Share

2. Malam Panjang

Penulis: CacaCici
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 07:14:02

Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun.

"Sssst … mmm …."

Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat ada apa di sana. Ketika pintu dibuka, Kaizen langsung melihat seorang perempuan yang mengenakan dress yang tersingkap hingga bagian paha atas, sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya. Perempuan itu berbaring di bawah, meringkuk tetapi terus bergerak–meliukkan tubuh sambil mengeluarkan suara pelan yang mirip rengekan dan desahan.

"Kau siapa?" Kaizen membuka suara, menatap dingin ke arah perempuan itu. Dia tidak bisa melihat wajah dari perempuan ini karena rambut perempuan tersebut menutupi wajah.

Sedangkan Aluna, saat mendengar suara Kaizen, jantungnya kembali berdebar tak karuan. Tubuhnya yang panas tiba-tiba terasa seperti tersengat listrik. Perasaan yang melandanya semakin gila, dia semakin ingin.

Namun, tidak! Aluna perempuan baik-baik. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu dengan pria yang bukan suaminya!

Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, Aluna mendongak dan menatap ke arah pria itu. Tatapannya sayu, berat, dan gelisah. Wajahnya yang tampak polos menunjukkan ekspresi memohon.

Kaizen menaikkan sebelah alis saat perempuan itu mendongak padanya. Namun, dia hanya diam, mengamati dan terus menatap perempuan tersebut.

"To-tolong aku, O-om," cicit Aluna, mata berair dan panas. Dia ingin menangis.

"Kau-- siapa?" ulang Kaizen. Dia berdiri dan terus menatap perempuan yang kini sudah mengambil posisi duduk–masih di bawah tetapi di dekat pintu.

Aluna mengigit bibir atas, memejamkan mata dan kembali meringkuk. Suara pria ini membuatnya semakin tersiksa. Dia semakin sulit mengendalikan perasaan aneh yang menjajah tubuhnya.

"Keluar dari mobilku," titah Kaizen, akan tetapi perempuan itu malah menutup telinga–seolah menunjukkan sisi perlawanan dan bantahan.

Kaizen mengatupkan ragang, mengepalkan tangan, dan menampilkan ekspresi kesal. Dia tidak suka dibantah!

Kaizen mendekati perempuan itu, menariknya agar keluar dari mobil. Namun, perempuan itu malah memeluknya. Hal mengejutkannya, perempuan itu mencium bibirnya secara tergesa-gesa.

Kemarahan Kaizen semakin bertambah, langsung mendorong kasar perempuan itu sehingga berakhir jatuh ke tempat semula.

"Sialan!" maki Kaizen, menatap nyalang dan penuh kemarahan pada Aluna.

Sedangkan Aluna, dia bangun dan kembali mendekati Kaizen. "To-tolong aku, Om. Ba-badanku sangat panas …," ucap Aluna dengan nada merengek dan lemah. Terdengar menyedihkan tetapi juga memancing.

Kaizen seketika itu juga tahu kalau ada yang tak beres dengan perempuan tersebut. Dia menghela napas lalu segera melepas jas, memakaikannya ke tubuh Aluna. Setelah itu, dia menggendong Aluna secara bridal style dan membawa perempuan itu masuk ke dalam rumah.

Awalnya Kaizen berniat meminta maid untuk mengurus perempuan ini. Akan tetapi ini sudah tengah malam, para maid sudah beristirahat. Pada akhirnya dia membawa Aluna ke kamarnya, berniat memandikan perempuan itu.

Namun, selama perjalanan menuju kamar, Aluna terus menciumnya. Entah itu pipi, bibir, ataupun lehernya. Kaizen awalnya menghindar, akan tetapi karena dia sedang menggendong Aluna dan cukup sulit baginya menghindari pergerakan Aluna, pada akhrinya dia membiarkan.

