ANMELDENYumna pingsan dan membuat Haikal panik, ia mengangkat tubuh sang istri lalu "Mbak, cari saya dan suami?" tanya Yumna.
Hari ini ada acara selamatan 7 bulan kehamilan Yumna, di tengah acara asisten rumah tangga mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu. Yumna pikir salah satu tamunya yang telat datang, tapi ternyata ia tak kenal dengan wanita yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita memakai baju dress panjang berwarna merah muda, dengan rambut terurai, tengah berdiri membelakangi pintu, ketika Yumna bertanya kepadanya wanita tersebut pun membalikkan badan lalu menatap Yumna dan Haikal. "Kamu, ngapain kamu kesini?" tanya Haikal dengan ekspresi terkejut. "Siapa wanita ini, Mas. Kamu kenal?" tanya Yumna penuh selidik. Wanita itu sekilas tersenyum ke arah Yumna dan Haikal lalu menundukkan pandangannya kembali. "Mbak siapa ya, Ada perlu apa mencari kami di sini?" Yumna kembali bertanya karena sejak tadi belum mendapat jawaban dari pertanyaannya. "Sa–saya ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal," ucap wanita tersebut dengan suara bergetar. "Pertanggungjawaban, maksudnya bertanggung jawab apa, Mas. Sebenarnya siapa dia?" tanya Yumna dengan nada yang mulai cemas. "Sayang, lebih baik kita bicarakan di dalam saja. Ini pasti ada kekeliruan," ucap Haikal. Yumna mengangguk, mereka membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Melewati para tamu yang hadir, hingga mereka tiba di ruang tamu. "Silahkan duduk, Mbak," ucap Yumna. Wanita itu pun duduk berhadapan dengan Yumna dan Haikal, asisten rumah tangga dengan sigap memberikan satu gelas air dan disimpan di depan meja tepat di hadapan wanita itu. "Siapa nama Mbak, dan ada keperluan apa Mbak datang ke sini?" tanya Yumna masih dengan suaranya yang terdengar ramah. "Saya Arini, saya datang ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal atas bayi di dalam perut saya," ucap Arini. Deg ... Yumna tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut wanita yang duduk di hadapannya tersebut. Seperti ada ribuan anak panah yang menusuk jantungnya, tubuhnya tiba-tiba melemas dan ia menatap sang suami dengan tatapan nanar. "Kamu jangan mengarang, Arini. Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" tanya Haikal dengan nada emosi. "Saya tidak bohong, Pak Haikal. Minggu kemarin saya baru mengetahui jika saya hamil. Saya mencari tahu alamat Bapak, dan saya terpaksa datang ke sini karena saya merasa tidak pernah melakukan hal itu selain dengan bapak," ucap Arini. "Tapi saya tidak merasa melakukan apa-apa dengan kamu!" ucap Haikal. "Kenapa Bapak masih menyangkal, padahal saat itu Bapak ada di samping saya saat terbangun dan kita sama-sama tidak memakai sehelai benang pun," ucap Arini. Dada Yumna makin terasa sesak saat mendengar ucapan wanita di hadapannya. Arini, wanita berparas cantik dengan tatapan mata yang sendu. Wajah khas gadis desa yang lugu, siapapun tidak mengira jika wanita seperti itu bisa memiliki hubungan khusus hingga hamil dengan suami orang. "Mas, jelaskan apa yang terjadi antara kamu dan dia," ucap Yumna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sayang, aku mohon kamu jangan terbawa emosi dulu. Jangan percaya ucapannya, tapi percayalah dengan ucapanku," ucap Haikal mencoba menenangkan sang istri. "Bu Yumna, Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati ibu atau menghancurkan rumah tangga Ibu, Tapi keadaan saya yang memaksa seperti ini. Saya tidak ingin anak ini lahir tanpa Ayah," ucap Arini dengan wajah memelas Yumna tak tahan dan akhirnya meneteskan air mata. Bak disambar petir siang hari, Yumna yang sedang hamil 7 bulan mendengar pernyataan jika ada wanita lain yang mengandung benih suaminya juga. melihat sang istri menangis hati Haikal ikut teriris. "Diam kamu, Arini. Jangan berkata apa-apa lagi di hadapan istriku!" ucap Haikal dengan suara baritonnya. "Katakan dengan jujur, Mas. Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan di belakangku?" tanya Yumna dengan linangan air mata di pipinya. "Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan dia, Sayang!" jawab Haikal. "Haruskah aku percaya dengan ucapanmu, Aku bukan anak kecil, Mas. Bagaimana wanita ini bisa hamil jika kalian tidak pernah berhubungan di belakangku selama ini," ucap Yumna tak percaya pada suaminya. "Tapi aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan dia, Sayang," ucap Haikal masih membela diri. "Berhenti memanggilku sayang. Kamu jahat, Mas. Kamu tahu aku sedang hamil, kenapa kamu berselingkuh di belakangku. Apa salahku padamu, Mas?" tanya Yumna dengan isak tangis yang memilukan. Wanita yang kini tengah berbadan dua itu tidak menyangka jika sang suami yang selama ini ia bangga-banggakan, karena sangat menunjukkan kasih sayang kepadanya ternyata mengkhianatinya. Haikal mencoba menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya, tapi Yumna menepisnya. "Mana janjimu yang kau bilang hanya aku satu-satunya perempuan yang ada di hati dan di hidupmu, Mas. Nyatanya ada perempuan kedua Yang kini hadir dan mengandung anakmu juga. Tega kamu mengkhianati aku, Mas!" Yumna berbicara dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. Dadanya sesak menerima kenyataan yang ada di depan mata, ia tak bisa membayangkan jika harus berbagi suami dengan wanita lain, lalu anaknya berbagi Ayah dengan anak wanita lain. "Aku tidak pernah mengingkari janjiku kepadamu, Sayang. Aku tak pernah mengkhianatimu," ucap Haikal. "Kenapa kamu masih menyangkal padahal bukti sudah ada di depan mata, Mas!" ucap Yumna. "Kedatangan Arini tidak bisa membuktikan apa-apa, mungkin saja dia hanya mengaku-ngaku. Hanya untuk membuat rumah tangga kita berantakan," ucap Haikal. Yumna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami, ia masih belum percaya dengan apa yang kini sedang ia hadapi. Mana mungkin ada wanita yang berani datang dan mengaku hamil jika sebelumnya di antara mereka tidak ada apa-apa, begitulah yang ada di pikiran Yumna. "Pak Haikal, anak di dalam perut saya ini pasti anak bapak. Saya tidak bisa melupakan kejadian malam itu, Karena itu adalah pertama kalinya bagi saya melakukan dengan laki-laki dan setelah itu tidak ada lagi laki-laki lain yang menyentuh saya," ucap Arini. "Cukup Arini, Aku tidak merasa melakukan apapun kepadamu malam itu. Iya memang saat aku bangun kita sudah tidak memakai busana, tapi bisa saja itu kamu yang menjebak aku, kan!" ucap Haikal dengan emosi. Haikal masih terus berdebat dengan Arini tak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, sementara Yumna meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. "Aaaahhh ... Perutku sakit!" teriak Yumna. Haikal terkejut mendengar teriakan sang istri, lalu melihat istrinya memejamkan matanya dan memegangi perutnya. "Sayang, kenapa?" tanya Haikal. "Mas, perutku sakit sekali," ucap Yumna. Rasa sakit itu semakin parah dan kini kepalanya pun terasa berdenyut hebat, hingga akhirnya Yumna pun pingsan. keluar. "Haikal, ada apa dengan Yumna?" tanya Billy sang Papa. "Yumna tiba-tiba sakit perut, lalu pingsan. Appa tolong antar aku membawa Yumna ke rumah sakit terdekat," ucap Haikal sambil berlari ke parkiran mobil. Billy Papa dari Haikal pun berlari ke parkiran untuk mengeluarkan mobil, melihat anak dan suaminya terlihat panik, Jasmine pun menghampiri. "Ada apa ini, Haikal?" tanya Jasmine. "Yumna pingsan aku harus segera membawa ke rumah sakit," ucap Haikal. Jasmine menatap wanita yang mengekori Haikal dengan wajah terlihat ketakutan. "Kamu siapa?" Bukan wanita itu yang menjawab tapi Haikal."Nanti aku jelaskan siapa dia, Eoma. Sekarang aku harus urus Yumna dulu." Arini terus menunduk, setelah masuk ke dalam mobil Haikal menatap tajam kearah Arini. "Lihat, ini hasil perbuatanmu. Jika terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku, kau harus bertanggung jawab. Tutup mulutmu dan jangan katakan apapun pada keluargaku!" ucap Haikal dengan sangat kesal. Arini menelan salivanya mendengar ucapan Haikal. Pria