Home / Romansa / Perjaka Desa yang Menyebalkan / 35. Tameng Hukum Sang Perjaka Desa

Share

35. Tameng Hukum Sang Perjaka Desa

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-10-19 09:09:47

Matahari baru saja naik sepenggalah, ketika deru mesin motor gede empat silinder yang khas memecah ketenangan jalan di depan bengkel Damar. Suara knalpotnya yang berat dan berwibawa langsung membuat beberapa montir muda bawahan Damar menoleh serentak.

Sebuah motor gede dinas kepolisian berkapasitas mesin besar berhenti tepat di pelataran bengkel. Seorang pria tegap berusia awal empat puluhan dengan seragam cokelat lengkap, turun dari motor. Di pundaknya, tersemat tanda pangkat tiga balok emas y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   36. Tatapan Sinis

    Hari berikutnya, suasana di sekitar bengkel Damar kembali ke ritme normal pedesaan. Gemercik air di parit kecil depan bengkel beradu dengan dentang kunci pas yang jatuh di lantai semen. Kesya, yang hari itu mengenakan kaus kasual dengan rambut dikuncir kuda, sedang duduk di kursi plastik teras rumah Pak Hadi sambil mencatat beberapa stok barang jualan online-nya di ponsel. Perasaannya sudah jauh lebih ringan setelah kedatangan AKP Hermawan kemarin.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah motor matik putih dengan knalpot yang agak berisik sengaja digas kencang sebelum berhenti tepat di depan pelataran bengkel.Dari atas motor, turun seorang gadis desa dengan dandanan yang cukup mencolok untuk ukuran pagi hari. Tyas. Gadis berusia 24 tahun itu terkenal di dusun sebelah sebagai kembang desa yang angkuh. Gadis itu merasa dirinya adalah definisi kecantikan lokal yang sempurna: kulitnya putih karena rajin memakai lulur bengkoang, tubuhnya sintal, dan selalu menganggap dirinya j

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   35. Tameng Hukum Sang Perjaka Desa

    Matahari baru saja naik sepenggalah, ketika deru mesin motor gede empat silinder yang khas memecah ketenangan jalan di depan bengkel Damar. Suara knalpotnya yang berat dan berwibawa langsung membuat beberapa montir muda bawahan Damar menoleh serentak.Sebuah motor gede dinas kepolisian berkapasitas mesin besar berhenti tepat di pelataran bengkel. Seorang pria tegap berusia awal empat puluhan dengan seragam cokelat lengkap, turun dari motor. Di pundaknya, tersemat tanda pangkat tiga balok emas yang berkilau diterpa cahaya pagi. AKP Hermawan, Kanit Gakkum Satlantas Polres Kota.Damar yang sedang membersihkan karburator motor bebek milik warga langsung meletakkan kunci pasnya. Sebuah senyuman tipis, santai namun sarat akan rasa hormat, terukir di wajah tampan sang perjaka desa. Dia menyambar kain lap dekil untuk membersihkan sisa oli di tangannya."Selamat pagi, Komandan. Tumben subuh-subuh sudah patroli sampai pelosok dusun sini? Ada sparepart moge dinasnya yang rewel lagi?" sapa Damar

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   34. Bisikan di Balik Dinding Bambu

    Malam pun datang di Desa Sukomaju. Ketegangan yang membakar ruang tengah sore tadi perlahan surut, menyisakan keheningan yang menenangkan di dalam rumah Pak Wiryo. Setelah makan malam yang sunyi, Rani memilih untuk tidur lebih awal di temani Bu Lastri. Sementara Kesya yang sekarang lebih sering menghabiskan waktu di rumah Pak Wiryo setelah mengurus orderan online, berjalan keluar menuju ke halaman belakang. Udara malam yang dingin menusuk kulit, membuatnya merapatkan jaket flanel kotak-kotak milik Damar yang masih setia membungkus tubuh mungilnya.Kesya mendongak, menatap taburan bintang di langit malam yang jernih. Pemandangan yang mustahil dia temukan di langit Jakarta yang penuh polusi. "Belum tidur? Dari tadi kamu sibuk dengan jualan online-mu setelah Mas Bayu dan ibunya pulang."Sebuah suara berat dan khas memecah keheningan. Kesya menoleh dan menemukan Damar sudah berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kaus oblong hitamnya lagi, berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   33. Merdeka dari Penjara Tak Kasat Mata

