MasukDi sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar.
Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak terkendali ketika melihat wajah pria tersebut. Kaizen Xavier Adam! "A-apa yang terjadi padaku? Apa yang …-" gumam Aluna, sudah duduk di ranjang sambil menekuk kaki lalu memeluk lutut. Tubuhnya gemetaran, dia panik dan juga takut. Aluna diam sejenak, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya tadi malam. Wajahnya langsung muram ketika mengingat sesuatu. Dialah yang menggoda pria ini! "A-apa jangan-jangan aku yang …- ha, tidak tidak tidak!" pekik Aluna pelan, mulai parno pada satu hal. Karena ketakutannya semakin menjadi-jadi, Aluna buru-buru kabur dari sana. Dia mengenakan pakaiannya yang sudah basah–ia temukan di kamar mandi. Namun, dia tetap mengenakan kemeja Kaizen sebagai pelapis di bagian luar agar bajunya yang basah tidak kentara. Sebelum pergi, Aluna juga mengambil dompet Kaizen, tak lupa dia meninggalkan pesan di HP pria itu sebagai bentuk minta izin telah mengambil uang Kaizen. Sebenarnya Aluna hanya ingin mengambil beberapa lembar untuk ongkos pulang–HP dan tas kecilnya entah ada di mana, akan tetapi dia terlalu panik sehingga dia salah membawa. Uang tiga lembar yang sudah ia keluarkan malah tertinggal, sedangkan dompetnya terbawa oleh Aluna. Aluna berhasil kabur lewat halaman belakang. Setelah mengikuti seorang maid secara diam-diam. Sebenarnya cukup sulit bagi Aluna untuk keluar dari rumah mewah ini karena tempat ini baru baginya dan ada banyak penjaga di sini. Namun, untung skill kabur dan mengendap-endapnya sangat hebat sebab sering kabur dari rumahnya sendiri. Setelah berhasil keluar, Aluna naik taxi untuk pulang. Akan tetapi dia tidak langsung pulang, dia berhenti sejenak di toko pakaian untuk membeli sekaligus mengganti pakaian supaya kakaknya tak curiga. Ah, ada untungnya juga Aluna salah bawa karena isi dompet Kaizen benar-benar berguna. Setelah itu, barulah Aluna pulang, di mana ternyata kakaknya belum pulang ke rumah. Sepertinya masih di kediaman Azam. Aluna masuk ke kamar dan menghela napas panjang. Dia begitu lega karena berhasil kabur dari rumah Kaizen. Awalnya dia tertawa kecil karena berhasil kabur, tetapi tiba-tiba air matanya jatuh–menyesali apa yang terjadi padanya. Mahkota berharga yang telah ia jaga selama ini, sudah direnggut oleh …- Rasa lega yang sempat menghampirinya langsung lenyap, perasaan takut kembali menghampiri. Jika orang tuanya tahu apa yang terjadi padanya, pasti orang tuanya bakalan kecewa. Tapi … Aluna tidak salah sepenuhnya, Aluna juga korban! "Aku harus menyembunyikan masalah ini. Pokoknya aku harus menutupinya," gumam Aluna pelan, "aku dan Om Kaizen juga jarang bertemu, aku yakin dia juga kurang mengenalku. Jadi … aku pasti bisa menutupi masalah ini dari siapapun. Ta-tapi bagaimana kalau aku hamil?" gumam Aluna dengan nada lirih, mulai cemas dan ketakutan. "O-oh, aku bisa minum pil penunda kehamilan kan? Aku harus cepat beli pil itu." Aluna bermonolog, segera bergegas untuk membeli pil tersebut. Dia mandi lebih dulu, di mana lagi-lagi dia menangis saat mandi. Hatinya begitu perih dan sakit saat melihat banyaknya tanda merah di tubuhnya, pertanda jika seorang pria telah menyentuhnya. Dia benar-benat kecewa pada dirinya! Setelah mandi dan rapi, Aluna langsung keluar kamar–pergi membeli pil penunda kehamilan. ✿✿✿ 'Pelayanan sangat bagus dan Pelanggan sangat puas. Bintang lima.' 