Home / Romansa / Perempuan Kedua / Bab 4. Rencana

Share

Bab 4. Rencana

Author: Sulistiani
last update publish date: 2026-06-18 15:48:23

Arini pulang setelah di beri waktu untuk berpikir.

Sementara Billy mengajak Haikal kembali ke dalam ruangan sang istri.

"Apa kamu sudah menyelidiki Siapa orang yang memberimu minuman itu?" tanya Billy.

"Sudah Appa, tapi aku tidak bisa mendapatkan bukti apapun. Sepertinya orang itu bermain dengan sangat rapi," ucap Haikal.

"Kau tidak curiga dengan klien yang mengajakmu bertemu malam itu?" tanya Billy.

"Tidak, aku yang datang lebih dulu dan Aku yang memesan minuman," ucap Billy.

Billy menghela nafasnya, lalu menatap Yumna. Menantunya itu terlihat masih melamun seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"Yumna, jika wanita itu tinggal satu atap denganmu. Apa kamu keberatan?" tanya Billy membuat Yumna terkejut bukan main.

"Appa, mana mungkin dia tinggal satu atap dengan kami. Lebih baik belikan saja rumah dan aku akan memenuhi semua kebutuhannya," ucap Haikal menolak saran sang papa.

"Appa yakin kalian sedang dijebak oleh seseorang, mungkin ada yang tidak suka dan berusaha menghancurkan pernikahan kalian. Itu sebabnya dihadirkan Arini sebagai perempuan kedua diantara kalian," ucap Billy.

Yumna melebarkan bola matanya mendengar ucapan sang mertua, lalu Billy pun kembali berbicara.

"Appa ada rencana, mungkin rencana ini bisa mengungkapkan semuanya," ucap Billy.

"Rencana seperti apa, Appa?" tanya Yumna dan Haikal bersamaan.

"Biarkan wanita itu tinggal bersama kalian, pasang CCTV di setiap sudut rumah kalian hingga bisa melihat dan memantau apa saja aktivitasnya. Setelah ia lahir anak itu harus di tes DNA," ucap Billy.

"Aku yakin itu bukan anakku, jika aku memang diberi obat perangsang pasti aku ingat sudah melakukan hal tersebut. Tapi aku benar-benar tidak ingat apapun hanya terkejut Saat bangun tidur ada dia di samping," ucap Haikal.

Billy mengangguk, ia paham dengan apa yang dikatakan oleh sang anak. Dia juga mencurigai seseorang yang mungkin menjebak anaknya, hingga bisa berada dalam kamar berdua dengan wanita tersebut.

"Seperti apapun kamu menyangkal, perempuan itu tetap mengatakan jika anak itu adalah anak kamu. Kalau kita punya bukti tes DNA maka dia tidak akan bisa berkutik lagi," ucap Billy.

"Aku setuju dengan saran Appa, aku juga tidak ingin apa yang dialami ibu kembali dialami oleh orang lain. Dulu ibu hamil tanpa suami dan menderita sendirian, sekarang wanita itu sama tanpa suami setidaknya ada kita yang mendampinginya," ucap Yumna setelah beberapa kali mencoba berpikir jernih.

"Sayang, ibumu dan dia berbeda. Ibumu benar-benar korban dan saat mengetahui ia hamil ia tidak datang kepada ayah biologis mu karena takut menghancurkan pernikahannya. Namun, wanita ini dengan sengaja mendatangi kita untuk menghancurkan pernikahan kita," ucap Haikal.

Haikal sama sekali tidak percaya dengan Arini, karena sejak pertama bertemu ia sudah curiga. Arini bahkan meminta sejumlah uang untuk menutup mulut, Haikal sudah memberi sesuai jumlah permintaan Arini. Namun, Arini tetap datang dan membuat kekacauan.

"Apa yang dikatakan Haikal benar, jika nanti Arini tinggal bersama kalian. Kamu harus waspada terhadap wanita itu!" ucap Billy.

"Aku akan memberi asisten sekaligus bodyguard untuk Yumna," ucap Haikal.

"Ya, itu lebih baik untuk menjaga istrimu yang polos ini," ucap Billy.