    Keheningan di ruang tengah terasa begitu pekat, menyisakan suara napas Bayu yang mulai memburu panik dan Bu Ndari yang sibuk menelan ludah. Wajah angkuh wanita sepuh itu mendadak pias, kehilangan semua kata-kata tajam yang biasanya siap menyembur dari bibirnya.Di sudut ruangan, Rani perlahan menegakkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun pernikahan yang penuh siksaan batin, wanita itu tidak lagi menunduk ketakutan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sepasang mata yang memancarkan ketegasan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di rumah itu.Rani melangkah mendekati meja makan, menatap lurus pada Bayu yang masih membeku bagaikan patung."Ran... Mas bisa menjelaskan..." Suara Bayu yang biasanya lempeng kini bergetar, mencoba untuk meraih pergelangan tangan istrinya."Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas," potong Rani. Suaranya terdengar sangat tenang. Namun ketenangan itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah Damar.Rani menoleh pada

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   32. Bom Waktu di Ruang Tengah

    Sore harinya, tebakan Damar terbukti. Langkah Bayu yang tergesa-gesa di parkiran swalayan tadi pagi rupanya memicu kepanikan di kubu Bu Ndari. Menyadari bahwa aksi "jalan-jalan subuh" menantu barunya tercium oleh Damar, wanita sepuh yang angkuh itu memutuskan untuk melakukan serangan sebelum rahasia mereka terkuak.Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sewaan berhenti di depan halaman rumah Pak Wiryo. Dari dalam rumah, Kesya yang sedang membantu Bu Lastri melipat pakaian di ruang tengah bisa merasakan ketegangan yang mendadak naik ke permukaan. Damar, yang sudah berganti pakaian rapi dengan kemeja flanel hitam-merah, berjalan masuk dengan langkah berat yang tenang, namun sorot matanya sedingin es.Pintu depan diketuk berkali-kali dengan tidak sabar. Ketika Bu Lastri membukanya, Bu Ndari melangkah masuk dengan dagu terangkat, diikuti oleh Bayu yang berjalan mengekor di belakangnya dengan wajah lempeng seperti biasa. Di belakang mereka, Rani berjalan menunduk. Matanya terlihat sembap, se

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   31. Jaringan di Balik Kunci Pas

    Sepanjang perjalanan pulang dari Desa Sukomaju, Kesya hanya diam membisu di jok belakang. Angin pagi yang menerpa wajahnya tidak mampu mendinginkan kepalanya yang kalut. Ketakutannya terhadap Bayu yang mungkin akan curiga, berpadu dengan memori masa lalu yang mendadak berputar kembali seperti kaset rusak akibat ancaman Raka di pesan singkat kemarin.Damar yang peka, menyadari kegelisahan itu dari bagaimana jemari Kesya meremas ujung jaket flanelnya dengan amat kencang. Setibanya di bengkel, Damar langsung memarkirkan motornya di dalam. Dia tidak membuka gerbang depan bengkel, sengaja membiarkan suasana tetap privat.Damar melepaskan helmnya, lalu berbalik menatap Kesya yang masih duduk termangu di atas motor."Masih kepikiran soal Mas Bayu?" tanya Damar. Nadanya melembut, mengikis habis kesan ketus yang tadi dia pamerkan di parkiran swalayan. "Jangan takut. Aku tadi sengaja membuat dia kikuk, supaya dia nggak berpikir macam-macam. Buktinya aman di HP-mu, kan?"Kesya turun dari motor,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status