'Om, aku pinjam uangmu. Tapi berhubung Om orang kaya, uangnya nggak usah aku balikin yah. Aku orang miskin, Om. By Pelangganmu.' Kaizen mendengus panjang saat membaca sebuah pesan yang tertulis di note HP-nya–saat dia menyalakan HP, note ini yang langsung muncul. Kaizen menutup kembali ponselnya, menatap ke atas meja nakas di mana ada tiga lembar uang di atasnya. Dompetnya hilang! Pasti kelakuan Aluna! Masalah kejadian tadi malam, Kaizen memilih tak mengambil pusing. Dia segera mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia menemui orang tuanya yang mungkin sudah pulang. Kejadian tadi malam membuat Kaizen tidur seperti batu. Bahkan Kaizen yang punya tingkat kewaspadaan yang tinggi–sekalipun tidur bisa merasakan pergerakan seseorang, tidak sadar sama sekali saat Aluna melarikan diri dari kamarnya. Setelah di bawah, Kaizen bertemu dengan orang tuanya. Ayahnya terlihat menoleh padanya tetapi hanya sebentar. Begitupun dengan ibunya, menoleh sejenak lalu buru-buru meraih remot di atas meja. Namun, sikap ibunya terlihat sangat aneh. "Pergilah makan," ujar Kaze dari tempat duduk, melirik sejenak pada putranya yang sudah bangun–telah rapi. "Humm." Kaizen hanya berdehem sebagai jawaban, memutuskan ke ruang makan untuk mengisi perut. Di sisi lain, melihat putranya ke ruang makan, Naia juga ikut ke sana. Dia langsung menghampiri Kaizen, duduk di sebelah putranya tersebut. "Siapa perempuan di dalam kamarmu, Zen?" tanya Naia tiba-tiba, menatap serius pada putranya, "di mana dia sekarang?" Sebenarnya apa yang dia lihat di kamar putranya, itu membuatnya senang secara bersamaan. Hal tersebut karena putranya tidak dekat dengan perempuan manapun, kecuali teman masa kecilnya. Kaizen juga tidak pernah menjalin hubungan kasmaran dengan perempuan manapun. Gara-gara hal tersebut, Kaizen dirumorkan melakukan penyimpangan karena dianggap tidak tertarik pada perempuan. Dulu, Naia sempat mengira kalau putranya ini tertarik pada teman masa kecilnya yang sampai saat ini dekat dengan Kaizen. Namun, saat perempuan itu dekat dengan pria lain dan bahkan sudah bertunangan, Kaizen terlihat biasa saja. Harapan Naia patah pada perempuan itu dan dia kembali khawatir pada putranya. Sebelumnya Naia juga pernah menjodohkan Kaizen dengan anak perempuan kenalannya. Akan tetapi Kaizen menolak. Dia sering menunjukan foto perempuan cantik pada putranya namun Kaizen terlihat tidak tertarik. Naia sangat frustasi dan khawatir kalau rumor itu benar. Saking panik dan frustasinya pada putranya yang tak pernah menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis, Naia pernah ke paranormal dan peramal untuk menerawang putranya. Hasilnya, peramal mengatakan putranya terkena kutukan nenek moyang, di mana kutukan tersebut akan patah kalau putranya bertemu dengan perempuan yang ditakdirkan dan perempuan yang ditakdirkan dengan putranya adalah perempuan setengah manusia purba. Sedangkan paranormal mengatakan kalau jodoh putranya adalah makhluk jadi-jadian yang sulit ditaklukan, makhluk itu menutup mata putranya sehingga putranya tak tertarik pada lawan jenis. Ah, yang benar saja! Keduanya sama-sama gila karena … ya kali jodoh putranya manusia setengah manusia purba atau makhluk jadi-jadian. Tapi lebih gila Naia sebenernya. Saking frustasinya pada putranya, dia malah pergi ke paranormal dan peramal. Jelas hasilnya absurd! Oleh karena itu ketika Naia melihat kejadian tadi pagi, Naia sangat senang. Terlebih saat melihat banyak tanda merah di leher dan pundak perempuan itu. Karena itu bukti putranya normal! 