Home / Romansa / Perempuan Kedua / Bab 1. Tamu Tak Diundang

Share

Perempuan Kedua
Perempuan Kedua
Author: Sulistiani

Bab 1. Tamu Tak Diundang

Author: Sulistiani
last update publish date: 2026-06-18 15:40:46

"Mbak, cari saya dan suami?" tanya Yumna.

Hari ini ada acara selamatan 7 bulan kehamilan Yumna, di tengah acara asisten rumah tangga mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu. Yumna pikir salah satu tamunya yang telat datang, tapi ternyata ia tak kenal dengan wanita yang berdiri di hadapannya.

Seorang wanita memakai baju dress panjang berwarna merah muda, dengan rambut terurai, tengah berdiri membelakangi pintu, ketika Yumna bertanya kepadanya wanita tersebut pun membalikkan badan lalu menatap Yumna dan Haikal.

"Kamu, ngapain kamu kesini?" tanya Haikal dengan ekspresi terkejut.

"Siapa wanita ini, Mas. Kamu kenal?" tanya Yumna penuh selidik.

Wanita itu sekilas tersenyum ke arah Yumna dan Haikal lalu menundukkan pandangannya kembali.

"Mbak siapa ya, Ada perlu apa mencari kami di sini?" Yumna kembali bertanya karena sejak tadi belum mendapat jawaban dari pertanyaannya.

"Sa–saya ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal," ucap wanita tersebut dengan suara bergetar.

"Pertanggungjawaban, maksudnya bertanggung jawab apa, Mas. Sebenarnya siapa dia?" tanya Yumna dengan nada yang mulai cemas.

"Sayang, lebih baik kita bicarakan di dalam saja. Ini pasti ada kekeliruan," ucap Haikal.

Yumna mengangguk, mereka membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Melewati para tamu yang hadir, hingga mereka tiba di ruang tamu.

"Silahkan duduk, Mbak," ucap Yumna.

Wanita itu pun duduk berhadapan dengan Yumna dan Haikal, asisten rumah tangga dengan sigap memberikan satu gelas air dan disimpan di depan meja tepat di hadapan wanita itu.

"Siapa nama Mbak, dan ada keperluan apa Mbak datang ke sini?" tanya Yumna masih dengan suaranya yang terdengar ramah.

"Saya Arini, saya datang ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal atas bayi di dalam perut saya," ucap Arini.

Deg ...

Yumna tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut wanita yang duduk di hadapannya tersebut. Seperti ada ribuan anak panah yang menusuk jantungnya, tubuhnya tiba-tiba melemas dan ia menatap sang suami dengan tatapan nanar.

"Kamu jangan mengarang, Arini. Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" tanya Haikal dengan nada emosi.

"Saya tidak bohong, Pak Haikal. Minggu kemarin saya baru mengetahui jika saya hamil. Saya mencari tahu alamat Bapak, dan saya terpaksa datang ke sini karena saya merasa tidak pernah melakukan hal itu selain dengan bapak," ucap Arini.

"Tapi saya tidak merasa melakukan apa-apa dengan kamu!" ucap Haikal.

"Kenapa Bapak masih menyangkal, padahal saat itu Bapak ada di samping saya saat terbangun dan kita sama-sama tidak memakai sehelai benang pun," ucap Arini.

Dada Yumna makin terasa sesak saat mendengar ucapan wanita di hadapannya. Arini, wanita berparas cantik dengan tatapan mata yang sendu. Wajah khas gadis desa yang lugu, siapapun tidak mengira jika wanita seperti itu bisa memiliki hubungan khusus hingga hamil dengan suami orang.

"Mas, jelaskan apa yang terjadi antara kamu dan dia," ucap Yumna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Sayang, aku mohon kamu jangan terbawa emosi dulu. Jangan percaya ucapannya, tapi percayalah dengan ucapanku," ucap Haikal mencoba menenangkan sang istri.

"Bu Yumna, Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati ibu atau menghancurkan rumah tangga Ibu, Tapi keadaan saya yang memaksa seperti ini. Saya tidak ingin anak ini lahir tanpa Ayah," ucap Arini dengan wajah memelas

Yumna tak tahan dan akhirnya meneteskan air mata. Bak disambar petir siang hari, Yumna yang sedang hamil 7 bulan mendengar pernyataan jika ada wanita lain yang mengandung benih suaminya juga. melihat sang istri menangis hati Haikal ikut teriris.

"Diam kamu, Arini. Jangan berkata apa-apa lagi di hadapan istriku!" ucap Haikal dengan suara baritonnya.

"Katakan dengan jujur, Mas. Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan di belakangku?" tanya Yumna dengan linangan air mata di pipinya.

"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan dia, Sayang!" jawab Haikal.

"Haruskah aku percaya dengan ucapanmu, Aku bukan anak kecil, Mas. Bagaimana wanita ini bisa hamil jika kalian tidak pernah berhubungan di belakangku selama ini," ucap Yumna tak percaya pada suaminya.

"Tapi aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan dia, Sayang," ucap Haikal masih membela diri.

"Berhenti memanggilku sayang. Kamu jahat, Mas. Kamu tahu aku sedang hamil, kenapa kamu berselingkuh di belakangku. Apa salahku padamu, Mas?" tanya Yumna dengan isak tangis yang memilukan.

Wanita yang kini tengah berbadan dua itu tidak menyangka jika sang suami yang selama ini ia bangga-banggakan, karena sangat menunjukkan kasih sayang kepadanya ternyata mengkhianatinya. Haikal mencoba menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya, tapi Yumna menepisnya.

"Mana janjimu yang kau bilang hanya aku satu-satunya perempuan yang ada di hati dan di hidupmu, Mas. Nyatanya ada perempuan kedua Yang kini hadir dan mengandung anakmu juga. Tega kamu mengkhianati aku, Mas!" Yumna berbicara dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.

Dadanya sesak menerima kenyataan yang ada di depan mata, ia tak bisa membayangkan jika harus berbagi suami dengan wanita lain, lalu anaknya berbagi Ayah dengan anak wanita lain.

"Aku tidak pernah mengingkari janjiku kepadamu, Sayang. Aku tak pernah mengkhianatimu," ucap Haikal.

"Kenapa kamu masih menyangkal padahal bukti sudah ada di depan mata, Mas!" ucap Yumna.

"Kedatangan Arini tidak bisa membuktikan apa-apa, mungkin saja dia hanya mengaku-ngaku. Hanya untuk membuat rumah tangga kita berantakan," ucap Haikal.

Yumna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami, ia masih belum percaya dengan apa yang kini sedang ia hadapi. Mana mungkin ada wanita yang berani datang dan mengaku hamil jika sebelumnya di antara mereka tidak ada apa-apa, begitulah yang ada di pikiran Yumna.

"Pak Haikal, anak di dalam perut saya ini pasti anak bapak. Saya tidak bisa melupakan kejadian malam itu, Karena itu adalah pertama kalinya bagi saya melakukan dengan laki-laki dan setelah itu tidak ada lagi laki-laki lain yang menyentuh saya," ucap Arini.

"Cukup Arini, Aku tidak merasa melakukan apapun kepadamu malam itu. Iya memang saat aku bangun kita sudah tidak memakai busana, tapi bisa saja itu kamu yang menjebak aku, kan!" ucap Haikal dengan emosi.

Haikal masih terus berdebat dengan Arini tak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, sementara Yumna meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit.

"Aaaahhh ... Perutku sakit!" teriak Yumna.

Haikal terkejut mendengar teriakan sang istri, lalu melihat istrinya memejamkan matanya dan memegangi perutnya.

"Sayang, kenapa?" tanya Haikal.

"Mas, perutku sakit sekali," ucap Yumna.

Rasa sakit itu semakin parah dan kini kepalanya pun terasa berdenyut hebat, hingga akhirnya Yumna pun pingsan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perempuan Kedua   Bab 82. Rumah Baru

    "Untuk apa uang sebanyak itu, Bu?" tanya Arini terkejut dengan permintaan ibunya."Teman-teman Ibu mau datang, jadi ibu harus menjamu mereka dan ibu nggak punya uang untuk membeli jamuan!" jawab Munah."Makanan dan kue masih banyak, Bu. Untuk apa beli jamuan lagi, jangan-jangan Ibu bukan beli jamuan tapi mau beli miras buat teman-teman ibu!" ucap Arkan yang curiga pada ibunya.Arini terdiam memandang wajah sang ibu yang terlihat sedikit panik saat mendengar ucapan Arkan, sementara Amel hanya menggelengkan kepala mengisyaratkan pada Arini agar tidak memberikan uang kepada ibunya.Arini lantas kembali mengemasi barang-barangnya tanpa ingin mendengarkan ucapan sang ibu, tetapi Munah kembali meminta uang kepada Arini."Arini, mana uangnya? kan kamu mau pindah sama suami kamu, anggap aja ini terakhir kali kamu ngasih uang ke ibu!" ucap Munah."Maaf Bu kalau untuk hal seperti itu A

  • Perempuan Kedua   Bab 81. Malam Pertama

    "Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Haikal.Haidar mengangkat kedua bahunya, ia pun tak mengerti apa yang orang-orang lakukan di depan mobil mewah milik mereka. perlahan Haikal, Haidar dan istri-istrinya berjalan kearah mobil."Permisi adek-adek tolong jangan berkerumun di depan mobil kami ya!" ucap Yumna dengan suara ramah.Seketika anak kecil yang sedang mengerumuni mobil itu pun memberikan jalan untuk sang empunya.Haikal, Haidar, Yumna dan Salsa pun masuk membawa anak-anak mereka. Namun, setelah masuk mereka masih tidak bisa menjalankan mobilnya karena masih ada anak-anak berdiri di depan mobil."Apa sih mau nya mereka?" gumam Haidar."Kasih uang coba, Mas. Biasanya anak-anak kampung suka gitu, karena lihat mobil mewah yang belum pernah ia lihat jadi penasaran!" ucap Salsa."Aku gak ada uang receh, Sayang!" ucap Haidar.Salsa memb

