ログインMalam ini Maryono datang ke rumah anak menantunya. Beberapa kali pintu ini diketuk tapi tak ada jawaban dari dalam, Maryono mencoba menghubungi Aldi via ponsel. Maksud kedatangannya ingin membicarakan masalah ini baik-baik tapi rupanya Aldi sedang berada di rumah Husna untuk menenangkan diri.
Maryono berjalan keluar dari teras rumah untuk pergi ke tempat Husna, ia akan menemui Aldi disana. Namun sejenak ia ragu keberadaan putrinya. Apakah Selina juga ikut dibawa ke rumah Husna atau mRintik hujan mulai jatuh ke atas bumi. Awan hitam pekat. Hembusan angin kencang menerpa wajah Rama yang masih berdiam di tempatnya.Tatapan matanya begitu kosong. Teguran dari para manusia yang hulu hilir melewatinya, bahkan ada yang berani menyentuh bahunya sama sekali tak dihiraukan olehnya.Rama menatap nanar makam yang masih tertumpuk dengan tanah berwarna merah. Semakin basah karena hujan yang mulai melanda."Kami tidak tahu apa yang terjadi pada Anggia. Kepergiannya membuat kami terpukul."Suara pria itu lalu mengembalikan kesadaran Rama. Dia lalu memandang pria yang berada di hadapannya. Seorang pria paruh baya."Tapi kami bersumpah akan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya bunuh diri. Cepat atau lambat, kami akan menemukan siapa orang itu." Sambung pria itu tegas.Rama masih tak bergeming. Pandangannya lalu beralih pada wanita paruh baya yang masih menangis meratapi nisan yang bertuliskan nama Anggia. Wanita muda yan
"Selina!" Teriak Aldi dengan keras.Selina yang menggendong putrinya berlalu ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan sana.Aldi yang bergerak ingin mengejar Selina tertahan karena dua pria bertubuh besar yang menghadangnya."Apa-apaan ini? Ayah menyewa preman untuk menghajarku?" Aldi marah sekali."Tidak. Aku hanya ingin menjemput putri dan cucuku." Jawab Maryono tenang."Apa ayah sudah lupa dengan perjanjian kita?? Ayah tidak diizinkan untuk menemui anakku lagi!""Dan surat perjanjian itu tidak berlaku karena kamu sudah mengingkarinya.""Sial!" Aldi mengumpat hingga membuat Maryono terkejut. "Kalian semua sudah mempermainkanku! Aku nggak akan tinggal diam!""Ternyata inilah watak aslimu, Aldi. Aku pikir kamu sudah berubah karena Selina koma. Tapi ternyata ketulusanmu hanya sementara saja."Maryono memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil. Sementara Aldi tak bisa mengejar karena tertahan oleh
"Wanita brengsek! Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?" Aldi menghempaskan ponselnya ke dashboard mobil.Percuma ia memaki Mayang. Wanita itu sudah memutus sambungannya."Harusnya aku sudah curiga! Tidak mungkin dia tidak memiliki maksud masuk ke keluargaku! Ah, sial!" Tak henti-hentinya Aldi mengumpat.Ia melarikan mobilnya ke rumah miliknya. Mayang mengatakan jika Alina sudah berada pada Selina. Itu artinya Selina sudha mengetahui semua faktanya. Rahasia yang Aldi simpan selama ini. Begitu juga jati diri Mayang yang sesungguhnya."Sial!" Aldi memukul setirnya dengan kesal. "Aku harus cari alasan!"Dia tahu Selina mudah terpengaruh. Hanya disirami dengan kasih sayang dan dipupuk dengan nyanyian lembut, Selina pasti lebih mempercayai Aldi.Hari ini Aldi akan mengatakan yang sebenarnya jika Alina adalah anak mereka. Tapi Aldi akan menceritakan semuanya dengan versi dirinya. Jangan sampai Selina teringat semua hal buruk yang me
"Harusnya dari awal kamu memang pake pengasuh, Aldi! Jangan nyalahin mama!" Ucap Husna tak terima saat Aldi menyalahkannya. "Kan mama bisa lapor padaku kalau Alina demam. Kenapa mama malah mendiamkannya?" "Udah mama bilang jangan bergantung sama mama! Mama udah tua! Kamu juga nggak becus mengasuh anak! Lagipula kamu itu pelit, Aldi. Kamu kan udah punya uang satu miliar kenapa nyari pembantu aja susah!" "Mama!" Mata Aldi sampai melotot. Untung saja mereka tengah berdebat di kamar Alina jadi tak ada yang mungkin mendengarnya. "Jadi sekarang gimana Alina?" Husna mengalihkan pembicaraan. "Ada Mayang yang menungguinya di rumah sakit." "Nah!" Husna terkekeh. "Mama kan udah bilang biarkan Mayang yang mengurus semuanya tapi kamu malah mengusir dia!" Aldi memalingkan wajahnya karena kesal. Kalau bukan demi Alina saja makanya dia menghubungi wanita itu. Apalagi saat Alina bertemu lagi den
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak percaya dengan penjelasan wanita ini."Namun suhunya normal, bekas suntikannya juga tidak bengkak. Kuncinya rehidrasi saja yang cukup. Mungkin Alina tidak menyusu dengan baik." Fiona berdoa ditebalkan kesabarannya karena berhadapan dengan pria ini.Aldi sempat memikirkan ucapan dokter ini. Benar juga. Bisa jadi karena pengasuhnya sudah diusir jadi Alina tak terlalu diperhatikan. Apalagi Husna yang tak mau mengurus anaknya."Baiklah."Aldi lalu mengajak putrinya pulang. Baru sekarang dia merasa kerepotan sendiri. Tak ada kereta bayi sehingga ia harus menggendong bayi sepanjang perjalanan keliling rumah sakit. Ah, wajah ini sempat memerah karena ditatap ole
Mata Mayang menggelepar. Nafasnya memburu dengan hebat. Leher ini dicengkram kuat oleh pria yang ada di hadapannya.Mayang berusaha menjerit tertahan, ia terus memukuli tangan Aldi yang mencekik lehernya."Lepaskan!""Katakan padaku untuk apa kau lakukan disini, hah? Apa niatmu??!" Bentak Aldi. Pria ini lalu melepaskan tangannya.Mayang terbatuk-batuk dan menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Ia memegang lehernya yang kesakitan."Kamu pasti sengaja datang kemari dengan cara menyamar, kan? Ngaku!""Aku.. aku bisa jelasin, mas.""Arrrghh!"Mayang memejamkan mata saat tangan Aldi melayang hendak menampar wajahnya. Namun suara Husna menghentikan semuanya."Aldi! Ngapain kalian ribut-ribut??" Husna datang lagi dan terperangah melihat cadar Mayang yang telah terlepas."Kamu.." ucap Husna."Benar, ma. Dia Mayang. Wanita yang menyamar menjadi pengasuh anakku. Aku yakin dia pasti memiliki niat ya







