Share

6

Author: princessa
last update publish date: 2023-06-11 18:52:10

Kania merasakan ada pergerakan asing disamping tubuhnya. Ia membuka matanya secara perlahan dan mendapati suaminya berbaring disampingnya. Entah Cakra tertidur atau tidak namun suaminya itu menutul matanya. Menyadari adanya kesempatan untuk kabur, Kania perlahan mencoba bangun.

"Mau kemana?" Suara berat Cakra mengagetkannya, ternyata Cakra tidak tidur. "Percuma, pintunya dikunci dan diluar juga ada penjaga."Ucapnya lagi. Kania pun mengurungkan niatnya sambil terus memikirkan cara membujuk Cakra agar melepaskannya. Saat Kania terdiam, Cakra menarik tubuh Kania kedalam pelukannya. Kania tak memberontak pun tak berkata apa-apa. Entah sejak kapan Cakra berada dikamarnya, namun Cakra masih memakai pakaian kerjanya. Apa sejak semalam Cakra berada dikamarnya?

Cakra menangkup kedua pipi Kania dan menatap mata Kania."Aku kangen. Kita udahan ya berantemnya. Kamu mau nurut kan sama aku." Ucap Cakra tanpa memgalihkan pandangan matanya dari Kania. Hampir saja Kania terlena akan ucapan Cakra, namun hati kecilnya menolak. Tidak, ia tak ingin dimadu. Ia tak sudi melihat suaminya membagi cinta dengan wanita lain. "Nggak, aku ngga mau." Cakra yang semula bersikap manis tiba-tiba menggeram mendengar jawaban Kania. Ia yang sebelumnya berbaring di sebelah Kania mengubah posisinya duduk disebelah Kania yang masih berbaring. Dengan kedua tangannya ia mencengkeram leher Kania. "Kenapa sih kamu ngeyel banget! Aku ini suami kamu, harusnya kamu tuh nurut jadi istri." Kania merintih kesakitan karena Cakra mencekik lehernya dengan kuat. Ia berusaha menepis tangan Cakra, namun ia kalah kuat. "Le-lepas mas, ampun." Dengan terbata Kania memohon agar Cakra melepaskannya. Melihat Kania yang kesulitan bernafas, Cakra melepaskan cengkeraman tangannya di leher Kania. Namun emosinya masih belum reda, ia menjambak rambut Kania hingga Kania mendongak ke belakang dan mengaduh kesakitan. "Aku sudah memintamu baik baik, namun kamu sama sekali ngga bisa diajak kompromi. Aku akan menikahi Della besok dengan ataupun tanpa restumu dan kamu akan tetap terkurung didalam kamar ini sampai kau bisa berpikir jernih." Setelah itu Cakra mendorong Kania dan keluar dari kamar dengan membuka pintu dengan kunci yang berada di saku celananya. Kania hanya bisa menangis dan merintih kesakitan saat pintu kamarnya kembali dikunci dari luar. Tak henti ia memohon pada Tuhan agar ia bisa lepas dari siksaan Cakra. Ia juga memohon agar bisa kembali ke masa lalu agar ia tak pernah bertemu dengan Cakra dan mengalami ini semua.

Cakra kembali kenrumah utamanya dan memasuki kamarnya yang sebelumnya ia tempati bersama Kania. Ia menemukan Della yang baru saja bangun tidur. Melihat Cakra yang masih mengenakan pakaian kerjanya kemarin Della hendak marah karena Cakra yang tak tidur dengannya semalam. Namun raut wajah Cakra yang sepertinya sedang kesal membuat Della mengurungkan niatnya. Ia tak ingin rencananya menikah dengan Cakra gagal karena dirinya yang membuat kesal Cakra.

"Kamu kenapa sih mas, kok kesal begitu?" Ucapnya dengan suara yang lembut. Cakra diam saja tak menjawab pertanyaan Della, malah masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar. Della mendengus kesal dicuekin oleh Cakra namun berusaha menahan diri. Sabar... sabar... demi harta kekayaan istrimu yang akan kurebut, aku bakalan sabar menghadapi kelakuanmu saat ini ucapnya dalam hati. Ia pun menyiapkan pakaian kerja Cakra karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

Setelah selesai mandi dan bersiap berangkat kerja, dengan ragu Della menanyakan perihal pernikahannya. "Besok suruh orangtuamu datang. Besok kita akan menikah. Untuk sementara kita nikah siri dulu, setelah pemindahan aset Kania jatuh ke tanganku, baru kita resmikan pernikahan kita." Mendengar hal itu Della senang bukan main. Meski hanya menikah siri, namun besok ia akan menjadi nyonya Cakra Wibisono. Walaupun Kania masih menjadi istri sah Cakra dalam hukum namun begitu anak ini lahir ia akan segera menyingkirkan Kania secepatnya. Ia juga akan mendesak pemindahan aset agar ia dan anaknya mendapatkan bagian yang besar. Setelah Cakra berangkat, Della buru-buru menelepon ibunya mengabari berita bahagia ini. Ibunya pasti akan senang bukan main begitu mendengar bahwa sebentar lagi anaknya akan jadi orang kaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   EPILOG - KESEMPATAN KEDUA

