Masuk"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi aku minta kamu percaya padaku, Sayang," Haikal memohon pada Yumna.
"Jelaskan saja dulu, percaya atau tidak tergantung bagaimana caramu menjelaskannya. Aku akan mempertimbangkan lagi ceritamu layak dipercaya atau tidak, Mas!" ucap Yumna. Haikal menghela nafasnya, mengerti dengan situasi yang membuat istrinya tak mudah percaya dengan apa yang akan dikatakannya. "Malam itu, aku bertemu dengan seorang klien di salah satu lobby hotel. Setelah selesai berbincang klien itu langsung pamit pulang sementara aku menyesap secangkir teh hangat terlebih dahulu. Yang aku ingat terakhir kali aku ke kamar mandi untuk buang air kecil. Entah bagaimana ceritanya aku juga bingung, tiba-tiba tersadar dalam keadaan tak berbusana di atas tempat tidur bersama dia." Haikal menunjuk Arini "Jadi kau menjebak suamiku?" tanya Yumna dengan tatapan sinis ke arah Arini. "Tidak, saya juga korban di sini. Saya bekerja di hotel itu sebagai cleaning service. Saat saya sedang membersihkan kamar itu pak Haikal tiba-tiba masuk dan menodai saya, tapi dia tidak mau mengakui semuanya," ucap Arini sambil menangis. "Karena saya benar-benar tidak ingat telah melakukan hal tersebut, Saya hanya terkejut ketika bangun dengan keadaan seperti itu!" Haikal masih terus membela diri dan mengatakan apa Yang dia ingat. Yumna menghela nafas, sedikit merasa iba pada wanita bernama Arini tersebut. Sebagai sesama wanita ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Arini, kini justru ia meragukan penjelasan suaminya yang menurutnya kurang masuk akal. "Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya tidak ingin menggugurkan kandungan ini karena bayi ini tidak berdosa. Namun, saya juga butuh suami untuk mendampingi saya merawat bayi ini," ucap Arini sambil menangis. "Tapi saya tidak mungkin menikahimu, itu pasti akan menyakiti hati istri saya," ucap Haikal menolak Arini. Yumna memijat kepalanya yang terasa pusing karena konflik ini, ia menatap Arini dan meminta wanita itu duduk di sebelahnya. Meskipun dadanya masih terasa sesak, tapi sebisa mungkin ia berusaha bertanya dengan tenang. "Arini, katakan dengan jujur. Apakah ada seseorang yang memintamu untuk menjebak Haikal?" tanya Yumna. Arini hanya mampu menggelengkan kepala, ia tak sanggup untuk menatap mata wanita cantik yang tengah hamil tersebut. Tangannya terlihat gemetar entah perasaan apa yang kini menghampirinya. "Arini, kita sama-sama wanita. Kamu lihat saya sedang hamil tua, kami sedang menantikan kelahiran anak kami, apa sebagai wanita kamu tega merusak kebahagiaan wanita lain?" Di dalam hati Yumna sangat gamang satu sisi ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Arini, ia lebih percaya dengan ucapan suaminya Haikal. Namun, di sisi lain sebagai seorang wanita ia merasa kasihan karena melihat Arini yang hamil dan meminta pertanggungjawaban. Sebisa mungkin Yumna berkata lembut agar wanita bernama Arini itu mau mengatakan hal yang sejujurnya. "Tapi, saya juga korban di sini," ucap Arini. Haikal mengusap kasar wajahnya, pada saat kejadian itu ia langsung memberi uang kepada Arini. Tak ingin hal tersebut diketahui istrinya, Arini menerima uang tersebut dan berjanji akan menutup rahasia itu. Namun, ia kembali mengejutkan Haikal dengan kehadirannya hari ini. "Haikal akan bertanggung jawab!" ucap Billy. Arini menghela nafas lega mendengar ucapan pria paruh baya yang merupakan ayah dari lelaki yang ia minta untuk bertanggung jawab. Sementara Yumna meneteskan air mata mendengar ucapan sang mertua. "Appa, aku tidak mungkin menikahinya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, wanita yang aku cintai dan hanya Yumna ratuku satu-satunya dalam rumah tanggaku," ucap Haikal Yumna tiba-tiba memegangi perutnya kembali sakit, Haikal melihat itu dan menjadi panik. Pembicaraan dihentikan sejenak. Haikal memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan istrinya. Billy, Jasmine, dan Arini keluar dari ruangan tersebut "Tolong jangan membicarakan hal-hal yang memicu stress pada Bu Yumna. Jika sering mengalami kontraksi dini, maka Bu Yumna bisa melahirkan prematur dan beresiko pada ibu dan bayinya juga," ucap perawat. Haikal mengangguk, setelah perawat keluar dari ruangan. Haikal mencoba memegang tangan istrinya, tapi ditolak. Yumna menarik tangannya yang digenggam oleh sang