LOGIN“Kau sudah menunggunya sejak tadi. Ini punyamu, Gadis Manis.”
Kerlingan Roger setidaknya membuat Moreau tidak dapat menahan diri dari ledakan tawa. Pria tersebut sejak tadi sibuk di hadapan alat pemanggang, berbau asap, menemani Abihirt yang tidak banyak bicara, tetapi itulah cara mereka berbaur; supaya tidak meninggalkan kesan mencurigakan, maka Barbara bisa dengan santai melakukan percakapan bersama Gloriya di teras rumah. Para wanita menyiapkan bumbu—sekarang waktu beristirahat.“Kau sangat sibuk hari ini, Mommy.”Suara serak dan dalam Abihirt benar – benar terlalu mengejutkan. Moreau tidak memiliki persiapan untuk menyambut keberadaan pria itu di dapur. Setelah sarapan bersama. Lore dan Arias menarik ayah mereka pergi; satu prospek tak terduga di mana, Moreau yakin ... Abihirt jelas—seharusnya telah menyimpan kejutan untuk mereka.Dia tidak berusaha memikirkan semua itu. Sengaja mengambil kesempatan dari kebebasan singkat sekadar menghindari Abihirt; dengan sengaja—masih melakukan apa saja di dapur; membuat bolu kesukaan anak – anak misalnya. Sudah separuh kegiatan. Moreau hanya perlu menunggu kapan adonan yang dikocok dengan alat di tangan menjadi kental berjejak. Ketika tiba – tiba ... dia harus menahan napas merasakan keberadaan Abihirt yang begitu dekat. Pria itu persis menjulang tinggi di belakang tubuhnya. Tidak tahu apa yang bisa Moreau katakan. Berpikir bahwa seharusnya Abihirt masih bersama Lore dan Arias. Sekarang di mana si kembar? Suara mereka
“Aku tidak ingin kau minum – minum seperti semalam,” Moreau menambahkan. Berharap Abihirt akan mengerti. Sudah terlalu sering memberi tahu untuk tetap menjaga kesehatannya sendiri dan hal tersebut benar – benar menjadi sesuatu yang melelahkan ketika pria tersebut sama sekali tidak berusaha memikirkan bagaimana cara agar tidak berada dalam bahaya.“Kau mendengarku bicara, Abi?”Tidak ada respons dari pembicaraan mereka di awal; mendesak sesuatu dalam diri Moreau untuk menuntut pria di hadapannya bicara. Dia tidak mengerti apa yang sedang Abihirt pikirkan, tetapi sorot kelabu itu benar – benar seperti terpaku atau barangkali ada hal serius yang perlu dipikirkan.“Abi ....”Moreau secara tentatif memberi sapuan ringan di rahang kasar itu. Ingin Abihirt secepatnya sadar dan benar ... pria tersebut sempat mengerjap. Kemudian meraih tangannya sekadar diremas singkat.“Ya, Mommy. Aku mengerti.” Sedikit senyum tipis tidak mengakhiri semuanya. Moreau mengambil kesemp
Wajah itu perlahan bergerak. Sebuah pemandangan yang sudah Moreau nantikan sejak terbangun dan masih di sini; mengamati saat Abihirt tampak mengernyit dan perlahan jemari pria itu menyentuh batang hidung sendiri. Perlu sedikit menunggu lebih sabar sampai Abihirt memperhatikan situasi di sekitar, yang membuat kernyitan di kening itu terlihat mencolok, terutama ketika menyadari keberadaannya.“Di mana aku?”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar parau. Ntah bagaimana Moreau harus mengatakannya, tetapi dia memberikan senyum. Merasa yakin bahwa segala sesuatu di antara mereka akan berakhir dengan gamblang.“Di kamarmu,” ucapnya, hingga keterkejutan Abihirt tidak terkendali. Pria itu hampir terlonjak bangun, lalu kembali menyadari sesuatu terasa berat di sana.Dugaannya benar, mungkin. Moreau sengaja mendengkus. Tidak berusaha menunjukkan perhatian khusus kepada seseorang yang sudah dia targetkan untuk menghadapi beberapa pembicaraan.“Kau pergi ke mana setelah
