LOGIN"Kenapa kita langsung ke sini?" Kaina mengerutkan kening, menatap Elzeren penuh tanda tanya dan cukup bingung. Mereka semua sudah pulang dari villa. Nakilla dan Aiden pulang ke kotanya, sedangkan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Kaina dan Elzeren, langsung pulang ke rumah pribadi milik Elzeren. Itu letak masalahnya bagi Kaina, karena dia kira dia dan Elzeren pulang ke rumah orang tua pria ini. Nakilla pernah cerita tentang tradisi di keluarga Smith. Nakilla bilang para pria Smith yang baru menikah wajib tinggal dengan orang tua mereka selama beberapa bulan, minimal tiga bulan. Nakilla bilang itu dilakukan supaya yang baru menikah bisa belajar berumah tangan dari orang tua. Namun, kenapa Elzeren tidak begitu? Maksudnya pria ini langsung membawanya pulang ke sini. Apa pria ini tak takut melawan tradisi keluarganya? "Ini rumah kita. Tentu kita pulang ke rumah kita, Janu," jawab Elzeren rendah, menggenggam tangan Kaina erat—menarik Kaina ke kamarnya. "
"Kita sedang tidak di kamar. I-ini tempat umum," bisik Kaina pelan, tetapi menatap Elzeren penuh peringatan. Wajah Elzeren semakin dekat padanya dan dia tahu pria ini berniat menciumnya. Namun, Kaina tak akan membiarkan. "Ada yang salah?" Elzeren menaikkan sebelah alis, berniat mencium Kaina akan tetapi perempuan itu dengan cepat memalingkan wajah. "Jangan menolak!" peringatnya kemudian, tangannya yang bebas langsung mencengkeram pipi Kaina agar perempuan ini menghadap padanya dan tak bisa memalingkan wajah. "Iyalah!" Kaina melotot lebar. "Di sini bukan hanya kita berdua. Keluargamu ad …- hmmff!" Ucapan Kaina langsung berhenti karena Elzeren berhasil menciumnya. Seluruh wajah Kaina langsung memerah, jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya sudah panas dingin. "Ekhem." "Ekhem." "Ekhem hem hemmm." Hingga tiba-tiba saja suara deheman terdengar dan saling bersahutan. Elzeren melepas ciumannya pada Kaina lalu menoleh ke arah sumber suara deheman tersebut. Tak jauh d
'Berhenti menciptakan jarak, itu hanya akan memperburuk hubungan kita, Kaina Ghazan Adam.'Kaina menatap pemandangan di depan dengan ekspresi wajah bengong. Sejak tadi, Kaina terus memikirkan ucapan Elzeren padanya saat tadi malam. Kalimat itu cukup menguras kewarasan Kaina, membingungkan tetapi seperti sebuah kepastian. Menurut teori kege'eran Kaina, ucapan Elzeren semalam berarti pria itu suka padanya oleh karena itu Elzeren tak ingin hubungan mereka jadi buruk. Namun, menurut teori pemikiran sesatnya, Elzeren mengatakan itu karena pria itu suaminya dan Elzeren hanya ingin kehidupan rumah tangganya tanpa masalah. 'Aku tanya Sera saja. Dia kan pakar hal romantis,' batin Kaina, segera mengeluarkan HP dan langsung mengirim pesan pada sahabatnya tersebut. [Berhenti menciptakan jarak, itu hanya memperburuk hubungan kita.' Kalimat itu artinya apa, Ra?]Setelah mengirim pesan itu, Kaina terus menatap layarnya, menunggu Sera membalas pesannya. Untungnya saat ini Sera sedang online, jadi
Itu ninbulin fitnah, tahu nggak?" kesal Freza. "Sudah sudah! Hanya salah paham biasa. Lupakan saja," relai Luisa. "Iya, Nek." Kaina menganggukkan kepala pelan, "aku juga udah ngaku salah paham sama nama ElFre. Soalnya ElFre, El-nya siapa tahu … EliHendra dan Fre-nya Freza. Tahu-tahunya bukan.""Nama pacarku Hendra Chandra, Kaina. Bukan EliHendra!" kesal Freza. "Ya, maaf. Namanya juga baru jumpa. Jadi … mana kutahu nama lengkap Kak Hendra siapa," jawab Kaina santai. Umpannya sudah dimakan, tinggal dia yang harus sigap mengangkat joran, "sumpah, Nek, tadi kupikir nama Kak Hendra ini EliHendra. Makanya kupikir ElFre itu singkatan dari EliHendra dan Freza. Eh, ternyata bukan. Soalnya nama Kak Hendra nggak ada unsur El-El-nya. Kirain ada kayak Kak Elze-- Oh!" Di akhir kalimat, Kaina melebarkan mata dan seketika menoleh ke arah suaminya. Mulut Kaina terbuka lebar, tetapi ia tutup dengan telapak tangan. Dia menatap suaminya seolah sedang menemukan hal menakjubkan. "ElFre-- Elzeren Freza
"Aku kayaknya salah sebut nama." Kaina berkata santai. "Ouh." Nakilla ber-oh-ria sambil menganggukkan kepala secara pelan.Di sisi lain, Freza tampak panik dan gugup setengah mati. Wajahnya pucat, ekspresinya gelisah. Sepertinya Kaina sengaja ingin menyerang dan mempermalukannya di sini. Dan Freza sama sekali tak menyangka perempuan ini bakalan berani seperti sekarang. Maksudnya, Kaina baru masuk ke keluarga ini, seharusnya dia menjaga image dan sikap agar tetap dicap menantu baik. "ElFre siapa?" tanya Elzeren, menatap dingin pada Kaina, "temanmu? Perempuan atau laki-laki?" "Bukan temanku, Kak," jawab Kaina pada Elzeren, "itu nama akun sosial media Kak Freza," tambahnya. "Oh." Elzeren seketika itu juga ber-oh-ria. Ah, dia kira itu nama laki-laki yang selalu melintas di pikiran istrinya, oleh karena itu Kaina bisa salah sebut. Ternyata hanya nama akun. "Iya, Elzeren. I-itu nama akun sosial mediaku yang baru kuganti." Freza berkata pelan, "aku minta mengikuti akun sosial media Kain
Salah satu dari mereka mengamati Kaina yang sedang memberikan bunga pada Aina, di mana bunga tersebut pada akhirnya diambil oleh Aiden—langsung dari tangan Kaina. "Kak Elzeren, Kak Freza dan Kak Hendra datang," ucap Sabela, menatap Elzeren lembut akan tetapi melirik sinis pada Kaina. Satu-satunya orang yang tak suka pada Kaina di keluarga ini, mungkin hanya dia. Namun, dia sama sekali tak peduli. Toh, orang-orang hanya tak melihat betapa angkuh dan liciknya Kaina. "Silahkan duduk," ucap Elzeren santai, mempersilahkan sahabatnya tersebut untuk duduk. Ah yah, pria yang datang bersama Freza tersebut tak lain adalah kekasih Freza yang akan bertunangan dengan Freza. "Selamat atas pernikahanmu. Kudoakan kalian bahagia dan selalu bersama selamanya." ucap Hendra sambil senyum hangat. Dia dan Elzeren memang berteman, akan tetapi hanya sebatas teman. "Terima kasih," ucap Elzeren sambil senyum tipis. "Oh yah, maaf karena kemarin aku dan Freza pulang cepat. Aku ada urusan di tempat kerjaku
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







