LOGIN“Mama terjadi sesuatu?” tanya Jayden ketika pulang sekolah.Leya mengernyit—ia sibuk memasak ketika Jayden pulang.“Kenapa? apa yang terjadi di sekolah?”Jayden menggeleng. Ia menaruh tasnya di sofa.Lalu mendekati mamanya. Dan memeluk Leya. Bocah itu memeluk mamanya erat.“Ada yang bilang aku anak buangan.” Jayden mendongak. “Kata mereka, aku anak diluar nikah.”Leya langsung berjongkok. “Siapa yang bilang seperti itu?” tanya Leya.“Teman-teman di kelas.” Jayden mengerucutkan bibirnya. “Mereka bilang aku anak yang dibuang Daddy.”Leya mengusap pipi anaknya.Pasti karena berita itu.Berita yang menyebarkan hubungannya dengan Noel.“Kamu memang terlahir saat mama dan Daddy belum menikah. Tapi bukan berarti Daddy membuang kamu. Ada alasan kenapa Daddy tidak pernah bersama kita selama bertahun-tahun.”“Dan akhirnya Daddy datang dan kita bisa bersama lagi.” Leya mengusap puncak kepala anaknya.Leya menghela napas pelan.Menyekolahkan anaknya di sekolah elit bukan untuk melihat anaknya dih
Elise langsung terpuruk dengan ide terburuk sepanjang masa yang pernah diutarakan oleh Daddy-nya.Ia menoleh pada Oliver. Ia menyipitkan mata. “Sebenarnya aku tidak beratan. Aku juga ingin hadiah karena menyelamatkan kak Noel. Tapi bagaimana dengan dia—” menunjuk Oliver yang berada di sampingnya.Oliver berdehem pelan.Pria itu banyak diam. Mungkin berpikir apakah ia mau membantu keadaan genting Skyline?“Aku belum memberitahu ayahmu. Tapi sepertinya dia setuju saja. Kini tinggal dirimu—” Arsen menatap Oliver.“Kalau kamu keberatan dengan ide itu. kamu bisa menolak. Kami tidak akan memaksa kamu kalau kamu memang tidak menyukai berdekatan dengan Elise—”“Dad!” Elise menyipitkan mata. Menyela ucapan ayahnya.Noel tertawa—kakak jahanam yang menertawakan adiknya.“Bukan seperti itu.” Oliver meringis canggung.Ia melirik Elise sebentar sebelum mengangguk setuju.Sepertinya terpaksa.“Tidak usah kalau kau tidak mau,” balas Elise menggeleng.Oliver mengernyit tidak yakin.“Kalau begitu Dad a
Elise pernah memiliki prasangka buruk pada ayahnya dan kakaknya.Kecuali sat ini.Tiba-tiba saja menjemputnya untuk makan siang.Juga, setiap kali ia menatap kakaknya. Kenapa kakaknya mendadak gugup. Seperti seorang tersangka yang berhadapan dengan polisi.“Kenapa?” tanya Noel. “Cepat makan.” Memberikan makanan yang lebih banyak di piring adiknya.Elise menggeleng pelan.Oliver mengambil tisu—diusapkan di tangan Elise.“Akh!” Elise menarik tangannya.Bukan karena sakit. Tapi ia terkejut—ia hampir melupakan kalau Oliver bersamanya.“Sakit?” tanya Arsen.“Kau kesakitan?” tanya Noel.Elise itu seperti princess di keluarga Jarvis. Sakit sedikit saja akan mengeluh.Kalau tidak ya, terus menangis dan memekakkan telinga orang sekitarnya.“Tidak.” Elise menoleh—ia nyengir pelan. “Aku hanya terkejut.”Noel menggeleng pelan.Elise menatap Oliver sebentar. “Terima kasih.”Oliver mengangguk pelan.“Kalian—” Arsen mengangkat pisaunya. Menggunakan pisau steak itu untuk menunjuk Elise dan Oliver yan
