LOGIN“Jangan lupa menghubungiku kalau kau sudah sampai,” ucap Moreau setengah berteriak. Mobil Abihirt sudah melesat di kejauhan. Tidak ada lagi hal yang perlu dia lakukan di sini. Melanjutkan pekerjaan tertunda merupakan gagasan terbaik. Dia perlu memindahkan beberapa bahan makanan mentah ke lemari pendingin.
Kali pertama menginjakkan kaki ke dapur, perhatian Moreau terpaku pada kertas belanjaan yang tersusun rapi. Tampaknya Abihirt cukup peduli untuk tidak meninggalkan kekacauan di sini. <Abihirt masih menunggu. Betapa tidak sabar pria itu, yang langsung menyusupkan jari – jari tangan sekadar menjambak rambutnya, tetapi cukup pelan; memberi Moreau petunjuk supaya melakukan sesuatu—secara tidak langsung telah mereka sepakati.Kenyataan bahwa dia pelan – pelan menyingkirkan jarak antara bibir dan permukaan perut Abihirt, membuat pria itu menggeram singkat, yang tertahan di udara ketika Moreau menjulurkan lidah sekadar menjilat tubuh seksi di hadapannya, meski tindakan yang dia lakukan menjadi kecupan – kecupan ringan.Sesekali Moreau akan menengadah hanya untuk mendapati bagaimana Abihirt menikmati setiap tindakan yang dia lakukan. Tangannya tak diam. Mulai membuka resleting celana kain di sana. Abihirt mungkin sedikit terkejut, tetapi pria itu mengerti sisanya. Prospek yang membuat Moreau sedikit ragu, meski dia benar – benar mengambil keputusan penuh tekad sekadar menggenggam bagian dari tubuh Abihirt; mengurut pria itu, sampai kejantanan di sana membengkak mantap.Ab
Hari pertama bekerja setelah menghilang selama beberapa waktu benar – benar terasa berat. Moreau baru saja menginjakkan kaki di kamarnya; merasa sangat tak ingin melakukan apa pun selain tidur. Ingatan tentang bagaimana sang manajer klub memberi peringatan masih terus bercabang di benaknya.Moreau yakin akan sulit andai dia ingin meminta izin untuk hal – hal penting tertentu. Mungkin dia perlu berusaha selama satu bulan penuh sekadar meyakinkan pria cerewet yang hanya bisa berkata pedas di balik meja kerja.Sekarang saatnya memejam. Dia sudah merasa akan segera terlelap ketika sayup – sayup ... suara dari arah jendela kamar kembali menarik apa pun tentang rasa lelah di sini, untuk mencuak ke permukaan.Kelopak mata Moreau segera terbuka. Siapa yang terduga diam – diam berusaha menyelinap? Tingkat waspada segera membentuk gumpalan tebal. Dia tak bisa terpaku lebih lama. Langsung menapakkan kaki di atas lantai, kemudian berjalan tentatif.Hal pertama yang dilakukan ada
“Tidak apa – apa, Amiga. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Kau butuh waktu. Aku yakin Mr. Lincoln akan mengerti. Dia mungkin sibuk. Mengapa tidak kau saja yang menanyakan kabarnya lebih dulu?”Itu sama sekali tidak pernah Moreau bayangkan. Dia bereaksi dengan cepat. Antara bingung atau merasa konyol. Hanya sesaat kekehan ringan Juan dan respons meringis miliknya yang mengambil tempat.“Aku gengsi. Bagaimana kalau dia tidak mau membalas pesanku?” dia akhirnya bicara, bertanya – tanya mungkinkah sebaiknya mengalah?“Gengsi ... astaga. Bagaimana hubungan kalian bisa membaik dengan cepat, kalau kau saja masih mementingkan ego-mu. Kurasa, semua wanita memang seperti ini. Mengedepankan gengsi lebih dulu, daripada mencoba sesuatu yang lebih baik.”Moreau tidak pernah ingat akan ada sekecil hal tentang Juan yang memperhatikan lawan jenis. Dia jelas merasa ini sesuatu yang ganjil; segera menatap pria itu dengan tatapan menyelidik. Ekspresi teman baiknya memberi petunjuk singkat d
