Share

Bab 3 Nyaris Dilecehkan Ipar

Setelah Lina pulang aku kembali pada kesibukan yang tak ada habisnya dan melupakan tawarannya. Hingga seminggu kemudian sebuah kejadian menyentak kesadaranku bahwa aku harus berjuang secepatnya keluar dari rumah ini. 

Malam itu aku terlelap lebih cepat karena badan yang teramat lelah setelah bekerja seharian. Perkerjaan rutin ditambah membuat makanan spesial permintaan Yani karena sang suami akan pulang. Seperti halnya suami Yuni, suami Yani pun bekerja di luar kota dan kabarnya meski dibujuk pun Yani tak mau ikut sang suami ke pedalaman Kalimantan. Alasannya tak bisa shopping kalau di sana.

“La, aku pesen kembang goyang kayak waktu itu, Mas Doni suka. Jangan lupa juga bikin rengginang rasa terasi pedas, Mas Doni suka banget. Bikin yang banyak. Nih uangnya, kamu sekalian belanja daging sapi. Nanti bikin rending yang pedas.” Perintah Yani tadi pagi. Aku menghela napas tanpa bisa membantah, sudah pasti seharian aku tak bisa istirahat.

Malam itu mas Agus nginap di rumah temannya yang kebetulan seorang duda, katanya ada info lowongan kerja.  Entahlah kenapa harus nginap segala. 

“Mas, tolonglah jangan sampai nginep, perasaanku tak enak ini.” Aku mencoba membujuk saat suamiku akan keluar malam tadi.

“Jangan manja kamu, kalau pekerjaannya dapat kan kamu juga yang seneng. Udah ah, aku pergi dulu.” Mas Agi tak menoleh lagi, meninggalkanku yang termangu.

Tengah malam aku terbangun karena kebelet pipis. Betapa kagetnya aku saat menyadari sebuah tangan kasar mengusap pipiku. Si pemilik tangan pun sama terkejutnya dan berdalih mengusir nyamuk di pipiku. Spontan aku menjerit tertahan dan suami Yuni langsung membekap mulutku dengan pandangan mengancam.  

“Berani ngadu, awas kamu!”

Aku menangis tergugu saat lelaki itu kembali ke kamarnya. 

Ya Allah, ujian apalagi ini? Apa yang harus kulakukan? Aku harus bicara dengan Mas Agi secepatnya! Dia harus tahu bahwa istrinya dalam bahaya. Kami harus mencari solusi secepatnya.

Pagi hari setelah sarapan rumah kembali sepi. Ibu tengah beristirahat sedangkan ipar kembar serta suami Yuni sedang jalan-jalan ke mall. Si kecil Yusril tertidur lagi setelah mimi ASI. Kesempatan bagus untuk mengajak Mas Agi bicara.

“Mas, aku mau bicara penting.”

Mas Agi mengalihkan matanya dari televisi. Matanya mengisyaratkan tanya, ‘Ada apa sih?’

“Mas, aku rasa kita sebaiknya numpang di rumah ibu selama ada suami Yuni, apalagi sebentar lagi ada suami Yani. Aku nggak enak tidur sembarangan di tengah rumah begini. Kurang baik rasanya.”

Suamiku menghela napas berat. “Terus yang ngurus Mama nanti siapa? Yuni Yani nggak bisa diandelin. Aku tak mau Mama kenapa-napa.”

“Mereka kan anak-anaknya, masa enggak mau sih ngurus ibunya sendiri.” Kupelankan suaraku khawatir Mama mendengar dan sedih.

Tak ada tanggapan. Mas Agi masih acuh tak acuh. Coba kalau kuungkap fakta semalam, apa dia tetap tak peduli.

“Sebenarnya ada sesuatu yang membuatku ingin secepatnya tinggal di rumah ibu.” Dengan mata berkaca-kaca aku menceritakan kejadian semalam. Mas Agi tersentak. Harga dirinya sebagai suami pasti tersinggung.  

“Kamu jangan mengada-ada ya, bilang aja mau pergi dari rumah ini secepatnya. Jangan bikin fitnah!” Suara Mas Agi menekan. Aku kecewa sekali dengan responnya. Di matanya mungkin aku tak menarik, sehari-hari berdaster butut, siapa yang akan tertarik?

