INICIAR SESIÓNMia sudah keluar dari swalayan. Sebenarnya ia cukup takut hari ini. Banyak pria yang muncul ke swalayan dan mereka sangat mencurigakan.
Ia melirik ke sekelilingnya. Tak ada siapa-siapa. Ia mulai melangkah. Biasanya pulang malam begini ia tak pernah merasa ketakutan. Tapi entah kenapa sekarang bulu kuduknya dibuat selalu berdiri.
Langkah Mia mulai memasuki gang gelap. Tak terlalu banyak lampu jalan dan juga sangat sepi. Ia mengeratkan pelukannya pada tas sandang kecil yang ia punya. Langkahnya semakin cepat.
Ia yakin ada yang mengikutinya. Dan Mia sama sekali tak berani melirik ke belakang. Napasnya memburu, keringat kecil sudah mengalir keluar dari pelipisnya.
"Ya Tuhan, ada apa ini." Ucapnya.
Saat ia hendak ingin berlari, sebuah benda jatuh menghentikan langkahnya. Dengan tubuh menggigil ia memberanikan diri untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Hai nona." Sapa salah satu dari mereka.
Mia memucat. Ia ingin berteriak namun suaranya tertahan. Seolah ada bongkahan batu besar yang menahan pita suaranya.
Mia mundur dengan cepat. Namun keempat pria itu juga ikut melangkah.
"Mau kemana kau nona manis."
Mia menggeleng kuat. Ia menangis.
"Kenapa suaraku tak mau keluar!," teriaknya dalam hati.
Tak mau terjebak lama di sini. Mia langsung berlari kencang namun sialnya, ia tertangkap.
"Lepas! Lepaaas!" Pekiknya. Tubuh Mia dipeluk salah satu pria. Mulutnya langsung di bekap. Ia tak bisa berteriak.
Mia mencoba memberontak sekuat tenaga. Ia bahkan menggigit tangan pria yang membekapnya membuat bekapan itu terlepas. Mia melawan dengan menginjak kaki pria yang memeluknya itu membuat kurungan pria itu padanya terlepas.
Mia mengambil kesempatan untuk berlari namun ia kembali tertangkap.
"Mau kemana sayang." Ucap pria yang lain membuat Mia jijik.
Saat pria itu hendak mencium Mia, sebuah mobil muncul dari depan gang.
Mia bisa melihat siapa pengemudinya.
Itu pria yang ia tolong semalam. Mia nyaris ambruk saat pria itu melakukan mobil dengan sangat kencang, membuat empat pria itu menyingkir.
"Masuk!" Teriaknya pada Mia.
Mia dengan sisa tenaga yang ia punya, langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Beruntung ia menguncinya dengan cepat sebelum pria jahat itu mencoba membukanya.
Mia memejamkan matanya. Suara teriakan dan umpatan masih ia dengar dari luar mobil.
Mia bisa mendengar suara klakson yang keras sebelum mobil akhirnya mundur dengan kencang. Mia belum ingin membuka mata. Ia benar-benar ketakutan.
Saat ia sudah berada di depan gang, pria di sampingnya ini menginjak pedal gas dengan kuat membuat mobil langsung melaju kencang meninggalkan keempat penjahat tersebut.
Mia bisa bernafas lega. Tak lama ia merasa mobil berhenti. Dan detik berikutnya, Mia mendengar desisan dari samping.
Ia langsung membuka mata dan melirik ke sebelah. tatapannya tertuju pada tangan pria itu yang kini menyentuh perut.
Mia spontan mendekat membuat pria itu terkejut.
"Kau mau apa?"
"Kamu terluka lagi. Ini berdarah."
"Menjauhlah!!"
"Tidak! Ini pasti sangat sakit. Aku akan, "
"Kubilang menjauhlah!"
Mia terkejut.
"Tapi kamu... Be--berdarah lagi." Mia menatap ngilu darah yang terlihat.
Mia membuka pintu mobil, membuat pria itu langsung menahannya.
"Kau mau kemana!"
"Turun. Di depan sana ada apotek, jadi,"
"Kau gila!
"Jika dibiarkan akan infeksi."
Ia menghela napas kesal. Ia memberikan ponselnya, "Hubungi kontak dengan nama Dion."
"Ha?"
"Cepat, sialan!" Umpatnya.
Mia terkejut mendengar umpatan Pria itu padanya. Namun sekarang bukan saatnya ia menghajar pria di sampingnya.
Mia mengambil ponsel tersebut dan mencari kontak dengan nama Dion. Tak lama ia menunggu, panggilan tersebut langsung diangkat.
"Halo bro.." sapa Dion di seberang sana.
"Ha--halo mas, ini..."
"Ck! Lama!" Ia merebut ponsel tersebut, "Jemput aku di samping hotel Daisy. Lima menit, kalau tidak kau kuhabisi!"
Tut Tut Tut .
Panggilan terputus begitu saja. Mia bahkan dibuat menganga tak percaya. Ia melemparkan ponselnya di dashboard mobil lalu memejamkan matanya.
Mia menggeleng menyadarkan dirinya."Hei, kamu terluka." Ucapnya.
"Anak TK juga tahu aku terluka."
"Ha? Hei, aku bicara baik-baik. Jangan ngegas gitu om." Ucap Mia kesal.
Ia mendengus kesal. Mia membuka pintu mobil, "Jika kau tertangkap keempat pria tadi, aku tak akan menolong mu lagi." Mia menghentikan geraknya.
Pria itu membuka matanya dan menatap Mia, "Anggap kita impas. Kau menolongku kemarin dan aku menolongmu sekarang. Jadi jika kau keluar dan tertangkap, aku tak akan membantumu lagi." Ia kembali memejamkan mata.
Ancaman itu membuat Mia cukup takut. Bagaimana kalau orang-orang yang mengejarnya tadi kembali menemukannya? Gimana kalau ia di perkosa? Bagaimana kalau ia diculik? Ya Tuhan.
Mia menatap ke samping, "Hei.." panggilnya namun pria itu tak merespon.
"Hei, kamu dengar aku nggak sih!"
"Ck! Apaan sih!"
"Aku nanya baik-baik. Kamu dengerin aku nggak sih!" Mia memutar tubuhnya menghadap samping lalu menyenderkan bahu kanannya di sandaran kursi, "Kamu sebenarnya siapa sih? Kenapa sejak aku nolongin kamu semalam, banyak hal aneh yang terjadi padaku. Pagi-pagi buta, ada beberapa pria misterius berdiri di dekat kontrakanku, di swalayan juga ada beberapa pria aneh yang masuk dan menatapku garang. Dan sekarang? Apalagi ini?"
Pria itu menghela napas berat. Ia menatap Mia, "Kau ingin tahu siapa aku?"
Mia mengangguk.
"Dirgantara Rasya Mahendra. Kau bisa memanggilku Dirga." Dirga menghentikan ucapannya.
Mia mengangkat sebelah alisnya. Karena setelahnya Dirga tak bicara lagi.
"Lalu?"
"Aku seorang Mafia."
Satu detik.
Dua detik. Tiga detik.Keheningan terjadi beberapa detik sebelum akhirnya Mia tertawa keras. Perutnya benar-benar terasa geli. Ia bahkan tak menyadari tatapan tajam dari Dirga sampai suara ketukan di kaca mobil Dirga mengejutkan Mia.
Mia menatap takut. Di luar sana ada beberapa pria bertubuh tegap. Dirga menurunkan kaca mobil.
"Wow, lagi ken,"
"Tutup mulutmu Dion, atau aku tembak kepalamu."
Pria yang dipanggil Dion itu langsung mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Hai.." sapa Dion pada Mia. Namun belum sempat Mia menjawab, Dion mengalihkan fokusnya lagi pada Dirga.
"Hei, kau terluka bung!"
"Bawa mobilnya." Dengan sisa tenaganya serta rasa sakit di perutnya, Dirga berpindah tempat ke belakang.
Mia membola kaget, "Kau tak ada niatan membawaku ikut juga kan? Soalnya aku,"
"Tenang nona, kau akan aman. Tapi jika kau memberontak, pria gila di belakangmu ini bisa memecahkan kepalamu."
Mia menatap Dirga dengan tatapan takut.
"Ka--kau, sungguh seorang mafia?"
*****
Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertarik. Satu hal yang ia tahu sekarang tentang Dirga. Pria itu menyukai novel fiksi. Banyak novel bergenre Romance di lemari bukunya.saat Mia ingin mengambil satu novel, pintu ruang kerja Dirga terbuka. Ia spontan melirik dan mendapati Dirga berdiri di sana dengan pakaian, olahraga?.Mia menatap gugup. Pakaian Dirga yang penuh keringat, mencetak tubuh atletis Dirga dengan jelas. Pria itu mendekat, melewati Mia dan duduk di kursi kerjanya. Aroma tubuh Dirga menguar dan Mia suka itu. Maskulin sekali, batinnya.Dirga berdehem menyadarkan Mia dari pikiran kotornya."Oh iya." Ia duduk di kursi di depan meja. "Jadi, kenapa aku dipanggil pagi-pagi begini?"Dirga membuka laci mejanya dan mengeluarkan
Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, jika sekarang ia mati, tak akan ada yang peduli.Mia masih menatap Dirga. Air matanya masih mengalir. "Aku tak pernah takut untuk mati asal kamu tahu Dirga. Karena aku tak punya siapa-siapa di dunia ini."Kali ini Dirga benar-benar dibuat diam seribu bahasa. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia akan melihat tatapan mata yang menyakitkan seperti ini.Dirga berdehem. Ia melepaskan genggamannya dari lengan Mia. Tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali masuk ke kamarnya. Sepeninggalan Dirga, Mia langsung menyentuh lengannya yang terasa sakit. Ia masih terisak. Lagi-lagi ia menyentuh perutnya. Rasa lapar itu belum reda walaupun moodnya sedang tak baik-baik saja.Mia memutuskan duduk di kursi m
Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya paham itu apa. Mia merasakan benda itu semakin menekan.Tidak. Ini tak bisa dilanjutkan. Mia membuka matanya dan dengan dorongan keras, ia mendorong Dirga membuat ciuman itu terlepas.Namun Dirga kembali menariknya. Tubuh Mia menegang saat Dirga tiba-tiba menghimpitnya mendekat. Belum sempat ia bereaksi, kedua pergelangan tangannya sudah terangkat, tertahan di atas kepalanya, terkunci oleh satu genggaman kuat.“Dirga…?” suaranya nyaris tak keluar.Namun laki-laki itu tak menjawab.Dalam satu gerakan cepat, tubuh Mia diputar menghadap dinding. Punggungnya menempel pada permukaan dingin, sementara napasnya mulai tak beraturan. Jantungnya berdetak begitu keras, seolah ingin keluar dari dadanya.I
"Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali."Kalian?"Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga."I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga."Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga."Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya."DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kam
Dion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga."Bagaimana?" Tanya Dion."Dirga sudah tidur.""Parahkah?"Kian mengangguk ragu."Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."Dion mengangguk paham. "Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu.""Dia temanmu juga!""Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung t
Mia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam."Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,""Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh."Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"Ciiitt!!Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang."Turun!" Titah Dirga."Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?""Turun, atau aku ledakkan mobil ini."Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil."Oke.







