Masuk“Apa Abi belum pulang juga?”
Moreau hampir tersentak, dan di waktu bersamaan berusaha mengendalikan diri dari kemunculan Barbara di halaman belakang rumah. Dia sedang menikmati momen merendam kaki di kolam air, sama sekali tidak memiliki petunjuk bahwa wanita itu akan tiba – tiba muncul mencari seseorang. Bola mata Barbara berpendar di sekitar. Tidak menemukan siapa pun, maka satu – satunya yang tertinggal adalah embusan napas kasar.Moreau mengerang saat pinggul seksi itu terus menumbuknya. Tubuh mereka sudah licin berkeringat, tetapi Abihirt tidak akan berhenti sebelum keinginan pria tersebut benar – benar tuntas.Erangan mereka beradu bebas ke udara. Moreau menyukai saat – saat Abihirt menggeram kenikmatan, sementara kedua tangan pria itu tak tinggal diam. Terus meremas payudara dan memainkan puncaknya.Wajah Abihirt begitu sempurna dengan taburan keringat mengucur dari kening. Apa lagi, saat mata kelabu itu menatap serius ke arahnya.Moreau seperti tidak memiliki pilihan selain terjebak dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Kejantanan Abihirt terasa penuh dan sesak. Dia menengadah begitu mulut pria itu jatuh menyesap puting yang mengeras. Sesekali Abihirt memberi gigitan kecil. Mengirim sinyal ... betapa nikmatnya penyatuan mereka di bawah sana. Seperti membiarkan paket kombo menyerang, sedangkan dia sudah cukup kewalahan. Moreau tanpa sadar memindahkan jari – jari tangan ke bahu Abihi
Rasanya, perhatian Moreau terlalu sering teralihkan; antara menimbang bahan – bahan adonan atau sesekali memastikan anak – anak tidak melakukan sesuatu yang berlebihan. Mereka memang sedang berada di dapur. Dia terlalu sibuk dengan pelbagai aktivitas, sementara Lore dan Arias duduk manis di meja bar, menunggu kapan mendapat giliran untuk bisa menawarkan bantuan. Moreau tersenyum ketika mendapati mereka sedang menatap dengan sangat menggemaskan ke arahnya. Anak – anak tidak cukup berani membuat kekacauan di sini, meski dia lebih yakin bahwa mereka memiliki insting jahil; mungkin sedang menunggu kapan waktu itu tiba. Tidak. Moreau akan tetap mengawasi mereka. Tepung sudah ditimbang sesuai takaran. Dia menyisihkannya terlebih dahulu, kemudian beralih ke bahan adonan lainnya. “Mommy, kenapa tepungnya sangat sedikit? Bukankah nanti hasilnya juga akan sedikit? Aku mau bolu yang banyak mommy. Kita bikin banyak – banyak.” Mata kelabu Lore melotot penuh rasa penasaran ketika jari – jem
Beberapa situasi yang Moreau hadapi membuat rasa waspada terkumpul menjadi sesuatu yang bertingkat – tingkat. Sehingga, gerakan singkat mana pun ... dengan muda menarik perhatiannya. Dia segera bangun dan mendapati pemandangan di mana Abihirt terlihat berusaha mengumpulkan nyawa.Perhatian pria itu intens memperhatikan situasi di sekitar. Moreau tidak akan berusaha mengatakan apa pun sampai tiba – tiba wajah tampan—yang terduga masih begitu mengantuk, menoleh ke arahnya.“Pagi, Mommy.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar persis seseorang ... baru saja terbangun dari tidur lelap. Memang mungkin demikian yang pria itu rasakan. Obat tidur telah merangsang saraf untuk menghadapi kondisi, yang sebenarnya ... Moreau tidak setuju jika Abihirt akan terus – terusan menggantungkan hidup terhadap kapsul tersebut.“Bagaimana tidurmu semalam?”Namun, dia tidak coba membicarakan ini secara gamblang. Biarkan semua berjalan pelan – pelan. Sekarang ... Abihirt terduga mengatu