Ketika sudah di kamar, Kaizen langsung membawa Aluna ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan membasahi tubuh Aluna dengan air dingin. Namun, sepertinya air dingin ini tidak memberikan efek apapun. Aluna terus menggerayangi tubuhnya dan berusaha menciumnya.

"Berhenti bergerak dan diamlah!" dingin Kaizen karena Aluna tak bisa diam–terus bergerak.

Alih-alih menuruti ucapan Kaizen, Aluna malah melepas jas yang Kaizen sempat pakaikan ke pundaknya. Dia juga mencoba melepas dress-nya–kesadarannya sudah tidak tersisa dan yang dia inginkan adalah sentuhan pria ini.

"Shit." Kaizen mengumpat pelan, memijat pelipis dan menjauhkan tatapan dari Aluna. Perempuan ini benar-benar tidak bisa diam, kini sudah melepas seluruh pakaiannya.

"Aku pengen Om," gumam Aluna pelan, memeluk tubuh Kaizen secara erat–merasakan desiran hebat di tubuhnya, membuatnya semakin ingin.

Kaizen mengepalkan tangan, mencoba menenangkan diri. Sialnya! Dia mulai terpancing oleh perempuan ini. Dia sudah basah karena memandikan perempuan ini tetapi dia malah kepanasan bukan kedinginan.

Dia mencoba meredam efek obat yang mempengaruhi perempuan ini. Namun, efek dari obat itu seolah tertular padanya. Terlebih Aluna tidak henti menggerayangi tubuhnya.

"Om, aku mau disentuh oleh Om," pinta Aluna yang sudah kehilangan kesadaran, meraba-raba dada bidang Kaizen sambil mendusel di sana–menghirup aroma wangi maskulin yang membuatnya semakin ingin dibelai oleh Kaizen. Aluna berjinjit agar bisa mencium bibir Kaizen yang jauh lebih tinggi darinya.

Hal tersebut bersamaan dengan Kaizen yang menunduk, membuat Aluna berhasil menempelkan bibirnya di atas bibir Kaizen.

Kaizen hanya diam saat dicium secara liar dan tak sabaran oleh Aluna. Diam-diam dia mengamati Aluna dan mempertimbangkan sesuatu. Sepertinya obat yang perempuan ini konsumsi cukup tinggi, oleh sebab itu air dingin tidak bisa menekan efeknya.

Jika dibiarkan, perempuan ini bisa dalam bahaya.

Pada akhirnya setelah mempertimbangkan, Kaizen membalas ciuman Aluna. Dia menggendong perempuan itu lalu membawanya keluar. Kaizen berjalan ke arah ranjang–menggendong Aluna yang terus menciumnya.

Kaizen melepas ciuman itu, membaringkan Aluna di atas ranjang. Sejenak, Kaizen diam, mengamati tubuh indah Aluna yang sudah polos–tanpa sehelai benangpun. Sedangkan Aluna, dia terus menggeliat seksi, menatap penuh harap pada Kaizen.

"Jangan salahkan aku setelah ini," gumam Kaizen, melepas kemeja lalu segera mengambil posisi di atas tubuh Aluna.

Sedangkan Aluna, dia langsung menyambar bibir Kaizen, mencium pria itu dengan penuh napsu dan gairah. Kaizen membalas, melumat bibir Aluna dengan panas. Tangannya tak tinggal diam, meraba tubuh Aluna secara sensual.

Bibir perempuan ini terasa kenyal dan manis. Kulit tubuhnya halus dan lembut. Terawat!

Permainan tersebut semakin panas. Berkat obat perangsang itu, Aluna memperlihatkan sisi liarnya–haus sentuhan dan begitu agresif.

Sebelum melakukan penyatuan, Kaizen menatap Aluna dengan sorot tajam yang terasa menembus hingga jantung. "Setelah ini, kau tidak akan kulepas, Aluna Rasya Adam," ucapnya dingin, menampilkan ekspresi flat yang misterius.