‘Sudah beberapa hari kau absen kerja. Regina juga menghilang tanpa kabar. Manager klub terus bertanya kepadaku apakah kalian masih ingin bekerja di sini atau tidak?’Moreau tanpa sadar menggigit bibir bawah setelah membaca pesan dari salah satu rekan kerja di klub; dia benar – benar melupakan beberapa hal. Sedikit sulit menjelaskan bahwa masih ada begitu besar keinginan untuk tetap melakukan kegiatan seperti dulu—sebelum Abihirt datang dan mengubah beberapa situasi di kehidupannya.Ini mungkin menjadi peringatan terakhir. Yang membuat dia ... akhirnya dengan cepat membalas pesan tersebut. Kebetulan Abihirt tidak di sini. Moreau tidak akan mendengar pelbagai larangan dari pria itu agar dia tetap di rumah.“Itu Mr. Lincoln?” Suara Juan nyaris tanpa peringatan menyelinap, membuat keterkejutan di benak Moreau terasa seperti sengatan listrik. Dia langsung menoleh dan mendapati bagaimana pria itu dengan wajah melongok, berusaha ingin tahu.Moreau segera meletakkan ponselnya, kemudian berka
“Daddy, lihat ... kami dapat hadiah lagi.”Sikap anak – anak tidak pernah berubah. Mereka segera berlarian setelah mendapati kemunculan Abihirt, yang menyusul tepat setelah Mansilo Hubber berpamitan pulang. Pria itu tersenyum tipis saat menyambut keberadaan Lore dan Arias, lalu membawa mereka duduk di lantai.Tidak banyak pembicaraan di sana. Yang Moreau tahu, dia hanya mendapati Abihirt mengamati kesibukan si kembar dengan cara berbeda. Pria itu tampak masih begitu memikirkan pelbagai hal. Memang terlihat tidak biasa; tidak seperti ... saat di mana; kadang – kadang, Abihirt akan memberikan beberapa tawaran kepada anak – anak atau sekadar bertanya bagaimana perasaan mereka.Pria itu masih begitu bisu. Sangat jelas mengatur suasana hati Moreau menjadi tidak nyaman. Abihirt sudah memintanya untuk melupakan peristiwa semalam, tetapi prospek tersebut malah lebih sering membuat kejadian yang tak diinginkan sebagai hidangan utama.“Jangan lupa. Paman Juan juga akan datang. Dia sudah menyiap
Selalu banyak ketakutan, meski pada akhirnya Moreau harus mengakui kalau ... dia justru tidak mendapati apa pun di sini. Abihirt tidak terlihat di mana pun seperti yang diharapkan. Namun, terdapat satu hal yang tak dapat diabaikan lebih lama. Sebelah alis Moreau terangkat tinggi melihat setangkai bunga—tadi di dalam genggaman pria itu, sekarang sudah tergeletak sendiri di atas ranjang. Seolah Abihirt meluapkan kekesalan dengan melempar benda tersebut secara asal, lalu meninggalkannya begitu saja; diliputi petunjuk bahwa suara – suara dari kamar mandi adalah bukti saat ini pria itu sedang membersihkan diri di dalam.Secara tentatif ujung jemari Moreau terulur. Menyentuh tangkai bunga yang sedikit terlihat tidak baik – baik saja. Ingatan bagaimana cengkeraman Abihirt saat kembali bertemu Mansilo Hubber tidak dapat disingkirkan. Kekhawatiran menyergap, tetapi perlu menunggu pria itu selesai supaya mereka bisa bicara serius.Moreau akan menunggu. Ujung telunjuk dan ibu jari
“Mengejutkan sekali kau masih mengingat kapan aku berulang tahun. Kupikir kau tidak pernah peduli terhadap apa pun lagi, selain berkencan dengan putriku.” Itu yang Barbara katakan. Betapa dengan sengaja menyindir. Dapat dipastikan wanita tersebut tidak akan berhenti sampai mereka mengakui s
“Kau terlihat seperti villain, kau tahu itu?” Moreau berkomentar tanpa sadar saat dia masih mengulik ponsel ayah sambungnya untuk memilih foto mana yang perlu dipertahankan dan tidak. Walau sebenarnya hampir tidak ada yang tersisihkan, karena dia nyaris menyukai semua hasil tangkapan gambar
“Aku tidak mau melakukan hal konyol seperti ini.” Suara serak dan dalam pria itu—ntah terdengar menyerupai bisikan kecil, meski Moreau dapat mendengar sangat jelas, bahkan menafsirkan nada enggan yang begitu kentara di sana. “Ini tidak konyol,” dia membantah setengah jengkel. “Tapi ka
Moreau tahu Abihirt akan membutuhkan ponsel di sana. Sepertinya telah ditinggalkan begitu lama. Dia menelan ludah kasar mengamati kening pria itu berkerut dalam, seolah sedang merasa ganjil dan ya .... Tiba – tiba Moreau tersadar akan sesuatu. Dia lupa untuk mengembalikan ponsel Abihirt ke