LOGINSrak! Bummm! Gelombang petir ungu Jaka Geni berhasil di tangkis dengan pedang Zhen Huang. Setelah menangkis pedang, Zhen Huang melompat ke belakang lalu melompat dengan tenaga dalam ke arah Jaka Geni. Jaka tak mengira akan bertemu dua lawan yang cukup hebat. Dua pendekar ini saling menebas dan menangkis. Meski Zhen Huang merasakan telapak tangannya perih karena serangan Jaka yang berat dan bertenaga luar biasa, Zhen Huang tetap bertahan sekuat tenaga. Lelaki yang di juluki Pendekar Seribu Pedang itu tak mau kalah jika sudah berurusan dengan lawan yang juga menggunakan pedang. Dia sudah bertemu dengan ratusan pendekar pedang, dan bertarung. Tak ada satu pun yang dia lewati dengan kekalahan. Semua pertarungan antar pengguna pedang dia selalu menang. Namun dia belum pernah bertemu dengan pendekar misterius bernama Shin. Sang Iblis Putih yang juga pengguna pedang.Berhadapan dengan Jaka Geni sudah membuatnya kesulitan menahan serangan ganas pedang Guntur Saketi. Setiap hantaman ped
Zhen Huang melesat ke arah Jaka Geni yang masih memandangi pedang Guntur Saketi. Namun Jaka tahu serangan cepat Zhen Huang. Dengan gerakan cepat Jaka mengibaskan pedang ke arah Zhen Huang yang juga menebas ke arahnya. Tranggg! Glegarrr! Tubuh Zhen Huang terpental setelah adu senjata dengan pedang Guntur. Aura petir warna ungu menyambar ke segala arah membuat pepohonan di sekitar Jaka Geni terbakar. Hong Lie segera menggunakan jurus ampuh miliknya. Gerakan tangannya semakin cepat membuat ribuan gelombang pedang. Jaka Geni menoleh. Dengan kekuatan Guntur Saketi, Jaka langsung menghantam dengan pedangnya. Ledakan dahsyat menggema dengan di iringi tanah yang bergetar. Gelombang tenaga dalam dari kecapi bisa di patahkan,namun gelombang lain menyusul dengan cepat. "Serangan nya tak ada habisnya!" teriak Jaka dalam hati. Dengan cepat dia berkelit saat gelombang serangan menghampiri nya. Puluhan pohon terpotong seketika saat serangan Hong Lie menghantam. "Gelombang serangan kecapi itu
Mendengar kabar Jaka Geni berada di hutan Xin Xiang, Yang Sian Kan dan Li Shimin segera bertolak ke hutan tersebut. Jaraknya cukup jauh, karena memakan waktu hingga beberapa hati dari tempat mereka. Mereka berdua bersama pasukannya bergerak menuju Xin Xiang. Di balik air terjun, Jaka bisa merasakan beberapa kekuatan hebat yang datang. "Kalian tunggu di sini, aku akan memeriksa di luar. Jangan keluar, tetap disini. Sepertinya banyak sekali prajurit yang berdatangan." kata Jaka. "Kami akan menunggu disini. Pergilah, jangan khawatir." kata Lu Che. Chang Yun mengangguk. Jaka segera kompak ke bawah air, lalu berubah menjadi ular hitam kecil. Dia berenang ke pinggiran dan menyusup di balik rumput dan semak. Matanya yang hijau melihat dengan jelas, ratusan prajurit tengah berjalan "Sebanyak ini?" batin Jaka Geni. Dia terus melata mendekati mereka. Dan mendekam untuk mendengarkan pembicaraan mereka. "Mayat-mayat itu menunjukkan bahwa orang yang kita cari sangat berbahaya." kata salah sa
Keesokan harinya, Jaka Geni terbangun dan membuka matanya. Tubuhnya telah di selimuti sebuah selimut tebal yang hangat. Ketika Jaka membuka selimut itu dia terkejut mendapati dirinya tanpa pakaian selembar benang pun. Dan yang membuat dia semakin terkejut adalah di bawah kedua ketiaknya tengah memeluk erat dua wanita tanpa pakaian.Bahkan Jaka bisa merasakan beberapa tonjolan lembut yang menempel di tubuhnya.Jaka menepuk jidatnya beberapa kali. Apa yang telah aku lakukan semalam!? Dari dalam kamar Li Mey mendatangi Jaka sambil tersenyum. "Sudah sadar?" tanya gadis itu. Jaka hanya menoleh tanpa menjawab. Li Mey tersenyum. "Kakak sungguh luar biasa," ucap Li Mey membuat Jaka penasaran. Dia tak ingat apa yang semalam dia lakukan. "Li Mey tunggu!Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi semalam?" tanya Jaka. Kepalanya terasa pusing. Li Mey berjongkok tak jauh dari Jaka. "Kamu mabuk parah dan mengajak dua kakak itu bercinta. Kamu terlihat menikmatinya, apakah kamu lupa semua yang tela
Xian Hui menoleh ke arah Ling yang sedari awal dia bertemu terlihat murung seperti tengah bersedih. "Aku melihatnya murung sejak pertama masuk ke dalam dunia jiwa Jaka Geni ini. Sebenarnya apa yang kamu maksud dengan Ling yang tidak cocok berada di dalam sini?" tanya Xian Hui penasaran. Lang menggeleng. "Meski Jaka Geni mempunyai kekuatan api, tapi Ling tidak masalah dengan itu. Mungkin kamu juga bisa merasakan bahwa berada di istana ini nyaman-nyaman saja. Padahal kalian berdua sama-sama dengan kekuatan es." kata Lang. "Lalu apa yang membuat adikmu menangis? Jangan bilang kalau...""Benar!" pangkas Lang. "Hei, aku belum berkata! Bagaimana kau bisa menebaknya, memangnya kau tahu apa yang ingin aku katakan?" sanggah Xian Hui. Lang tersenyum. "Kamu ingin berkata jika Ling jatuh cinta pada Jaka Geni bukan?" tanya Lang. Xian Hui terpana. Mulutnya terasa terkunci. Bagaimana dia bisa menebaknya? batin Xian Hui. Lang menoleh ke arah adiknya yang sedari tadi hanya menunduk. "Keluar
Lu Che gelisah tak bisa memejamkan mata. Beberapa kali dia pindah posisi tidur namun tetap saja gelisah. Dia menatap langit-langit kamarnya. "Jika kakak Jaka berada di sini, mungkin aku akan tenang." pikir gadis itu. Ingatannya terbayang kembali saat dia dan pemuda itu melakukan hubungan badan. Wajahnya seketika memerah, dan senyum mengembang di bibirnya. "Dia sangat luar biasa..."Sementara itu Chang Yun pun tak bisa tidur karena gelisah. Dia pun memikirkan hal yang sama. Li Mey membuka matanya mendengar Chang Yun yang beberapa kali membuang nafas dengan suara keras. "Kenapa kak?" tanya Li Mey. Chang Yun menoleh.Dia tersenyum tawar. "Tidak apa-apa adik Mey," jawab nya. Li Mey tersenyum lalu membelai rambut Chang Yun dengan lembut. "Aku tahu kakak memikirkan kakak Jaka, dan juga pertolongan Lu Che beberapa hari yang lalu. Lebih baik kakak berunding dengan kak Lu Che agar kalian bisa menyelesaikan masalah hati ini dengan baik. Kalau melihat kakak Jaka Geni yang tampan dan sebaik
Nyai Laras mengusap air matanya. Lalu dengan bibir bergetar dia mengatakan satu hal yang sudah lama ingin sekali dia katakan."Kinasih... Aku adalah ibu kandungmu..." ucap Nyai Laras dengan terbata. Kinasih merasa dirinya seolah baru tersambar petir di siang bolong. Terkejut dan sangat tak menyangk
Kabut turun menyelimuti gunung Sumbing. Udara lembab membuat suasana menjadi dingin. Matahari mulai condong ke arah barat pertanda malam akan segera tiba.Satu sosok manusia tengah menggendong seseorang berkelebat menembus kabut. Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara orang yang dia gendong.
Gondo Sula menatap delapan pendekar bertopeng itu. Mereka adalah pendekar-pendekar kaki tangan Karna. Namun meski delapan orang sakti didepan mata, tak membuat nyali si Botak Gondo Sula takut. Jaka melihatnya sambil tersenyum. Sedangkan Putri Maharani mencoba membuka sedikit matanya untuk menyak
Resi Sumbing merasa tidak asing dengan orang yang duduk di atas pondok itu. Jelas sekali, dia bukan pendekar yang dipikirkan olehnya. Tapi dia seolah pernah mengenalnya. Raden Mandala terkejut melihat orang yang tidak sopan tersebut. "Hei, bukankah kau Si Pengemis Gila yang kami te







