MasukDiliputi usaha kembali ke permukaan. Moreau segera mengenyakkan punggung di sandaran kursi. Sangat menunggu kapan Abihirt akan menambahkan jawaban. Seharusnya tidak lama lagi. Pria itu terlihat menunduk sesaat dan akhirnya berkata, “Kau benar. Untuk saat ini perusahaan peninggalan ayahmu berada di bawah naunganku—“
“Lalu serahkan kembali kepada orang yang berhak menjalankannya.”Secara teknis, Moreau menunjuk dirinya sebagai prospek utama. Perusahaan peninggalan mendiang Jeremias RivBeberapa situasi yang Moreau hadapi membuat rasa waspada terkumpul menjadi sesuatu yang bertingkat – tingkat. Sehingga, gerakan singkat mana pun ... dengan muda menarik perhatiannya. Dia segera bangun dan mendapati pemandangan di mana Abihirt terlihat berusaha mengumpulkan nyawa.Perhatian pria itu intens memperhatikan situasi di sekitar. Moreau tidak akan berusaha mengatakan apa pun sampai tiba – tiba wajah tampan—yang terduga masih begitu mengantuk, menoleh ke arahnya.“Pagi, Mommy.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar persis seseorang ... baru saja terbangun dari tidur lelap. Memang mungkin demikian yang pria itu rasakan. Obat tidur telah merangsang saraf untuk menghadapi kondisi, yang sebenarnya ... Moreau tidak setuju jika Abihirt akan terus – terusan menggantungkan hidup terhadap kapsul tersebut.“Bagaimana tidurmu semalam?”Namun, dia tidak coba membicarakan ini secara gamblang. Biarkan semua berjalan pelan – pelan. Sekarang ... Abihirt terduga mengatu
Abihirt kembali ke kamar utama lebih cepat ketika biasanya ... pria itu akan menemani anak – anak lebih dulu. Membaca cerita dongeng, lalu akan meninggalkan mereka setelah tertidur. Sekarang sedikit berbeda. Moreau sendiri nyaris tidak menemukan jawaban yang tepat saat si kembar menanyakan keberadaan ayah mereka; bertanya – tanya mengapa bukan Abihirt yang seharusnya—menjadi orang terakhir yang mereka temui sebelum terlelap. Masih mengenai pembicaraan mereka di dapur.Moreau hanya tidak mengerti ... mengapa Abihirt menghindari beberapa aktivitas usai menjemput anak – anak pulang. Seolah pria itu sudah menebak apa yang akan mereka bicarakan. Padahal tidak. Moreau sudah berkata bahwa dia tidak akan memaksa Abihirt, tetapi mungkin ... menjadi salahnya tidak menjelaskan semua itu dari awal.Sekarang, perhatian yang dia berikan nyaris begitu terpaku ke arah ranjang. Suasana di kamar masih begitu benderang. Moreau tidak ingat kapan Abihirt punya kebiasaan tidur seperti ini. A
Moreau segera menangkup wajah tampan itu. Memaksa Abihirt menatapnya. Percuma. Bukan suasana tak terduga seperti ini yang dia inginkan. Bukan saat mata kelabu di sana masih menolak melakukan kontak dengannya. “Aku sedang bicara serius. Jangan coba – coba menghindariku,” ucap Moreau sebagai peringatan. Karena tidak sulit menggapai Abihirt secara fisik. Namun, dia selalu dihantam kenyataan ... bahwa nyaris mustahil menyelesaikan sisanya. Menyelesaikan apa yang ada di dalam diri pria itu dan dia tidak bisa—tidak akan pernah berhenti sampai di sana.“Sekarang jawab aku. Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau menyakiti dirimu lagi? Bukankah kita sudah sepakat?”Sambil memberi sapuan ringan di wajah tampan di sana. Moreau harap dia akan berhasil. Sedikit. Ya. Sedikit kelegaan saat Abihirt akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri menatapnya.Moreau tersenyum tipis. Dia hanya ingin jawaban. Bukan menghakimi. Cara terbaik adalah menunggu lebih sabar. Sampai akhirnya bibir Abi