Seumur hidup.Kejadian ini menjadi kejadian yang paling memalukan.Dua pria yang seperti bodyguard itu menjemputnya di kantor.Kakak laki-lakinya dan ayahnya menjemputnya!Di saat jam kerja. Tidak tanggung-tanggung.Bukan hanya menjemputnya di lobi. Tapi juga sampai ruang kerjanya.Elise memejamkan mata—menarik lengan kakak dan ayahnya paksa.Menyeretnya keluar dari ruangannya.“Kenapa? Dad hanya ingin melihat kamu bekerja!” Arsen marah-marah diseret anak perempuannya.“Aku juga! Aku hanya ingin melihatmu bekerja saja! Aku hanya ingin memastikan kau bekerja dengan benar!”“Tidak ada!” Elise menggeleng. “Kalian berdua membuatku malu!” menghentakkan kakinya ke bawah dengan kesal.“Pergi dari sini.”“Kau sungguh tega!” Noel menggeleng. “DAddymu—” menunjuk ayah mereka. “Daddy kita yang sibuk ini meluangkan waktu hanya untuk menjemputmu makan siang.”Elise mengerucutkan bibirnya. “Diam kau!” menunjuk kakaknya.“Aku—” Noel menunjuk dirinya tidak percaya.“Skandalmu menyebar di seluruh neger
“Dad sudah bilang apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan dengan rapi. Jangan sampai mempengaruhi perusahaan.” Arsen berkacak pinggang.Menatap putranya yang menunduk di hadapannya.Jarang-jarang melihat Noel yang sombong ini sampai menunduk padanya.“Maaf.” Noel mengangkat kepalanya. “Dad tenang saja. Aku akan menyelesaikan semuanya.”“Bagaimana menantu Dad?” tanya Arsen.“Leya baik, mungkin. Dia tidak pergi bekerja. Dia di rumah.”Arsen mengangguk. “Jaga istrimu!” menunjuk Noel.Noel mengangguk. Memberikan jempolnya.“Hari ini pria itu dibebaskan. Dia membuat pernyataan yang semakin menyudutkanmu.” Arsen bersindekap.“Dia bilang dia hanya ingin menemui Leya. Tapi kau marah-marah dan langsung menghajarnya. Mengenai barang terlarang yang dia bawa, seharusnya polisi bisa memenjarakannya.”“Tapi dia dibebaskan karena katanya dijebak.” Arsen mengusap rambutnya. “Semua yang terjadi tidak masuk akal.”“Aku yakin ada seseorang dibalik semua ini. seseorang yang ingin aku hancur—Skyline hanc
“Aduh basah semua!” Noel mengusap pelan rambut istrinya yang basah.Leya tersenyum. “Bagaimana dengan kantor?” tanyanya.“Baik-baik saja.” Noel mengecup punggung tangan Leya sebentar sebelum menyalakan mesin mobil.Menatap lurus dan mengendarai mobilnya dengan tenang.Hujan yang begitu deras membuatnya semakin hati-hati.“Sepertinya aku tidak bisa masuk ke kantor.” Leya meremas tangannya sendiri. Mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak sanggup menghadapi orang-orang.”Terdiam.Noel sepertinya fokus sekali menyetir.“Kamu kecewa?” tanya Leya.Noel mengambil satu tangan Leya. “Tidak. Kita bicarakan nanti di rumah.”Leya menunduk—membawa tangan Noel ke pipinya.Hari yang berat untuk mereka berdua.“Apa yang kamu bicarakan dengan Elio?” tanya Noel. “Jangan bilang dia ingin merebut kamu dariku karena masalah ini?”Leya tertawa.“Kamu lucu sekali.”Noel tersenyum—akhirnya bisa melihat Leya tertawa.“Lalu?”“Dia memberitahuku kalau apapun yang terjadi kamu pasti melindungiku. Masalah ini bukan te







