Share

Bab 2 Tawaran Menggiurkan

Esok harinya aku bangun kesiangan dalam keadaan badan seperti patah semua. Rupanya aku tertidur di dapur dalam kondisi duduk, sambil menggendong Yusril yang tertidur dalam gendongan karena kelelahan menangis. Dengan kilat kutunaikan shalat Subuh dan segera bersiap berjibaku di dapur.

“Lala mana sarapannya, Mas Doni udah lapar nih. Pake kesiangan segala.” Itu teriakan cempreng Yuni. 

Heran, buat suami yang LDR bukannya bikinin sendiri sarapan spesial malah sibuk teriak-teriak. Biasanya aku bangun jauh sebelum Subuh, shalat tahajud dan berdoa panjang menjadi kesenanganku. Aku biasa mengadukan segala hal yang memenuhi hatiku baik itu ketakutan mau pun harapan saat tahajid. Menyenangkan sekali berbisik-bisik dalam sepi, rasanya seperti curhat pada sahabat terpercaya. Dan setelahnya aku akan memiliki energi yang besar untuk melalui hari seberat apa pun. Makanya sedih sekali saat momen spesial itu terlewat.

Aku memotong sayuran sambil mencuci di mesin cuci. Kompor sebelah tengah memasak bubur untuk Mama. Sambil menunggu sayur matang aku beres-beres di tengah rumah. Ikan yang tengah dimarinasi sudah menunggu untuk digoreng. Rasanya aku ingin membalah diri dan memiliki tangan seribu.

“Lala … cepetaan doong. Lapaar niih!” Yuni kembali berteriak.

“Lelet amat sih ngapain aja dia?” Saudara kembarnya menimpali. Lalu mereka meneruskan gosipnya.

“Sebentar lagi … mau goreng ikan.”

Aku hanya menggelengkan kepala, dulu kadang aku mengajak mereka bekerja sama tapi tak pernah berhasil. Akhirnya dari pada cape hati mending cape fisik kukerjakan semuanya sendiri. Mama mertua suatu hari pernah bercerita, Mama dan Papa dulu orang berada dan mereka serba dilayani ART. Setelah tak memiliki ART pun semua pekerjaan rumah Mama yang mengerjakan dengan alasan tak mau membebani anak-anaknya. Walhasil semua anaknya manja dan serba ingin dilayani.

“Huuuhuuu … hiks hiks … huaaa ….” Itu suara Yusril terbangun. Kupikir biarlah ada Mas Agi ini. Aku meneruskan masak.

“Yusril bangun nih. Dia nggak mau sama aku.” Aku menghela napas dan menggendong anakku sambil menggoreng. Percuma saja berdebat. Aku meneruskan memasak dan melakukan pekerjaan lain sambil menggendong anak.

Beberapa saat kemudian Yani masuk dapur. Tumben, apa dia kasihan padaku? Syukurlah kalau begitu. “La, itu Mama bab, pengen cebok sekarang katanya udah nggak nyaman.” Ooh itu ternyata alasannya masuk dapur. Aku pura-pura tak mendengar, apa dia tak melihat bagaimana repotnya aku saat ini.

“Lala!” Yani berteriak di telingaku.

“Maaf, Yun. Ada apa? Aku lagi buru-buru nih katanya udah laper. Khawatir gosong bubur sama ikannya.” Kataku sambil membalik ikan dan mengaduk bubur.

“Sini Yusrilnya aku kasih ke Yuni. Masakan biar aku lanjutin. Kamu cebokin Mama aja.” Tumben. Aku segera menemui mama di kamarnya.

Rupanya kotoran Mama meluas karena sudah agak lama. Maka aku membereskan semuanya. Nyebokin Mama, menyeka seluruh badannya, membalur badannya dengan kayu putih supaya hangat dan wangi, juga mengganti seprei dan sarung bantal. Cukup lama aku di kamar Mama hingga terdengar ribut-ribut.

Asap membumbung tinggi di dapur dan masakanku gosong semua. Rupanya Yani yang berjanji meneruskan masakan malah meninggalkannya. Kami terbatuk-batuk. Yusril menangis keras.

“Lala … kamu mau bikin rumah kami kebakaran hah!”

“Kerjaan enggak pernah beres. Bikin sarapan aja sampe gosong!”

“Tanggungjawab kamu, beliin kami makanan pake uang kamu sendiri!”

Aku terduduk lemas menggelosor di lantai. Lelah jiwa raga secara bersamaan. Aku ini sebenarnya istri atau pembantu? Mas Agi tak membelaku sedikit pun saat saudara-saudaranya menyakitiku. Dia malah menatapku tajam seolah aku ini biang masalah. Katanya sabar itu tak ada batasnya, tapi sampai kapan aku harus bertahan dalam lelahnya jiwa raga?

Aku sungguh ikhlas melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga di rumah ini. Tapi setidaknya perlalukan aku dengan manusiawi. Katanya seorang istri berkewajiban mengabdi dan mentaati semua perintah suaminya. Aku sudah berusaha melakukannya tanpa mengeluh. Lalu tak bolehkah aku berharap hakku sebagai istri dipenuhi, untuk mendapatkan nafkah lahir dan batin. Bukankah pembelaan, perlindungan, dan perasaan disayangi itu merupakan nafkah batin juga? 

Kapan pula suamiku akan memberiku uang belanja, agar memiliki harga diri karena tak terus menumpang makan pada sudara-saudaranya? Berapa lama lagi aku akan kuat bertahan, ataukah sudah saatnya aku menyerah pada keadaan? Aku merasa berjuang sendirian, tanpa teman berbagi karena suami susah diajak berdiskusi.

***

Sore hari adikku datang dengan menjinjing martabak manis kesukaanku. Sungguh ini merupakan oase di padang pasir. Aku mengajaknya berbincang di teras samping. Dia menatapku iba saat melihat mataku yang sembab. Hanya pada Lina aku bisa curhat. Ibu tak boleh tahu penderitaan anaknya ini.

“Teh Lala belum makan ya?” selidik Lina. Aku menghentikan kunyahanku dengan malu. Lina yang tengah menggendong Yusril mengusap-usap punggungku dengan lembut, membuat air mataku nyaris tumpah lagi.

“Teh, aku ada tawaran jadi TKW dari teman. Majikannya butuh sekali perawat, gajinya besar sekali. Aku pikir siapa tahu Teh Lala mau nyoba. Siapa tahu ini jalan keluar masalah Teteh.” Lina berkata hati-hati.

Aku terdiam. Di daerah kami memang sudah lumrah perempuan berangkat menjadi TKW. Tapi itu tak ada dalam rencana masa depanku. Bagaimana pula dengan Yusril yang masih sangat kecil? Tapi betul juga kata Lina mungkin saja ini solusi dari masalahku saat ini. Tak ada salahnya kalau aku mempertimbangkannya.

Aku tak mengira bila di kemudian hari jalan ini mengantarkan ku pada kehidupan yang sangat berbeda di kemudian hari.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Tetiimulyati
cape jadi Lala ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status