100% pejantan unggulan! Yah, walau Naia tetap kecewa pada putranya karena Kaizen meniduri perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan. Jelas itu salah! "Tidak ada." Kaizen berkata tenang, sekalipun cukup terkejut mendengar pertanyaan mamanya. "Jangan berbohong! Atau mau Mama adukan kamu ke Papa?" ancam Naia dengan nada tegas, "Mama jelas-jelas lihat kamu tidur …-" Naia menjeda sejenak, mengepalkan tangan lalu memukul tengkuk putranya. Bug' "Mama kecewa!" tambahnya dengan nada dramatis. "Sekarang kamu berbohong dan menutupinya dari Mama. Mama semakin kecewa padamu." "Aku kurang tahu, Mah. Dia kabur," jawab Kaizen tenang, kembali sarapan secara santai sekalipun mamanya sedang melotot padanya. "Ku-kurang tahu bagaimana?! Kamu membawanya ke rumah kita dan kamu tidur dengannya, Zen." "Hanya sebuah kesalah pahaman, Mah." "Tidak ada kesalah pahaman dan jelas-jelas kamu … ka-kamu menidurinya. Kamu harus menikahi. Tanggung jawab kamu!" marah Naia, berkata tegas sambil menatap galak pada putranya, "kamu sudah mengecewakan Mama, jadi jangan lebih nengecewakan dengan tidak bertanggung jawab, Kaizen Xavier Adam!" tambahnya dengan nada bergetar dan air mata yang lolos dari pelupuk."Kenapa kita langsung ke sini?" Kaina mengerutkan kening, menatap Elzeren penuh tanda tanya dan cukup bingung. Mereka semua sudah pulang dari villa. Nakilla dan Aiden pulang ke kotanya, sedangkan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Kaina dan Elzeren, langsung pulang ke rumah pribadi milik Elzeren. Itu letak masalahnya bagi Kaina, karena dia kira dia dan Elzeren pulang ke rumah orang tua pria ini. Nakilla pernah cerita tentang tradisi di keluarga Smith. Nakilla bilang para pria Smith yang baru menikah wajib tinggal dengan orang tua mereka selama beberapa bulan, minimal tiga bulan. Nakilla bilang itu dilakukan supaya yang baru menikah bisa belajar berumah tangan dari orang tua. Namun, kenapa Elzeren tidak begitu? Maksudnya pria ini langsung membawanya pulang ke sini. Apa pria ini tak takut melawan tradisi keluarganya? "Ini rumah kita. Tentu kita pulang ke rumah kita, Janu," jawab Elzeren rendah, menggenggam tangan Kaina erat—menarik Kaina ke kamarnya. "
"Kita sedang tidak di kamar. I-ini tempat umum," bisik Kaina pelan, tetapi menatap Elzeren penuh peringatan. Wajah Elzeren semakin dekat padanya dan dia tahu pria ini berniat menciumnya. Namun, Kaina tak akan membiarkan. "Ada yang salah?" Elzeren menaikkan sebelah alis, berniat mencium Kaina akan tetapi perempuan itu dengan cepat memalingkan wajah. "Jangan menolak!" peringatnya kemudian, tangannya yang bebas langsung mencengkeram pipi Kaina agar perempuan ini menghadap padanya dan tak bisa memalingkan wajah. "Iyalah!" Kaina melotot lebar. "Di sini bukan hanya kita berdua. Keluargamu ad …- hmmff!" Ucapan Kaina langsung berhenti karena Elzeren berhasil menciumnya. Seluruh wajah Kaina langsung memerah, jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya sudah panas dingin. "Ekhem." "Ekhem." "Ekhem hem hemmm." Hingga tiba-tiba saja suara deheman terdengar dan saling bersahutan. Elzeren melepas ciumannya pada Kaina lalu menoleh ke arah sumber suara deheman tersebut. Tak jauh d
'Berhenti menciptakan jarak, itu hanya akan memperburuk hubungan kita, Kaina Ghazan Adam.'Kaina menatap pemandangan di depan dengan ekspresi wajah bengong. Sejak tadi, Kaina terus memikirkan ucapan Elzeren padanya saat tadi malam. Kalimat itu cukup menguras kewarasan Kaina, membingungkan tetapi seperti sebuah kepastian. Menurut teori kege'eran Kaina, ucapan Elzeren semalam berarti pria itu suka padanya oleh karena itu Elzeren tak ingin hubungan mereka jadi buruk. Namun, menurut teori pemikiran sesatnya, Elzeren mengatakan itu karena pria itu suaminya dan Elzeren hanya ingin kehidupan rumah tangganya tanpa masalah. 'Aku tanya Sera saja. Dia kan pakar hal romantis,' batin Kaina, segera mengeluarkan HP dan langsung mengirim pesan pada sahabatnya tersebut. [Berhenti menciptakan jarak, itu hanya memperburuk hubungan kita.' Kalimat itu artinya apa, Ra?]Setelah mengirim pesan itu, Kaina terus menatap layarnya, menunggu Sera membalas pesannya. Untungnya saat ini Sera sedang online, jadi