suami. "Keluar, Mas. Aku tak ingin melihat wajahmu saat ini, melihatmu membuat aku merasa sangat sesak, melihat wajahmu membuat aku terus membayangkan bagaimana kamu melakukan hal itu dengan wanita lain di atas ranjang," ucap Yumna dengan air mata yang sudah menganak sungai. "Maafkan aku, Sayang. Percaya lah aku tak ingat apapun tentang hal itu, dan hanya ada kamu di hati dan pikiranku. Aku akan keluar agar kamu lebih tenang dan tidak banyak pikiran, tapi aku harap kamu percaya padaku," ucap Haikal. Yumna kembali meneteskan air mata melihat suaminya sudah keluar dari ruangan tersebut. Sebelum kejadian ini Yumna sempat merasa firasat tidak enak, ia melihat ponsel suaminya yang diberi sandi tidak seperti biasanya, dan suaminya sering terlihat gelisah. "Apa ada bukti perselingkuhan di ponsel kamu, Mas. Sampai kamu menguncinya dengan kata sandi?" gumam Yumna. Wanita yang tengah hamil tua itu mengusap lembut perutnya, ia merasakan gerakan dari dalam dan sadar jika terus memikirkan hal itu akan membahayakan keadaan bayinya. "Maafkan ibu yang terlalu lemah, Sayang. Bertahan dan selalu sehat dalam perut ibu ya, sampai tiba waktunya kamu lahir ke dunia. Andai ayahmu benar-benar terbukti berselingkuh di belakang ibu, maka ibu akan membawamu pergi jauh!" ucap Yumna dengan tekadnya. Saat menikah Yumna dan Haikal sudah berkomitmen apapun masalah keluarga akan di selesaikan dengan kepala dingin kecuali perselingkuhan, ia tidak akan bisa memaafkan dan memberi kesempatan kedua jika suaminya berselingkuh. Hati Yumna sangat hancur setelah kedatangan Arini yang meminta pertanggung jawaban suaminya, tetapi ia sadar tidak bisa pergi saat ini, ia harus bertahan setidaknya sampai melahirkan dan anaknya bisa di bawa pergi jauh. Di luar ruangan perbincangan kembali di lakukan oleh Billy, Haikal, Arini, dan Jasmine. "Arini, Haikal akan bertanggung jawab atas kamu dan anak dalam kandunganmu, tapi tidak untuk menikahimu!" ucap Billy. "Bagaimana bisa, anak ini butuh ayah, dan saya juga butuh status dalam pernikahan!" ucap Arini tak terima. "Hanya itu penawaran dari ku, kau mau atau tidak itu terserah. Kamu hanya punya waktu satu kali 24 jam, jika kamu tidak mau menerima penawaran itu maka lanjutkan lah hidupmu dan besarkan anak itu sendirian," ucap Billy dengan tatapannya yang datar. "Ya aku setuju dengan Appa. Kamu jangan berharap aku menikahimu karena aku hanya mencintai istriku, aku akan bertanggung jawab secara finansial meskipun aku tak pernah merasa melakukan apa-apa padamu! Aku tunggu jawabanmu secepatnya" ucap Haikal. Arini menelan salivanya, ia bingung harus memberikan keputusan apa, ternyata semua tidak sesuai dengan rencananya."Bagaimana cara dia menggoda mu, Mas?" tanya Yumna dengan rasa penasaran bercampur kesal.Haikal memandang Yumna lalu berjalan mendekatinya, menggenggam lembut tangan Yumna sebelum menceritakan semuanya."Aku akan jujur, tapi sebelumnya kamu harus berjanji Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini karena kamu baru saja melahirkan tidak boleh stress nanti berpengaruh pada asi yang akan kamu produksi."Yumna mengangguk mendengar ucapan Haikal, meskipun ia tidak tahu seperti apa reaksinya nanti setelah mendengar cerita dari Haikal. Haikal menceritakan apa saja yang dilakukan Arini selama Yumna tidak ada, termasuk mengajaknya melakukan hal itu lagi selama Yumna tidak bisa melayaninya. "Benar juga kata Arini, setelah melahirkan aku tidak bisa melayani mu, Mas!""Itu bukan masalah, Sayang. Semua suami pasti mengalami hal itu ketika istrinya baru saja melahirkan, jadi aku akan bersabar seperti suami-suami lainnya yang sabar menunggu istrinya sampai siap melayani kembali," ucap Haikal menenangk
Haikal sedang duduk di depan meja makan, lelaki tampan itu hendak sarapan sebelum berangkat kerja. Akan tetapi, Arini melakukan sesuatu yang membuat Haikal terkejut."Maaf, Mas aku tidak sengaja!" ucap Arini yang menumpahkan kuah sup jagung tepat di kemeja Haikal.Wanita yang gemar memakai baju seksi itu lantas mencoba membersihkan kemeja Haikal dan mendekatkan wajahnya pada wajah Haikal."Kamu tampan sekali, Mas!" ucap Arini seraya membelai wajah tampan Haikal.Haikal langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Arini di meja makan, tanpa berkata apapun lelaki tampan itu mengganti kemeja nya. Setelah selesai mengganti kemeja ia bergegas pergi ke kantor."Mas, aku minta maaf. Tadi itu benar-benar tidak sengaja!" ucap Arini saat melihat Haikal keluar dari kamar.Haikal tidak menjawab sedikitpun ucapan Arini ia terus berjalan hingga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah yang cukup mewah tersebut. Bi Sarti yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Yumna dan Haikal, mencebikk
