Home / Romansa / Perishable / 3. AKANKAH MENJADI LUKA

Share

3. AKANKAH MENJADI LUKA

last update Last Updated: 2025-08-08 21:45:40

Suasana malam di sekitar danau buatan ini terlihat sepi. Padahal biasanya jika di waktu seperti ini tempat yang di hiasi oleh lampu berwarna warni dengan tanaman bunga di sekelilingnya itu terlihat ramai.

Di antara beberapa orang yang berada di sana terlihat seorang gadis yang tengah duduk di atas rerumputan. Seorang diri dan sekali mengusap lengannya akibat angin yang terasa menusuk kulit.

Tak lama kemudian seorang cowok berpostur tubuh tinggi dengan jaket denim yang melapisi tubuh atlentisnya itu datang sembari membawa dua kaleng minuman, setelah memberikan salah satunya pada Merza, dia duduk di samping gadis itu.

"Ngapain lo keluar malem-malem?"

Merza menoleh ke arah Regan, dia tersenyum, "Nggak ada sih, gue cuma suntuk di rumah mulu," jawabnya yang tidak seperti kenyataan.

"Suntuk di rumah harus banget duduk di pinggir jalan?" Regan bertanya lagi, ada nada sindiran dalam ucapannya, membuat Merza mendengus kecil.

"Kenapa kalo gue duduk di pinggir jalan? Gue 'kan cuma duduk, siapa tau aja ada cogan yang nyantol sama gue," balas Merza dengan sedikit menyombongkan diri diakhir kalimat.

"Coba aja besok. Kalo ada berarti matanya katarak."

Merza melebarkan matanya dan menoleh ke arah Regan. Dia menatap cowok itu kesal.

"Maksud lo gue jelek, gitu?"

"Lo ngerasa? Yaudah."

Wajah Merza semakin memerah, dia mengalihkan pandangan dan melipat kedua tangan di depan dada. Dia sudah kesal dengan kejadian tadi, dan ditambah lagi dengan ini.

"Marah?" Regan memiringkan sedikit kepalanya, melihat wajah Merza yang masam. Lalu detik berikutnya cowok itu terkekeh pelan, lucu melihatnya.

"Iya, gue marah! Kenapa? Nggak suka?" balas Merza ketus tanpa melihat Regan. Tadinya dia berpikir jika kehadirannya dapat membuat perasaan Merza sedikit tenang, tetapi ini malah sebaliknya.

"Kalo ngomong itu liat orangnya."

"Males! Lo ngeselin! Nyesel gue kenapa mau lo ajak ke sini!"

Regan tersenyum tipis, "Nyesel? Nggak percaya gue."

"Serah lo," tukas Merza dengan tetap mempertahankan posisinya tadi.

"Liat gue sini."

"Ogah."

"Liat dulu."

Merza mendengus keras, dengan terpaksa dia menoleh ke arah Regan yang juga tengah menatapnya. Terhitung sudah beberapa detik, tetapi cowok itu belum mengeluarkan suara selain tetap memandangi wajah Merza.

"Apa?"

"Lo cantik."

Raut kesalnya perlahan pudar berganti dengan rona merah di pipi mulusnya. Merza tidak ingin tersenyum karena dia ingin tetap terlihat kesal, tapi ternyata tubuhnya sangat sulit di ajak kerja sama.

"Cih, gue tau kali!"

Regan hanya tersenyum sekilas. Ada perasaan bersalah yang kian hadir didalam hatinya. Jika dia melihat wajah itu.

"Lo nggak papa?"

Alis Merza saling tertaut, dia terdiam sejenak. Kalau ada yang bertanya seperti itu, jawabannya jelas jika dia kenapa-napa. Mengetahui fakta bahwa sosok Ayah yang dia pikir adalah Ayah kandungnya, ternyata bukan.

"Tumben lo nanya gitu? Udah mulai suka sama gue?" Merza membalas dengan maksud candaan. Karena tidak mungkin jika hanya bertanya hal seperti itu, berarti Regan menyukainya. Itu tidak mungkin.

"Gue cuma nanya."

Merza tersenyum kecut, "Lo mau dengerin cerita gue nggak?"

Regan yang semula menatap kedepan perlahan memutar kepalanya. "Apa?"