“Kau sangat sibuk hari ini, Mommy.”Suara serak dan dalam Abihirt benar – benar terlalu mengejutkan. Moreau tidak memiliki persiapan untuk menyambut keberadaan pria itu di dapur. Setelah sarapan bersama. Lore dan Arias menarik ayah mereka pergi; satu prospek tak terduga di mana, Moreau yakin ... Abihirt jelas—seharusnya telah menyimpan kejutan untuk mereka.Dia tidak berusaha memikirkan semua itu. Sengaja mengambil kesempatan dari kebebasan singkat sekadar menghindari Abihirt; dengan sengaja—masih melakukan apa saja di dapur; membuat bolu kesukaan anak – anak misalnya. Sudah separuh kegiatan. Moreau hanya perlu menunggu kapan adonan yang dikocok dengan alat di tangan menjadi kental berjejak. Ketika tiba – tiba ... dia harus menahan napas merasakan keberadaan Abihirt yang begitu dekat. Pria itu persis menjulang tinggi di belakang tubuhnya. Tidak tahu apa yang bisa Moreau katakan. Berpikir bahwa seharusnya Abihirt masih bersama Lore dan Arias. Sekarang di mana si kembar? Suara mereka
“Aku tidak ingin kau minum – minum seperti semalam,” Moreau menambahkan. Berharap Abihirt akan mengerti. Sudah terlalu sering memberi tahu untuk tetap menjaga kesehatannya sendiri dan hal tersebut benar – benar menjadi sesuatu yang melelahkan ketika pria tersebut sama sekali tidak berusaha memikirkan bagaimana cara agar tidak berada dalam bahaya.“Kau mendengarku bicara, Abi?”Tidak ada respons dari pembicaraan mereka di awal; mendesak sesuatu dalam diri Moreau untuk menuntut pria di hadapannya bicara. Dia tidak mengerti apa yang sedang Abihirt pikirkan, tetapi sorot kelabu itu benar – benar seperti terpaku atau barangkali ada hal serius yang perlu dipikirkan.“Abi ....”Moreau secara tentatif memberi sapuan ringan di rahang kasar itu. Ingin Abihirt secepatnya sadar dan benar ... pria tersebut sempat mengerjap. Kemudian meraih tangannya sekadar diremas singkat.“Ya, Mommy. Aku mengerti.” Sedikit senyum tipis tidak mengakhiri semuanya. Moreau mengambil kesemp
Wajah itu perlahan bergerak. Sebuah pemandangan yang sudah Moreau nantikan sejak terbangun dan masih di sini; mengamati saat Abihirt tampak mengernyit dan perlahan jemari pria itu menyentuh batang hidung sendiri. Perlu sedikit menunggu lebih sabar sampai Abihirt memperhatikan situasi di sekitar, yang membuat kernyitan di kening itu terlihat mencolok, terutama ketika menyadari keberadaannya.“Di mana aku?”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar parau. Ntah bagaimana Moreau harus mengatakannya, tetapi dia memberikan senyum. Merasa yakin bahwa segala sesuatu di antara mereka akan berakhir dengan gamblang.“Di kamarmu,” ucapnya, hingga keterkejutan Abihirt tidak terkendali. Pria itu hampir terlonjak bangun, lalu kembali menyadari sesuatu terasa berat di sana.Dugaannya benar, mungkin. Moreau sengaja mendengkus. Tidak berusaha menunjukkan perhatian khusus kepada seseorang yang sudah dia targetkan untuk menghadapi beberapa pembicaraan.“Kau pergi ke mana setelah
Suara serak dan dalam Abihirt tiba – tiba terdengar begitu dekat. Sesaat Moreau tersentak setelah hampir tidak ada petunjuk mengenai apa yang pria itu lakukan. Jarak di antara mereka sungguh melewati batas prediksi dan ketika mencoba untuk memahami situasi yang terasa begitu gamblang, dia baru me
Hampir tak terlihat apa pun selain menemukan beberapa perangkat disusun penuh di sana. Kebiasaan ibunya selalu tidak ingin terlalu peduli pada alat masak atau membuat kue yang sering kali dia gunakan. “Moreau, jika Abi mencariku, katakan kepadanya kalau aku akan pergi ke minimarket untuk b
Setelah menarik napas cukup dalam. Moreau menuntut diri supaya siap, lalu berkata, “Kau tahu dari awal kalau aku tidak pernah menginginkan ini. Mungkin kau membuatku terbiasa, atau aku tak akan pernah benar – benar terbiasa. Sesuatu membuatku mendapatkan sudut pandang yang buruk tentang seks.”
Tidak tahu mengapa Moreau seolah terjebak, nyaris tak dapat mengatakan apa – apa sekadar menjatuhkan pilihan yang membingungkan. Masih menatap ragu pada klip di tangan Abihirt, tetapi kemudian pria itu mengambil tindakan sekadar menyentuh lengannya lembut. Menuntun supaya dia menurut; menjatuhkan







