LOGIN"Nomor yang anda tuju, tidak dapat menerima panggilan...,"
Merza menurunkan ponselnya, bibirnya berdecak kecil memandang layar persegi panjang itu.
"Kok nggak diangkat terus, sih?" gumamnya bingung. Langkah itu mulai berjalan dari parkiran menuju ruang kelas. Sejak kemarin malam dia mencoba menelpon dan mengirim pesan pada Regan, namun sampai kini cowok itu tak kunjung menjawabnya.
"Davin!" seru Merza sembari berlari kecil kala dia tak sengaja melihat Davin yang berjalan tak jauh dari tempatnya.
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya, "Apaan?"
"Lo tau nggak Regan di mana?" tanya Merza langsung.
"Mana gue tau, tanya emaknya gih," jawaban Davin barusan membuat Merza membulatkan sedikit bola matanya, apalagi setelah itu dia pergi begitu saja.
"Ck, ngeselin amat sih lo! Pantes aja jomlo!"
****
Seusai kelas pertamanya Merza memilih untuk mendatangi Coffee shop kampus seorang diri karena Ghea berhalangan hadir. Dia hanya memesan satu cup matcha latte dan kini tengah duduk sembari menunggu pesanannya itu.
Dia bingung mengapa Regan tak menjawab pesan dan mengangkat teleponnya. Padahal sebelumnya, cowok itu pasti membalas walaupun satu atau dua jam setelahnya. Namun kini sudah berjam-jam lebih, dan dia hanya membacanya saja.
Merza pun mulai berpikir apakah dia ada berbuat salah atau hal yang dapat membuat Regan marah. Tapi setelah dia berpikir, dia tidak merasa telah melakukan kesalahan.
Cewek itu mengangkat sedikit wajahnya melirik sekitar. Suasana Coffee shop di siang hari ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa mahasiwa yang duduk di sekitarnya. Saat sedang melihat-lihat, Merza tak sengaja menatap seseorang yang berdiri di depan saja, tampak memesan sesuatu.
Cowok itu mungkin merasa diperhatikan sehingga dia menoleh ke arah Merza, hanya sekilas. Dan saat dia hendak berjalan pergi, ada satu tangan yang menarik ujung jaketnya.
Dia menatap Merza datar. Karena tidak ada alasan lagi untuk dia berlaku seperti dulu. Semua sudah terjawab, dan dia yakin jika apa yang dia pikir memang benar.
"Itu luka lo, nggak diobatin lagi?" Merza bertanya sembari melihat luka lebam di pipi cowok itu yang terlihat begitu jelas.
"Nggak."
Merza mengerutkan dahinya, merasa bingung dan asing sendiri karena sikap Arlen tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu mendekatinya.
"Tumben sikap lo berubah?"
Arlen tidak menjawab dan sudah ingin berbalik untuk pergi. Namun lagi-lagi Merza menahan tangannya.
"Tunggu dulu. Lo belum jawab pertanyaan gue."
Cowok itu berhadapan dengan Merza, "Pertanyaan lo nggak perlu gue jawab," Arlen menjeda ucapannya. Cowok berambut hitam acak-acakkan dan tindik hitam di telinga kanannya itu melihat Merza dingin.
" Seharusnya lo tenang karna nggak gue ganggu lagi. Duduk aja, tungguin cowok lo. Gue lagi males berantem," lanjutnya.
Bukan merasa tenang, Merza justru bingung sendiri. Tentang sikap Arlen sekarang, dan tentang ucapannya kemarin malam yang mengatakan jika Regan tidak baik.
"Tentang ucapan lo kemarin, apa maksudnya?"
Arlen manarik sudut bibirnya sedikit ke atas, "Lo pikir aja. Lagian gue juga nggak maksa lo buat percaya."
Merza diam. Dia sudah berpikir tentang itu sampai-sampai dia kesulitan untuk tidur. Namun tetap saja dia belum dapat mengerti.
Tiba-tiba saja Arlen menarik tangannya hingga dia maju dan menumbruk dada bidang cowok itu. Arlen melakukan itu karena ada seseorang yang berjalan di dekat Merza dengan membawa satu cup kopi panas tanpa melihat sekitar.