✿✿✿

"Ini sudah jam sembilan, kenapa Zen belum turun?" ucap seorang pria paruh baya pada istrinya. Pria itu duduk di sofa, menoleh pada jam di pergelangan tangan lalu segera menatap bingung pada istrinya.

Tadi malam dia dan istrinya menginap di kediaman sang pemimpin keluarga Azam. Akan tetapi pagi sekali dia dan istrinya memutuskan untuk pulang karena ada urusan. Dia dan istrinya tiba setengah delapan, di mana maid mengatakan kalau putranya belum keluar kamar untuk sarapan.

Dia memilih memaklumi karena mungkin putranya kelelahan. Toh, ini juga hari minggu. Namun, ini sudah jam 9 lebih akan tetapi putranya belum keluar kamar. Tidak biasa!

Kaizen Xavier Adam, putranya adalah sosok yang selalu disiplin dan suka bangun pagi.

Memang! Akhir-akhir ini, Kaizen suka bangun jam 8 di hari minggu karena pekerjaan putranya tersebut sedang padat dan sering membuat Kaizen bekerja tanpa mengenal waktu. Mungkin itu yang membuat Kaizen kelepasan di saat minggu. Namun, selepas-lepasnya Kaizen, pasti hanya sampai jam delapan. Ini sudah jam sembilan lebih lima belas menit. Tumben!

"Aku akan periksa ke kamarnya, Mas," ucap Naia, ibu dari Kaizen Xavier Adam.

"Humm." Kaze, ayah Kaizen, berdehem sebagai jawaban.

Naia segera beranjak dari sana untuk memeriksa putranya yang masih belum turun. Takutnya terjadi sesuatu pada Kaizen, oleh sebab itu dia harus memeriksa.

Tiba di kamar, Naia tak mengetuk pintu. Dia langsung membuka karena kebetulan pintu kamar putranya tak dikunci.

"Zen Sayang, kamu masih tidur yah?" seru Naia sambil menatap ke arah ranjang, mengamati putranya yang masih terlihat tidur.

Kaizen terlihat berbaring dengan posisi membelakangi pintu, menyamping dan sepertinya sedang memeluk sesuatu. Mungkin guling.' pikir Naia, terlalu positif thinking padahal tak ada guling di kamar putranya.

"Kaizen, bangun, Sayang," ucap Naia dengan nada lembut, mendekat ke arah putranya yang masih pulas.

Namun, langkah Naia langsung berhenti. Matanya melebar dan tubuhnya membatu ketika melihat seorang perempuan tiba-tiba muncul di atas ranjang putranya.

Perempuan itu terlihat baru bangun, di mana sebelumnya tidur dalam pelukan Kaizen. Perempuan itu menguap kecil, menggaruk kepala lalu menoleh ke sana kemari–kebingungan. Mata perempuan itu melotot saat melihat ke arah Kaizen yang masih tertidur, lalu ekspresinya berubah panik. Perempuan itu terlihat mengucek mata, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Lagi-lagi dia menatap ke seluruh penjuru kamar lalu matanya langsung terpaku pada sosok Naia yang juga sudah membeku di tempat.

Jantung Naia berdebar kencang, menatap lekat pada perempuan itu. Ketika melihat ke arah leher perempuan itu, rasanya jantung Naia akan meledak dalam sana. Apalagi saat melihat kemeja yang perempuan itu kenakan, di mana kejema itu adalah kemeja yang putranya kenakan tadi malam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Mahmuda Mudh
lah thor kan katanya mereka keluarga jadi harusnya mamanya tau Aluna dong gimana sih takkan lah ga tau padahal keluarga inti, si Ken aja awalnya ga tau tapi kok tiba-tiba tau namanya kenapa jadi ga nyambung sih thor tolong dong revisi yang masuk akal, yang nyambung
goodnovel comment avatar
CacaCici
Benar sekali, Kakku. Kisah Adam kita nikz ...(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
goodnovel comment avatar
lia ajah
ternyata ini kisah anak naia dan kaze ya kak... mkin penasaran deh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   375. (G) Disuapi?

