LOGINDi dalam kamar hotel yang sunyi, Veronica terduduk cemas. Sejak siang tadi ia dipindahkan secara paksa ke dalam ruangan mewah ini tanpa penjelasan apa pun. Kebingungan dan rasa cemas kian menggerogoti benaknya.Pintu kamar mendadak terdorong kasar. Dua pria bertubuh kekar dengan setelan hitam melangkah masuk tanpa suara."Kalian siapa? Mau apa kalian?!" teriak Veronica panik, seraya mundur berupaya menghindar.Tanpa membalas sepatah kata pun, kedua pria itu mencengkeram lengan Veronica dengan kuat. Mereka menyeretnya dan mendudukkannya di sebuah kursi khusus yang tepat menghadap ke arah dinding kaca buram.Dengan cepat, jemari kekar mereka melilitkan tali tebal, mengikat tangan dan kaki Veronica ke kursi tersebut hingga ia tak sanggup bergerak sedikit pun. Sebuah lakban besar ditempelkan paksa di mulutnya, membungkam jeritan protes wanita itu.Veronica meringis tertahan di balik sumbatan. Matanya terbelalak penuh ketakutan.Pria itu kemudian menekan tombol kontrol di dinding. Seket
"Aku ingin dia menyaksikan dari dekat bagaimana kejayaannya hancur saat aku memulai hidup baru.""Semua instruksi akan segera dilaksanakan secara rapi, Tuan," tegas Leon membungkuk dalam."Ingat, Leon," peringat Julian melayangkan pandangan tajam pada asisten pribadinya. "Sembunyikan semua rencana ini dari Elena. Jangan sampai ada satu patah kata pun tentang eksekusi Veronica yang sampai ke telinganya.""Saya mengerti, Tuan. Nona Elena tidak akan tahu apa pun mengenai hal ini," janji Leon mantap.Pria itu mengangguk puas atas loyalitas asistennya. Tepat di saat itu, kenop pintu kamar mandi bergerak terputar.Begitu Elena melangkah keluar dari kamar mandi, aura mematikan yang menyelimuti Julian menguap seketika. Sorot matanya yang sedingin es berganti menjadi tatapan hangat yang penuh kelembutan saat menatap gadis kesayangannya."Sudah selesai, Sayang?" tanya Julian dengan nada manis, mengikis j
Elena mengerucutkan bibirnya gemas mendengar logika tajam kekasihnya. Namun di dalam hati, ia sangat paham kekhawatiran yang dirasakan calon suaminya itu."Baiklah, aku setuju bekerja di Wardana Group," ujar gadis itu, akhirnya mengalah. "Tapi dengan satu syarat."Julian menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut serius di wajah cantik kekasihnya. "Syarat apa, Piccola?""Aku akan melamar melalui jalur mandiri dari bawah," tegas Elena dengan mata berbinar penuh tekad. "Kamu sama sekali tidak boleh membantuku atau memberi instruksi khusus pada HRD!""Lalu?" tanya Julian menyimak."Selain itu, tidak boleh ada satu orang pun di kantor yang tahu kalau aku adalah istri pemilik Wardana Group," lanjut Elena bersungguh-sungguh. "Semua orang harus menganggapku sebagai karyawan biasa."Mata Julian seketika membulat. Terkejut mendengar permintaan yang sangat tidak masuk akal baginya. "Kenapa begitu? Apa kamu malu punya suami seperti aku?!"Elena buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengge
Elena menghela napas panjang, menatap mata kekasihnya yang kini menatapnya hangat. Rasa cemas di dadanya perlahan terurai, meski kelebatan ingatan saat Amanda terkulai di lantai masih membuat jantungnya berdebar kencang."Jujur, aku takut melihatmu sekejam itu," bisik gadis itu jujur. Ia mengusap rahang kekasihnya. "Kekejamanmu tadi benar-benar membuat bulu kudukku berdiri."Julian tersenyum tipis. Menggenggam erat jemari mungil kekasihnya lalu mengecup punggung tangannya lembut. "Kekejaman itu hanya berlaku untuk musuh-musuhku, Piccola. Kamu tidak usah khawatir."Ia menarik Elena lebih dekat, menyandarkan keningnya di dada gadis itu. "Aku tidak akan pernah menyakiti atau melakukan hal mengerikan itu pada wanita yang sangat kucintai."Mendengar bisikan tulus itu, seketika hati Elena meleleh. Gadis itu tersenyum manis, membalas dekapan Julian dengan manja dan menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih."B
Kepanikan Amanda memuncak hingga batas maksimal. Ia tahu betul reputasi kejam Julian Wardana yang tidak pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya."T-tidak, Julian, tolong jangan!" pekik Amanda dengan air mata ketakutan yang mulai menetes.Leon melangkah mendekat seraya membuka sebuah kotak perak di atas meja. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah suntikan medis berukuran sedang yang sudah terisi penuh oleh cairan bening beracun.Cairan itu adalah zat kimia kotor yang sama dengan yang disuntikkan Amanda pada Julian. Namun dengan dosis tiga kali lipat lebih tinggi dan mematikan."Julian! Kamu gila!" histeris Amanda, matanya membulat melihat jarum suntik yang berkilat dingin di tangan Leon. "Kamu mau membunuhku?!"Julian menyunggingkan senyum miring yang sangat kejam. "Membunuhmu? Coba kamu pikirkan sendiri apa yang sudah kamu lakukan padaku kemarin. Bagaimana pikiran kotormu saat memasukkan cairan itu ke tubuhku, hm?""Aku mohon, Julian! Ampuni aku!" ratap Amanda bersimpuh mesk
Julian tidak menjawab pertanyaan beracun yang dilontarkan Amanda. Tatapan matanya yang dingin hanya menatap datar ke arah dua wanita di ambang pintu. "Masuklah," ujar pria itu singkat, suaranya tenang tanpa nada emosi. Amanda dan Helena melangkah masuk ke dalam kamar VVIP dengan raut penuh ketegangan. Begitu kedua wanita itu melewati ambang pintu, Leon yang berdiri di dekat pintu segera menutupnya rapat dan menguncinya dari dalam. "Julian, kenapa kamu membiarkan wanita ini duduk di sebelahmu?" tanya Helena dengan suara ketus, menunjuk Elena yang duduk tenang di sisi ranjang. Dia seolah lupa apa yang terakhir kali terjadi. "Dia tidak pantas ada di sini saat kita sedang berkumpul." Amanda mengangguk cepat, menyunggingkan senyum memelas yang dibuat-buat. "Benar, Julian. Perempuan ini hanya mengincar hartamu dan memanfaatkan keadaanmu yang baru bangun." "Begitukah?" sahut Julian santai. Ia menaikkan sebelah alisnya dengan gurat ketertarikan palsu. "Lalu menurut kalian, siapa