Cewek itu membeku di tempat, dia mengangkat wajah dan tepat pada saat itu Arlen menurunkan pandangan. Keduanya diam terpaku. Dan Merza merasa tak asing dengan situasi ini, dan dia baru ingat. Jika dulu dia bertemu Arlen untuk pertama kalinya saat cowok itu menarik tangannya saat sebuah mobil melaju kencang pada malam hari.
Arlen mengalihkan pandangan, dia mundur selangkah karena di depan saja terlihat Regan yang memandang ke arah mereka. Cowok itu berjalan tenang memasuki Coffee shop lalu duduk di sudut, tanpa menoleh lagi ke arah dua orang itu.
Melihat Arlen yang melihat ke arah lain, Merza pun membalikkan sedikit tubuhnya. Matanya membulat kala melihat Regan.
"Jelasin gih ke cowok lo," ucap Arlen pada Merza sebelum dia melangkah pergi.
Perempuan berambut kucir kuda itu tiba-tiba ragu untuk menghampiri Regan. Keberaniannya mendadak hilang karena pasti Regan melihatnya saat Arlen menarik tangannya tadi.
Tapi setelah dipikir-pikir, tidak mungkin Regan marah, kan? Lagi pula cowok itu tidak menyukainya, jadi untuk apa dia marah?
Merza mengangguk menyetujui argumennya sendiri. Kakinya mulai melangkah dan duduk di depan Regan yang sedang fokus pada ponselnya.
"Dari mana aja lo? Gue telepon nggak diangkat," kata Merza pertama kali. Namun cowok itu sama sekali tak melirik ke arahnya.
"Regan. Lo dengerin gue nggak sih?"
Tetap sama. Tidak ada respons.
"Ish, Regan!"
Merza menatapnya kesal. Dia lantas menarik paksa ponsel cowok itu sehingga Regan menatapnya tajam.
"Balikin."
"Nggak. Sebelum lo bilang dulu kenapa lo nggak angkat telpon gue. Lo marah? Gue ada buat salah?"
Regan menghela napas pelan. Marah? Dia tidak marah. Untuk apa dia melakukan itu? Dan apakah Merza ada salah? Ya, salahnya kenapa dekat dengan Arlen sampai-sampai mengabaikan panggilannya kemarin malam.
"Kenapa? Marah karna gue nggak angkat telpon lo?"
"Iyalah!" jawab Merza cepat. Karena Regan tak mengangkat telponnya, Merza jadi tidak fokus mendengarkan penjelasan dosen tadi.
"Yaudah, balikin hp gue."
Gadis itu menatap Regan kesal. Hanya itu jawabannya? Merza berharap Regan mau menjelaskan apakah dia ada salah atau tidak. Karena jika Regan tak mengangkat telponnya, itu berarti dia ada salah bukan?
"Ya jawab dulu, gue ada salah nggak?"
"Lo bisa mikir, kan?"
"Ya bisa, lah! Otak gue ada kali walaupun jarang digunain," jawabnya. Dan beberapa detik kemudian dia menurunkan pandangan melihat ponsel Regan yang berada di genggamannya berdering.
Ly is calling...
"Siniin hp gue."
Merza memberikan ponsel itu dengan perasaan yang campur aduk. Sedangkan Regan, dia langsung bangkit dari duduknya dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun pada Merza.
Kedua netranya mengikuti pergerakkan Regan hingga cowok itu menghilang dari jangkauan matanya. Dia mendengus pelan. Siapa Ly? Dari namanya Merza yakin jika itu perempuan. Apakah adik Regan? Tetapi setahu Merza Regan anak tunggal.
"Jauhi Regan. Dia nggak sebaik yang lo kira."
Seketika ucapan Arlen kemarin terlintas dipikirannya. Tadinya Merza menyangkal keras apa yang cowok itu katakan. Tetapi kini, mengapa dia menjadi ragu?
Namun tak lama kemudian dia menggeleng, menepis hal aneh yang dia pikirkan. Berusaha postif thinking jika Regan tidak seperti yang Arlen katakan, dan seseorang bernama Ly itu adalah saudara atau keluarganya.
Merza harus percaya. Karena dia yakin Regan tidak mungkin menyakitinya.
****
Mobil merah itu memasuki perkarangan rumah setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit. Setelah memarkirkan mobil pada tempatnya, Merza turun. Dia mengembangkan senyum saat melihat mobil kedua orangtuanya, itu berarti mereka sudah pulang.Merza masuk ke dalam rumah dengan senyum merekah, tak sabar untuk menyapa kedua orangtuanya. Namun baru saja satu langkah melewati pintu utama, dia berhenti dan terdiam.