    'Loh, ini … Kak Elzeren sungguhan. Bu-bukan halusinasiku.' batin Kaina, segera menggeser kepala yang ternyata jatuh tepat di atas pantofel pria ini. Setelah itu, Kaina segera bangun. Dia mengambil selada yang Sera lempar padanya kemudian dengan santai melempar balik pada Sera. Sejujurnya Kaina sedang menutupi rasa gugupnya, dia bersikap enjoy seolah kehadiran Elzeren bukan suatu hal yang istimewa untuknya. Padahal hatinya menjerit …- 'Duduk di sampingku, Kak. Pliss … duduk di sebelahku yah!' Lalu ketika Elzeren duduk sungguhan di sebelahnya, Kaina senyum tipis dan senyuman malu-malu itu ia tutupi dengan tawa renyah. Orang-orang akan berpikir Kaina tertawa karena selada yang ia lempar mendarat di wajah Sera—menutupi wajah sahabatnya tersebut, bak sebuah masker. Namun, tawanya hanya samaran agar salah tingkahnya tak terdeteksi. "Kaina nyebelin!" kesal Sera, mengembungkan pipi lalu setelahnya mengunyah selada yang menutupi wajahnya tersebut dengan sebal. "Ahahaha … kamu dulua

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   374. (G) Bersitatap dengan Crush

    "Aku gantungin di ring basket!" ucap Kaina dengan nada ngegas, "waktu itu aku berusia 8 tahun dan dia 16 tahun lah. Aku lagi main kereta api di teras samping, lagi asyik pokoknya. Trus si Lucifer ini datang. Awalnya dia duduk sambil nonton aku yang lagi main. Habis itu dia tiba-tiba bilang, 'Kai, kau ingin bisa melihat ikan di langit tidak?' Trus aku jawab, ikan itu di sungai dan laut. Di jawab sama dia 'ouh, berarti Kakak punya kekuatan super bisa melihat ikan terbang. Nah, sebagai bocah polos, aku terpancing kan. Aku bilang 'kekuaran super?' Kak Xavier menganggukkan kepala lalu tiba-tiba mengengendongku di atas pundaknya. 'Kakak bisa melihat ikan terbang dan duani ajaib di langit. Kalau ingin, Kakak akan tunjukkan caranya padamu. Trus dengan semangat, aku bilang iya. Habis itu, aku ditaruh di atas ring basket, Cok." "Loh, kok bisa?" Nakilla dan Sera sama-sama menatap heran campur penasaran pada Kaina. "Di atas ring sudah dikasih papan sama Kak Xavier. Dia kan dari dulu udah tingg

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   373. (G) Saat Kaina dibully Lucifer

    "Ada apa, Eiren?" tanya Nakilla setelah mengangkat telepon dari adiknya tersebut—adik yang jaraknya hanya beberapa menit darinya. 'Besok aku akan pulang dari kota ini. Kau ingin jalan-jalan denganku hari ini? Sebelum aku pulang.' ucap Elzeren dari seberang sana. Pria itu memang ada di sini karena Aleza King Fashion&Diamond memiliki cabang di kota ini, masih baru (jalan satu tahun ini). Oleh karena itu Elzeren ditugaskan oleh daddynya untuk rutin memantau langsung—minimal 3 bulan sekali. Namun, diluar urusan perusahaan cabang, Elzeren juga memang cukup sering ke kota ini karena urusan bisnis lainnya. Seperti proyek kolaborasi, menghadiri undangan pertemuan elit, dan lainnya. Bukan hanya ke kota, juga berlaku ke kota lain yang melibatkan pekerjaan. Elzeren memang banyak tuntutan, dia ahli waris keluarga Smith dan dia harus banyak belajar. Tak henti! "Yah, terlambat. Sekarang aku lagi piknik. Atau kamu ke sini saja?" ucap Nakilla, wajahnya biasa saja karena dia takut Elzeren past

