INICIAR SESIÓN‘Bagaimana ini, aku tidak memiliki senjata. Aku juga tidak tahu bagaimana cara melawan,’ batin gadis itu.
Kali ini ia benar-benar memahami betapa menakutkannya dunia yang selama ini berusaha disembunyikan suaminya dari dirinya.Pintu kamar akhirnya terbuka. Langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Sepertinya lebih dari dua orang.Elena memejamkan mata, berdoa dengan suara yang nyaris tidak terdengar.‘Tuhan, jangan biarkan sesuatu terjadi kepadanya.Julian menoleh. "Apa?""Sebuah pesan yang dikirim beberapa menit sebelum mereka memasuki vila." Leon menyerahkan perangkat tersebut.Julian membaca layar. Sebuah instruksi singkat tertera di sana.Anonim: Bawa wanita itu hidup-hidup jika memungkinkan. Jika Julian datang, gunakan dia sebagai alat tawar-menawar.Di bawahnya terdapat satu nama pengirim. Namun hanya sebuah kode yang terdiri atas beberapa huruf dan angka.Julian menatap layar cukup lama hingga Elena, yang baru saja membuka matanya menyadari perubahan ekspresinya. "Julian?"Pria itu segera mengunci layar ponsel, lalu menoleh. "Ya, Sayang?""Ada sesuatu yang terjadi?" tanya wanita itu, khawatir.Julian menyerahkan perangkat itu pada asistennya. Dia memberi kode agar Leon pergi. "Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."Elena menatapnya dengan cemas. "Apa ini masih berhubungan dengan orang-orang yang menyerangmu?"
Elena membuka mata dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Di ambang pintu kamar, berdiri Julian Wardana.Wajahnya pucat karena kelelahan, bibirnya terluka, dan mantelnya dipenuhi noda darah. Namun, matanya menyala dengan amarah yang begitu dingin hingga kedua penyusup itu spontan melepaskan cengkeraman mereka.Elena terhuyung. "Julian ...."Suaminya menatapnya hanya selama sepersekian detik. Julian melihat air mata di wajah Elena, pergelangan tangannya yang memerah, serta ponsel yang tergeletak jauh dari jangkauan.Pria itu langsung menyerahkan senjatanya pada Leon dengan ekspresi yang begitu dingin. Kemudian dia melangkah masuk dan langsung menerjang mereka.“Bangsat! Berani sekali kamu menyentuh istriku!” teriaknya. Dia menghajar mereka sampai babak belur.Seberapa keras mereka melawan, tetapi Julian seperti orang kesetanan. Tenaganya begitu besar sampai orang itu kewalahan.“Julian, cukup!” tegur Elena. Dia panik melihat suaminya seperti itu. Ia juga tidak ingin suaminya semaki
‘Bagaimana ini, aku tidak memiliki senjata. Aku juga tidak tahu bagaimana cara melawan,’ batin gadis itu.Kali ini ia benar-benar memahami betapa menakutkannya dunia yang selama ini berusaha disembunyikan suaminya dari dirinya.Pintu kamar akhirnya terbuka. Langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Sepertinya lebih dari dua orang.Elena memejamkan mata, berdoa dengan suara yang nyaris tidak terdengar.‘Tuhan, jangan biarkan sesuatu terjadi kepadanya. Jika memang harus ada yang terluka malam ini, biarkan aku saja. Jangan Julian.’Langkah kaki itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan ruang ganti.Elena membekap mulutnya lebih erat. Gagang pintu bergerak perlahan.Sementara itu, mobil Julian melesat membelah jalan bersalju.Pria itu duduk di kursi belakang dengan rahang mengeras, menatap layar ponsel yang terus menunjukkan panggilan tak terjawab oleh istrinya.Leon duduk di sampi
Seorang pengawal berlari masuk. "Tuan Besar! Ada kendaraan mendekat dari arah selatan!"Julian yang sudah siap pulang itu segera mengangkat senjata. "Berapa banyak?""Satu kendaraan. Lampunya mati. Kami belum dapat memastikan siapa pengemudinya."Leon mengumpat pelan. "Bangsat! Masih ada orang lain?""Amankan tawanan. Jangan biarkan siapa pun meninggalkan bangunan tanpa pemeriksaan!" perintah Julian.Ia melangkah menuju pintu. Namun, ketika baru mencapai ambang, perangkat komunikasi di sakunya bergetar. Ada notifikasi pesan masuk.Julian mengeluarkan ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal. Hanya ada satu kalimat di layar.Anonim: Sekarang istrimu mungkin akan menjadi alasan berikutnya untuk menguburmu.Seketika, seluruh ekspresi Julian berubah. Kemarahan yang begitu dingin hingga membuat Leon yang berdiri di dekatnya ikut merasakan perubahan suasana.Julian membaca pesan itu sekali lagi. Lalu ia segera menelepon nomor Elena.Nada sambung terdengar beberapa kali. Na
Julian mengangkat alisnya. "Target utama?"Ia melirik para pengawal yang bertahan bersamanya. "Ternyata mereka benar-benar tidak menyukaiku.""Tuan, saya rasa ini bukan waktunya bercanda!" sahut Leon dari balik perlindungan."Kalau begitu, berhentilah memberiku alasan untuk melakukannya." Julian bergerak menuju sisi ruangan yang lebih gelap. Begitu melihat dua orang anak buahnya terdesak di dekat tiang penyangga, ia langsung menerjang keluar, menerobos kepulan asap yang memenuhi ruangan."Leon! Bawa mereka ke sisi barat!" teriaknya di tengah rentetan tembakan."Siap, Tuan Besar!"Leon menyambar kerah salah seorang pengawal yang terluka, menariknya ke balik tumpukan peti, lalu memberi isyarat kepada dua orang lainnya untuk bergerak. Namun, sebelum mereka sempat mencapai perlindungan berikutnya, tiga penyerang muncul dari balik deretan tong besi."Jangan biarkan mereka lolos!" Salah se
Leon terdiam selama sepersekian detik. "Tentu saja saya tidak ingin mati, Tuan.""Bagus. Orang yang tidak takut mati biasanya tidak cukup pintar untuk bertahan hidup."Julian menggeser posisi, mengamati celah di antara peti-peti. "Jadi, jangan mati malam ini."Sebelum Leon sempat menjawab, Julian keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan ke arah mezanin. Dua penembak musuh kehilangan posisi, memaksa barisan di atas terpecah."Bergerak!" perintahnya.Para pengawal yang masih bertahan segera berpindah ke posisi yang lebih aman. Namun, musuh telah menunggu kesempatan itu.Sebuah benda kecil meluncur dari balkon, memantul di lantai, lalu berhenti hanya beberapa meter dari Julian.Leon melihatnya lebih dahulu."Granat!"Ledakan menyusul sesaat kemudian.Duarr!Cahaya putih meledak di hadapan Julian. Dunia seolah terputus dari seluruh indra yang