Abihirt kembali ke kamar utama lebih cepat ketika biasanya ... pria itu akan menemani anak – anak lebih dulu. Membaca cerita dongeng, lalu akan meninggalkan mereka setelah tertidur. Sekarang sedikit berbeda. Moreau sendiri nyaris tidak menemukan jawaban yang tepat saat si kembar menanyakan keberadaan ayah mereka; bertanya – tanya mengapa bukan Abihirt yang seharusnya—menjadi orang terakhir yang mereka temui sebelum terlelap. Masih mengenai pembicaraan mereka di dapur.Moreau hanya tidak mengerti ... mengapa Abihirt menghindari beberapa aktivitas usai menjemput anak – anak pulang. Seolah pria itu sudah menebak apa yang akan mereka bicarakan. Padahal tidak. Moreau sudah berkata bahwa dia tidak akan memaksa Abihirt, tetapi mungkin ... menjadi salahnya tidak menjelaskan semua itu dari awal.Sekarang, perhatian yang dia berikan nyaris begitu terpaku ke arah ranjang. Suasana di kamar masih begitu benderang. Moreau tidak ingat kapan Abihirt punya kebiasaan tidur seperti ini. A
Moreau segera menangkup wajah tampan itu. Memaksa Abihirt menatapnya. Percuma. Bukan suasana tak terduga seperti ini yang dia inginkan. Bukan saat mata kelabu di sana masih menolak melakukan kontak dengannya. “Aku sedang bicara serius. Jangan coba – coba menghindariku,” ucap Moreau sebagai peringatan. Karena tidak sulit menggapai Abihirt secara fisik. Namun, dia selalu dihantam kenyataan ... bahwa nyaris mustahil menyelesaikan sisanya. Menyelesaikan apa yang ada di dalam diri pria itu dan dia tidak bisa—tidak akan pernah berhenti sampai di sana.“Sekarang jawab aku. Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau menyakiti dirimu lagi? Bukankah kita sudah sepakat?”Sambil memberi sapuan ringan di wajah tampan di sana. Moreau harap dia akan berhasil. Sedikit. Ya. Sedikit kelegaan saat Abihirt akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri menatapnya.Moreau tersenyum tipis. Dia hanya ingin jawaban. Bukan menghakimi. Cara terbaik adalah menunggu lebih sabar. Sampai akhirnya bibir Abi
“Kau sangat sibuk hari ini, Mommy.”Suara serak dan dalam Abihirt benar – benar terlalu mengejutkan. Moreau tidak memiliki persiapan untuk menyambut keberadaan pria itu di dapur. Setelah sarapan bersama. Lore dan Arias menarik ayah mereka pergi; satu prospek tak terduga di mana, Moreau yakin ... Abihirt jelas—seharusnya telah menyimpan kejutan untuk mereka.Dia tidak berusaha memikirkan semua itu. Sengaja mengambil kesempatan dari kebebasan singkat sekadar menghindari Abihirt; dengan sengaja—masih melakukan apa saja di dapur; membuat bolu kesukaan anak – anak misalnya. Sudah separuh kegiatan. Moreau hanya perlu menunggu kapan adonan yang dikocok dengan alat di tangan menjadi kental berjejak. Ketika tiba – tiba ... dia harus menahan napas merasakan keberadaan Abihirt yang begitu dekat. Pria itu persis menjulang tinggi di belakang tubuhnya. Tidak tahu apa yang bisa Moreau katakan. Berpikir bahwa seharusnya Abihirt masih bersama Lore dan Arias. Sekarang di mana si kembar? Suara mereka
Setelah melakukan banyak pertimbangan, Moreau segera memutuskan untuk mengambil keputusan—memilih beberapa papan pil kontrasepsi sebagai antisipasi. Mungkin seharusnya tidak perlu diborong secara berlebihan. Dia yakin Abihirt akan menggunakan alat pengaman seperti pelajaran pertamanya semalam.
“Sekarang makan.” Ada sedikit perbedaan, perlu digarisbawahi. Dia sedikit takut saat menghadapi suara serak dan dalam ayah sambungnya berubah tegas. Tidak mengatakan apa pun lagi, segera merenggut plastik burger, ingin melihat ke dalam isinya, tetapi sedikit te
Itu semacam tuduhan serius yang sama sekali tidak penah Moreau pikirkan bahwa dia akan melakukan hal demikian. Semua adalah ide Barbara. Moreau harus menahan napas, karena bahkan Abihirt tidak diberitahu, setidaknya sedikit, tentang keputusan yang wanita itu ambil.
Lamat sekali perhatian Moreau terpaku lurus – lurus pada suatu hal yang sedang Abihirt lakukan di dapur. Sebelah tangan pria itu terlihat sibuk menumpahkan kapsul ke satu tangan lainnya. Sesuatu yang persis tidak dia ketahui apa, tetapi tidak pernah meninggalkan perhatian dari sana, pada tenggoro