Itu ninbulin fitnah, tahu nggak?" kesal Freza. "Sudah sudah! Hanya salah paham biasa. Lupakan saja," relai Luisa. "Iya, Nek." Kaina menganggukkan kepala pelan, "aku juga udah ngaku salah paham sama nama ElFre. Soalnya ElFre, El-nya siapa tahu … EliHendra dan Fre-nya Freza. Tahu-tahunya bukan.""Nama pacarku Hendra Chandra, Kaina. Bukan EliHendra!" kesal Freza. "Ya, maaf. Namanya juga baru jumpa. Jadi … mana kutahu nama lengkap Kak Hendra siapa," jawab Kaina santai. Umpannya sudah dimakan, tinggal dia yang harus sigap mengangkat joran, "sumpah, Nek, tadi kupikir nama Kak Hendra ini EliHendra. Makanya kupikir ElFre itu singkatan dari EliHendra dan Freza. Eh, ternyata bukan. Soalnya nama Kak Hendra nggak ada unsur El-El-nya. Kirain ada kayak Kak Elze-- Oh!" Di akhir kalimat, Kaina melebarkan mata dan seketika menoleh ke arah suaminya. Mulut Kaina terbuka lebar, tetapi ia tutup dengan telapak tangan. Dia menatap suaminya seolah sedang menemukan hal menakjubkan. "ElFre-- Elzeren Freza
"Aku kayaknya salah sebut nama." Kaina berkata santai. "Ouh." Nakilla ber-oh-ria sambil menganggukkan kepala secara pelan.Di sisi lain, Freza tampak panik dan gugup setengah mati. Wajahnya pucat, ekspresinya gelisah. Sepertinya Kaina sengaja ingin menyerang dan mempermalukannya di sini. Dan Freza sama sekali tak menyangka perempuan ini bakalan berani seperti sekarang. Maksudnya, Kaina baru masuk ke keluarga ini, seharusnya dia menjaga image dan sikap agar tetap dicap menantu baik. "ElFre siapa?" tanya Elzeren, menatap dingin pada Kaina, "temanmu? Perempuan atau laki-laki?" "Bukan temanku, Kak," jawab Kaina pada Elzeren, "itu nama akun sosial media Kak Freza," tambahnya. "Oh." Elzeren seketika itu juga ber-oh-ria. Ah, dia kira itu nama laki-laki yang selalu melintas di pikiran istrinya, oleh karena itu Kaina bisa salah sebut. Ternyata hanya nama akun. "Iya, Elzeren. I-itu nama akun sosial mediaku yang baru kuganti." Freza berkata pelan, "aku minta mengikuti akun sosial media Kain
Salah satu dari mereka mengamati Kaina yang sedang memberikan bunga pada Aina, di mana bunga tersebut pada akhirnya diambil oleh Aiden—langsung dari tangan Kaina. "Kak Elzeren, Kak Freza dan Kak Hendra datang," ucap Sabela, menatap Elzeren lembut akan tetapi melirik sinis pada Kaina. Satu-satunya orang yang tak suka pada Kaina di keluarga ini, mungkin hanya dia. Namun, dia sama sekali tak peduli. Toh, orang-orang hanya tak melihat betapa angkuh dan liciknya Kaina. "Silahkan duduk," ucap Elzeren santai, mempersilahkan sahabatnya tersebut untuk duduk. Ah yah, pria yang datang bersama Freza tersebut tak lain adalah kekasih Freza yang akan bertunangan dengan Freza. "Selamat atas pernikahanmu. Kudoakan kalian bahagia dan selalu bersama selamanya." ucap Hendra sambil senyum hangat. Dia dan Elzeren memang berteman, akan tetapi hanya sebatas teman. "Terima kasih," ucap Elzeren sambil senyum tipis. "Oh yah, maaf karena kemarin aku dan Freza pulang cepat. Aku ada urusan di tempat kerjaku
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







