!" Ia merebut ponsel tersebut, "Jemput  aku di samping hotel Daisy. Lima menit, kalau tidak kau kuhabisi!"

Tut Tut Tut .

Panggilan terputus begitu saja. Mia bahkan dibuat menganga tak percaya.  Ia melemparkan ponselnya di dashboard mobil lalu memejamkan matanya.

Mia menggeleng menyadarkan dirinya.

"Apa lukamu perlu aku cek ulang? kamu berdarah lagi.." Ucapnya.

"Anak TK juga tahu ini darah."

"Ha? Hei, aku bicara baik-baik. Jangan ngegas gitu om." Ucap Mia kesal.

Ia mendengus. Mia membuka pintu mobil, "Jika kau tertangkap keempat pria tadi, aku tak akan menolong mu lagi." Mia menghentikan geraknya.

Pria itu membuka matanya dan menatap Mia, "Anggap kita impas. Kau menolongku kemarin dan aku menolongmu sekarang. Jadi jika kau keluar dan tertangkap, aku tak akan membantumu lagi." Ia kembali memejamkan mata.

Ancaman itu membuat Mia cukup takut. Bagaimana kalau orang-orang yang mengejarnya tadi kembali menemukannya? Gimana kalau ia di perkosa? Bagaimana kalau ia diculik? Ya Tuhan.

Mia menatap ke samping, "Hei.." panggilnya namun pria itu tak merespon.

"Hei, kamu dengar aku nggak sih!"

"Ck! Apaan sih!"

"Aku nanya baik-baik. Kamu dengerin aku nggak sih!" Mia memutar tubuhnya menghadap samping lalu menyenderkan bahu kanannya di sandaran kursi, "Kamu sebenarnya siapa sih? Kenapa sejak aku nolongin kamu semalam, banyak hal aneh yang terjadi padaku. Pagi-pagi buta, ada beberapa pria misterius berdiri di dekat kontrakanku, di swalayan juga ada beberapa pria aneh yang masuk dan menatapku garang. Dan sekarang? Apalagi ini?"

Pria itu menghela napas berat. Ia menatap Mia, "Kau ingin tahu siapa aku?"

Mia mengangguk.

"Dirgantara Rasya Mahendra. Kau bisa memanggilku Dirga." Dirga menghentikan ucapannya.

Mia mengangkat sebelah alisnya. Karena setelahnya Dirga tak bicara lagi.

"Lalu?"

"Aku seorang Mafia."

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Keheningan terjadi beberapa detik sebelum akhirnya Mia tertawa keras. Perutnya benar-benar terasa geli. Ia bahkan tak menyadari tatapan tajam dari Dirga sampai suara ketukan di kaca mobil Dirga mengejutkan Mia.

Mia menatap takut. Di luar sana ada beberapa pria bertubuh tegap. Dirga menurunkan kaca mobil.

"Wow, lagi ken,"

"Tutup mulutmu Dion, atau aku tembak kepalamu."

Pria yang dipanggil Dion itu langsung mengunci bibirnya rapat-rapat.

"Hai.." sapa Dion pada Mia. Namun belum sempat Mia menjawab, Dion mengalihkan fokusnya lagi pada Dirga.

"Hei, kau terluka bung!"

"Bawa mobilnya." Dengan sisa tenaganya serta rasa sakit di perutnya, Dirga berpindah tempat ke belakang.

Mia membola kaget, "Kau tak ada niatan membawaku ikut juga kan? Soalnya aku,"

"Tenang nona, kau akan aman. Tapi jika kau memberontak, pria gila di belakangmu ini bisa memecahkan kepalamu."

Mia menatap Dirga dengan tatapan takut.

"Ka--kau, sungguh seorang mafia?"

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    84. PDKT

    Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    83. Cemburunya Kimi

    Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    82. Kesepakatan yang panas (21++++)

    Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    81. Aku Siap puasin Kamu

    Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    80. Averion Medical Group

    Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    79. Kata Cinta Yang Manis

    Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status