Mag-log inKaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun.
"Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat ada apa di sana. Ketika pintu dibuka, Kaizen langsung melihat seorang perempuan yang mengenakan dress yang tersingkap hingga bagian paha atas, sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya. Perempuan itu berbaring di bawah, meringkuk tetapi terus bergerak–meliukkan tubuh sambil mengeluarkan suara pelan yang mirip rengekan dan desahan. "Kau siapa?" Kaizen membuka suara, menatap dingin ke arah perempuan itu. Dia tidak bisa melihat wajah dari perempuan ini karena rambut perempuan tersebut menutupi wajah. Sedangkan Aluna, saat mendengar suara Kaizen, jantungnya kembali berdebar tak karuan. Tubuhnya yang panas tiba-tiba terasa seperti tersengat listrik. Perasaan yang melandanya semakin gila, dia semakin ingin. Namun, tidak! Aluna perempuan baik-baik. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu dengan pria yang bukan suaminya! Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, Aluna mendongak dan menatap ke arah pria itu. Tatapannya sayu, berat, dan gelisah. Wajahnya yang tampak polos menunjukkan ekspresi memohon. Kaizen menaikkan sebelah alis saat perempuan itu mendongak padanya. Namun, dia hanya diam, mengamati dan terus menatap perempuan tersebut. "To-tolong aku, O-om," cicit Aluna, mata berair dan panas. Dia ingin menangis. "Kau-- siapa?" ulang Kaizen. Dia berdiri dan terus menatap perempuan yang kini sudah mengambil posisi duduk–masih di bawah tetapi di dekat pintu. Aluna mengigit bibir atas, memejamkan mata dan kembali meringkuk. Suara pria ini membuatnya semakin tersiksa. Dia semakin sulit mengendalikan perasaan aneh yang menjajah tubuhnya. "Keluar dari mobilku," titah Kaizen, akan tetapi perempuan itu malah menutup telinga–seolah menunjukkan sisi perlawanan dan bantahan. Kaizen mengatupkan ragang, mengepalkan tangan, dan menampilkan ekspresi kesal. Dia tidak suka dibantah! Kaizen mendekati perempuan itu, menariknya agar keluar dari mobil. Namun, perempuan itu malah memeluknya. Hal mengejutkannya, perempuan itu mencium bibirnya secara tergesa-gesa. Kemarahan Kaizen semakin bertambah, langsung mendorong kasar perempuan itu sehingga berakhir jatuh ke tempat semula. "Sialan!" maki Kaizen, menatap nyalang dan penuh kemarahan pada Aluna. Sedangkan Aluna, dia bangun dan kembali mendekati Kaizen. "To-tolong aku, Om. Ba-badanku sangat panas …," ucap Aluna dengan nada merengek dan lemah. Terdengar menyedihkan tetapi juga memancing. Kaizen seketika itu juga tahu kalau ada yang tak beres dengan perempuan tersebut. Dia menghela napas lalu segera melepas jas, memakaikannya ke tubuh Aluna. Setelah itu, dia menggendong Aluna secara bridal style dan membawa perempuan itu masuk ke dalam rumah. Awalnya Kaizen berniat meminta maid untuk mengurus perempuan ini. Akan tetapi ini sudah tengah malam, para maid sudah beristirahat. Pada akhirnya dia membawa Aluna ke kamarnya, berniat memandikan perempuan itu. Namun, selama perjalanan menuju kamar, Aluna terus menciumnya. Entah itu pipi, bibir, ataupun lehernya. Kaizen awalnya menghindar, akan tetapi karena dia sedang menggendong Aluna dan cukup sulit baginya menghindari pergerakan Aluna, pada akhrinya dia membiarkan. Ketika sudah di kamar, Kaizen langsung membawa Aluna ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan membasahi tubuh Aluna dengan air dingin. Namun, sepertinya air dingin ini tidak memberikan efek apapun. Aluna terus menggerayangi tubuhnya dan berusaha menciumnya. "Berhenti bergerak dan diamlah!" dingin Kaizen karena Aluna tak bisa diam–terus bergerak. Alih-alih menuruti ucapan Kaizen, Aluna malah melepas jas yang Kaizen sempat pakaikan ke pundaknya. Dia juga mencoba melepas dress-nya–kesadarannya sudah tidak tersisa dan yang dia inginkan adalah