Início / Romansa / Perempuan Kedua / Bab 40. Kesedihan Ibu

Compartilhar

Bab 40. Kesedihan Ibu

Autor: Sulistiani
last update Data de publicação: 2026-09-15 05:51:48

"Lalu kepada siapa Aku meminta bantuan agar bisa lepas dari lelaki parasit itu?" tanya Arini.

"Pak Haikal dan keluarganya," jawab Ronald.

Arini yang tadinya berjalan menyusuri rak-rak barang di swalayan tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ronald.

"Yang benar saja kamu, Ronald. Apa tidak ada orang lain, kalau bisa membantu aku lepas dari parasit itu dan juga pergi dari keluarga Pak Haikal."

"Tidak ada, aku hanya percaya kepada keluarga Pak Haikal. Dulu juga Aku ragu, aku takut mer
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Perempuan Kedua   Bab 41. Permintaan Ibu

    "Ibu, jangan bicara seperti itu. Yumna sayang banget sama ibu hanya ibu satu-satunya keluarga yang Yumna punya.""Kalau gitu bawa ibu pulang ke rumah kamu dan Haikal, jika kamu beralasan lagi artinya kamu gak sayang dan gak mau ngurus ibu lagi," ucap Ratna.Yumna menghela napas mendengar ucapan sang ibu, dia punya alasan mengapa tidak membawa ibunya pulang. Ada Arini di rumahnya dan Yumna tak ingin ibunya tahu tentang permasalahan rumah tangganya."Nanti aku bilang sama mas Haikal. Sekarang ibu makan dan minum obat dulu ya!""Ibu gak mau, buat apa ibu sembuh kalau masih tinggal di rumah sakit jiwa.""Ya sudah kalau ibu sembuh nanti Yumna bawa pulang ke rumah.""Beneran? Kamu janji?"Yumna tersenyum dan mengangguk mencoba membujuk sang ibu seperti membujuk anak kecil. Ratna akhirnya mau menghabiskan makanannya dan meminum obatnya."Ibu bosen di sini, tiap hari ngobrol sama suster. Kalau sama pasien ya gak ada yang nyambung, kalau pulang ke rumah kamu ibu bisa bantu kamu urus anak," uca

  • Perempuan Kedua   Bab 40. Kesedihan Ibu

    "Lalu kepada siapa Aku meminta bantuan agar bisa lepas dari lelaki parasit itu?" tanya Arini."Pak Haikal dan keluarganya," jawab Ronald.Arini yang tadinya berjalan menyusuri rak-rak barang di swalayan tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ronald."Yang benar saja kamu, Ronald. Apa tidak ada orang lain, kalau bisa membantu aku lepas dari parasit itu dan juga pergi dari keluarga Pak Haikal.""Tidak ada, aku hanya percaya kepada keluarga Pak Haikal. Dulu juga Aku ragu, aku takut mereka marah saat mengetahui apa yang aku lakukan. Namun, ternyata kemarahan itu hanya sebentar dan mereka malah memberikan kesempatan kedua untuk aku menjadi orang yang lebih baik."Ronald terus menceritakan masa lalunya yang diterima oleh keluarga Haikal setelah Apa yang dia lakukan. Arini hanya terdiam, ia sudah sangat nyaman dengan hidup bersama Yumna dan Haikal. Misinya dulu memang ingin menghancurkan keluarga Yumna dan Haikal, tetapi setelah hidup bersama mereka dan diperlakukan dengan baik A

  • Perempuan Kedua   Bab 39. Arini Lelah

    "Apa kau ingat bagaimana ciri-ciri kekasih Arini? Mengapa dia sepertinya punya motif untuk menghancurkan rumah tanggaku?!" tanya Haikal kepada Ronald."Iya Pak saya juga berpikir seperti itu, pasti dia punya dendam hingga ingin menghancurkan rumah tangga Bapak dan Bu Yumna," ucap Ronald."Ciri-cirinya orang itu berkulit sawo matang, hidung mancung, rambut sedikit ikal dan berkumis tipis." Ronald melanjutkan ucapannya memberitahu ciri-ciri lelaki yang sering ditemui oleh Arini.Haikal berpikir sepertinya pernah mengenali ciri-ciri orang yang disebutkan oleh Ronald, tapi Haikal lupa Siapa orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu."Apa saja yang kamu dengar jika mereka sedang bertemu?""Saya tidak mendengar apa-apa karena mengawasi mereka dari kejauhan, tapi belakangan ini Arini memang jarang bertemu dengan lelaki tersebut," ucap Ronald.Haikal menganggukan kepala dan berpesan pada Ronald untuk terus mengawasi Arini dan mencari tahu siapa lelaki yang selalu bertemu dengan Arini. Ronald