yang terkenal ramah dan murah senyum hari ini menampakan sisi lain, hal itu membuat Arini sedikit ketakutan. Billy membawa Haikal dan Yumna ke rumah sakit terdekat, Jasmine tidak ingin diam saja, ia hendak menyusul suami dan anaknya. Namun, ia menatap Arini tak melupakan wanita tersebut. "Kamu, cepat ikut saya!" Jasmine menunjuk Arini. Wanita itu mengangguk dan masuk ke dalam mobil Jasmine. Selama di perjalanan mereka terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Dari spion Jasmine memandang Arini, wanita itu cantik dengan tatapan mata yang sendu, sekilas penampilannya terlihat sepertinya dia bukan orang kota. Sesampainya di rumah sakit Jasmine langsung mencari keberadaan anak dan suaminya, setelah terlihat keberadaan mereka Jasmine pun berlari menghampiri. "Bagiamana keadaan, Yumna?" tanya Jasmine. "Masih ditangani, Eoma. Doakan semoga tidak terjadi apa-apa kepada istri dan calon anakku," ucap Haikal masih dengan penuh kekhawatirannya. "Memangnya apa yang terjadi. Sebelumnya Yumna terlihat baik-baik saja, Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?" tanya Jasmine. Haikal menghela nafasnya ia duduk di kursi tunggu dan mengusap kasar wajahnya. "Yumna seperti ini karena kehadiran tamu tak diundang," ucap Haikal seraya memandang nanar kearah Arini. "Wanita ini maksud kamu, memangnya dia siapa, dan apa yang dia lakukan terhadap Yumna?" tanya Jasmine seraya menunjuk Arini. Haikal terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya. Diamnya Haikal membuat Jasmine dan Billy selaku orang tua menjadi geram. "Haikal jelaskan apa yang terjadi antara Yumna dengan wanita ini?! ucap Billy dengan nada penekanan. "Om, Tante. Maafkan saya, tapi saya tidak bermaksud untuk membuat Ibu Yumna seperti itu. Saya datang hanya untuk meminta pertanggungjawaban dari Pak Haikal," ucap Arini dengan berani memotong pembicaraan keluarga tersebut. "Arini, diam kamu!" Haikal kesal karena ucapan Arini bisa membuat situasi semakin rumit. Jasmine dan Billy saling pandang, ia tak pernah melihat Haikal marah seperti itu kepada seorang wanita. "Haikal, Siapa dia dan Ada apa sebenarnya, kenapa kamu diam tidak menjelaskan dan kenapa kamu menyuruh wanita ini diam. Pertanggungjawaban seperti apa yang wanita ini inginkan?" tanya Jasmine. "Nama saya Arini dan saya meminta pertanggungjawaban Pak Haikal atas bayi dalam perut saya." "Apa, bayi?" tanya Jasmine terkejut. Arini menganggukkan kepalanya. Namun, tak berani menatap orang-orang di hadapannya. "Apa kamu mengatakan hal ini di depan Yumna tadi?" tanya Billy. "I–iya om," jawab Arini. "Pantas saja menantuku syok, jika terjadi sesuatu kepada menantu dan calon cucuku. Lihat apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ucap Billy memandang Arini dengan tajam. Arini terduduk lemah di kursi tunggu, posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Ia hamil dan Haikal tak mau bertanggung jawab bahkan tak mau mengakui, dia pikir dengan mengatakan hal itu kepada keluarga Haikal maka ia akan mendapat pembelaan, tetapi nyatanya berbeda. Perawat keluar dari ruang tindakan, Haikal langsung berlari dan bertanya kepada perawat tentang keadaan istrinya. "Bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Haikal. "Istri anda mengalami kontraksi dini. Usia kehamilannya baru memasuki 32 minggu dan jika melahirkan prematur ini sangat berbahaya. Syukurlah bayi tersebut bisa bertahan di dalam rahim dan sekarang keadaan ibu Yumna sudah lebih baik," ucap perawat. "Alhamdulillah, terima kasih suster sudah menolong istri saya." "Sama-sama, Pak. Itu memang tugas kami sebagai tim medis, sekarang bu Yumna akan kami pindahkan ke ruang perawatan intensif," ucap perawat. "Tempatkan di ruang VVIP, Suster," ucap Haikal. "Baik akan kami urus, Pak. Setelah ini jaga kesehatan bu Yumna jangan sampai ia merasa stress berlebihan. Karena saat stres, tubuh ibu dapat menghasilkan hormon katekolamin, yaitu hormon sebagai bentuk respons terhadap stres. Jika hormon ini berlebihan maka kontraksi