sentuhan pria ini. "Shit." Kaizen mengumpat pelan, memijat pelipis dan menjauhkan tatapan dari Aluna. Perempuan ini benar-benar tidak bisa diam, kini sudah melepas seluruh pakaiannya. "Aku pengen Om," gumam Aluna pelan, memeluk tubuh Kaizen secara erat–merasakan desiran hebat di tubuhnya, membuatnya semakin ingin. Kaizen mengepalkan tangan, mencoba menenangkan diri. Sialnya! Dia mulai terpancing oleh perempuan ini. Dia sudah basah karena memandikan perempuan ini tetapi dia malah kepanasan bukan kedinginan. Dia mencoba meredam efek obat yang mempengaruhi perempuan ini. Namun, efek dari obat itu seolah tertular padanya. Terlebih Aluna tidak henti menggerayangi tubuhnya. "Om, aku mau disentuh oleh Om," pinta Aluna yang sudah kehilangan kesadaran, meraba-raba dada bidang Kaizen sambil mendusel di sana–menghirup aroma wangi maskulin yang membuatnya semakin ingin dibelai oleh Kaizen. Aluna berjinjit agar bisa mencium bibir Kaizen yang jauh lebih tinggi darinya. Hal tersebut bersamaan dengan Kaizen yang menunduk, membuat Aluna berhasil menempelkan bibirnya di atas bibir Kaizen. Kaizen hanya diam saat dicium secara liar dan tak sabaran oleh Aluna. Diam-diam dia mengamati Aluna dan mempertimbangkan sesuatu. Sepertinya obat yang perempuan ini konsumsi cukup tinggi, oleh sebab itu air dingin tidak bisa menekan efeknya. Jika dibiarkan, perempuan ini bisa dalam bahaya. Pada akhirnya setelah mempertimbangkan, Kaizen membalas ciuman Aluna. Dia menggendong perempuan itu lalu membawanya keluar. Kaizen berjalan ke arah ranjang–menggendong Aluna yang terus menciumnya. Kaizen melepas ciuman itu, membaringkan Aluna di atas ranjang. Sejenak, Kaizen diam, mengamati tubuh indah Aluna yang sudah polos–tanpa sehelai benangpun. Sedangkan Aluna, dia terus menggeliat seksi, menatap penuh harap pada Kaizen. "Jangan salahkan aku setelah ini," gumam Kaizen, melepas kemeja lalu segera mengambil posisi di atas tubuh Aluna. Sedangkan Aluna, dia langsung menyambar bibir Kaizen, mencium pria itu dengan penuh napsu dan gairah. Kaizen membalas, melumat bibir Aluna dengan panas. Tangannya tak tinggal diam, meraba tubuh Aluna secara sensual. Bibir perempuan ini terasa kenyal dan manis. Kulit tubuhnya halus dan lembut. Terawat! Permainan tersebut semakin panas. Berkat obat perangsang itu, Aluna memperlihatkan sisi liarnya–haus sentuhan dan begitu agresif. Sebelum melakukan penyatuan, Kaizen menatap Aluna dengan sorot tajam yang terasa menembus hingga jantung. "Setelah ini, kau tidak akan kulepas, Aluna Rasya Adam," ucapnya dingin, menampilkan ekspresi flat yang misterius. ✿✿✿ "Ini sudah jam sembilan, kenapa Zen belum turun?" ucap seorang pria paruh baya pada istrinya. Pria itu duduk di sofa, menoleh pada jam di pergelangan tangan lalu segera menatap bingung pada istrinya. Tadi malam dia dan istrinya menginap di kediaman sang pemimpin keluarga Azam. Akan tetapi pagi sekali dia dan istrinya memutuskan untuk pulang karena ada urusan. Dia dan istrinya tiba setengah delapan, di mana maid mengatakan kalau putranya belum keluar kamar untuk sarapan. Dia memilih memaklumi karena mungkin putranya kelelahan. Toh, ini juga hari minggu. Namun, ini sudah jam 9 lebih akan tetapi putranya belum keluar kamar. Tidak biasa! Kaizen Xavier Adam, putranya adalah sosok yang selalu disiplin dan suka bangun pagi. Memang! Akhir-akhir ini, Kaizen suka bangun jam 8 di hari minggu karena pekerjaan putranya tersebut sedang padat dan sering membuat Kaizen bekerja tanpa mengenal waktu. Mungkin itu yang membuat Kaizen kelepasan di saat minggu. Namun, selepas-lepasnya Kaizen, pasti hanya sampai jam delapan. Ini sudah jam sembilan lebih lima belas menit. Tumben! "Aku akan periksa ke kamarnya, Mas," ucap Naia, ibu dari Kaizen Xavier Adam. "Humm." Kaze, ayah Kaizen, berdehem sebagai jawaban. Naia segera beranjak dari sana