LOGINKun Long menghantamkan golok nya dengan sekuat tenaga. Saat dia mengayun, golok itu di ikuti cahaya hijau terang. Jaka Geni tidak bisa menghindari karena kecepatan Kun Long yang meningkat pesat membuatnya semakin sulit di perkirakan. Dengan teriakan keras Jaka Geni akhirnya menangkis serangan Golok Kehancuran milik Kun Long. "Gledek Membelah Langit!" Matahari baru saja menunjukkan wajahnya. Cahaya kekuningan menembus kabut di pagi hari. Belum lama sinar sang surya menyinari bumi, awan gelap berkumpul dari berbagai arah menutupi cahaya mentari pagi. Suasana menjadi gelap gulita karena awan hitam berkumpul di atas hutan tersebut. Shin menatap langit dengan senyum mengembang. Mata merahnya membesar. "Ini kenyataan, kabar itu bukanlah isapan jempol belaka! Orang asing itu benar benar bisa memanggil Lei Gong!" ucap Shin penuh kekaguman. Matanya menatap ke langit yang sudah tertutup awan hitam. Awan semakin pekat menutupi langit di atas hutan Yao Chang. Para pendekar yang menyaksikan
Jaka Geni menangkis serangan golok hijau besar milik Kun Long menggunakan pedang biru di tangannya. Dengan kekuatan petir yang di alirkan ke kaki kanannya, Jaka bergerak cepat menyambar perut Kun Long dengan tendangan. Namun Kun Long berhasil menghindari tendangan lawan dengan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Disaat yang sama, kaki kanan Kun Long langsung menendang ke arah dagu Jaka Geni. Terkejut lawan membalas dengan serangan tak terduga, Jaka Geni langsung membuat gerakan jungkir balik sehingga dagunya terselamatkan dari tendangan Kun Long. Jaka mundur beberapa langkah. Ternyata Kun Long bukanlah pendekar biasa. Tanpa melihat, dia bisa menghindari setiap serangan hanya dengan merasakan pergerakan. "Tak semudah yang ku bayangkan," pikir Jaka. Kun Long menatap tajam ke arah Jaka Geni. Tanpa senyuman, dia langsung berkelebat ke arah Jaka Geni dengan cepat. Jaka menyambut serangan golok besar itu dengan pedang biru yang bernama Rubah Biru. Setiap serangan Kun Long sang
Ratu Lu Che berteriak kesakitan. Sesaat tadi setelah dia tertusuk pedang Chang Yun, tiba-tiba dia merasa tubuhnya seperti tersengat api yang sangat panas hingga tubuhnya terpental. Itu adalah ledakan kekuatan petir milik Chang Yun. Para pengikut Ratu Lu Che langsung menyerang kearah Chang Yun begitu melihat ketua mereka terluka. Cakar besi yang menggantung di pinggang segera mereka pakai untuk mengeroyok Chang Yun. "Jangan gegabah!" teriak Ratu Lu Che, namun para pengikutnya terlanjur menyerang. Chang Yun tidak gentar menghadapi delapan orang sekaligus. Dengan ajian Gledek Sambar Nyawa yang dia pelajari dari Jaka Geni, dengan lincah Chang Yun menangkis dan menyerang. Shin tak menyangka Chang Yun adalah seorang pendekar berkelas. Bahkan ketua di Serikat Teratai Biru berhasil dia lukai. "Lu Che, kau terlalu ceroboh." ucap Shin dalam hati. Dia lebih serius mengamati Chang Yun bertarung daripada melihat ke arah Jak Geni. Itu karena dia penasaran dengan kekuatan yang baru saja gadis it
Jaka Geni dan Chang Yun berhenti di sebuah kuil tua. Bangunan kuil itu seperti sudah lama sekali tidak di gunakan. Melihat dari patung-patung di sana, terlihat bahwa itu kuil Buddha. "Bagaimana menurut mu Chang Yun, ada kuil ditengah hutan." celetuk Jaka. "Tidak masalah kak, sepertinya ini kuil yang di bangun oleh pejabat sebelumnya, hanya saja melihat keadaan kuil ini seperti sudah puluhan tahun di tinggalkan." sahut Chang Yun. Mereka mendorong pintu kayu besar yang langsung menuju halaman kuil. Halaman itu terlihat cukup luas, banyak rumput tinggi dan sampah daun kering menumpuk. Jaka melangkahkan kaki pertama kali ke halaman tersebut. Chang Yun menyusul. Mereka melangkah dengan waspada. Saat kaki Jaka melangkah ke arah dalam, dia mendengar suara berdesing dari kejauhan. "Chang Yun! merunduk!" teriak Jaka Geni. Gadis itu seketika merunduk. Sebuah pisau melesat di atas kepalanya lalu menancap di tembok. Mereka berdua menoleh ke arah depan mereka. Tak di sangka, Kun Long dan R
Ratu Lu Che berkelebat cepat menuju tempat persembunyian Jaka Geni dan Chang Yun. Saat dia bersama para bawahannya hampir sampai di dekat sungai, mata wanita itu terbelalak melihat beberapa mayat yang terkapar. "Kita terlambat! cepat kejar mereka!" seru Ratu Lu Che kepada para wanita bawahannya. Kun Long yang saat itu berada di seberang sungai menemukan dua mayat yang tergeletak tak jauh dari gubuk di atas pohon. Di periksa nya dua mayat yang tewas dengan lubang di kepala. Dia memperhitungkan jarak dua mayat itu dengan gubuk yang ada di atas pohon. "Jaraknya sudah cukup untuk mengintai, tapi... dalam gelapnya malam, bagaimana dia bisa melempar dengan tepat ke arah dua orang bodoh ini? Apakah dia turun lebih dulu? Akan tetapi jika dia turun, dua orang ini bisa kabur terlebih dulu. Dari keadaan tewas mereka yang saling bertumpu kan itu artinya mereka tewas di tempat tanpa perlawanan." batin Kun Long. Dia angkat golok nya ke atas. Dari ujung golok itu keluar cahaya hijau berkilat.
Tiga orang itu saling tatap saat seorang mata-mata yang mereka kirim datang menghadap. Puluhan pendekar langsung tertuju kepada seorang Pendekar berpakaian putih yang baru saja datang. "Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" tanya Ratu Lu Che. "Kami menemukannya, saat ini Huang Li tengah mengawasi mereka." ucap lelaki yang baru saja datang tersebut. Kun Long menyeringai lebar. "Baiklah, apakah kita akan berangkat sekarang?" tanyanya meminta pendapat. Shin si Iblis Putih diam tak menjawab. Dia tak bersuara sedikit pun. "Kita akan serang mereka bersama. Melihat kematian Sio Tong, pendekar asing bernama Jaka Geni itu bukanlah orang biasa. Bahkan sampai membuat Kaisar mengutus Yang Sian Kan putra Yang Jie. Itu pertanda orang asing ini pendekar yang berbahaya." ucap Ratu Lu Che menanggapi ucapan Kun Long. Shin tersenyum sinis. Mata merahnya sedikit menyala. Ratu Lu Che dan Kun Long saling tatap melihat senyuman Shin yang menurut mereka mempunyai makna tersendiri. "Apa kamu punya pend