akan lebih cepat terjadi," ucap Perawat. "Baik suster, saya akan berusaha agar tidak membuatnya stress lagi," ucap Haikal. Yumna pun dipindahkan ke ruang rawat VVIP sesuai dengan yang Haikal minta, Haikal duduk di hadapan Yumna dan terus menggenggam tangan sang istri hingga akhirnya Yumna sadar dan membuka matanya. Dia menarik tangannya tidak ingin dipegang oleh sang suami. "Yumna, akhirnya kamu sadar juga, Sayang. Maafkan aku semua karena kesalahanku hingga membuat Kamu stres dan akhirnya seperti ini, Aku janji tidak akan membuat kamu stres lagi," ucap Haikal. "Mas, tolong ceraikan aku. Lalu nikahi perempuan itu," ucap Yumna dengan suara yang terdengar sangat lirih. Deg ... Dada Haikal terasa sangat sesak, seperti ada batu besar yang menghantam saat mendengar ucapan sang istri. Haikal menggelengkan kepala dan bersimpuh di hadapan sang istri. "Jangan katakan hal itu, Sayang. Aku tidak akan menceraikan mu sampai kapanpun. Hanya kamu istriku satu-satunya ratu dalam kerajaan cintaku!" Yumna kembali meneteskan air mata menatap wanita yang berdiri di sudut ruangan seraya memainkan jari-jarinya. "Lalu bagaimana dengan dia, Mas. Dia hamil dan anaknya butuh seorang ayah, Aku tidak mau ada anak yang terlahir bernasib sama seperti aku dulu, yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah." Mendengar ucapan Yumna, Arini pun mendongakkan kepalanya dan menatap iba pada perempuan yang kini terbaring lemah di atas ranjang, ia merasa bersalah dengan keadaan itu, tetapi semua sudah terlanjur terjadi dan Arini tidak bisa memutar waktu kembali. "Haikal, tolong jelaskan kepada Eoma apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kamu berselingkuh di belakang Yumna selama ini?" tanya Jasmine. "Jika iya, Eoma sangat kecewa dan Eoma merasa gagal menjadi seorang ibu," lanjut Jasmine. Haikal menghela nafas panjang dan akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi. "Jadi kejadian sebenarnya seperti ini ...."Yumna terus memperhatikan berkas yang ada di tas kerja Haikal, ia yakin jika ada foto Arini di selipan berkas tersebut. Saat Haikal fokus bicara pada Kevin melalui sambungan telepon, Yumna memberanikan diri menarik foto tersebut.Deg ...Dada Yumna terasa dilempar sebuah batu besar, terasa sakit saat mengetahui itu benar-benar foto Arini."Untuk apa kamu menyimpan foto wanita ini di tas kerja kamu, Mas? Apakah kamu mencintai dia tapi tidak pernah berkata jujur kepadaku?" ucap Yumna dengan suara lirih.Tak terasa air mata pun menetes di pipi Yumna, wanita yang baru saja melahirkan itu segera menghapus air matanya karena merasa dirinya sangat lemah, sebab setelah melahirkan terus meneteskan air matanya."Sayang, kamu kenapa?" tanya Haikal yang melihat sang istri terus menunduk. Lelaki berwajah tampan itu baru saja menyelesaikan pembicaraannya melalui sambungan telepon dengan asisten pribadinya di kantor. Dia melihat sang istri terus memegangi foto Arini dan tidak sadar jika foto itu Yu
"Kalian pulang bersama?" tanya Yumna yang terkejut melihat Arini keluar dari mobil suaminya."Iya, Mbak. Tadi aku-"Ucapan Arini terhenti ketika Haikal membawa Yumna masuk kedalam rumah sambil menggandengnya tak memperdulikan Arini membuat wanita yang tengah hamil muda itu merasa gak di anggap."Mas, kalian pulang bersama, apa kalian habis pergi berdua tanpa memberitahu aku, Kalian pergi ke mana?" Yumna memberondong Haikal dengan pertanyaan.Haikal tersenyum mendengar pertanyaan dari sang istri, ia tahu jika istrinya pasti curiga melihat Arini dan ia pulang bersama."Kamu jangan pikir macam-macam, Sayang. Aku dari kantor langsung pulang kok nggak pergi kemana-mana," jawab Haikal terus menggandeng sang istri hingga mereka sampai di dalam kamar."Terus kenapa bisa bareng Arini? Padahal tadi dia bilang mau ke apotek dan ingin menemui kakaknya!""Aku juga nggak tahu, pas aku mau pulang tiba-tiba Arini ada di depan kantor, terus dia minta pulang bareng.""Kamu nggak bohong kan, Mas?" tany
