LOGINAbihirt mengacak – acak rambut kasar. Sial, kehamilan Barbara membuat semua menjadi kacau. Tidak ada unsur kesengajaan terhadap desakan memberi Moreau rasa sakit. Dia hanya ... lepas kendali dan tidak bisa berpikir lebih jernih mengenai apa yang mungkin akan terjadi.
Gadis itu segera mendapat penanganan serius, sementara tuntutan dalam dirinya tidak bisa menyangkal bahwa air mata Moreau, erangan kesakitan yang berusaha ditahan – tahan dan hampir seluruh bagian dari mereka, telah membuatSerangan demi serangan dari mulut Abihirt benar – benar membuat Moreau nyaris kewalahan. Jika dia tahu maksud pria itu menitipkan anak – anak kepada Emma kali ketika sampai di rumah akan berakhir seperti ini ... Moreau mungkin tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.Sekarang, dia masih tidak tahu bagaimana akan menghentikan makhluk kelaparan ini. Dress merah cukup seksi—masih membalut di tubuhnya, setidaknya turut menjadi masalah besar.Moreau bisa mendeteksi saat – saat Abihirt memiliki kebebasan menyentuh beberapa bagian tubuhnya dan dengan cepat menyalurkan hasrat untuk sama – sama terbakar.“Kau ingat apa yang dokter katakan, Abi?” dia mengajukan pertanyaan. Ntahlah, agak sulit memastikan bahwa sesuatu dalam dirinya sangat menginginkan pria seksi ini, tetapi juga begitu ragu karena kondisi tertentu.Abihirt tiba – tiba berhenti, juga sedikit menggeram saat meletakkan wajah di ceruk lehernya.Moreau sendiri tidak ingat kapan mereka sudah berada di atas ran
Tidak tahu alasan seperti apa yang dapat Abihirt gunakan ketika pria itu memutuskan gaun merah untuk melengkapi acara makan malam mereka. Moreau selalu ingin bertanya langsung, meski sering kali menahan diri dari hasrat tersebut.Bagaimanapun, dia juah lebih mengagumi selera Abihirt dan betapa telitinya pria itu mengenai ukuran yang tepat. Dress merah ini ... membuat Moreau merasa sangat sempurna dalam balutan begitu pas. Perutnya memang masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Mungkin beberapa minggu ke depan. Dia tak bisa membayangkan akan sebesar apa nanti. Mengandung dua bayi sudah cukup kewalahan, apalagi kembar tiga.Moreau menelan ludah kasar sambil berusaha menyingkirkan pelbagai perasaan tak terduga yang menyeretnya sampai ke dasar jurang. Anak – anak sedang makan dengan lahap. Sebuah restoran di mana mereka hanya berempat; memungkinkan Moreau mengingat bahwa Abihirt menyewa seisi gedung.Privasi.Ya, mereka menghargai privasi. Meski bukan saat – s
“Aku bisa jalan sendiri, Abi.”Perubahan Abihirt nyaris tidak bisa dimengerti, tetapi Moreau tak berdaya sekadar menolak setiap detil tindakan yang pria itu lakukan. Tiba – tiba mengangkat tubuhnya setelah mereka sampai di halaman depan rumah, sementara anak – anak dititipkan kepada Emma.“Kau dengar aku bicara atau tidak, Abi?” tanya Moreau sedikit tidak sabar. Dia memang lelah. Namun, di balik semua itu ... merasa baik – baik saja. Tidak perlu menganggap kehamilan ini akan bermasalah dan tak harus menanggapi suasana di antara mereka secara berlebihan.“Aku mendengarmu, Mommy. Kau sangat cerewet saat sedang hamil.”Moreau memutar mata malas. Itu jelas tidak benar. Dia tidak cerewet. Hanya merasa tak nyaman karena sikap Abihirt yang cenderung membuat kebebasan terasa seperti ruang kecil yang makin menyempit. Kendati, dia masih belum memiliki kesempatan untuk sekadar melakukan perlawanan lebih besar.Mereka sedang dalam perjalanan melewati undakan tangga. Akan men
