MasukSemoga suka dengan dua bab kita hari ini, MyRe. Sehat selalu buat kalian semua. Semangat! IG:@deasta18
"Pakai sekarang juga! Ini perintah suamimu, Sera Ghazalah Adam!" peringat Xavier. Sera mengerjap beberapa kali setelah itu berdiri dari pangkuan Xavier. Dia meraih lingeri tersebut lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mengenakan baju seksi tersebut. Tak lama Sera keluar dari kamar, berjalan kikuk dan mendekat pada Xavier yang sudah pindah ke pinggir ranjang. Sebenernya pria itu duduk menghadap Sera, akan tetapi Xavier terlihat menunduk dan fokus menatap surat laporan medis milik Sera. Xavier terus membaca laporan tersebut secara berulang kali, efek terlalu senang akan jadi daddy. "Ma-Mas," cicit Sera setelah berdiri tak jauh dari suaminya. Dia begitu malu karena dress yang ia kenakan ini sangat seksi. Belahan dadanya terlihat jelas. Dari belakang, punggungnya juga terekspos jelas. Dress ini juga sangat pendek, hanya bisa menutupi pangkal paha. Itupun masih ada guntingan di atas samping, membuat paha dan pinggangnya tampak. "Humm?" Xavier berdehem rendah lalu mendongak pada Ser
Bug'Xavier menabrak sangat kuat dinding di sebelah pintu kamar. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tak menunjukan rasa sakit. Malah, senyuman pria dingin yang terkenal arogant itu terus mengembang. Tanpa peduli pada keadaannya, Xavier meraba-raba pintu lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Demi Tuhan! Rasa senang yang menyelimutinya saat ini sangat kuat biasa, hingga rasanya dia seperti orang linglung yang buta. Dalam kepalanya hanya ada wajah istrinya yang sedang senyum lebar padanya. Lalu di matanya, terpampang jelas sebuah taman bunga indah yang luas. Euphoria yang dia rasakan terlalu kuat, hingga rasanya dia seperti berada di alam lain. Xavier Ghazan Adam akan menjadi seorang daddy, suatu saat anak kecil akan memanggilnya daddy. Hal yang membahagiakannya, anak itu terlahir dari perempuan yang sangat ia inginkan sejak …-Bug' Ketika Xavier akan masuk ke kamar, tiba-tiba saja dia terantuk oleh kakinya sendiri. Dia berakhir jatuh dalam posisi bertekuk lutut di lantai. Alih-alih
"Ini sudah menjadi milikku! Lepaskan tangan kalian berdua dari hadiahku!" geram Xavier, menatap tajam pada Sera dan Kaina. "Enggak mau! Jangan buka hadiahku. Aku batal ngasihnya ke Mas Xavier," pekik Sera. "Kakak! Dengarkan Kai! Di dalam kotak itu, ada tiga hadiah. Salah satu hadiahnya nggak boleh dipamerin. Dosa!" horor Kaina. Xavier menaikkan kedua alis, cukup kaget karena ternyata ada tiga hadiah di dalam kotak ini. Ah, dia semakin penasaran. "Oh yah?" Xavier menarik kuat kotak tersebut sehingga lepas dari tangan istrinya dan Sera. "Aiden, tahan kedua alien ini," titah Xavier kemudian supaya Aiden menahan istri dan adiknya. Agar dia bisa membuka hadiah dengan tenang. "Ba-baik, Tuan," ucap Aiden cukup gugup, akan tetapi tetap patuh. "Oke-oke, hadiahnya boleh dibuka. Ta-tapi … di dalam situ ada tiga kotak hadiah. Ya-yang kotaknya warna merah jangan dibuka. Pliss!" pinta Sera, menyatukan tangan di depan wajah sambil menatap memohon pada suaminya supaya nanti tak memb
"Menurutku ini tidak perlu dilakukan, X," ucap Xyron dengan nada serius, "apapun yang Sera berikan padamu, jelas itu yang paling spesial untukmu. Jadi kita tak harus membanding-bandingkan begini." "Iya, Kak. Ngapain ngebanding-bandingin hadiah satu dengan hadiah dua." Kaina ikut memperkuat ucapan Xyron. Bagi Kaina, membandingkan hadiah yang satu dengan yang lainnya, itu terlalu norak dan mengurangi nilai ketulusan di dalamnya. Jadi dia sangat tidak setuju dengan usulan Gavin dan Gabby. "Kaina, kau tidak paham …-" Gavin ingin menyangkal. Akan tetapi Kaina yang terkenal keras kepala dan pemberontak, langsung memotong ucapannya. "Apa yang tidak aku pahami? Niatan pamer Kak Gabby?" potong Kaina dengan nada tegas. "Aku tahu kamu hanya ingin melindungi Sera, Kaina. Kamu takut kan kalau hadiah dari Sera tidak istimewa dan kurang memberikan kesan, iya kan?" Gabby berkata santai, senyum penuh percaya diri pada Kaina. "Tidak sama sekali. Aku tidak setuju dengan ide kalian karena memban
"Ada dua jenis mie, kuah dan goreng. Kau mau yang mana, Kai?" tanya Elzeren setelah mengambil dua bungkus mie lalu ia tunjukkan pada Kaina. Dia menjauh sedikit dari Kaina, memberikan ruang pada adil sepupunya yang mendadak membantu. Sedangkan Kaina, dia mendongak pada Elzeren. Tatapannya campur aduk, antara bingung dan malu. Jelas-jelas pria ini mencium keningnya, akan tetapi kenapa respon Elzeren biasa saja? Kaina tahu tadi itu ketidak sengajaan. Namun, haruskan respon Elzeren sebisa ini? Seolah kejadian tadi tak pernah terjadi. "Mie goreng atau kuah?" tanya Elzeren kembali, menaikkan sebelah alis sambil mengamati Kaina yang tampak mematung. "Kuah," gumam Kaina pada akhirnya, meraih bungkus mie kuah lalu segera menjauh dari Elzeren. Gila! Tadi Elzeren mencium keningnya, tubuh Kaina lemas seketika. Jantungnya bahkan hampir berhenti berdetak. Namun, bisa-bisanya Elzeren tetap biasa. Apa artinya? 'Dia nggak punya perasaan padamu, Kai. Dia waras, memandangmu sebagai saudara pere
Dia memutar tubuh ke arah samping, membuatnya berakhir jatuh ke tanah dengan posisi tangan menyilang di dada dan tengkurap. Elzeren diam sejenak sambil menatap tangannya yang kosong. Setelah itu, dia menatap ke arah Kaina. Hell! Sepertinya sepupunya ini benar-benar menghindarinya. Elzeren mengulurkan tangan untuk membantu Kaina yang sudah duduk di atas pasir agar berdiri. "Aku bisa sendiri, Kak," tolak Kaina, menepuk pelan tangan Elzeren lalu bangkit secara mandiri. Agar kakaknya tak curiga apapun, Kaina menoleh ke arah Xavier. Dia menjulurkan lidah pada Xavier lalu setelah itu kembali lari—kabur ke villa. "Kaina!" panggil Xavier dengan nada menbentak. Anak kecil itu benar-benar memancing kesabarannya. *** "Hah." Kaina menghela napas lega. Tadi itu, sangat menegangkan. Andai saja tadi Elzeren berhasil menangkap tubuhnya, pasti wajahnya akan merah seperti tomat busuk, jantungnya akan berdebar kencang, dan tubuhnya akan tegang. Dengan kondisi seperti itu, pasti Elzeren ak
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna