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Haidar dengan suara baritonnya.Yumna dan Salsa terkejut mendengar suara bariton Haidar, mereka menggelengkan kepala saat melihat Arini menggendong Fathan dan anak lelaki itu menangis menolak di gendong orang yang tak di kenal.Salsa langsung mengambil Fathan dari gendongan Arini, tak ingin anaknya menangis lebih lama dan ia tahu Haidar sang suami enggan mengambil Fathan karena tidak ingin berdekatan dengan Arini."Cup ... cup ... sudah jangan nangis lagi, Fathan sama mama sekarang!" ucap Salsa seraya mengelus punggung anaknya dengan lembut.Haidar menatap Arini seperti elang yang hendak menerkam mangsanya, melihat tatapan Haidar yang tajam membuat Arini ketakutan."Aku sudah bilang anakku tidak suka di dekati orang asing, kenapa kamu lancang menggendongnya dengan paksa hingga membuat dia menangis?!"Arini hanya bisa menunduk, dadanya berdebar kencang mendengar suara Haidar sangat marah. Awalnya ia ingin mencari perhatian Haidar melalui anaknya, tap
"A-aku tidak pernah menjebak suami Mbak!" Arini mengelak dan Yumna hanya tersenyum tipis.Salsa merangkul tangan Yumna dan membawa sahabatnya ke ruang tamu, Haidar mengekori berjalan di belakang dua wanita tersebut. Sementara Arini hanya mematung di tempat, ia keheranan bagaimana bisa antara istri pertama dan kedua bisa akur, tetapi Yumna terlihat sangat tidak menyukai kehadirannya."Yumna, bagaimana Arini hari ini?" tanya Salsa saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu."Bagiamana maksudnya?""Dia menggoda Haikal lagi apa tidak, atau dia membuatmu kesal dengan ulahnya lagi?" Salsa memperjelas pertanyaannya.Yumna menghela nafas dan menceritakan kejadian tadi pagi saat Arini dengan sengaja mengibaskan rambutnya yang masih basah dan memperlihatkan tanda merah di lehernya."Pasti dia sengaja ingin membuatmu berpikir jika dia dan Haikal habis melakukan hubungan intim," tebak Salsa dan di jawab anggukan kepala oleh Yumna."Iya, dia berhasil membuatku berpikir seperti itu dan jika aku tid
Yumna terus memandang leher Arini yang terdapat tanda merah tersebut, sementara Arini yang menyadari arah pandangan Yumna seolah sengaja menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi lehernya sehingga tanda merah itu lebih terlihat jelas. Arini sengaja mengibas rambutnya yang masih basah di depan Yumna."Eh Maaf ya, Mbak. Aku gak punya hairdryer jadi rambutku masih basah dan akhirnya sedikit menciprat ke wajah Mbak!" ucap Arini sambil tersenyum.Yumna merasa kesal, tetapi saat melihat Haikal sama sekali tidak mendengarkan ucapan Arini dan sibuk dengan gawainya membuat Yumna tersenyum tipis, lalu menyenggol lengan sang suami."Kebetulan aku ada Hairdryer yang tidak di pakai, nanti bisa kamu pakai, Arini. Oh iya aku juga punya poundation yang sepertinya cocok untuk warna kulitmu dan bisa kamu pakai untuk menutupi kissmark di lehermu," ucap Yumna kesal karena mengira itu perbuatan suaminya.Haikal langsung melihat leher Arini setelah mendengar ucapan Yumna, sementara Arini yang di pandang
"Apa kamu keberatan jika aku memperlakukannya seperti itu, Mas?" tanya Yumna menatap Haikal."Tentu saja tidak, aku hanya heran karena kamu tidak biasanya bersikap seperti itu kepada siapapun.""Selama ini aku menunjukkan sikap baikku kepada orang yang baik kepada ku, tapi kamu tahu sendiri seperti apa sikap Arini terhadapku. Dia terang-terangan menggoda mu di depanku sama saja dia sedang mengajak perang aku!"Haikal menganggukan kepala tak lagi berniat melanjutkan pembahasan hal itu, ingin mengalihkan pembicaraan untuk membahas hal lain, tetapi Yumna masih fokus menatap laptop yang memperlihatkan CCTV di dapur."Lihat, Mas. Dia membuat rebusan daun katuk dengan wajah cemberut dan terlihat seperti orang marah-marah!""Iya," jawab Haikal singkat takut salah berbicara jika menjawab lebih banyak.Setelah beberapa lama memperhatikan video rekaman CCTV tersebut, Arini selesai membuat rebusan daun katuk dan langsung di berikan ke kamar Yumna.TokTokTokArini mengetuk pintu kamar tersebut,