untuk memeriksa putranya yang masih belum turun. Takutnya terjadi sesuatu pada Kaizen, oleh sebab itu dia harus memeriksa. Tiba di kamar, Naia tak mengetuk pintu. Dia langsung membuka karena kebetulan pintu kamar putranya tak dikunci. "Zen Sayang, kamu masih tidur yah?" seru Naia sambil menatap ke arah ranjang, mengamati putranya yang masih terlihat tidur. Kaizen terlihat berbaring dengan posisi membelakangi pintu, menyamping dan sepertinya sedang memeluk sesuatu. Mungkin guling.' pikir Naia, terlalu positif thinking padahal tak ada guling di kamar putranya. "Kaizen, bangun, Sayang," ucap Naia dengan nada lembut, mendekat ke arah putranya yang masih pulas. Namun, langkah Naia langsung berhenti. Matanya melebar dan tubuhnya membatu ketika melihat seorang perempuan tiba-tiba muncul di atas ranjang putranya. Perempuan itu terlihat baru bangun, di mana sebelumnya tidur dalam pelukan Kaizen. Perempuan itu menguap kecil, menggaruk kepala lalu menoleh ke sana kemari–kebingungan. Mata perempuan itu melotot saat melihat ke arah Kaizen yang masih tertidur, lalu ekspresinya berubah panik. Perempuan itu terlihat mengucek mata, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Lagi-lagi dia menatap ke seluruh penjuru kamar lalu matanya langsung terpaku pada sosok Naia yang juga sudah membeku di tempat. Jantung Naia berdebar kencang, menatap lekat pada perempuan itu. Ketika melihat ke arah leher perempuan itu, rasanya jantung Naia akan meledak dalam sana. Apalagi saat melihat kemeja yang perempuan itu kenakan, di mana kejema itu adalah kemeja yang putranya kenakan tadi malam.Hot lagi. Tapi … yang di foto tadi, wajahnya terlalu AI. Itu pasti Kaina sendiri yang dia edit dalam versi laki-laki. Percaya deh." Lana meyakinkan. Rangga diam, berusaha untuk berpikir jernih. Setelah beberapa menit, akhirnya dia bersuara. "Kau yakin foto di postingan Kaina itu bukan Kakak Kaina?" "Jelas dong." Lana berkata tegas, "kamu tahu kan saat ini aku dekat dengan keluarga Adam. Aku bekerja di perusahaan Des'Art, milik keluarga Adam. CEO dari perusahaan itu Kakak Kaina dan lagi dekat denganku. Kamu tahu itu kan?" "Ah, aku hampir lupa kalau kau sedang dekat dengan CEO dari Des' Art," gumam Rangga dengan nada pelan sambil menyunggingkan smirk tipis. Jika memang benar Kaina menyimpang dan Sera belum menikah, bukankah dia punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Sera? Kasus Kaina ini bisa ia jadikan senjata! *** Ceklek' Sera memasuki kamar dengan langkah riang. Senyumannya lebar karena senang bisa berbicara lugas di hadapan Rangga. Sudah dua tahun berlalu sejak kej
"Ma-maksudmu?" Rangga menatap campur aduk pada Sera. "Sajak awal, kamu dan Lana menjadikanku mainan. Layaknya layangan. Kalian mempertaruhkanku pada tiupan angin. Lalu ketika aku diputus oleh angin, kenapa kamu repot mengejar? Itu kan tujuan permainannya. Dan ketika aku ditiup oleh angin dan sampai pada pemilik yang sebenarnya, kenapa kamu yang masih mengejar menyebutnya sebuah keterlambatan? Itu namanya mengejar kesia-siaan bukan terlambat," ucap Sera panjang lebar, dia berdiri dan berniat pergi. Begitupun dengan Kaina. Namun, Lana dan Rangga menghadang. "Tunggu dulu, Ra." Rangga menghadang Sera dan Kaina, "kamu salah paham. Waktu itu, aku tidak menjadikanmu sebagai permainan. A-aku hanya sedang menguji perasaanku. Aku salah dan aku meminta maaf!" Sera mengedikkan pundak, acuh tak acuh pada Rangga. Awalnya Sera kira dia tak bisa menghadapi pria ini—ada ketakutan karena pria ini pernah mematahkan hatinya. Namun, ternyata dia bisa. Malah dia bisa bersikap santai! "Dalam uji co
