Masuk
"Ngapain sih aku pake dress begini? Kan cuma acara biasa," ucap Kaina, di mana saat ini dia sudah sampai di villa keluarga suaminya. Setelah sampai, Kaina dan Elzeren disuruh sarapan berdua. Yah, mereka benar-benar sarapan berdua dan keluarganya hanya menonton dari kejauhan. Ck, itu sungguh canggung dan mendebarkan bagi Kaina. Setelah sarapan, Sera dan Nakilla langsung membawa Kaina ke atas untuk berganti pakaian. "Sekalipun ini hanya acara keluarga kita, tapi kamu harus tetap tampil bersinar. Soalnya kamulah pemeran utama dalam acara ini," ucap Nakilla, mendapat anggukan kepala dari Sera. "Lagian untuk beberapa hari ini, kamu tuh harus rajin tampil memukau. Supaya Kak Eiren nyesal," ucap Sera tiba-tiba. "Menyesal apa?" Kaina mengerutkan kening. "Menyesal karena merasa terlambat nikahin kamu," jawab Sera sambil senyum cengengesan pada Kaina. Nakilla tertawa kecil mendengar ucapan Sera tersebut sedangkan Kaina hanya menampilkan ekspresi wajah muram. Namun, dalam hati d
"A-apanya yang tidak mungkin. Cukup jauhan," kesal Kaina lagi, efek terlalu gugup dan panik. Sekalipun Elzeren adalah pria yang dia sukai sejak lama dan malam seperti ini bagian dari impiannya, ternyata ini menakutkan dan menegangkan bagi Kaina. Ini tidak seindah imazinasinya, sensasi yang dia rasakan sekarang persis seperti saat dia tersesat di kuburan ketika malam hari dan sedang dikerja anjing liar. Elzeren tak mengatakan apa-apa, tetapi dia semakin mendekat hingga hingga hembusan nafasnya bisa Kaina rasakan—menerpa kulit wajah Kaina yang membuat Kaina semakin tegang dan panik. Tiba-tiba saja Elzeren menangkup pipinya kemudian dengan cepat mendaratkan bibir di atas bibir Kaina. Hal tersebut membuat Kaina melebarkan mata, tubuhnya membeku, dan jantungnya berdebar sangat gila. Saat itu juga Kaina merasa amnesia sesaat, dia kehilangan kosa kata di dalam kepala, tidak bisa berbuat apa-apa selain bengong dan melotot panik. Sedangkan Elzeren, dia memanfaatkan kepanikan Kaina untuk
"Hai," spontan Kaina, mengangkat satu tangan lalu melambaikan tangan secara pelan pada Elzeren yang sudah di tengah kamar dan tengah menatapnya. Kaina begitu gugup sekarang sangat malu karena bisa-bisanya dia menyapa Elzeren dalam keadaan memalukan ini. Dengan wajah yang tegang dan jantung berdebar kencang, Kaina buru-buru meraih bantal lalu memeluknya untuk melindungi tubuhnya. "Aku tidak punya baju, Kak," ucap Kaina cepat saat Elzeren sudah berada tepat di depannya. Dia spontan, terlalu panik Elzeren salah paham padanya. Elzeren bersedekap di dada, menaikkan sebelah alis sambil menatap datar pada Kaina. "Kenapa tidak punya? Bajumu di mana?" "A-aku nggak tahu." Kaina menjawab gugup, menatap was-was pada Elzeren yang masih berdiri di depannya. Jarak pria ini sangat dekat dengannya, membuat Anya panik dan gugup setengah mati. "Se-sepertinya disembunyikan sama Kak Nakilla dan Sera." "Kalau begitu jangan memakai baju," jawab Elzeren santai, setelah itu beranjak dari sana—masuk
"Iya, Kai. Model yang kamu minta simpel dan polos tanpa payet. Jadi ini bisa diselesaikan dengan cepat," jawab Nakilla. "Ah, syukurlah." Kaina berkata lega, senyum manis pada nenek dan calon kakak iparnya. Namun, saat matanya bersitatap dengan kakeknya, Kaina langsung mengulurkan tangan—telapak tangan terbuka dan menghadap atas, "mau duit dong, Kek.""Hah." Kaze langsung menghela napas panjang. Dia diam pun tetap diporoti oleh cucu kesayangannya ini. Ck, untung cucu kesayangan! "Uangmu banyak, El?" tanya Kaze pada Elzeren. Nadanya rendah dan pelan—tenang. "Banyak, Kek." Elzeren menjawab santai, "Kai saja yang tidak mau minta," tambahnya sambil melirik ke arah calon istrinya. "Apalagi, Sweety? Minta uang yang banyak pada calon suamimu," ucap Kaze pada cucunya, di mana Kaina terlihat gugup sambil menatap malu-malu pada Elzeren. Elzeren menaikkan sebelah alis, menatap Kaina geli dan gemas. Hell! Ini pertama kalinya dia melihat perempuan judes ini bersikap malu-malu. Sangat menggemas
"Saingan?" gumam Kaina, mengerutkan kening sambil menatap heran pada Elzeren. Aih, asbun pria di sebelahnya ini selalu saja membuatnya pusing dan bingung. "Malas!" ketus Elzeren. Kaina kembali mengerutkan kening, menatap aneh pada Elzeren yang kini terlihat kesal. "Hai!" sapa Nakilla dengan ceria, senyum lebar sambil menghampiri Kaina dan Elzeren. Setelah di depan Kaina dan Elzeren, Nakilla malah tertawa cukup kencang dan geli. "Kakak kenapa?" tanya Kaina sambil menatap bingung pada Nakilla. Sedangkan Elzeren hanya menatap datar pada kakaknya. "Lucu saja." Nakilla menjawab pelan, meraih tangan Kaina lalu menggandengnya—membawanya masuk ke ruangannya. "Apa yang lucu?" tanya Elzeren, berjalan di belakang Nakilla dan Kaina. Setelah di ruangan Nakilla, mereka langsung duduk di sofa. Lagi-lagi Naikilla tertawa geli, menatap Kaina dan Elzeren secara bergantian. "Apa sih, Kak?" Kaina menggaruk pelipis, mendadak canggung dan kikuk karena Nakilla tersebut tertawa. "Kalian lucu banget
"Tapi karena ingin fokus pada tujuannya dia memilih memendam rasa." "Oke." Kaina bergumam pelan, lebih serius dari yang sebelumnya. "Kemungkinan paling besar bagian paling benar itu cuma di 'Fokus dan memilih memendam rasa. Selebihnya banyak cela." "Hah?" Kaina mengerutkan kening, bingung dan merasa pusing. "Begini, Beib. Orang yang memang ingin fokus pada dirinya, biasanya memang akan mengesampingkan urusan lain. Jika ada cinta, mungkin dia akan memendamnya. Namun, di sinilah letak celanya. Kita benarkan lah kalau Kak El suka pada Freza, tapi suka tidak cukup membuat Freza istimewa." "Apasih? Aku nggak paham sama sekali. Mending bahas statistik yuk," ucap Kaina sambil menggaruk kepala, pusing karena teori rumit Sera. "Hais! Singkatnya sekalipun benar Kak Eiren suka pada si Freza, tetap si Freza bukan hal penting buat Kak El. Soalnya dia bukan salah satu tujuan hidup Kak El, makanya dikesampingkan." Sera mendengus pelan. "Iya kah?" Kaina senyum cerah sambil menatap penuh ha
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m