    Lima tahun telah berlalu sejak Kania mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya.Rumah yang dahulu terasa seperti penjara kini dipenuhi suara tawa.Pagi itu, Kania berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman. Seorang anak perempuan kecil berlari mengejar kupu-kupu dengan rambut yang dikuncir dua. Sesekali terdengar suara tawa Cakra yang berusaha menangkap putri mereka sebelum gadis kecil itu berlari terlalu jauh."Mama! Lihat!"Kania tersenyum."Pelan-pelan, Sayang."Anak itu mengangkat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangannya, lalu tertawa bahagia sebelum kupu-kupu tersebut kembali terbang.Kania memejamkan mata sejenak.Pemandangan sederhana itu seharusnya terasa biasa.Namun bagi Kania, itu adalah keajaiban.Dahulu ia pernah berdiri di tempat yang sama dengan hati yang hancur. Pernah menangis seorang diri karena kehilangan anaknya. Pernah berharap kematian segera datang karena ia tidak lagi sanggup menjalani hidup.Kini semuanya terasa begitu jauh."Nia."Suara Cakra

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   32

    Kebenaran terbesar akhirnya terbuka.Cakra secara tidak sengaja menemukan bukti bahwa ayah Della pernah mencoba mendekati Kania dengan cara yang tidak pantas.Ia langsung menghampiri Kania."Nia."Kania menatapnya."Apa?""Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Kania terdiam."Karena aku tahu Mas tidak akan percaya."Cakra menunduk."Aku akan percaya."Kania tersenyum pahit."Dalam kehidupan yang dulu, aku juga pernah berharap begitu."Cakra mengangkat wajah."Apa?"Kania terdiam.Ia hampir mengatakan semuanya.Tentang kehidupan pertama.Tentang kematiannya.Tentang bagaimana ia kembali.Namun ia belum siap.Cakra hanya bisa melihat air mata Kania."Aku minta maaf."Kania menggeleng."Jangan minta maaf karena sesuatu yang belum kau lakukan."Cakra menatapnya.Kalimat itu membuatnya semakin sadar bahwa Kania menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.Waktu berlalu.Kehamilan Della semakin besar.Akhirnya hari kelahiran tiba.Della melahirkan seorang bayi laki-laki.Cakra datang ke rumah

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   31

    Malam itu Della meminta bicara dengan Cakra. Kania mengetahui percakapan itu akan terjadi. Ia tidak mendengarkan dari balik pintu. Tidak perlu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Della. Beberapa saat kemudian Cakra keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius."Nia."Kania menoleh."Ada apa?""Della bilang sesuatu."Kania diam.Cakra menarik napas."Dia hamil."Kania menatapnya.Dalam kehidupan pertama, kabar itu membuat dunianya runtuh.Sekarang?Kania hanya tersenyum."Selamat."Cakra terdiam."Kau tidak marah?""Kenapa aku harus marah?""Nia...""Kita bisa melakukan pemeriksaan kalau memang diperlukan."Cakra menatapnya."Kau percaya padaku?"Kania tersenyum tipis."Aku percaya kebenaran akan muncul."Kemudian ia pergi.Cakra masih berdiri di tempatnya.Ia tidak mengerti.Dahulu Kania akan menangis.Sekarang perempuan itu justru tenang.Dan untuk pertama kalinya, Cakra merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari sedang menjauh darinya.Kania tidak berniat langsung

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   30

    Gelap.Begitu gelap hingga Kania tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah benar-benar mati.Tubuhnya terasa ringan.Tidak ada rasa sakit.Tidak ada suara mesin rumah sakit.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada suara Cakra.Hanya kesunyian.Kemudian sebuah tangisan bayi terdengar.Tangisan yang begitu kecil.Begitu jauh.Kania berusaha meraihnya."Anakku..."Tangannya bergerak, tetapi tidak menemukan apa pun."Maafkan Mama..."Air mata mengalir dari sudut matanya."Maaf..."Kemudian semuanya berubah menjadi cahaya.Kania tersentak bangun.Napasnya memburu.Ia langsung memegang dadanya.Matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan.Langit-langit putih.Tirai berwarna krem.Tempat tidur besar.Aroma parfum yang sangat ia kenal.Kania terdiam.Ini kamarnya.Kamar yang sudah lama tidak pernah ia lihat.Kania menunduk.Tangannya bergerak menyentuh perut.Datar.Tidak ada luka.Tidak ada darah.Tidak ada rasa sakit.Kania langsung bangkit dari tempat tidur.Ia berjalan menuju cermi

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   29

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Kan."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

  • Perjalanan Waktu Istri Terzalimi   28

    Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Nia."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status