Gadis itu mengubah posisi kakinya menjadi tertekuk. Dia melihat objek di depannya dengan pandangan kosong. Seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Banyak orang yang bilang, kalau hidup gue sempurna. Gue hidup di keluarga kaya. Tapi mereka nggak pernah tau apa yang terjadi," Merza mengulas senyum pahit, membuka luka lamanya.

"Semenjak Kakak gue meninggal, keluarga gue mulai berubah. Mama lebih sibuk di butik, sedangkan Papa sibuk sama perusahaan. Sampe nggak punya waktu buat gue," dia menunduk sesaat, rasanya sulit sekali menceritakan hal ini. Tetapi entah mengapa, mengatakannya pada Regan membuat perasaannya sedikit lebih tenang.

Matanya beralih menatap cowok itu hingga pandangan mereka bertemu, "Gue selalu kesepian. Jadi lo mau, kan? Dengerin cerita gue terus, dan selalu ada di samping gue?"

Regan bungkam. Rahangnya mengeras namun dia harus bisa menetralkan perasaan. Bukannya dia benci pada Merza, tidak. Dia malah benci pada dirinya sendiri. Karena tidak mampu, dan terlalu pengecut.

"Lo nggak mau kalau suatu saat nanti bakal gue kecewain, kan?"

Merza diam. Menunggu apa yang di katakan cowok itu selanjutnya.

"Jadi jangan berharap apapun dari gue. Gue takut lo kecewa."

****

Pagi ini Merza bolos kuliah. Seperti biasa, hanya seorang diri berada di rumah besar itu. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam menatap langit-langit kamarnya. .

Mama dan Papanya juga sudah pergi setelah tadi berusaha membujuk Merza agar mau membuka pintu kamar. Tetapi dia tetap bersikeras. Untuk saat ini, dia tidak ingin bertemu kedua orangtuanya dulu.

Ada banyak hal yang menempel di pikiran Merza, dan salah satunya adalah ucapan Regan kemarin malam.

Merza yakin, dia tidak akan kecewa pada Regan. Dia sangat percaya pada cowok itu walaupun sikapnya tidak menjamin. Dia yakin, Regan tidak mungkin mengecewakannya. 

Merza tidak berharap lebih. Dia hanya ingin Regan ada dan menemaninya. Agar dia tidak merasa kesepian lagi. Hanya itu. Apakah sulit? Merza tidak meminta Regan untuk membalas perasaannya karena dia sendiri yakin, jika itu terlalu mustahil.

Dia mengubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang. Meraih ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Tangannya bergerak mencari room chat-nya bersama Regan, lalu mengetikkan pesan ke nomor cowok itu.

Regina

Regannnn

Lo sibuk yaa?

Kalo nggak sibuk temenin gue yukk?

Lagi pengen beli makanan, gue laper:(

Setelah mengirim pesan itu Merza terus memandangi layar ponselnya walaupun sudah lima menit tak kunjung ada balasan.

"Lagi kuliah mungkin ya?" bibirnya menggumam.

Merasakan jika perutnya sudah tak bisa lagi diajak kompromi, Merza pun memilih untuk pergi sendiri saja membeli makanan.

****

Moon Coffee adalah tujuannya karena cita rasa makanan di tempat ini sangat cocok dengan lidahnya. Dia naik ke lantai dua dan duduk di sudut, persis disamping dinding kaca.

Melihat suasana Kafe ini membuatnya menjadi teringat akan seseorang. Seseorang yang dulunya bersedia ada jika dia tengah kesepian. Bersedia mendengar ceritanya walaupun itu sangat membosankan.

Namun kini mereka terpaksa berpisah, demi melanjutkan pendidikan masing-masing.

Tangannya terulur meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja, melirik jam sekilas lalu menelepon seseorang.

"Halo?"

"Halo Bella! Hiks! gue rindu lo tau!"

"Lo tau nggak sih kalo gue kesepian karna nggak punya temen modelan kayak lo?"

Di negera yang berbeda Bella terkekeh pelan. Sudah beberapa tahun berlalu, dan ternyata sahabatnya ini masih belum berubah.

"Gue juga kangen sama lo. Kabar lo gimana?"

"Yaa gitu deh. Gue baik, kok. Lo sendiri gimana? Ah, nggak usah gue tanya lagi deh. Di sana kan udah ada Arkan, pasti happy, lah!" jawab Merza dengan decakkan diakhir kalimat. Namun hal itu juga membuatnya tertawa. Mengetahui jika gadis yang menemani masa akhir SMA nya itu sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang.

