LOGIN
"Hah?" Kaina mengerjap beberapa kali, menatap aneh campur bingung pada suaminya, "ya iya lah, Mas. Ngapain dicari lagi? Memangnya Mas rela aku punya suami baru?""Kaina Ghazan Smith!" geram Elzeren, menatap dingin dan tajam pada istrinya. Kaina menaikan kedua alis lalu menatap konyol padanya Elzeren. "Loh, kok marah? Kan Mas Eiren yang kepengen aku cari cinta lain.""Ck." Elzeren berdecak kesal. Cup' Setelan itu, dia langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya, melumat bibir Kaina cukup kasar dan penuh gairah. Namun, ciuman itu hanya berlangsung singkat karena Kaina mendorong Elzeren agar berhenti menciumnya. "Mas Eiren kenapa sih?" Kaina menatap berang pada Elzeren. "Pergi sana ke luar negeri!" tambahnya sebal karena Elzeren menciumnya dengan kasar. "Kau yang kenapa?!" Elzeren balik ketus. "Bangun-bangun bukannya mencariku, kau langsung mencari si pria kering jelek itu!""Kan … a-aku penasaran sama kondisi Rangga." Kaina menjawab sebal. "Dia sudah mati." Elzeren menata
Kaina terus mondar-mandir di dalam kamar, dia tak tenang karena rasa penasaran yang sedang menggerogoti hatinya. Sampai sekarang, dia masih ingin melihat apa yang terjadi di halaman belakang. Sayang sekali, dia tak berani ke sana—dia tak berani membantah ucapan Elzeren. "Aku penasaran apa yang terjadi pada si Rangga. Ck, padahal kalau aku lihat dan tahu apa yang terjadi ke dia, aku kan jadi bisa memberitahu Sera tentang si brengsek itu," gumam Kaina, pada akhirnya memilih duduk di ujung ranjang. Ceklek' Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Elzeren yang masuk dengan wajah datar dan tatapan yang cukup tajam. "Kenapa belum tidur, Janu?" tanya Elzeren, mendekat ke arah Kaina yang duduk di ujung ranjang. "Menunggu Mas Eiren," jawab Kaina. Elzeren menaikkan sebelah alis, sudut bibirnya tertarik sedikit. Ah, sepertinya Kaina masih menginginkan sentuhannya. Atau … istrinya rela menunggu selama ini hanya untuk melanjutkan malam panas mereka? Kaina tiba-tiba berdiri dan mendadak men
"Sudah mati." Elzeren memotong cepat, duduk di sebelah istrinya sambil merangkul pundak Kaina dengan mesra. "Rangga-nya?" tanya Kaina dengan mata melotot. Elzeren menganggukkan kepala secara pelan. "Kau takut?"Kaina menyingkirkan tangan Elzeren yang ada di pundaknya. "Takut apanya? Mas nggak seru, nggak ngajak-ngajak," cemberut Kaina. Elzeren senyum tipis sambil mengacak surai pada pucuk kepala istrinya. Ah, dia lupa jika istrinya ini seorang tuan putri Adam dan adik kesayangan dari Xavier Ghazan Adam. Jelas hal seperti ini biasa untuk istrinya. Maksudnya … menghabisi seseorang yang terlalu mengusik dan kelewatan. "Dia itu punya banyak salah padaku, Mas. Dulu … dia pernah memfitnahku penyuka sesama jenis." Kaina setengah mengomel, tak terima Rangga mati begitu saja. "Dia sudah mati, kau seharusnya senang, Janu," ucap Elzeren sambil mengumpulkan anakan rambut istrinya lalu menyelipkannya ke belakang daun telinga. Tatapannya sama sekali tak lepas dari istrinya, wajah cemberut Kain
"Kau sedang apa, Eiren?!"Elzeren menatap cukup serius pada sosok pria paruh baya di depannya, lalu melirik ke belakang—menatap ke arah sosok perempuan cantik yang sedang senyum kaku padanya. Elzeren buru-buru melangkah masuk kemudian mengunci pintu agar pria paruh baya tersebut tidak melihat ke luar. "Apa yang kau sembunyikan, Hum?" Pria paruh baya itu menatap dingin dan penuh peringatan pada Elzeren. Elzeren menggelengkan kepala secara pelan lalu senyum tipis pada sosok berwibawa di depannya. "Tidak ada hal apapun yang kusembunyikan, Daddy," ucapnya pelan dan terkesan ramah, lagi-lagi senyum tipis untuk meyakinkan daddy-nya. Setelah itu, Elzeren menatap ke arah perempuan di belakang daddy-nya, tak lain istrinya yang … pengadu. Elzeren senyum tetapi melotot galak dan penuh peringatan. Calean Dante Smith, daddy-nya, mendidiknya dengan penuh kelembutan tetapi tegas. Intinya, hal yang Elzeren lakukan di halaman belakang, itu sangat dilarang oleh daddynya. Ada aturan untuk menghukum
"A-aku diancam sama Kak Freza supaya a-aku bersedia membantunya." Elzeren hanya diam sambil menatap ke arah Rangga yang sedang dieksekusi—di telanjangi lalu dicambuk di hadapan semua orang. Pria ini berniat melecehkan istrinya, ingin menghancurkan istrinya, Heh?! Baik! Elzeren balas dengan cara yang sama. Dia akan membuat pria ini mati dalam keadaan hina dan malu. "E-El, demi persahabatan kita yang sudah belasan tahun, to-tolong maafkan aku. A-aku hanya khilaf sebab terlalu men-mencintaimu. A-aku melakukan semua ini su-supaya kamu jadi milikku, E-El. Pliss!" pinta Freza, yang sama ketakutan dengan Sabela. Melihat Rangga yang telanjang dicambuk di hadapan mereka, Freza benar-benar merinding. Masalahnya Rangga sudah seperti mayat hidup, akan tetapi Elzeren tidak membiarkan cambukan itu berhenti. Kaif yang juga ada di sana, menatap cukup miris dan merinding pada Rangga. Pria itu sudah berlumuran darah akibat jatuh dari tangga dan juga cambukan kuat di punggung. Napas Rangga
"A-aku jujur, Tuan." Rangga berkata dengan nada cepat, mendongak sambil menatap penuh ketakutan pada Elzeren, "a-aku be-bekerja sama dengan Freza. Aku dan Freza sama-sama de-dendam pada Nyonya. Du-dulu, aku hampir berpacaran dengan Sera te-tetapi Nyonya mempengaruhi Sera dan membuat Sera be-berubah jadi membenciku. Sera pada akhirnya menikah dengan Kakak Nyonya, aku sama sekali tidak terima. Aku semakin tidak terima karena Kakak Kaina menghancurkan bisnis keluarga kami dan mengusir kami dari kota kelahiranku sendiri. Di sini kami memulai hidup sangat susah dan melarat. Ka-kami berupaya bangkit sedangkan Nyonya … di-dia hidup bahagia. A-aku tidak terima melihatnya bahagia setelah dia merebut Sera dariku dan me-menghancurkan hidup keluargaku. Ja-jadi aku berniat menghancurkannya dengan cara me-melecehkannya."Rahang Elzeren mengatup saat mendengar ucapan terakhir Rangga. Tangannya mengepal kuat dan dadanya bergemuruh hebat. Amarah kembali menguasai dirinya, benar-benar emosi mendengar k
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak







