Masuk"Mas, tenangkan dirimu. Pliss …." Pinta Aluna, mengusap dada bidang suaminya sambil menatap memohon pada Kaizen. "Aku tahu tahu putra kita salah, tetapi setidaknya Kakak sudah jujur pada kita, Mas," tambah Aluna, menatap was-was campur takut pada suaminya, "mengenai Vanessa, aku tidak apa-apa, Mas. I-itu hanya masa lalu yang perlu kita lupakan. Toh, Sera tidak sama seperti Mamanya."Situasinya sangga tegang, amarah Kaizen terasa memenuhi ruangan ini—membuat suasana terasa seram dan mengerikan. Kaizen memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Kaizen membuka mata, langsung menatap tajam pada Xaveir.Tatapan Kaizen terasa membunuh dan menyeramkan, membuat Kaina yang duduk di sebelah kakaknya secara bergeser ke sudut sofa. Dia merasa ikut ditatap oleh daddy-nya, makanya dia bergeser ke sudut sofa. "Jadi …." Kaizen bersuara, nadanya berat dan penuh intimidasi, "apa Diego sudah melunasi utangnya padamu?"Xavier menggelengkan kepala. "Tidak, Dad.
Kaina mengerjap beberapa kali, menampilkan ekspresi wajah tegang campur miris setelah mendengar cerita dari kakaknya. Jadi, kakaknya menikahi Sera sebagai jaminan utang serta kerja sama perusahaan dari ayah Sera. Sewaktu itu, perusahaan dan bisnis lain Ayah Sera hampir gulung tikar. Seseorang—musuh bisnis ayah Sera, menyebar fitnah dan merestas data perusahaan. Kerugian di mana-mana, saham perusahaan anjlok, dan para investor satu persatu kabur. Situasi semakin sulit karena bisnis lain Diego Efendi Halard (ayah Sera) juga ikut mengalami masalah. Dalam keadaan seperti itu, hampir mustahil bagi Diego bangkit. Terlebih pada temannya di dunia bisnis menolak membantu karena tak percaya Diego bisa kembali bangkit. Suatu hari, Diego pergi ke pesta amal untuk hal penting. Pesta amal biasanya dipenuhi oleh para penguasa ataupun kaum elit di negara ini. Diego berharap bertemu dengan salah satu penguasa yang bisa membantunya. Seperti dugaannya, di pesta itu banyak kaum elit yang hadir, mula
"Ka-Kak Xavier?" gumam Kaina pelan dengan tangan yang masih menggenggam benda pipih ajaib milik sahabatnya. Jantung Kaina berdebar kencang, tak menyangka kalau dia akan mendengar suara kakaknya lewat panggilan ini. Tut'Sambungan telepon langsung berakhir begitu saja. Kaina menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya lalu menatap layar dengan ekspresi wajah yang kaku. "Daddy, tadi Kakak menelpon," adu Kaina pada daddynya. Kaizen menoleh pada putrinya. "Biarkan saja. Nanti Daddy akan memarahi Kakak agar dia mau jujur.""Tadi Kakak memanggil Wife, berarti Kakak tidak …-" Kaina memicingkan mata, "amnesia?" tambahnya. "Humm." Kaizen berdehem rendah, bersama dengan pintu ruangannya yang terbuka, memperlihatkan Aluna yang masuk begitu saja. "Kai, Sera ingin pulang. Tolong kembalikan HP-nya, Sayang," ucap Aluna."Oh, oke, Mom." Kaina segera keluar dari ruangan daddynya untuk menemui Sera. Sebenarnya tadi daddynya sempat membisikkan sesuatu padanya, menyuruhnya untuk menahan Sera
"Kepalaku sakit, aku ingin istirahat," ucap Xavier pelan, memilih menatap ke arah lain. "Xavier sayang, tadi itu Sera—sahabat Kaina. Dan Kaina itu adik kamu," ucap Aluna lembut, meraih tangan Xavier lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang. "Maaf," ucap Xavier pada akhirnya. "Aku rasa kau hanya pura-pura amnesia," ucap Kaizen tiba-tiba. Aluna langsung memeluk lengan Kaizen—berniat menenangkan suaminya yang tengah menahan marah. "Mas, jangan seperti itu. Kondisi Xavier bisa semakin parah," tegur Aluna dengan pelan. "Tidak perlu khawatir, Aimee. Putramu ini memang sedang berpura-pura amnesia. Mungkin dia tidak ingin menunjukan istrinya pada kita, jadi dia melakukan drama ini!" Nada bicara Kaizen begitu dingin dan tak bersahabat, dia sangat marah pada putranya, "dan kau--" Kaizen menunjuk pada Xavier, "berhenti berpura-pura atau kupenggal kepalamu."Xavier hanya diam, menatap sayu pada daddy-nya yang terlihat seperti ingin membunuhnya hidup-hidup. "Sudah, Mas." Aluna menenangka
Saat ini mereka berdua ada di ruangan Xavier, di mana pria itu masih belum sadar—tidur. Mereka hanya berdua karena orang tua Kaina dan Xavier belum kembali. Di sisi lain, kepercayaan Xavier kembali ke kantor untuk mengurus hal penting. Sedangkan Alan, mencari tahu penyebab kecelakaan yang terjadi pada Xavier. "Um." Kaina menganggukkan kepala, "Mommy bilangnya begitu.""Tapi kok bisa yah Kakakmu kecelakaan?" tanya Sera kembali, "maksudku … kamu bilang Kakakmu kan sangat hati-hati dan dia juga jago mengemudi.""Ini lagi diselidiki oleh Daddy." Kaina menjawab santai, "sepertinya pelakunya salah satu orang terdekat Kak Xavier," tambahnya. "Iya yah." Sera menganggukkan kepala secara secara pelan. Dia setuju pada Kaina.Kaina tiba-tiba berdiri. "Aku mau beli makanan. Kamu jaga bentar yah.""Eih, tapi …-" "Bentar doang, Sera," potong Kaina, segera beranjak dari ruangan kakaknya. "Iya deh," jawab Sera muram. Setelah Kaina pergi, dia memilih menyandar di sebuah sofa yang tersedia di sana
"Mommyku semakin curiga kalau istri Kak Xavier itu Rabella." Sera mengerjap beberapa kali. "Kok Tante bisa curiga ke Rabella?" tanya Sera, mengaduk coklat hangatnya lalu menyeruput dengan santai. Hari Sera bangun kesiangan, jarang sekali dia kesiangan karena Sera sangat suka bangun pagi. Saat dia bangun, tubuhnya juga cukup pegal, dia sebenarnya merasa ada yang aneh karena setiap kali …- Ah, tapi bisa saja tubuhnya pegal karena semalam dia habis melaksanakan acara wisuda lalu selanjutnya jalan-jalan dengan keluarga Kaina. "Ya … karena tadi malam, setelah kita pergi, ternyata Kak Xavier juga pergi untuk menemui istrinya. Saat itu, Rabella juga pulang. Hari ini Kakak berencana membawa istrinya menemui orang tua kami karena Daddy tadi malam marah pada Kakak," cerita Kaina, wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat. "Ke-kenapa Om marah?" tanya Sera secara hati-hati. Wajahnya tampak kaget dan panik. Mendadak jantungnya berdebar kencang! "Karena masalah pernikahan Kakak sudah boc
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna