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   372. (G) Piknik

    "Uang yang Kakak dan Daddy transfer itu jumlahnya sama. Jadi batal," ucap Kaina santai, kembali makan ambil senyum-senyum tak jelas entah pada siapa. Xavier menghela napas lega, melirik daddynya sekilas lalu memilih diam sambil makan dengan tenang. Kaizen yang merasa sangat dirugikan hanya bisa menunjukkan ekspresi wajah dingin. 'Astaga, padahal aku sudah sangat penasaran.' batin Sera, diam-diam melirik ke arah Kaina yang sudah fokus makan. *** Hari ini Sera, Kaina, dan Nakilla pergi piknik bersama di sebuah taman cantik yang dilengkapi dengan danau kecil. Sedikit jauh dari perkotaan, udara segar, dan tempat yang hijau karena masih banyak pepohonan serta bunga. Mereka tentunya tak pergi bertiga saja. Ada 10 bodyguard yang ikut lalu 5 maid untuk membantu mereka. Sekalipun ini weekend, akan tetapi Xavier tidak ikut. Pria itu banyak pekerjaan jadi memilih mengurung di ruang kerja dengan tumpukan pekerjaan. Begitupun dengan Aiden yang otomatis sibuk jika Xavier sibuk.

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   371. (G) Meja Makan dan Rahasia Xavier

    Sedangkan Sera, dia juga lahap tetapi lahap yang masih sewajarnya. Sedangkan Kaina, dia memang luar biasa. "Apa di tempat kuliahmu kau tidak makan, Humm?" tanya Kaizen, menatap putrinya yang meraih ayam—tiga ayam di piring Kaina sudah habis. Kaina mendongak pada daddynya lalu menganggukkan kepala secara santai. "Lidahku masih beradaptasi dengan makanan di sana, Dad.""Sudah enam bulan lebih masih beradaptasi?" Kaizen menaikkan sebelah alis. Kaina lagi-lagi menganggukkan kepala. "Susah cari makanan yang rasanya mirip buatan Mommy. Hampir nggak ada sih, Dad.""Bukankah kau memilih kuliah di sana karena makanan di negara tersebut enak, Nak?" ucap Kaizen lagi. "Hehehe … makanannya enak pas liburan doang. Entah kenapa setelah tinggal di sana, kayak ada yang kurang," ujar Kaina, kembali mengambil ayam goreng karena yang tadi sudah habis. "Humm." Kaizen berdehem singkat. Dia paham! Bukan makanannya yang tak enak, tetapi momennya yang tak sama. Di sana, mungkin putrinya sering makan sen

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   370. (G) Serba Ayam

    "Serba ayam," ucap Aluna penuh semangat dan ceria. Sera hanya bisa memandangi mommy mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Ada banyak ungkapan cinta dan kekaguman di hatinya, namun rasa haru dan rindu entah pada siapa membungkap bibirnya. Sungguh! Di mata Sera, mommy mertuanya adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah. Baik rupanya maupun hatinya, benar-benar indah luar dalam! "Ouh, Sera," sapa Kaizen, cukup kaget sekaligus senang melihat menantunya sudah di meja makan. Beberapa hari ini Sera tak keluar, tidak ikut makan malam ataupun sarapan. Kaizen memaklumi karena duka menantunya ini terlalu besar. Tak ada anak yang tetap berdiri kokoh setelah kehilangan orang tuanya. Kaizen yang pernah kehilangan Kakek nenek sejak di usianya yang sudah benar-benar matang, kehilangan arah selama beberapa hari. Untung ada istrinya yang memahami dan setantiasa di sisinya. "Daddy," sapa Sera pelan, di mana Daddy mertuanya yang super dingin itu hanya mengangguk pelan. Andai saja orang yang baru

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   5. Paksaan Menikah

    "Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   4. Pertemuan

    Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   1. Jebakan dan Pertolongan

    "Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring

  • Perjodohan: Suami Dinginku Sangat Hot!   3. Nikahi Dia, Kaizen!

    Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status