Yumna di minta untuk bedrest beberapa hari di rumah sakit, sampai keadaan kandungannya kuat kembali.

Sementara Arini kini berada di rumah Haikal dan Yumna.

Selama Yumna masih di rumah sakit, Arini tinggal bersama Jasmine dan Billy. Perempuan itu menempati kamar tamu, satu minggu sudah Arini tinggal di rumah Jasmine. Meskipun Jasmine tidak percaya dengan ucapan Arini tapi ia memperlakukan Arini dengan baik dan tidak pernah menyuruh Arini melakukan pekerjaan apapun di rumah tersebut.

"Arini, Apa kamu sudah periksa kandungan kamu?" tanya Jasmine.

"Belum, Bu," jawab Arini.

"Ya sudah besok saya antar kamu periksa kandungan, sekalian jemput Yumna. Dokter bilang Yumna sudah boleh pulang," ucap Jasmine.

"Tidak perlu, Bu. Nanti saya periksa sendiri saja di bidan terdekat," ucap Arini.

"Kenapa, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan takut ketahuan. Hingga tidak mau periksa ke dokter kandungan bersama saya?" tanya Jasmine.

"Tidak, Bu. Iya nanti saya periksa sama ibu, sekarang Saya permisi ke kamar dulu," ucap Arini.

Jasmine mengangguk. Arini pun berjalan ke kamarnya, ia mengutak-atik handphonenya seperti sedang menghubungi seseorang. Namun, orang yang Arini hubungi tidak merespon.

Hari berganti, orang yang dihubungi Arini sama sekali tidak merespon Arini sampai detik ini. Hingga akhirnya Jasmine pun membawa Arini pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.

"Ronald, kamu temani Arini periksa kandungannya ya. Kamu bilang aja kalau kamu suaminya Arini, karena nanti pasti dokter kandungan bertanya siapa suaminya," ucap Jasmine.

Jasmine meminta sopirnya untuk mengaku sebagai suami dari wanita tersebut, karena tidak mungkin ia menuliskan nama Haikal di buku kehamilan milik Arini sebagai ayah dari anak tersebut.

Jasmine meninggalkan Ronald dan Arini di bagian pemeriksaan kandungan, wanita paruh baya itu melangkah menuju ruang rawat sang menantu.

"Syukurlah," ucap Arini menarik nafas lega.

"Kenapa, Mbak. Sepertinya Mbak sedikit ketakutan, padahal Bu Jasmine orang yang sangat baik. Apa Mbak menyimpan suatu rahasia di belakang Bu Jasmin?" tanya Ronald.

"Tidak," jawab Arini singkat.

Ronald mengangguk dan tak bertanya lagi, lelaki yang masih lajang meski sudah berusia matang itu terus memandangi Arini. Perempuan itu memang cantik, tapi istri majikannya jauh lebih cantik. Jadi Ronald sedikit tidak percaya jika majikannya sampai menghamili wanita lain, apalagi selama ini hubungan majikannya terlihat harmonis.

Jasmine sudah berada di ruangan Yumna, ia membantu Yumna membereskan barang-barang karena akan pulang.

"Arini juga ada di rumah sakit ini, Dia sedang periksa kandungan. Eoma minta Ronald mengaku sebagai suaminya dan mendampingi Arini ke dokter kandungan," ucap Jasmine.

"Itu ide yang bagus, Eoma. Ronald orang yang cukup pandai. Kita bisa meminta informasi lengkap darinya tentang keadaan kehamilan Arini, biarkan dia berpura-pura sebagai suami Arini selama Arini tinggal bersama kita," ucap Haikal.

"Eoma juga berpikir seperti itu, sekarang kita pulang. Biar nanti Arini menyusul pulang dengan Ronald," ucap Jasmine.

Yumna mengangguk mereka pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Yumna langsung istirahat tempat tidur, saat Haikal merebahkan tubuh di sebelah Yumna, istrinya tersebut menolak.

"Mas, bisakah kita pisah ranjang dulu?!" ucap Yumna.

"Pisah ranjang, tapi kenapa sayang?" tanya Haikal.

"Kenapa harus pisah ranjang?" tanya Haikal.

