FAZER LOGINSemoga suka dengan dua bab kita hari ini, MyRe. Sehat selalu buat kalian semua. Semangat! IG:@deasta18
"Ma-Mas Xavier," gumam Sera lagi. Nadanya terbata-bata karena gugup dan was-was. Ekspresi wajah suaminya terlihat tak bersahabat, tatapan Xavier padanya juga terasa menusuk dan membunuh. Sera berdiri lalu senyum kaku pada suaminya. "Hai, Mas," sapa Sera sambil mengangkat tangan, melambikan tangan secara pelan—dengan gerakan kecil pada suaminya. "Apa yang kau lakukan di sini?" dingin Xavier, berjalan maju ke arah istrinya. Sera meneguk saliva secara kasar, bergerak mundur karena panik saat Xavier mendekatinya. Namun, tangannya tiba-tiba dicekal cukup kuat oleh Xavier. Pria itu menyentak pergelangan tangannya sehingga Sera berakhir menabrak dada bidang suaminya. "Jawab!" dingin Xavier. "Main," jawab Sera sambil menunjukkan cengiran pada Xavier. "Ra, kamu …- Huaa … Kak Xavier!" teriak Kaina tiba-tiba, shock dan kaget saat mendongak ke arah Sera ternyata kakaknya sudah ada di sana. "Kemari!" dingin Xavier pada Kaina. Kaina segera berdiri lalu menghampiri kakaknya. "Kau yang menga
"Ke-kenapa semua orang malah menjauhiku? A-aku … tidak ada yang mau menemaniku?" gumam Gabby pelan, menunjukan ekspresi murung dan sedih. "Akhir-akhir ini mereka semua sangat sibuk, pekerjaan mereka padat. Mungkin karena itu, mereka semua memutuskan untuk tidur karena sebelum liburan ini mereka semua kurang tidur. Kau tahu kan, mereka penggila kerja. Bahkan Elzeren yang masih muda," ujar Gavin, mengedikkan pundak—sama sekali tak mempermasalahkan teman-temannya yang pergi dan memilih tidur dibandingkan menemani Gabby jalan-jalan. "Lagipula masih ada aku. Ayo," lanjutnya. "Tapi … cuma kita berdua?" Gabby mengerutkan kening, menatap tak yakin pada Gavin."Kenapa tidak?" Gavin berujar santai. "Kamu nggak takut Nakilla cemburu?" Gabby menunjukkan ekspresi khawatir, seolah dia adalah orang yang paling peduli pada hubungan antara Gavin dan Nakilla."Tidak." Gavin menggelengkan kepala secara santai, "Nakilla perempuan pengertian. Dia tak akan cemburu dengan mudah. Toh, dia tahu kalau kau i
"Yah, aku setuju!" ucap Kaina sambil merangkul bangga pada Sera, "idemu memang brilian, Sahabatku," puji Kaina, memonyongkan bibir dan berniat mencium pipi Sera. Namun, dia tidak benar-benar berniat. Dia hanya mengoda Sera. "Iii." Sera langsung menjauhkan kepalanya supaya Kaina tidak bisa mencium pipinya. Dia menampilkan ekspresi wajah jijik, menatap muram campur berang pada sang sahabat. "Ajaran sesat sebenarnya. Tapi … sepertinya lumayan untuk dijalankan," ucap Ruby dengan nada rendah, mengamati dan menatap Sera dengan ekspresi wajah ragu. Masalahnya, Ruby dan Xyron saja tak akrab. Semisal Ruby mengikuti ajaran sesat Sera ini—memusuhi Xyron dengan cara mendiaminya, memangnya akan ada efeknya? Namun, ajaran sesat ini memang patut Ruby coba. Setidaknya Ruby tak harus berbicara dengan Xyron untuk beberapa hari ini. "Umm … aku akan coba ide kamu, Ra," ucap Calissya dengan nada canggung. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan Sera. Sekalipun mereka sering duduk bersama dan ku
"Pakai sekarang juga! Ini perintah suamimu, Sera Ghazalah Adam!" peringat Xavier. Sera mengerjap beberapa kali setelah itu berdiri dari pangkuan Xavier. Dia meraih lingeri tersebut lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mengenakan baju seksi tersebut. Tak lama Sera keluar dari kamar, berjalan kikuk dan mendekat pada Xavier yang sudah pindah ke pinggir ranjang. Sebenernya pria itu duduk menghadap Sera, akan tetapi Xavier terlihat menunduk dan fokus menatap surat laporan medis milik Sera. Xavier terus membaca laporan tersebut secara berulang kali, efek terlalu senang akan jadi daddy. "Ma-Mas," cicit Sera setelah berdiri tak jauh dari suaminya. Dia begitu malu karena dress yang ia kenakan ini sangat seksi. Belahan dadanya terlihat jelas. Dari belakang, punggungnya juga terekspos jelas. Dress ini juga sangat pendek, hanya bisa menutupi pangkal paha. Itupun masih ada guntingan di atas samping, membuat paha dan pinggangnya tampak. "Humm?" Xavier berdehem rendah lalu mendongak
Bug'Xavier menabrak sangat kuat dinding di sebelah pintu kamar. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tak menunjukan rasa sakit. Malah, senyuman pria dingin yang terkenal arogant itu terus mengembang. Tanpa peduli pada keadaannya, Xavier meraba-raba pintu lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Demi Tuhan! Rasa senang yang menyelimutinya saat ini sangat kuat biasa, hingga rasanya dia seperti orang linglung yang buta. Dalam kepalanya hanya ada wajah istrinya yang sedang senyum lebar padanya. Lalu di matanya, terpampang jelas sebuah taman bunga indah yang luas. Euphoria yang dia rasakan terlalu kuat, hingga rasanya dia seperti berada di alam lain. Xavier Ghazan Adam akan menjadi seorang daddy, suatu saat anak kecil akan memanggilnya daddy. Hal yang membahagiakannya, anak itu terlahir dari perempuan yang sangat ia inginkan sejak …-Bug' Ketika Xavier akan masuk ke kamar, tiba-tiba saja dia terantuk oleh kakinya sendiri. Dia berakhir jatuh dalam posisi bertekuk lutut di lantai. Alih-alih
"Ini sudah menjadi milikku! Lepaskan tangan kalian berdua dari hadiahku!" geram Xavier, menatap tajam pada Sera dan Kaina. "Enggak mau! Jangan buka hadiahku. Aku batal ngasihnya ke Mas Xavier," pekik Sera. "Kakak! Dengarkan Kai! Di dalam kotak itu, ada tiga hadiah. Salah satu hadiahnya nggak boleh dipamerin. Dosa!" horor Kaina. Xavier menaikkan kedua alis, cukup kaget karena ternyata ada tiga hadiah di dalam kotak ini. Ah, dia semakin penasaran. "Oh yah?" Xavier menarik kuat kotak tersebut sehingga lepas dari tangan istrinya dan Sera. "Aiden, tahan kedua alien ini," titah Xavier kemudian supaya Aiden menahan istri dan adiknya. Agar dia bisa membuka hadiah dengan tenang. "Ba-baik, Tuan," ucap Aiden cukup gugup, akan tetapi tetap patuh. "Oke-oke, hadiahnya boleh dibuka. Ta-tapi … di dalam situ ada tiga kotak hadiah. Ya-yang kotaknya warna merah jangan dibuka. Pliss!" pinta Sera, menyatukan tangan di depan wajah sambil menatap memohon pada suaminya supaya nanti tak memb
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m