"Iya, gue happy. Lo juga gitu dong, jangan kesel terus sama Regan."

Mimik wajah Merza berubah murung.  Dia menompang dagu dengan sebelah tangan.

"Gimana nggak kesel, gue kirim pesan dari tadi nggak dibales-bales!" cibirnya.

"Mungkin aja dia lagi sibuk."

"Hmm ya mungkin aja. Btw lo lagi ngapain, Bell?"

"Gue lagi di rumah nih, nunggu Arkan jemput."

"Ck, orang tunangan mah beda ya! Ntar nikahan jangan lupa undang gue, undangannya vvvvip! Nggak mau tau!"

Bella tertawa mendengarnya, "Iya,  ntar lo lagi yang duluan sebar undangan? Kalo gitu gue juga mau, vvvvvvip!"

Merza membalasnya dengan kekehan, tidak tahu sebar undangan apa yang penting ini mampu membuatnya tertawa.

"Yaudah deh, lo lanjut aja nunggunya. Gue nggak mau ntar jadi nyamuk online. Bye-bye! Nanti gue telpon lagi! Jaga diri lo baik-baik."

"Iya, lo juga yaa, kalo ada apa-apa cerita sama gue."

"Iyaa," setelah mengatakan itu, Merza mengakhiri panggilan.

Dia meletakkan ponsel ke tempat semula dan mulai menyantap hidangan makanannya dalam diam. Semua pengunjung datang berdua, bahkan ada yang lebih dari itu. Sedangkan yang duduk sendiri hanya dia.

Miris.

"Udah, Za. Lo juga udah terbiasa sendiri. Kenapa harus sedih coba?" ucapnya dalam hati, menguatkan diri sendiri.

Iya, benar. Dia harus bisa terlihat baik-baik saja karena masalah pasti akan berlalu. Hidup kan masih terus berlanjut. Jika memikirkan tentang ini terus, yang ada dia lupa akan tujuan hidup.

Oke, Merza tidak boleh bersedih. Itu ucapan untuknya sendiri.

Setelah menghabiskan makanannya, dia pun berdiri untuk pergi karena sudah hampir tiga jam dia berada di sana.

Namun hendak menuruni anak tangga, dia tak sengaja menabrak seseorang. Atau lebih tepatnya bukan dia, karena orang itu berjalan dengan melihat ke arah lain.

"So sorry, gue nggak sengaja," ucap gadis yang mengenakan dress diatas lutut itu. Merza menajamkan penglihatannya. Walaupun otaknya pas-pasan, tetapi ingatannya masih cukup bagus.

"Udah kelar?" suara yang sangat dia kenali itu membuat Merza menoleh ke arah cowok yang berdiri tepat di samping gadis tadi. Dia diam, menatap mereka bergantian.

"Hey, udah kok."

"Regan, dia siapa lo?" Merza bertanya langsung. Tak ingin membuang waktu untuk berbasa-basi.

"Lo kenal dia, Gan? Siapa lo? Kok nggak pernah cerita sih?" tanya cewek itu, dengan raut wajah yang sedikit kesal.

Merza berusaha bersikap tenang walau hatinya banyak dilanda oleh pertanyaan. Dan kini, rasa percayanya pada Regan perlahan mulai terkikis.

"Dia--,"

"Temen. Kita temen kampus," potong Merza saat Regan ingin menjawab.

Cewek itu menganggukkan kepalanya mengerti, "Oh, temen kampus. Kalo gitu kenalin, gue Lyora. Sepupu tirinya Regan."

Merza hanya menampilkan senyumnya. Ternyata benar, perasaan atas nama cinta itu amat sangat menyakitkan. Dia harus menyiapkan hati jika suatu saat nanti kecewa dan,

Ditinggalkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perishable   EPILOG

    Gadis yang mengenakanbathrobeberwarna putih itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel. Dia hendak mengirim pesan pada Ghea, memberitahu pada gadis itu agar menunggunya di lobby hotel.Setelah meletakkan benda pipih itu kembali ke tempat semua, tanpa sengaja pandangan Merza jatuh pada satu figura kecil yang terjatuh. Dia lantas menegakkan bingkai foto itu, dan terdiam menatapnya.Terlihat di sana seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arah kamera, sedangkan lelaki di sebelahnya hanya menatap gadis itu datar. Tanpa sadar sudut bibir Merza tertarik ke atas, dia ingat foto ini diambil ketika mereka berada di Moon Coffee. Ah, mengingatnya membuat Merza merasa sedih.Tapi tidak, kini dia tidak akan bersedih l