Di depan sana terlihat kedua orangtuanya yang bertengkar, saling melempar tatapan tajam dan berucap kasar.
"Apa?! Kamu nyalahin aku?!" teriak Seina-- Mamanya.
"Sebagai Ibu seharusnya kamu lebih perhatian sama Merza! Tinggalkan pekerjaan kamu!"
"Kamu pikir segampang itu? Sulit buat aku bisa sampai pada titik ini! dan dengan seenaknya kamu bilang tinggalkan?" Seina tertawa hambar.
"Pekerjaan segalanya buat kamu?" Rion bertanya dengan nada tak percaya.
"Iya! Pekerjaan segalanya buat aku!" Seina menjawab lantang. Sudah bertahun-tahun dia berusaha membangun butik hingga akhirnya sukses seperti sekarang. Dan tidak mungkin dia meninggalkannya begitu saja.
"Tidak usah pikirkan ini! Pikir saja pekerjaan kamu! Merza itu anak aku, dia bukan darah daging kamu!"
Deg
Merza menatap tak percaya kedua orangtuanya. Apa yang dia dengar barusan sudah cukup jelas, dan itu benar-benar menyakitkan.
"Merza...bu-bukan anak Papa?" tanya gadis itu dengana nada terputus-putus.
Seina dan Rion sontak menoleh, mereka terkejut karena melihat Merza apalagi saat mendengar pertanyaannya tadi.
"Merza..," Rion berucap, ingin menjelaskan, namun Merza memotong ucapannya.
"Bener, Pa? Bener Merza bukan anak Papa?" lirih gadis itu. Dadanya sesak mengetahui jika sosok lelaki yang menemaninya sejak kecil ternyata bukan Ayah kandungnya.
"Za, Mama bisa jelasin."
Merza menggeleng lemah, "Kenapa Merza baru tau?"
"Za, dengerin dulu penjelasan Mama," Seina melangkah mendekat, namun Merza melangkah mundur. Dia mengusap kasar air matanya.
"Kalian jahat," setelah mengatakan itu Merza berlari keluar rumah. Hari sudah gelap, dan dia tak peduli.
Terlalu banyak masalah yang dia hadapi. Dan kini, apa yang harus dia lakukan? Kenyataan itu benar-benar menyakitkan. Merza sangat menyayangi Papanya. Dia yang selalu menjemput Merza ke sekolah, dan menemaninya di rumah jika Mamanya terlalu sibuk di butik.
Mengapa dia bukan orangtua kandung Merza? Padahal Merza sangat menyayanginya?
Gadis itu duduk di trotoar jalan. Memeluk kedua lututnya dan tidak peduli anggapan orang-orang. Sesungguhnya, dia tidak membutuhkan uang jajan berjuta-juta setiap bulan, dia tidak membutuhkan hadiah ulang tahun baju mahal, dia sama sekali tidak membutuhkan itu. Karena yang dia butuhkan adalah, kebersamaan bersama Mama dan Papa.
Cukup mereka ada dan selalu menemaninya. Merza pasti jauh lebih bahagia.
Hidupnya tidak sempurna seperti apa yang orang lain pikirkan. Dia memang punya segalanya, mobil mewah, uang yang berlimpah, dan barang-barang mahal. Dia punya semua itu. Tapi itu semua tak berarti jika dia selalu kesepian.
Sebuah motor tampak berhenti di depannya. Cowok yang duduk di atas kendaraan itu membuka helm full face dan menunduk melihat Merza.
"Ngapain lo di sini?"
Merza mengangkat wajah perlahan, dia mengusap pipinya yang basah, membalas tatapan cowok itu dan tersenyum kecil ke arahnya.
"Regan."
