MasukLeya langsung berlari ke rumah sakit.Ia berlarian memasuki ruang rumah sakit. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah ruangan VVIP.Melihat putranya yang duduk. Lalu suaminya yang berbaring dengan lengan yang terluka juga.“Astaga…” yang pertama ia peluk adalah Jayden.Noel mengerucutkan bibirnya ia berdiri—lalu memeluk Leya dan memeluk Jayden bersamaan.“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Leya.“Jayden baik-baik saja, tapi dia terkejut dan pingsan.. Lalu aku—”Noel memperlihatkan lengannya yang dibungkus dengan perban. “Aku terjatuh saat melindungi Jayden. Tangannya terbentur dengan aspal.”“Saat kami baru saja selesai membeli kopi. Ada sebuah sepeda listrik yang berjalan sangat kencang. Hampir menabrak Jayden—jadi aku langsung berlari memeluk Jayden. Kita terjatuh bersama.”Leya menghela napas lega. “Sekarang bagaimana orang yang hampir menabrak kalian?”“Polisi masih mencarinya.” Noel mengedikkan bahu.“Aku sangat khawatir terjadi sesuatu pada kalian.” Leya tidak berbohong. Saat dikaba
“Hai!” Ira dengan semangat menyapa Leya.“Kalian?” menatap tiga orang yang berada di hadapannya. “Kenapa—” ia mengernyit. “Kalian di suruh Noel ke sini?”“Iya.” Sarah mengangguk. “Pak Lucian yang menyuruh kami ke sini untuk mengunjungimu.”“Silahkan masuk.” Leya mempersilahkan mereka masuk.Mereka bertiga melongo melihat betapa luasnya Mansion Leya dan Noel.Faza mengusap pinggang Ira dari samping. “Mau rumah seperti ini?”Ira mengangguk. “Setengah dari ini saja tidak masalah.”“Kalau begitu kita bangun di game.”Plak!Ira menampar tangan Faza yang merangkul pinggangnya.“Aku baru membuat kue. Kalian ikut denganku!”Semakin mereka masuk, semakin pula mereka berdecak kagum. Bag mereka seperti istana.Istana yang tidak sembarang orang bisa masuk.Sangat luas—dengan penataan gaya modern.Sarah menatap foto keluarga Leya. “Jayden sangat tampan…” lirihnya.“Kulitnya semakin gelap karena dia suka sekali olahraga.” Leya membawa kue buatannya ke atas meja makan.Ira mengusap meja makan yang t
Berita yang lagi-lagi menggemparkan dunia sosial.Dua anak konglomerat yang menjalin hubungan spesial.Siapa yang tidak mengenal Seraphina Elise Jarvis. Cantik dan memiliki pengikut di media sosial sampai 300 ribu.Lalu tiba-tiba memosting sebuah foto dirinya berciuman bersama seorang pria.Pria yang akhirnya diketahui adalah Henry Oliver Fairmont. Pewaris Fairmont Group.Di sebuah taman—mereka saling berhadapan dengan tatapan mesra.Elise berjinjit—mencium bibir Oliver.Jepretan kamera itu diposting di media sosial Elise dan membuat semua perhatian tertuju pada mereka.“Dia bukan lagi menjiwai. Tapi memang jiwanya,” ucap Leya tersenyum menatap foto mesra Elise bersama Oliver.Noel sendiri tidak berhenti menggerutu. “Katanya aku bisa menjaga diri. Aku tidak akan terbuju rayuan pria—”“Padahal dia sendiri yang menggoda pria. Lihat dia, dia mencium si Oliver itu lebih dulu!”Leya tertawa. “Meski kalian sering bertengkar. Tapi kamu sangat perhatian pada Elise.”Noel berdehem pelan. “Buka
“Mama terjadi sesuatu?” tanya Jayden ketika pulang sekolah.Leya mengernyit—ia sibuk memasak ketika Jayden pulang.“Kenapa? apa yang terjadi di sekolah?”Jayden menggeleng. Ia menaruh tasnya di sofa.Lalu mendekati mamanya. Dan memeluk Leya. Bocah itu memeluk mamanya erat.“Ada yang bilang aku anak buangan.” Jayden mendongak. “Kata mereka, aku anak diluar nikah.”Leya langsung berjongkok. “Siapa yang bilang seperti itu?” tanya Leya.“Teman-teman di kelas.” Jayden mengerucutkan bibirnya. “Mereka bilang aku anak yang dibuang Daddy.”Leya mengusap pipi anaknya.Pasti karena berita itu.Berita yang menyebarkan hubungannya dengan Noel.“Kamu memang terlahir saat mama dan Daddy belum menikah. Tapi bukan berarti Daddy membuang kamu. Ada alasan kenapa Daddy tidak pernah bersama kita selama bertahun-tahun.”“Dan akhirnya Daddy datang dan kita bisa bersama lagi.” Leya mengusap puncak kepala anaknya.Leya menghela napas pelan.Menyekolahkan anaknya di sekolah elit bukan untuk melihat anaknya dih
Elise langsung terpuruk dengan ide terburuk sepanjang masa yang pernah diutarakan oleh Daddy-nya.Ia menoleh pada Oliver. Ia menyipitkan mata. “Sebenarnya aku tidak beratan. Aku juga ingin hadiah karena menyelamatkan kak Noel. Tapi bagaimana dengan dia—” menunjuk Oliver yang berada di sampingnya.Oliver berdehem pelan.Pria itu banyak diam. Mungkin berpikir apakah ia mau membantu keadaan genting Skyline?“Aku belum memberitahu ayahmu. Tapi sepertinya dia setuju saja. Kini tinggal dirimu—” Arsen menatap Oliver.“Kalau kamu keberatan dengan ide itu. kamu bisa menolak. Kami tidak akan memaksa kamu kalau kamu memang tidak menyukai berdekatan dengan Elise—”“Dad!” Elise menyipitkan mata. Menyela ucapan ayahnya.Noel tertawa—kakak jahanam yang menertawakan adiknya.“Bukan seperti itu.” Oliver meringis canggung.Ia melirik Elise sebentar sebelum mengangguk setuju.Sepertinya terpaksa.“Tidak usah kalau kau tidak mau,” balas Elise menggeleng.Oliver mengernyit tidak yakin.“Kalau begitu Dad a
Elise pernah memiliki prasangka buruk pada ayahnya dan kakaknya.Kecuali sat ini.Tiba-tiba saja menjemputnya untuk makan siang.Juga, setiap kali ia menatap kakaknya. Kenapa kakaknya mendadak gugup. Seperti seorang tersangka yang berhadapan dengan polisi.“Kenapa?” tanya Noel. “Cepat makan.” Memberikan makanan yang lebih banyak di piring adiknya.Elise menggeleng pelan.Oliver mengambil tisu—diusapkan di tangan Elise.“Akh!” Elise menarik tangannya.Bukan karena sakit. Tapi ia terkejut—ia hampir melupakan kalau Oliver bersamanya.“Sakit?” tanya Arsen.“Kau kesakitan?” tanya Noel.Elise itu seperti princess di keluarga Jarvis. Sakit sedikit saja akan mengeluh.Kalau tidak ya, terus menangis dan memekakkan telinga orang sekitarnya.“Tidak.” Elise menoleh—ia nyengir pelan. “Aku hanya terkejut.”Noel menggeleng pelan.Elise menatap Oliver sebentar. “Terima kasih.”Oliver mengangguk pelan.“Kalian—” Arsen mengangkat pisaunya. Menggunakan pisau steak itu untuk menunjuk Elise dan Oliver yan







