Share

Bab 221

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-10-29 18:18:26

Napas Pak Sam terengah-engah sampai akhirnya ia mengembuskan napas lega saat melihat kursornya masih menggantung di atas tombol konfirmasi.

Email penolakan itu belum terkirim.

"T-Tuhan memberkati," bisik Pak Sam sambil menepuk dadanya yang berdegup kencang. Ia menoleh pada Leon dengan raut wajah panik yang belum sepenuhnya hilang.

"Pak Leon, apakah email pelamar yang ini yang dimaksud oleh Tuan Wardana?"

Leon melangkah mendekat, menundukkan kepala sejenak untuk membaca nama serta dokumen terl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 222

    Elena menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa curiga yang menggelitik hatinya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tanpa membuang waktu, jemarinya menekan nomor kontak suaminya.Deringan pertama baru saja berbunyi ketika suara berat Julian menjawab dari seberang sambungan."Ada apa, Piccola? Kamu merindukanku?" goda pria itu dengan nada santai yang kental akan percaya diri.Elena mendengus pelan, menolak terpancing godaan itu. "Julian, aku baru saja mendapat telepon dari Wardana Group.""Oh ya?" Pria itu pura-pura terkejut. Dia menyunggingkan senyum yang tipis. "Lalu bagaimana hasilnya?""Manajer HRD-mu, Pak Sam, meneleponku secara pribadi. Dia memintaku datang untuk wawancara kerja besok pagi jam sepuluh," terang Elena antusias."Selamat, Istriku. Langkah awal yang sangat bagus, bukan?" sahut suaminya hangat."Jangan senang dulu, Julian Wardana," ucap wanita itu dengan intonasi menuduh yang sangat

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 221

    Napas Pak Sam terengah-engah sampai akhirnya ia mengembuskan napas lega saat melihat kursornya masih menggantung di atas tombol konfirmasi. Email penolakan itu belum terkirim."T-Tuhan memberkati," bisik Pak Sam sambil menepuk dadanya yang berdegup kencang. Ia menoleh pada Leon dengan raut wajah panik yang belum sepenuhnya hilang. "Pak Leon, apakah email pelamar yang ini yang dimaksud oleh Tuan Wardana?"Leon melangkah mendekat, menundukkan kepala sejenak untuk membaca nama serta dokumen terlampir di layar monitor."Ya," sahut Leon mengangguk mantap. "Itu email dari Nyonya Wardana."Pak Sam mengusap keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Napasnya masih agak sesak. Namun dadanya terasa lega luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar merasa baru saja lolos dari jurang kematian karirnya.Biasanya, proses penyortiran dan penolakan lamaran bagi pelamar tanpa pengalaman kerja selalu ditangani oleh staf HRD di bawahnya. Namun, entah angin apa yang bertiup siang ini, Pak Sam justru s

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 220

    Elena yang sedang bersantai di sofa penthouse terperanjat kaget mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi di seberang telepon.Gadis itu menautkan alisnya, berusaha mengontrol kepanikan."Julian, aku bisa menjelaskannya," tuturnya pelan, berusaha menjelaskan posisinya secara rasional. "Aku kan baru saja lulus kuliah. Kalau aku langsung menulis status sudah menikah di dalam berkas lamaran kerja, orang-orang divisi HRD pasti akan curiga dan bertanya-tanya.""Curiga bagaimana?!" protes Julian tidak terima, suaranya terdengar sangat tegas di balik sambungan telepon. "Kamu memang sudah sah menjadi istriku! Apa yang perlu dicurigai dari sebuah kebenaran?!"Elena mengembuskan napas panjang. Berusaha memberi pengertian pada suaminya yang mulai bertindak posesif."Masalahnya, aku ini melamar sebagai staf biasa, Julian," terang wanita itu mengemukakan alasannya yang sangat masuk akal. "Jika sebuah perusahaan melihat pelamar muda baru lulus sudah menikah, mereka sering kali berpiki

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 219

    Mendengar pertanyaan itu, raut ketus di wajah Elena seketika melunak. Binar antusias kembali terpancar terang dari mata beningnya, menggantikan silent treatment yang sempat membuat Julian ketar-ketir. "Rencananya hari ini aku akan menyelesaikan seluruh portofolioku," sahut Elena dengan nada suara bersemangat. "Terus, siang nanti aku langsung mengirimkan lamarannya via email,” lanjutnya. Julian menyunggingkan senyum lembutnya yang lebar. Dia lega karena taktik mogok makannya terbukti ampuh mengembalikan suara manis istrinya. "Baguslah. Tapi ingat, kirimkan lamaranmu ke Wardana Group saja, jangan ke perusahaan lain." Elena mengangguk patuh tanpa ada niat membantah sedikit pun. Ia juga menyadari posisinya sebagai istri dari pemilik tunggal Wardana Group, melamar ke perusahaan kompetitor justru bisa memicu spekulasi liar dan mencemari nama besar suaminya. Meski pernikahan mereka masih dirahasiakan. "Baik, Pak Suami," jawab gadis itu kooperatif. "Aku hanya akan melamar ke pe

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 218

    Dengan tangan gemetar, dia mendial nomor darurat. "Kamu harus segera di-rontgent sekarangjuga!"Menyadari situasi sudah beresiko lepas kendali dan istrinya benar-benar hendak mendatangkan armada rumah sakit ke penthouse, Julian seketika melepaskan genggaman di rusuknya. Pria itu melompat bangkit dari kasur dengan gerakan yang cepat, meraih pergelangan tangan istrinya sebelum tombol panggil tertekan."Tunggu! Jangan telepon ambulans!" ucap pria itu cepat seraya menarik ponsel itu dari genggaman istrinya.Elena terperanjat. Dia menatap suaminya dengan mata membulat sempurna. Ia menyapu pandangan pada Julian yang kini berdiri tegak tanpa ada raut kesakitan sedikit pun di wajah tampannya.“Kamu?" Napas Elena masih memburu akibat kepanikan yang belum sepenuhnya reda.Julian menyunggingkan senyumnya yang canggung. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menatap istrinya dengan pendar rasa bersalah."Maafkan aku, Sayang. Aku cuma bercanda," aku Julian pria itu dengan suara pelan.

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 217

    Julian sempat terpaku. Lidahnya mendadak terasa kaku menatap sorot mata Elena yang menuntut penjelasan di tengah remang koridor penthouse.Pria itu sempat berniat mengarang kebohongan kecil demi menenangkan sang istri. Namun, membayangkan raut kecewa di wajah Elena jika rahasia itu terbongkar justru membuat dadanya terasa jauh lebih sesak.Julian menatap istrinya pasrah, lalu melangkah mendekat seraya menghembuskan napas pelan. "Aku baru saja bicara dengan Leon di ruang kerja, Piccola.""Bicara dengan Leon?" tegur Elena dengan nada suara yang seketika naik satu oktaf. "Tengah malam begini?! Memangnya hal itu tidak bisa ditunda sampai besok pagi?!"Wanita itu berkacak pinggang, menatap suaminya dengan raut marah yang sangat menggebu-gebu. "Kamu itu sedang sakit! Tubuhmu penuh luka lebam dan dokter bilang rusukmu bisa saja retak! Kenapa kamu bandel sekali, sih?!"Julian hendak menyela, tetapi istrinya langsung memotongnya tanpa memberi celah sedikit pun."Harusnya kamu itu tidur, isti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status