Sepanjang hari aku tak bisa konsentrasi. Apalagi bila tak sengaja bertemu pandang dengan Mas Doni suaminya Yuni, dia seperti sengaja menyeringai mengejekku. Kulihat Mas Agus sikapnya agak kaku saat berinteraksi dengan Mas Doni, berarti sebenarnya dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Entahlah apa yang membuatnya seolah-olah tak mempercayai ucapanku.

“Kamu kenapa Mama perhatikan hari ini banyak melamun? Cerita dong, Sayang.” Mama mertua menatapku lekat. 

Kasih sayangnya kurasakan tulus sejak aku menjadi bagian dari keluarganya. Tak jarang Mama menjadikan aku sebagai contoh yang harus diteladani oleh Yani dan Yuni, membuat si kembar membenciku. Dulu, sebelum Mama terserang stroke, kami sering menghabiskan waktu bersama karena kontrakanku dan Mas Agi tak jauh dari rumah Mama. Memasak, membereskan rumah, merawat tanaman, mengikuti pengajian, atau berbelanja ke pasar. Mama tak ubahnya ibu bagiku, mereka berdua sama-sama spesial di hatiku.

Kedekatan dan perasaan sayang itu yang membuatku rela hati merawatnya saat beliau terkena stroke. Untunglah syaraf bicaranya tidak terkena sehingga beliau masih bisa bicara normal, tapi nyaris seluruh badannya lemas tak bisa digerakkan. Mama juga yang membuatku bertahan tinggal di rumah ini dengan segala perjuangannya.

Tetapi kini, sepertinya aku harus mengedepankan keselamatan diriku dari musibah yang bisa terjadi kapan saja. Insya Allah Mama akan baik-baik saja dengan dikelilingi anak-anaknya.

“Kok malah ngelamun lagi, anak-anak Mama keterlaluan ya sama kamu? Atas nama mereka mama minta maaf ya, La.” Mata Mama berkaca-kaca. 

“Mama, Lala mohon izinnya untuk tinggal di rumah Ibu sementara waktu ya. Sebenarnya Lala berat ninggalin Mama, tapi sepertinya ini harus dilakukan.” Aku memengang kedua tangan Mama dan bicara dengan pelan khawatir beliau tersinggung. 

“Mama tak usah khawatir, ini bukan karena ada masalah dengan anak-anak Mama. Lala hanya merasa nggak enak tidur di tengah rumah sementara ada laki-laki lain di rumah ini selain Mas Agi.” Aku buru-buru menambahkan.

Mama menghela napas berat. “Maafkan Mama ya, La, memperlakukan kamu kurang baik. Sampai kamu tak punya kamar sendiri. Mama sudah berkali-kali meminta si kembar berbagi kamar sama kamu saat suami mereka di luar kota, tapi mereka keras kepala. Mama izinkan kamu pergi, jangan khawatir Mama akan baik-baik saja di sini. Keselamatanmu lebih penting saat ini.”  

Sebenarnya aku bertanya-tanya dengan kalimat terakhir mama. Beliau seperti mengetahui musibah yang nyaris menimpaku. Aku berterima kasih dan memeluk tubuh Mama erat. Mas Agi yang baru masuk kamar terheran-heran melihat kami berpelukan dan bertangisan.

“Agi, Lala sudah bicara sama Mama. Mama mengizinkan kalian tinggal di rumah ibunya Lala demi kebaikan bersama. Sekarang panggil Yuni dan Yani kemari,” kata Mama tegas.

Yuni dan Yani masuk kamar beberapa saat kemudian. Mereka spontan berteriak menentang keputusan Mama.

“Aku tak setuju. Siapa yang akan merawat Mama kalau Lala pergi? Aku nggak biasa megang kotoran orang lain,” jawab Yuni panik tanpa perasaan.

“Aku juga nggak setuju. Siapa yang akan memasak dan mengurus rumah? Aku sibuk. Lagi pula aku udah nyumbang paling banyak untuk kebutuhan rumah ini. Lala jangan lari dari tanggung jawab dong.” Yani bicara dengan ketus. Tanggung jawab katanya, nggak salah tuh?

Aku menunduk. Sudah kutebak mereka akan menentang keras keinginanku. Dan ucapan mereka tadi menegaskan posisiku di mata mereka selama ini. Seorang pembantu.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
nggak punya otak keenakan tinggalkan mereka kenapa hidupmu harus mereka yang atur
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status