"Karena aku belum bisa percaya sepenuhnya padamu, Mas. Aku takut kamu benar-benar melakukannya di belakangku tapi tidak mau mengakui," ucap Yumna.

Haikal menghela nafasnya, memandang sendu kearah sang istri. Sedih, tentu saja karena tidak di percaya oleh istrinya sendiri. Akan tetapi, Haikal mencoba tenang dan membayangkan posisi sang istri.

"Maaf jika harus seperti ini, aku ingin menenangkan pikiran sejenak, Mas. Saat di rumah sakit pun aku tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana kamu bermain di atas ranjang dengan wanita itu," ucap Yumna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nunyelis
appa itu panggilan papa gitukh maksudnya... kok janggal ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Perempuan Kedua   Bab 41. Permintaan Ibu

    "Ibu, jangan bicara seperti itu. Yumna sayang banget sama ibu hanya ibu satu-satunya keluarga yang Yumna punya.""Kalau gitu bawa ibu pulang ke rumah kamu dan Haikal, jika kamu beralasan lagi artinya kamu gak sayang dan gak mau ngurus ibu lagi," ucap Ratna.Yumna menghela napas mendengar ucapan sang ibu, dia punya alasan mengapa tidak membawa ibunya pulang. Ada Arini di rumahnya dan Yumna tak ingin ibunya tahu tentang permasalahan rumah tangganya."Nanti aku bilang sama mas Haikal. Sekarang ibu makan dan minum obat dulu ya!""Ibu gak mau, buat apa ibu sembuh kalau masih tinggal di rumah sakit jiwa.""Ya sudah kalau ibu sembuh nanti Yumna bawa pulang ke rumah.""Beneran? Kamu janji?"Yumna tersenyum dan mengangguk mencoba membujuk sang ibu seperti membujuk anak kecil. Ratna akhirnya mau menghabiskan makanannya dan meminum obatnya."Ibu bosen di sini, tiap hari ngobrol sama suster. Kalau sama pasien ya gak ada yang nyambung, kalau pulang ke rumah kamu ibu bisa bantu kamu urus anak," uca

  • Perempuan Kedua   Bab 40. Kesedihan Ibu

    "Lalu kepada siapa Aku meminta bantuan agar bisa lepas dari lelaki parasit itu?" tanya Arini."Pak Haikal dan keluarganya," jawab Ronald.Arini yang tadinya berjalan menyusuri rak-rak barang di swalayan tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ronald."Yang benar saja kamu, Ronald. Apa tidak ada orang lain, kalau bisa membantu aku lepas dari parasit itu dan juga pergi dari keluarga Pak Haikal.""Tidak ada, aku hanya percaya kepada keluarga Pak Haikal. Dulu juga Aku ragu, aku takut mereka marah saat mengetahui apa yang aku lakukan. Namun, ternyata kemarahan itu hanya sebentar dan mereka malah memberikan kesempatan kedua untuk aku menjadi orang yang lebih baik."Ronald terus menceritakan masa lalunya yang diterima oleh keluarga Haikal setelah Apa yang dia lakukan. Arini hanya terdiam, ia sudah sangat nyaman dengan hidup bersama Yumna dan Haikal. Misinya dulu memang ingin menghancurkan keluarga Yumna dan Haikal, tetapi setelah hidup bersama mereka dan diperlakukan dengan baik A

  • Perempuan Kedua   Bab 39. Arini Lelah

    "Apa kau ingat bagaimana ciri-ciri kekasih Arini? Mengapa dia sepertinya punya motif untuk menghancurkan rumah tanggaku?!" tanya Haikal kepada Ronald."Iya Pak saya juga berpikir seperti itu, pasti dia punya dendam hingga ingin menghancurkan rumah tangga Bapak dan Bu Yumna," ucap Ronald."Ciri-cirinya orang itu berkulit sawo matang, hidung mancung, rambut sedikit ikal dan berkumis tipis." Ronald melanjutkan ucapannya memberitahu ciri-ciri lelaki yang sering ditemui oleh Arini.Haikal berpikir sepertinya pernah mengenali ciri-ciri orang yang disebutkan oleh Ronald, tapi Haikal lupa Siapa orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu."Apa saja yang kamu dengar jika mereka sedang bertemu?""Saya tidak mendengar apa-apa karena mengawasi mereka dari kejauhan, tapi belakangan ini Arini memang jarang bertemu dengan lelaki tersebut," ucap Ronald.Haikal menganggukan kepala dan berpesan pada Ronald untuk terus mengawasi Arini dan mencari tahu siapa lelaki yang selalu bertemu dengan Arini. Ronald

