LOGINTerima
TerimaTerimaTeman kerja Arini dan Bu Ratih pemilik rumah makan seperti suporter yang meminta Arini menerima Ronald. Wajah Arini sudah merah seperti kepiting rebus menahan malu karena hal tersebut."A-aku mau," ucap Arini dengan terbata-bata karena rasa malu."Mau apa?" tanya Ronald."Mau menikah dengan kamu," ucap Arini membuat Ronald tersenyum dan menyelipkan cincin di jari manis Arini."Arkan ada apa ini?" tanya Arini yang menahan Arkan.Arkan terlihat sangat marah dan ingin memukul ibunya, hal itu membuat para tetangga yang sedang membantu menjadi saling berbisik-bisik karena tahu seperti apa kelakuan Munah yang tak baik."Ibu keterlaluan, aku menemukan banyak botol minuman keras dan aku lihat di handphonenya dia berencana pesta miras di rumah kita dengan teman-teman suami barunya!" ucap Arkan sangat emosi.Meskipun Arkan juga bukan orang yang paham tentang agama, tetapi dia selalu menghindari hal-hal buruk seperti itu sesuai nasehat yang diberikan Mustofa kepadanya. Ketika melihat ibunya sendiri yang melakukan hal buruk seperti itu maka itu membuat Arkan begitu emosi, Arini dan Amel yang mendengar hal itu pun sama terkejut dan emosi seperti Arkan."Ibu sudah tua, bukannya tobat malah seperti ini terus!" ucap Amel kesal."Kalian itu masih ingusan jangan banyak omong apalagi
"Munah! Tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu di depan jalan suami Arini. Mahar dalam pernikahan memang hukumnya wajib, tetapi jangan sampai memberatkan pihak laki-laki atau pihak yang melamar!" ucap Mustofa."Kak, apa yang aku katakan ini demi kebaikan Arini. Sebagai seorang wanita Dia harus dihargai jangan sampai disepelekan oleh calon suaminya!" ucap Munah tak mau kalah."Menghargai seseorang tidak harus dengan cara memberikan barang mewah dan harta yang seperti ibu inginkan!" ucap Arini kesal.Mustofa merasa tidak enak kepada keluarga Ronald, masih dalam acara lamaran saja Munah sudah memperlihatkan sikap tidak baiknya, malah sengaja membuat perdebatan dan apa yang di utarakan membuat dia terlihat sangat matre.Dalam acara lamaran tersebut hadir juga seorang ustad dan Pak RT, jadi ustad itu mencoba melerai perdebatan antara Munah dan Arini."Ibu Munah, mohon maaf jika saya lancang. Ap
"Apa syaratnya, Bu?" tanya Arini kepada Ratih melalui sambungan telepon."Syaratnya, kalau kamu balik lagi ke Jakarta bawa satu orang lagi untuk bekerja di tempat saya," jawab Ratih.Mendengar ucapan bosnya tentu saja membuat Arini sangat senang, sebab kedua adiknya ingin ikut ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. Hal itu tentu saja sangat pas dengan situasi yang diinginkan oleh bosnya, tinggal mencari satu pekerjaan lagi untuk adiknya yang lain."Kebetulan adik saya mau ikut ke Jakarta setelah saya menikah nanti, Bu!" ucap Arini."Nah itu bagus, tapi adik kamu rajin dan jujur seperti kamu kan! Karena kamu tahu sendiri kerja di saya itu harus rajin dan jujur!" ucap Ratih."Iya, In shaa Allah adik-adik saya rajin dan jujur."Setelah mengobrol banyak dengan Ratih di sambungan telepon akhirnya panggilan itu pun diakhiri, Amel datang dan membawa beberapa contoh undangan untuk
Arini menyetujui saat Ronald ingin melamarnya bulan depan ke keluarganya secara resmi, akhirnya Ronald pun membicarakan itu kepada Haikal dan Yumna. Mereka pun sangat senang mendengar berita itu dan mempersiapkan semuanya karena sudah menganggap Ronald seperti keluarganya sendiri. Seminggu sebelum lamaran, Arini izin pada bosnya untuk pulang kampung dan mengatakan perihal lamaran yang akan Ronald lakukan padanya. "Bu, Minggu akan ada tamu datang kesini," ucap Arini bicara pada ibunya. Kini Arini berada di kampung halamannya dan sedang berbicara dengan ibu dan ayah tirinya karena ternyata ibunya sudah menikah lagi. "Tamu apa maksud kamu?" tanya Munah. "Ada laki-laki yang akan melamar Arini dan membawa keluarganya ke sini," ucap Arini. "Oh bilang dong kalau ada yang mau melamar kamu, orang kaya apa nggak laki-laki yang mau melamar kamu?"
"Janji kalau kamu akan pecat sekertaris genit kamu itu!" ucap Yumna.Tanpa berkata apa-apa Haikal langsung menyerang Yumna, H4sr4t nya yang menggebu segera meminta di tuntaskan dan Yumna tak punya banyak tenang untuk menghalau suaminya.Mereka merasakan pelepasan dengan nafas tersengal-sengal dan Haikal mencium kening Yumna berkali-kali."Mas, kamu belum janji tadi, Lho!" ucap Yumna."Tanpa kamu minta aku memang ingin memecatnya setelah masuk, tapi karena hari ini aku ingin menghabiskan hari dengan kamu jadi aku tunda besok masuk kerjanya dan pecat Lidya nya!" "Aku gak mau ada perempuan gatal di sekitar kamu, kalau bisa cari sekertaris atau asisten laki-laki saja seperti Haidar asisten dia Kevin!" ucap Yumna melingkarkan tangannya di perut sang suami."Ya nanti aku akan seleksi dan cari sekertaris laki-laki, biar kamu tenang di rumah saat aku kerja di perusahaan!"
TerimaTerimaTerima Teman kerja Arini dan Bu Ratih pemilik rumah makan seperti suporter yang meminta Arini menerima Ronald. Wajah Arini sudah merah seperti kepiting rebus menahan malu karena hal tersebut."A-aku mau," ucap Arini dengan terbata-bata karena rasa malu."Mau apa?" tanya Ronald."Mau menikah dengan kamu," ucap Arini membuat Ronald tersenyum dan menyelipkan cincin di jari manis Arini."So sweet ... Langsung halalin ya jangan lupa undang kita!" ucap teman kerja Arini.Arini masih terdiam tak bisa berkomentar karena rasa malunya sementara Ronald mengacungkan jempolnya ke arah teman-teman Arini."Maaf ya, Arini. Aku tidak bisa melamar kamu di tempat romantis seperti orang-orang di drama Korea, cincin yang aku sematkan di jari manis kamu juga bukan cincin mahal yang berlapis berlian," ucap Ronald."Ini sudah leb