"Hallo, Mas kamu lagi di mana, kok telepon aku nggak diangkat-angkat dari tadi?" Yumna langsung memberondong Haikal dengan pertanyaan saat suaminya itu mengangkat panggilan telepon darinya."Aku ada di depan ruangan kamu, Sayang!" ucap Haikal seraya membuka pintu ruangan Yumna dan membuat Yumna terkejut.Wanita cantik yang baru saja melahirkan itu akhirnya mematikan sambungan telepon dan menyimpan telepon genggamnya di atas nakas."Mas, kok kamu balik lagi ke sini?" tanya Yumna yang masih terkejut.Jasmine yang tadinya sudah memejamkan mata di atas sofa akhirnya ikut membuka matanya dan terkejut melihat kehadiran sang anak."Iya, Sayang. Aku tidak bisa tidur tanpa kamu," ucap Haikal seraya berjalan mendekat ke arah Yumna.Wajah Yumna merona dan ia merasa lega karena suaminya kini ada di dekatnya, tentunya kesempatan Arini untuk menggoda suaminya pasti berkurang."Tahu kamu mau nginep di sini Mama nggak usah ke sini tadi.""Maaf Mah. Tadinya aku memang niat tidur di rumah, tapi kok mal
"Yumna, Mas minta sebentar lagi bertahan dan bersabar, kita hadapi masalah ini bersama jangan biarkan badai menghancurkan rumah tangga kita," Haikal mencoba untuk memohon kepada sang istri."Aku tidak tahu, apa aku akan sanggup untuk bersabar. Hatiku begitu rapuh, karena aku sangat mencintaimu, Aku begitu sakit melihat wanita lain terus mendekatimu dan mencari perhatian padamu," ucap Yumna jujur dari dalam hatinya.Haikal tersenyum, lelaki tampan itu berkali-kali mencium punggung tangan sang istri karena sangat senang mendengar jika istrinya sangat mencintai dia. Haikal melakukan hal yang selalu membuat Yumna semakin mencintai suaminya itu."Aku tidak akan terpengaruh dengan apapun yang dia lakukan, aku akan selalu setia kepadamu dan juga anak kita. Yumna, kita harus bersatu dan saling percaya untuk melewati ujian pernikahan kita ini," ucap Haikal masih mencoba meyakinkan sang istri.Cukup lama Yumna terdiam, menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil. Hingga akhirnya dia mena
"Kamu tahu kalau aku adalah anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, Mas. Aku haus akan kasih sayang dan perhatian seorang lelaki, ketika aku mendapatkan itu dari kamu membuatku sangat percaya dan bergantung sepenuhnya padamu. Namun, ternyata semua itu hanyalah angan semu. Kau hancurkan semua harapan dan anganku dengan segala kebohonganmu," ucap Yumna dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.Hati Haikal terasa teriris mendengar ucapan Yumna seperti itu. Ia menggelengkan kepala karena semua kasih sayang dan perasaannya kepada Yumna tidak lah semu."Sekarang aku akan mencoba tegar menghadapi semuanya demi anakku, aku tak ingin lagi bergantung pada orang yang tak pernah jujur padaku.""Maaf jika memang selama ini aku tidak jujur padamu, Sayang. Semua itu aku sembunyikan darimu karena aku mengkhawatirkan keadaanmu dan bayi kita," Haikal mencoba menjelaskan pada Yumna agar istrinya itu tidak terus berpikir untuk pergi meninggalkannya.Yumna diam saat sang suami menga
"Apa yang terjadi pada bayi saya?" tanya Haikal terlihat sangat cemas."Bayi bapak sempat berhenti bernafas," ucap Dokter.Haikal terkejut mendengar hal itu dari mulut dokter, ia langsung bergegas melihat bayinya dalam inkubator."Anak saya meninggal dokter?" tanya Haikal semakin panik ketika melihat tubuh sang anak terlihat pucat.Haidar dan Jasmine yang ada di sana dan mendengar ucapan Haikal ikut terkejut. Namun, dokter segera menjelaskan apa yang terjadi agar keluarga bayi tersebut tidak salah faham pada tim medis."Tidak, bayi bapak tidak meninggal. Ia hanya berhenti bernafas beberapa detik hal tersebut di namakan apnea prematuritas.""Apa itu, Dok?" tanya Haikal karena tidak terlalu faham dengan istilah dalam dunia medis."Bayi lupa bernapas karena sistem syaraf mereka belum matang. Situasi ini disebut apnea pusat atau apnea prematuritas karena sering terjadi pada bayi yang lahir prematur. Bayi berusaha bernapas, tetapi saluran pernapasannya sulit dilalui, sehingga udara tidak







