LOGINLeon terdiam selama sepersekian detik. "Tentu saja saya tidak ingin mati, Tuan."
"Bagus. Orang yang tidak takut mati biasanya tidak cukup pintar untuk bertahan hidup."Julian menggeser posisi, mengamati celah di antara peti-peti. "Jadi, jangan mati malam ini."Sebelum Leon sempat menjawab, Julian keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan ke arah mezanin.Dua penembak musuh kehilangan posisi, memaksa barisan di atas terpecah."Mengenai penyerbuan brutal di Harbin kemarin sore," lanjut Leon seraya menunjukkan grafik aliran dana dan identitas kelompok penyerang. "Ternyata Atlas Rowan tidak bergerak sendirian."Julian menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin. "Pria lemah itu rupanya benar-benar menyetorkan nyawanya padaku.""Atlas Rowan memanfaatkan koneksinya untuk menyewa jaringan mafia bayaran internasional," jelas Leon menambahkan detail penting. "Kelompok mafia yang mereka pakai adalah kelompok yang dulu pernah kalah dalam tender pengadaan jalur logistik kasino dan pelabuhan saat berhadapan dengan Wardana Group di Asia Timur."Julian terkekeh sinis, tawa serak yang meremehkan. "Pantas saja mereka mengirimkan banyak personel bersenjata berat tanpa ragu. Selain hubungan dengan Rowan, mereka memiliki dendam lama padaku.""Benar, Tuan," sahut Leon. "Dendam masa lalu itulah yang membuat mereka berani mempertaruhkan segalanya demi menghabisi Anda di tempat asing seperti Harbin.""Lalu bagaimana deng
"Yang ada aku bisa makin sakit karena merasa tertekan dimarahi terus oleh istriku yang galak ini."Elena merona merah mendengarnya, memukul dada Julian secara pelan lalu menyembunyikan wajah malunya di ceruk leher hangat sang suami.Dia benar-benar menjalankan perannya sebagai istri yang penuh pengabdian. Begitu menyadari betapa parahnya luka lebam di tubuh Julian, wanita itu menolak membiarkan suaminya mengangkat beban berat atau banyak bergerak sendirian.Awalnya, Julian hendak menyuarakan protesnya. Pria itu merasa keterlibatannya dikurung dan diperlakukan seperti pasien ringkih sangat meruntuhkan harga dirinya. Namun, seluruh niat protes itu menguap tanpa sisa begitu istrinya mengumumkan dengan wajah serius bahwa ia sendiri yang akan membantu suaminya mandi sore itu."Aku bisa sendiri, Elly," gumam pria itu sambil bersandar di tepi tempat tidur saat istrinya mengambil handuk.Elena menatapnya tajam sambil berkacak pinggang. "Jangan membantah! Lukamu terkena air hangat saja bisa
Bel pintu penthouse berbunyi. Leon masuk mendampingi dokter pribadi Wardana Group yang membawa tas medis lengkap.Dokter paruh baya bertubuh tegap itu membungkuk hormat. "Selamat sore, Tuan Besar, Nyonya."Elena langsung membimbing dokter tersebut menuju kamar utama. Julian hanya bisa menghela napas pasrah, duduk bersandar di tepi tempat tidur tanpa atasan.Dokter segera memeriksa seluruh tubuh Julian dengan teliti. Ia menekan lembut area memar kebiruan yang membentang di sekitar rusuk sang pengusaha “raksasa”."Bagaimana kondisinya, Dok? Apa ada luka yang parah di dalam?" tanya Elena, raut wajahnya diliputi kecemasan yang mendalam.Dokter mengusap dagunya, menatap hasil rabaan fisik dan memar yang cukup pekat. "Saya menyarankan untuk segera melakukan rontgen di rumah sakit, Nyonya. Memar di dekat tulang rusuk ini cukup luas, saya khawatir ada retakan atau luka dalam yang tidak terlihat dari luar.""Tidak perlu," pangkas Julian cepat dengan suara tegas dan dingin. "Aku tahu batas tu
Punggung Julian yang biasanya tampak sempurna, kini dipenuhi oleh luka lebam kebiruan yang mengerikan, luka gores, serta bekas hantaman tumpul yang parah. Luka-luka itu jelas berasal dari pertarungan brutal dan ledakan di gudang Harbin semalam. Julian yang mendengar engahan napas panik dari arah pintu langsung berbalik dengan cepat. Pria itu tersentak kaget saat menyadari kehadiran istrinya. "Elly?" gumam pria itu pelan, ia refleks meraih kemejanya kembali untuk menutupi tubuhnya. Namun, Elena bergerak lebih cepat. Gadis itu berlari mendekati Julian dengan tangis yang pecah seketika. "Badan kamu kenapa bisa seperti ini?!" keluh gadis itu dengan suara bergetar. Jemari Elena terulur gemetar, hendak menyentuh luka lebam besar di dada dan rusuk Julian. Namun ia ragu dan takut justru akan menyakiti suaminya. Air matanya menetes membasahi pipinya. "Kamu bilang semalam kamu tidak apa-apa!" tangis wanita itu memecah keheningan kamar. Ia menatap lekat ke dalam mata suaminya de
Elena menyunggingkan senyum menantang. “Dengan senang hati.”Tanpa ragu, gadis itu berdiri perlahan. Ia melepaskan kain segitiga pengamannya dalam satu gerakan anggun lalu membuangnya ke sofa sebelah.Wanita itu pun membantu suaminya melepaskan celana. Julian tersenyum melihat aksi istrinya itu.“Hemm, ternyata udah siap, ya?” gumam Elena saat melihat senjata suaminya yang menyembul dari balik celana.“Captain siap tempur, Nyonya,” sahut pria itu, sambil tersenyum nakal.Sambil menatap lekat mata suaminya, Elena kembali naik merangkak ke atas pangkuan Julian. Gadis itu menurunkan tubuhnya perlahan, menyatukan inti kehangatan mereka dalam satu sentakan mantap yang sempurna."Ahh ... Elly ...," desah Julian serak saat penyatuan nikmat itu tercipta.Elena memejamkan mata menikmati milik Julian yang memenuhi tubuhnya itu.Ia pun mulai memimpin irama permainan panas mereka di atas pangkuan sang suami. Membiarkan jet pribadi itu membawa mereka terbang tinggi melintasi awan bersama gelora c
Elena menatap mata Julian yang sarat akan rasa bersalah. Ia menggenggam jemari suaminya dengan kehangatan yang tulus."Iya, aku ngerti, kok. Kamu gak perlu minta maaf," tutur gadis itu lembut seraya mengusap rahang suaminya. "Keselamatan kita jauh lebih penting daripada bulanmadu."Julian menghembuskan napas lega, mengecup kening istrinya lama. "Terima kasih sudah sangat memahamiku, Piccola."Mereka segera mengemas barang-barang dan bersiap meninggalkan vila bersalju Harbin. Pengawalan ketat berlapis baja membimbing perjalanan mereka menuju bandara internasional.Di dalam SUV berlapis baja yang melaju tenang menuju apron jet pribadi, Elena menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Pandangannya menatap jalanan bersalju yang perlahan menghilang."Julian," panggil gadis itu, pelan."Iya, Sayang?" sahut Julian seraya mengusap jemari istrinya."Setibanya kita nanti, aku ingin segera melamar pekerjaan," ujar Elena menyampaikan rencananya.Julian menyunggingkan senyum tipis. "Silakan, Sayang.