Mereka sudah berada di mobil setelah pembicaraan serius bersama dokter kandungan. Ntahlah, Moreau nyaris tak bisa menafsirkan mana berita bagus dan tidak saat ini. Semua masih begitu mengejutkan. Dia tahu bagaimana rasanya mengandung anak kembar, tetapi seakan yakin bahwa tubuhnya mungkin tak sanggup membawa tiga bayi sekaligus. Siapa yang perlu disalahkan terhadap situasi seperti ini? Sungguh, Moreau masih begitu buntu sekadar mencari jawaban. Mungkin butuh waktu lebih panjang untuk merenungi hasil akhir; bagaimana jika ternyata kehamilan ini bukan apa – apa? Situasi di antara mereka akan baik – baik saja? Dan dia bisa menjadi kuat terhadap apa pun? Moreau sempat tersentak merasakan seseorang menyentuh punggung tangannya. Dia menunduk; menemukan siapa pelaku terduga, lalu dengan cepat menepis lengan Abihirt. Napas pria itu terdengar berembus kasar. “Dokter bilang suasana hati ibu hamil memang akan berubah – ubah. Tapi kau tak menyalahkanku karena membuatmu ham
Pemandangan di depan sana ... seharusnya bukan kejutan besar. Moreau tidak tahu. Hanya terpaku, seolah butuh waktu lebih lama untuk mencerna situasi mendadak yang harus ditangani tanpa berusaha meledakkannya secara berlebihan. Dia hamil. Lagi. Kali ini dengan suasana berbeda. Si kembar meminta adik. Abihirt juga menginginkan bayi. Namun, terhadap hubungan rumit mereka ... apa yang bisa Moreau katakan?Semua seperti tiga dimensi yang begitu kabur. Dia berusaha tetap tenang dan akhirnya mengatur napas supaya tidak berdebar secara berlebihan.Kesalahan di masa lalu adalah menyembunyikan kehamilannya dari Abihirt. Moreau rasa, dia tidak punya hak untuk melakukan hal yang sama.Mereka perlu berbagi supaya Abihirt bisa lebih terbuka. Ingin pria itu tahu bahwa dia masih berusaha menaruh kepercayaan, meski sangat dibutuhkan pondasi yang kokoh mengenai prospek tersebut.Tidak terlalu buruk saat sudah mencobanya. Moreau tersenyum sambil memegang alat test pack sebagai tuj
Percikan air menjadi sumber suara paling keras di pagi hari. Moreau tidak tahu mengapa dia terbangun dan merasakan efek tidak nyaman di perutnya. Semua masih baik – baik saja semalam. Bukan seperti sekarang ini. Sensasi membakar yang juga sampai di ujung tenggorokan. Berulang kali Moreau membungkuk di depan wastafel. Berharap bisa memuntahkan sesuatu, meski itu nyaris terdengar percuma. “Ada apa denganmu?” Sebaliknya, suara serak dan dalam Abihirt meninggalkan sensasi mengejutkan. Moreau tidak akan mengatakan apa – apa, jika pria itu akhirnya menyadari sesuatu yang tidak biasa di antara mereka. Dia segera membasuh wajah dengan cepat, sambil memperhitungkan saat – saat ketika langkah Abihirt dibawa lebih dekat. Dari pantulan cermin, posisi mereka terlihat hampir tidak berjarak. Tidak ada penyangkalan. Lagi pula, Moreau kembali merasakan sesuatu yang membara panas di tubuhnya. Dia lagi – lagi membungkuk. Walau masih diliputi hasil yang sama. “Kau sakit, Moreau?” Kali ini sua
Bibir mereka masih bertemu. Melampiaskan hasrat yang pernah tertunda. Moreau tak menyangka dia akan menunjukkan keinginan sebesar ini. Mendambakan Abihirt, tetapi ada tuntutan besar—terus mengingatkan batas toleransi terhadap hubungan yang begitu runyam.Mereka akan melampaui batas jik
“Kau menangis setelah kami meninggalkan-mu sendiri.”Baiklah, Moreau tertangkap basah. Suara serak dan dalam Abihirt terdengar cenderung bergumam. Mungkin tak ingin anak – anak menanggapi, tetapi pria itu telah memastikan bahwa dia masih bisa menangkap setiap detil kata yan
“Kau dari mana saja!”Moreau sudah sekhawatir ini; menunggu tanpa jawaban; melihat sendiri bagaimana ponselnya tidak mendapat balasan. Memang, mereka sudah saling menukar nomor telepon, tetapi semua percuma ... karena Abihirt bahkan sedari awal seperti sengaja menggantungkannya.
Kamar utama sudah begitu temaram ketika Moreau melangkahkan kaki masuk. Bagaimanapun, dia memang memutuskan untuk tidur di sini; menemani Abihirt jika sewaktu – waktu pria itu mengalami masalah tidur. Sedikit tidak dimungkiri bahwa sesuatu dalam dirinya begitu takut—andai saja, Abihirt akan melangk