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Kaina sinis, menatap pria tersebut dengan ekspresi marah. "Apa sih, Kaina? Ini kan sofa Hotel, bukan punya kamu. Ya, terserah Rangga dong kalau mau duduk di situ," ucap seorang perempuan, tak lain adalah Lana. Yah, yang duduk di sebelah Sera tersebut adalah Rangga dan perempuan yang berbicara tadi adalah Lana. Sera menatap Rangga sekilas, setelah itu dia memalingkan wajah dengan ekspresi yang gugup. Jujur saja, jantungnya berdebar kencang saat bertemu kembali dengan Rangga. Tubuhnya terasa membeku beberapa detik dan hatinya terasa tak nyaman. Kaina tak menjawab ucapan Lana, dia memilih mengamati Sera yang terlihat gugup. 'Apa Sera masih suka dan menaruh perasaan pada Rangga?' batin Kaina, cukup cemas kalau Sera masih suka pada Rangga. 'Ck, ini salahku! Ini kebodohanku. Seharusnya aku tak mengajak Sera ke acara ini. Aku lupa kalau Rangga itu seangkatan dengan kami.' batin Kaina lagi, mendadak diam untuk terus mengamati Sera yang masih gugu
"Mommy tidak mungkin seperti itu." Aluna melebarkan mata, menatap horor dan penuh protes pada putrinya. "Tapi Daddy memang kelihatan kayak dipelet, ketempelan ke Mommy," ujar Kaina hati-hati sambil menggaruk tengkuk, menatap was-was pada mommynya. "Nah, itu! Mommy tak pelet saja, Daddymu sudah ketempelan. Apalagi kalau Mommy pelet, mungkin saat ini Mommy sudah dikasih resin sama Daddy habis itu dipajang di kamarnya," galak Aluna, bersedekap di dada sambil menatap cemberut pada putrinya. Dalam hati dia sangat kesal pada suaminya. Hei, bisa-bisanya pria kulkas itu berbohong dan bilang kalau Aluna memeletnya. Sepertinya suaminya itu sudah tidak waras. Ah, bukan sudah tidak waras karena Kaizen memang tak pernah waras kan? Mungkin dosis gilanya yang bertambah. "Kai juga nggak percaya kalau Mommy melet Daddy. Secara … sekalipun Kai mengakui Daddy tampan, tapi ngapain Mommy melet pria dingin yang kosa katanya saja hum hem doang. Kayak jurang kerjaan saja." Kaina bergumam pelan, "cuman …
"Tapi Mommy dan Daddy nikahnya memang karena itu yah, Mom? Karena Mommy dan Daddy begituan?" ucap Kaina tiba-tiba. Uhuk' uhuk' Aluna langsung terbatuk-batuk, padahal dia sudah selesai minum! Gara-gara batuk, Aluna kembali minum. Setelah itu, dia menatap gugup dan cukup malu pada putrinya. Seharusnya Aluna tak menceritakan ini. Namun … sepertinya harus karna seseorang yang menginginkan keluarga ini hancur, bisa saja mengatakan hal yang buruk pada putrinya. "Bu-bukan, Sayang. Iya … ta-tapi bukan juga," jawab Aluna gugup. "Bukan apa iya, Mom?" Kaina mengerutkan kening, "dan … sebenarnya hubungan mantan pengasuh Sera sama Mommy apa sih? Aku jadi bertanya-tanya dan … bingung sendiri," tambahnya dengan pertanyaan lainnya. "Vanessa orang jahat kah, Mom, dulunya?" Sera ikut bertanya. Dia juga penasaran apa hubungan antara mertua dan Vanessa sang mantan pengasuh yang diangkat jadi istri oleh ayahnya. "Oke, Mommy cerita. Tapi jangan bagi tahu ke siapa-siapa yah? Ini rahasia!" peringa
"Achk." Vanessa meringis sakit saat tubuhnya jatuh setelah didorong oleh perempuan yang datang tersebut. "Kurang ajar sekali kamu, Aluna!" pekik Vanessa. Aluna mengabaikan Vanessa, memilih menghampiri putri-putrinya. "Kalian tidak apa-apa, Sayang?" tanya Aluna lembut dan penuh perhatian. Kaina dan Sera menganggukkan kepala secara kompak. "Kami tidak kenapa-napa, Mommy," jawab Kaina pelan, mendadak lembut dan manis karena sudah ada mommynya di sini. "Syukurlah," gumam Aluna pelan. Di sisi lain, perempuan yang datang bersama Aluna—Inggita, hanya diam sambil menatap sinis pada Vanessa. Aluna membalikkan badan lalu menatap murka pada Vanessa. "Heh, Tante, sudah lupa yah kamu dengan hukuman yang suami dan kakakku kasih ke kamu?! Mau lagi kamu, Hah?!" ucap Aluna, nadanya cukup stabil akan tetapi tatapannya cukup tajam. "Aku tidak punya urusan denganmu, Aluna. Urusan masa lalu sudah selesai!" dingin Vanessa, dia sudah berdiri dan dibantu oleh putrinya, "aku punya urusannya dengan pu
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