  • Perempuan Kedua   Bab 38. Meninggal

    "Apa, adik saya meninggal?" Tubuh kekar Ronald luruh kelantai ketika mendengar kabar duka dari rumah sakit tersebut.Haikal dan Yumna saling pandang, niatnya ingin menginterogasi Ronald tentang Arini di tunda karena kabar duka tersebut. Haikal segera mengantar supirnya itu kerumah sakit, sejenak melupakan masalah Arini, ia juga mengabari keluarganya tentang meninggalnya adik Ronald. Sementara Yumna tetap di rumah bersama bayinya."Hati-hati di rumah ya, Sayang. Tetap waspada dengan Arini," ucap Haikal sebelum mengantar Ronald ke rumah sakit."Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan jangan ngebut agar selamat sampai sana!" ucap Yumna.Haikal pun mengantarkan Ronald ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ronald langsung menangis melihat jenazah adiknya."Kami turut berdukacita atas meninggalnya saudari Rina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya, tetapi Tuhan lebih menyayanginya. Rina di nyatakan meninggal pukul 19.15." Dokter menjelaskan kapan adik Ronald menghembusk

  • Perempuan Kedua   Bab 47. Kemarahan Haikal

    "Ada apa, Pak?" tanya Kevin yang ternyata masih ada di ruangan Haikal."Tidak ada apa-apa, kamu boleh kembali ke ruangan mu, terima kasih sudah memberikan berkas ini," jawab Haikal."Baik, Pak. Saya permisi."Haikal mengangguk dan Kevin pun pergi dari ruangan Haikal, lalu lelaki berwajah tampan itu meraih gawainya dan menelpon Ronald. Tiga kali panggilan tidak di jawab oleh Ronald hingga akhirnya panggilan ke empat Ronald menjawabnya."Hallo, Pak Haikal ada apa?" tanya Ronald saat sudah mengangkat panggilan teleponnya."Kamu dimana?" tanya Haikal."Saya di rumah, Pak. Maaf baru bisa angkat telepon tadi saya cuci mobil handphone saya di dalam," jawab Ronald."Kau tidak berbohong? Lalu apa kau sudah mengantar Arini?" tanya Haikal lagi.Ronald terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Haikal, ia merasa majikannya itu sudah mulai tak percaya padanya hingga bertanya dengan nada seperti itu."Saya tidak berbohong saya sudah ada di rumah dan sudah selesai mengantarkan Arini, Pak. Tadi dia

  • Perempuan Kedua   Bab 36. Haikal Curiga

    "Arini, apa yang kamu lakukan?" Mendengar ucapan Yumna, Arini baru sadar jika jarinya berdarah. Pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah ternyata melukai ujung jarinya karena ia melamun."Luka nya langsung di bersihin dan di balut plester, Arini!""Iya, Mbak." Arini langsung membuka keran wastafel dan mengaliri jarinya yang terluka dengan air keran agar darahnya hilang.Setelah itu Arini langsung mencari kotak p3k dan membalut lukanya dengan plester, setelah kembali ke dapur ternyata bumbu rujak siap dan buah sudah di potong-potong oleh Bi Sarti."Makanya jangan melamun kalau lagi pengang pisau, untung cuma ujung jari yang kena. Coba kalau bagian lain?!"Arini tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Bi Sarti. "Iya, makasih udah di bikinin bumbu rujaknya ya, Bi sarti!""Sama-sama, emangnya kamu mikirin apa sih bengong sampe motong jari kamu sendiri?" tanya Bi Sarti."Gak di potong, Bi. Itu cuma gak sengaja kegores pisau kok!""Bibi yakin ada yang kamu pikirkan, cerita aja jangan di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status