  • Perempuan Kedua   Bab 38. Meninggal

    "Apa, adik saya meninggal?" Tubuh kekar Ronald luruh kelantai ketika mendengar kabar duka dari rumah sakit tersebut.Haikal dan Yumna saling pandang, niatnya ingin menginterogasi Ronald tentang Arini di tunda karena kabar duka tersebut. Haikal segera mengantar supirnya itu kerumah sakit, sejenak melupakan masalah Arini, ia juga mengabari keluarganya tentang meninggalnya adik Ronald. Sementara Yumna tetap di rumah bersama bayinya."Hati-hati di rumah ya, Sayang. Tetap waspada dengan Arini," ucap Haikal sebelum mengantar Ronald ke rumah sakit."Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan jangan ngebut agar selamat sampai sana!" ucap Yumna.Haikal pun mengantarkan Ronald ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ronald langsung menangis melihat jenazah adiknya."Kami turut berdukacita atas meninggalnya saudari Rina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya, tetapi Tuhan lebih menyayanginya. Rina di nyatakan meninggal pukul 19.15." Dokter menjelaskan kapan adik Ronald menghembusk

  • Perempuan Kedua   Bab 47. Kemarahan Haikal

    "Ada apa, Pak?" tanya Kevin yang ternyata masih ada di ruangan Haikal."Tidak ada apa-apa, kamu boleh kembali ke ruangan mu, terima kasih sudah memberikan berkas ini," jawab Haikal."Baik, Pak. Saya permisi."Haikal mengangguk dan Kevin pun pergi dari ruangan Haikal, lalu lelaki berwajah tampan itu meraih gawainya dan menelpon Ronald. Tiga kali panggilan tidak di jawab oleh Ronald hingga akhirnya panggilan ke empat Ronald menjawabnya."Hallo, Pak Haikal ada apa?" tanya Ronald saat sudah mengangkat panggilan teleponnya."Kamu dimana?" tanya Haikal."Saya di rumah, Pak. Maaf baru bisa angkat telepon tadi saya cuci mobil handphone saya di dalam," jawab Ronald."Kau tidak berbohong? Lalu apa kau sudah mengantar Arini?" tanya Haikal lagi.Ronald terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Haikal, ia merasa majikannya itu sudah mulai tak percaya padanya hingga bertanya dengan nada seperti itu."Saya tidak berbohong saya sudah ada di rumah dan sudah selesai mengantarkan Arini, Pak. Tadi dia

  • Perempuan Kedua   Bab 36. Haikal Curiga

    "Arini, apa yang kamu lakukan?" Mendengar ucapan Yumna, Arini baru sadar jika jarinya berdarah. Pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah ternyata melukai ujung jarinya karena ia melamun."Luka nya langsung di bersihin dan di balut plester, Arini!""Iya, Mbak." Arini langsung membuka keran wastafel dan mengaliri jarinya yang terluka dengan air keran agar darahnya hilang.Setelah itu Arini langsung mencari kotak p3k dan membalut lukanya dengan plester, setelah kembali ke dapur ternyata bumbu rujak siap dan buah sudah di potong-potong oleh Bi Sarti."Makanya jangan melamun kalau lagi pengang pisau, untung cuma ujung jari yang kena. Coba kalau bagian lain?!"Arini tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Bi Sarti. "Iya, makasih udah di bikinin bumbu rujaknya ya, Bi sarti!""Sama-sama, emangnya kamu mikirin apa sih bengong sampe motong jari kamu sendiri?" tanya Bi Sarti."Gak di potong, Bi. Itu cuma gak sengaja kegores pisau kok!""Bibi yakin ada yang kamu pikirkan, cerita aja jangan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status