Lembur ....Pria itu mengatakannya dengan cepat dan paling tidak ... membuat Moreau masih bersedia menunggu lebih lama. Dia mungkin tidak melakukan sesuatu secara signifikan. Hanya menemukan beberapa bacaan buku Abihirt dan akhirnya tenggelam terlalu lama di sini. Di atas kasur empuk sambil menyandarkan punggung di kepala ranjang. Karena sebenarnya Moreau yakin bahwa membaca bisa membuat waktu menjadi tak terasa. Bukan buku penggemar. Bukan sekadar fiksi biasa. Abihirt jelas tidak akan memiliki semua itu. Bisnis. Ya. Buku bisnis. Moreau tidak tahu mengapa tetap mempertahankan keinginan membaca saat dia merasa ini cukup membosankan. Barangkali, meyakini bahwa suatu hari dia akan berada di posisi yang sama seperti ini. Melanjutkan pendidikan saja tidak cukup. Sedikit membayangkan bagaimana mental memimpin Abihirt ada dalam dirinya. Salahkah jika berpikir pria itu bersedia memberikan tips?Pintu kamar tiba – tiba dibuka paksa. Panjang umur. Moreau tersentak mendapati Abihirt sudah menj
[Kau tidak menganggap ancamanku dengan serius, bukan begitu?]Kening Moreau berkerut dalam membaca pesan yang mengambang di ponsel Abihirt, ketika pemiliknya sedang berada di kamar mandi. Dia bertanya – tanya ancaman seperti apa dan tidak dianggap serius? Apa yang sebenarnya sedang Abihirt hadapi? Mengapa pria itu sama sekali tidak tidak bercerita?Satu pertanyaan lain muncul. Siapa di balik pengirim pesan dengan nomor pribadi? Moreau tidak akan memiliki akses untuk mencari tahu langsung. Tidak ada petunjuk apa pun di sini. Mungkin ... jika dia bersedia mengambil keputusan penuh tekad; mengulik jawaban langsung dari Abihirt adalah pilihan paling tepat. Masih menatap ponsel itu lamat. Perhatian Moreau segera teralihkan ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Abihirt muncul dengan pemandangan yang selalu sanggup membuatnya terdiam beberapa saat. Sedikit butuh usaha keras sekadar mengerjap. Moreau mendadak gugup karena sorot kelabu Abihirt menatapnya seolah dia baru saja melakuk
“Aku dan Mommy pernah ke rumah sakit. Di salah satu gedung di rumah sakit itu pernah terjadi kebakaran. Ada begitu banyak mobil pemadam. Aku melihat para pemadam kebakaran itu bekerja dengan sigap. Mereka hebat, Daddy. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin membantu banyak orang yang berada dalam musibah.”Ketika Abihirt memberi respons dengan baik; mendukung apa pun keinginan bocah kecil mereka. Moreau diam – diam tersenyum. Tidak pernah menyangka bahwa sikap takjub Arias terhadap peristiwa yang baru saja diceritakan itu, ternyata memiliki dampak besar. Memang sempat terjadi kebakaran di rumah sakit; kejadian yang sudah cukup lama, dan hal tersebut menjadi alasan mengapa Moreau seolah dikejutkan oleh ingatan Arias yang begitu tajam.“Sekarang bagaimana denganmu, Princess. Apa cita-citamu?”Lore mungkin termenung mengamati percakapan antara saudara kembar dan ayahnya.Moreau tidak bisa menahan reaksi yang segera muncul ke permukaan setelah gadis kecil itu mengerjap. Dia
“Kau tidak perlu repot – repot. Aku bisa pakai sendiri. Berikan saja anting itu padaku,” ucap Moreau sembari mengulurkan lengan. Abihirt hanya perlu meletakkan bendaa tersebut di telapak tangannya, itu tidak sulit dan maka situasi di sekitar tidak akan meninggalkan prospek ganjil.Namun, semu
Itu terlalu jauh untuk dipikirkan. Moreau menggeleng singkat, berharap bisa tetap serius, tetapi apa yang perlu dia lakukan? Semua sudah selesai. Hanya perlu memanggil anak – anak untuk memulai sarapan bersama. “Lore, Arias, kemarilah, Sayang,” panggil Moreau, tanpa berusaha menanggapi pern
“Itu anak gadismu? Damn. Dia akan menjadi primadona di sekolah setelah besar nanti.” Perhatian Roki tak pernah luput dari tiga bocah yang sedang bermain di halaman belakang rumahnya. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan mendapati Abihirt membawa anak kembar dan bagaimana akhirny
“Kau tidak akan bisa melakukan apa pun untuk melawan Robby dan ayahnya. Kita semua tahu kau bahkan tidak pernah berhasil menerobos keamanan yang mereka buat,” ucap Moreau mengingat bahwa itulah yang sebenarnya terjadi. “Aku bisa lakukan semua yang kau katakan. Itu mudah bagiku.” Kali