  • Perishable   58. UNDANGAN

    Duabulan kemudian..."Ma! Merza berangkat kuliah dulu, ya!" seru gadis yang rambutnya diikat satu itu, dia menuruni anak tangga seraya memasang jam tangan putihnya.Seina yang sedang memasak di dapur pun lantas berlari kecil menghampiri Merza, "Nih, nanti jangan lupa dimakan, ya," ucapnya sambil memasukkan satu kotak bekal berukuran mini ke dalam tas Merza."Itu apaan?""Makanan kesukaan kamu," balasnya tersenyum. Kini Seina tidak bekerja lagi di Butiknya, dia hanya datang sesekali jika ada kepentingan. Dan memilih untuk tinggal di rumah. Dia sudah tahu apa yang dialami anaknya dua bulan yang lalu, dan kini Seina ingin menjadi Ibu yang baik untuknya, agar Merza tidak lagi merasa kesepian.

  • Perishable   57. YOU WILL GO?

    "Sebelum lo ngelakuin itu, lo duluan yang gue bunuh."Lyora menurunkan tangannya yang terdapat pistol. Dia menggeram kesal dan langsung berbalik hendak menembak kepala orang itu.Namun gerakkan tangan Grace tak secepat dugaan Lyora, dia berhasil menangkis serangan hingga pistol Lyora terlempar."SIALANN! SIAPA LO, HAH?!" teriak Lyora dengan mencekik leher Grace, dan langsung dibalas dengan tendangan diperut Lyora saat itu juga hingga gadis itu terduduk."Gue?" Grace membungkuk menatap Lyora sembari menunjuk wajahnya sendiri, "Orang yang bakal bawa lo ke neraka."Lyora mengeram kesal, dia menoleh ke samping melirik pistolnya yang terjatuh, lalu kemudian bangkit

  • Perishable   56. I KILL YOU

    Satu jam yang lalu..Setelah mendapat telepon dari Darga, Regan pun langsung menelepon Merza, namun sudah berpuluh-puluh kali memanggil, gadis itu tak menjawab panggilannya. Regan bahkan sudah mendatangi rumah gadis itu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.Karena dia tak kunjung ada kabar, Regan akhirnya meminta bantuan pada Davin untuk melacak sinyal ponsel gadis itu. Dengan begitu dia bisa mengetahui keberadaan Merza.Kini Regan tengah berada di rumah sakit, menjenguk Ghea sekaligus menemui Darga, karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan."Apa?!" kaget lelaki yang duduk tepat di depan Regan. Dia terlihat tak percaya saat mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan Melva.

  • Perishable   55. I AM...

    Langkah kecil itu menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah sendu. Merza tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, hidupnya terasa benar-benar kosong. Perasaan sedih, marah, dan menyesal itu berkumpul menjadi satu.Kakinya berhenti tepat di pintu ruang rawat Ghea, dia berulang kali menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah masuk. Melihat jika gadis itu masih memejamkan matanya, membuat Merza ingin membalas perbuatan manusia sialan yang membuat keadaan Ghea seperti ini.Perlahan dia berjalan mendekat, lalu menarik satu kursi dan duduk tepat di samping tubuh Ghea."Lo kapan sadar? Kenapa lama banget? Gue pengin cerita banyak hal sama lo," ucap Merza, pandangannya mulai mengabur. Dia selalu menceritakan hal apapun pada Ghea, karena hanya gadis ini yang tidak p

  • Perishable   54. DON'T CRY

    Merza berlari keluar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah sembab. Air matanya terus mengalir, tak kuasa membendung sesak pada dadanya setelah mengetahui semua itu."Merza, udah ma--," ucapan Seina terhenti saat melihat Merza menangis, gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya."Mama udah tau, kan?" Seina meletakkan majalahnya di atas meja, lalu kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Merza."Maksudnya?"Merza tertawa sumbang, dia menghapus kasar jejak air matanya, "Kak Melva meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi dibunuh. Mama udah tau, kan?" tanya Merza, menatap Mamanya sendu. Dia bahkan berharap jika Mamanya tidak tahu apa-apa, namun sayangnya ekspresi wajah yang terlihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status