Gadis yang mengenakanbathrobeberwarna putih itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel. Dia hendak mengirim pesan pada Ghea, memberitahu pada gadis itu agar menunggunya di lobby hotel.Setelah meletakkan benda pipih itu kembali ke tempat semua, tanpa sengaja pandangan Merza jatuh pada satu figura kecil yang terjatuh. Dia lantas menegakkan bingkai foto itu, dan terdiam menatapnya.Terlihat di sana seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arah kamera, sedangkan lelaki di sebelahnya hanya menatap gadis itu datar. Tanpa sadar sudut bibir Merza tertarik ke atas, dia ingat foto ini diambil ketika mereka berada di Moon Coffee. Ah, mengingatnya membuat Merza merasa sedih.Tapi tidak, kini dia tidak akan bersedih l
Duabulan kemudian..."Ma! Merza berangkat kuliah dulu, ya!" seru gadis yang rambutnya diikat satu itu, dia menuruni anak tangga seraya memasang jam tangan putihnya.Seina yang sedang memasak di dapur pun lantas berlari kecil menghampiri Merza, "Nih, nanti jangan lupa dimakan, ya," ucapnya sambil memasukkan satu kotak bekal berukuran mini ke dalam tas Merza."Itu apaan?""Makanan kesukaan kamu," balasnya tersenyum. Kini Seina tidak bekerja lagi di Butiknya, dia hanya datang sesekali jika ada kepentingan. Dan memilih untuk tinggal di rumah. Dia sudah tahu apa yang dialami anaknya dua bulan yang lalu, dan kini Seina ingin menjadi Ibu yang baik untuknya, agar Merza tidak lagi merasa kesepian.
"Sebelum lo ngelakuin itu, lo duluan yang gue bunuh."Lyora menurunkan tangannya yang terdapat pistol. Dia menggeram kesal dan langsung berbalik hendak menembak kepala orang itu.Namun gerakkan tangan Grace tak secepat dugaan Lyora, dia berhasil menangkis serangan hingga pistol Lyora terlempar."SIALANN! SIAPA LO, HAH?!" teriak Lyora dengan mencekik leher Grace, dan langsung dibalas dengan tendangan diperut Lyora saat itu juga hingga gadis itu terduduk."Gue?" Grace membungkuk menatap Lyora sembari menunjuk wajahnya sendiri, "Orang yang bakal bawa lo ke neraka."Lyora mengeram kesal, dia menoleh ke samping melirik pistolnya yang terjatuh, lalu kemudian bangkit
Satu jam yang lalu..Setelah mendapat telepon dari Darga, Regan pun langsung menelepon Merza, namun sudah berpuluh-puluh kali memanggil, gadis itu tak menjawab panggilannya. Regan bahkan sudah mendatangi rumah gadis itu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.Karena dia tak kunjung ada kabar, Regan akhirnya meminta bantuan pada Davin untuk melacak sinyal ponsel gadis itu. Dengan begitu dia bisa mengetahui keberadaan Merza.Kini Regan tengah berada di rumah sakit, menjenguk Ghea sekaligus menemui Darga, karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan."Apa?!" kaget lelaki yang duduk tepat di depan Regan. Dia terlihat tak percaya saat mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan Melva.
Langkah kecil itu menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah sendu. Merza tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, hidupnya terasa benar-benar kosong. Perasaan sedih, marah, dan menyesal itu berkumpul menjadi satu.Kakinya berhenti tepat di pintu ruang rawat Ghea, dia berulang kali menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah masuk. Melihat jika gadis itu masih memejamkan matanya, membuat Merza ingin membalas perbuatan manusia sialan yang membuat keadaan Ghea seperti ini.Perlahan dia berjalan mendekat, lalu menarik satu kursi dan duduk tepat di samping tubuh Ghea."Lo kapan sadar? Kenapa lama banget? Gue pengin cerita banyak hal sama lo," ucap Merza, pandangannya mulai mengabur. Dia selalu menceritakan hal apapun pada Ghea, karena hanya gadis ini yang tidak p
Merza berlari keluar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah sembab. Air matanya terus mengalir, tak kuasa membendung sesak pada dadanya setelah mengetahui semua itu."Merza, udah ma--," ucapan Seina terhenti saat melihat Merza menangis, gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya."Mama udah tau, kan?" Seina meletakkan majalahnya di atas meja, lalu kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Merza."Maksudnya?"Merza tertawa sumbang, dia menghapus kasar jejak air matanya, "Kak Melva meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi dibunuh. Mama udah tau, kan?" tanya Merza, menatap Mamanya sendu. Dia bahkan berharap jika Mamanya tidak tahu apa-apa, namun sayangnya ekspresi wajah yang terlihat