  • Perempuan Kedua   Bab 80. Pernikahan

    "Arkan ada apa ini?" tanya Arini yang menahan Arkan.Arkan terlihat sangat marah dan ingin memukul ibunya, hal itu membuat para tetangga yang sedang membantu menjadi saling berbisik-bisik karena tahu seperti apa kelakuan Munah yang tak baik."Ibu keterlaluan, aku menemukan banyak botol minuman keras dan aku lihat di handphonenya dia berencana pesta miras di rumah kita dengan teman-teman suami barunya!" ucap Arkan sangat emosi.Meskipun Arkan juga bukan orang yang paham tentang agama, tetapi dia selalu menghindari hal-hal buruk seperti itu sesuai nasehat yang diberikan Mustofa kepadanya. Ketika melihat ibunya sendiri yang melakukan hal buruk seperti itu maka itu membuat Arkan begitu emosi, Arini dan Amel yang mendengar hal itu pun sama terkejut dan emosi seperti Arkan."Ibu sudah tua, bukannya tobat malah seperti ini terus!" ucap Amel kesal."Kalian itu masih ingusan jangan banyak omong apalagi

  • Perempuan Kedua   Bab 79. Pengakuan Arini

    "Munah! Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu di depan jalan suami Arini. Mahar dalam pernikahan memang hukumnya wajib, tetapi jangan sampai memberatkan pihak laki-laki atau pihak yang melamar!" ucap Mustofa."Kak, apa yang aku katakan ini demi kebaikan Arini. Sebagai seorang wanita Dia harus dihargai jangan sampai disepelekan oleh calon suaminya!" ucap Munah tak mau kalah."Menghargai seseorang tidak harus dengan cara memberikan barang mewah dan harta yang seperti ibu inginkan!" ucap Arini kesal.Mustofa merasa tidak enak kepada keluarga Ronald, masih dalam acara lamaran saja Munah sudah memperlihatkan sikap tidak baiknya, malah sengaja membuat perdebatan dan apa yang di utarakan membuat dia terlihat sangat matre.Dalam acara lamaran tersebut hadir juga seorang ustad dan Pak RT, jadi ustad itu mencoba melerai perdebatan antara Munah dan Arini."Ibu Munah, mohon maaf jika saya lancang. Ap

  • Perempuan Kedua   Bab 78. Anak Haram

    "Apa syaratnya, Bu?" tanya Arini kepada Ratih melalui sambungan telepon."Syaratnya, kalau kamu balik lagi ke Jakarta bawa satu orang lagi untuk bekerja di tempat saya," jawab Ratih.Mendengar ucapan bosnya tentu saja membuat Arini sangat senang, sebab kedua adiknya ingin ikut ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. Hal itu tentu saja sangat pas dengan situasi yang diinginkan oleh bosnya, tinggal mencari satu pekerjaan lagi untuk adiknya yang lain."Kebetulan adik saya mau ikut ke Jakarta setelah saya menikah nanti, Bu!" ucap Arini."Nah itu bagus, tapi adik kamu rajin dan jujur seperti kamu kan! Karena kamu tahu sendiri kerja di saya itu harus rajin dan jujur!" ucap Ratih."Iya, In shaa Allah adik-adik saya rajin dan jujur."Setelah mengobrol banyak dengan Ratih di sambungan telepon akhirnya panggilan itu pun diakhiri, Amel datang dan membawa beberapa contoh undangan untuk

  • Perempuan Kedua   Bab 77. Lamaran

    Arini menyetujui saat Ronald ingin melamarnya bulan depan ke keluarganya secara resmi, akhirnya Ronald pun membicarakan itu kepada Haikal dan Yumna. Mereka pun sangat senang mendengar berita itu dan mempersiapkan semuanya karena sudah menganggap Ronald seperti keluarganya sendiri. Seminggu sebelum lamaran, Arini izin pada bosnya untuk pulang kampung dan mengatakan perihal lamaran yang akan Ronald lakukan padanya. "Bu, Minggu akan ada tamu datang kesini," ucap Arini bicara pada ibunya. Kini Arini berada di kampung halamannya dan sedang berbicara dengan ibu dan ayah tirinya karena ternyata ibunya sudah menikah lagi. "Tamu apa maksud kamu?" tanya Munah. "Ada laki-laki yang akan melamar Arini dan membawa keluarganya ke sini," ucap Arini. "Oh bilang dong kalau ada yang mau melamar kamu, orang kaya apa nggak laki-laki yang mau melamar kamu?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status