LOGIN
Hangat.
Nyaman. Inikah rasanya di surga? David membuka matanya perlahan. Namun, ketika pandangannya masih belum sepenuhnya fokus dan kesadarannya masih setengah melayang, suara melengking tiba-tiba menusuk telinganya. "DAVID! Sudah jam berapa ini dan kau masih tidur?! Kau benar-benar bajingan pemalas!" Itu suara Amanda, kakak tirinya. David segera membuka matanya lebar-lebar dan menyapu sekelilingnya. Langit-langit putih bersih. Lampu kristal kecil menggantung di tengah. Dinding berwarna krem. Jendela besar dengan tirai yang terbuka sedikit, cahaya matahari pagi masuk menerangi ruangan. Meja belajar di sudut dengan tumpukan buku yang rapi. Komputer yang sudah lama tidak dia lihat. Lemari pakaian dengan cermin besar. “David, sialan! Bangun kau!” suara Amanda sekali lagi terdengar melengking. Jantung David terasa berhenti sejenak. Ini kamarnya di mansion Lewis. Suara Amanda juga terdengar sangat nyata. Tapi... bagaimana bisa? Bukankah seharusnya dia sudah mati?! David mengingat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya. Setelah Richard Lewis, ayahnya, meninggal saat David berusia 24 tahun, ia diusir tanpa warisan sepeser pun oleh ibu tiri dan kakak tirinya, Miranda dan Amanda. Padahal sebagai anak kandung tunggal, seharusnya seluruh kekayaan keluarga Lewis jatuh ke tangannya. Namun Miranda dan Amanda telah lebih dulu meracuni pikiran Richard, membuat pria tua itu percaya bahwa David tidak kompeten dan tak layak meneruskan perusahaan keluarga. Hasilnya, Miranda memperoleh 80% aset, Amanda 20%. David? Nol, sama sekali tidak ada. Sejak hari itu, hidupnya jatuh ke titik terendah. Ia bekerja serabutan sebagai buruh kasar, mencuci piring, membersihkan toilet, mengangkat barang di gudang. Semua demi bertahan hidup. David hidup sangat hemat, menabung setiap sen yang ia dapatkan. Tiga belas tahun kemudian, tabungannya cukup untuk membuka sebuah restoran kecil. Namun harapan itu kembali hancur. Dua tahun berjalan, restoran tersebut bangkrut. Semua tabungan, semua kerja keras selama 15 tahun, lenyap begitu saja. Malam itu, David duduk di bebatuan taman pinggir sungai, menenggak bir murah dari sisa uang terakhirnya. Ingatan tentang semua usaha kerasnya, bahkan tentang pembacaan warisan kembali menghantam pikirannya, membuat semua terasa makin mencekik. Setelah mabuk berat, David memutuskan untuk pulang. Namun, ketika baru melangkah, kakinya tergelincir. Tubuhnya jatuh tak seimbang, dan kepalanya menghantam batu besar dengan keras. Itulah bagaimana David seharusnya mati. BRAK! Sebelum David sempat bangkit dari tidurnya, pintu kamar sudah dibanting terbuka dengan kasar. “Sialan, kau benar-benar masih tidur?!” bentak Amanda lagi. David segera bangun, matanya langsung menangkap sosok Amanda yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam. Wanita itu memakai gaun rumahan ketat yang membungkus tubuh moleknya dengan sempurna. Bagian depannya menonjol sempurna di balik belahan baju yang agak rendah. Paha mulusnya tampak berkilau, seperti baru saja digosok dengan lulur mandi mahal. David melempar pandangannya pada kaca lemari yang ada di hadapannya. Matanya terbelalak lebar. Ia tahu jelas bahwa itu adalah wajahnya ketika masih berusia 21 tahun. Tiga tahun sebelum ayahnya meninggal, satu tahun setelah Miranda dan Amanda masuk ke kehidupan mereka. Tapi, tunggu... Garis wajahnya tampak lebih tegas, otot lengannya terbentuk sempurna seolah telah menerima latihan keras bertahun-tahun dan diet ketat. Dia kembali ke masa lalu dan mendapatkan tubuh seperti atlet profesional?! Bagaimana mungkin?! “Kenapa kau malah melamun, bodoh!” seru Amanda lagi, ia melangkah masuk dan langsung berdiri di hadapan David. Kaki jenjangnya hendak menendang tulang kering David, tapi urung begitu menyadari sesuatu yang besar yang menyembul dari balik celana pendek David. “Kau …” lirih Amanda, tapi tatapannya tak lepas dari batang David yang sedikit bangun. David yang menyadari arah tatapan Amanda langsung melirik ke arah yang sama. Dan betapa terkejutnya dirinya menyadari bahwa itu jauh lebih besar dari yang dia ingat. Apakah ini juga ikutan upgrade? “Kau … kau cepat turun, ayah dan ibu sudah menunggu,” lanjut Amanda dengan suara terbata, tapi pandangannya tidak bisa lepas dari milik David. David seketika tersenyum kecil. Jalang ini... Sebagai pria yang berusia 39 tahun, David cukup mengenal sorot mata seperti itu. Itu adalah tatapan dari wanita yang menginginkan lebih dari sekadar perhatian. David sekarang memahami semuanya. Dia kembali ke masa lalu dan mendapatkan tubuh sempurna. Apakah ini hadiah dari Dewa atas semua penderitaan yang dia alami? Dia diberikan kesempatan kedua? Entahlah, tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan. “Kenapa kau melihat milikku seperti itu? Kau menginginkannya?” ujar David, tersenyum puas. Amanda terperanjat kaget. Dulu, David selalu menunduk. Selalu sopan pada ibu tiri dan kakak tirinya. Selalu memilih diam demi kedamaian semu. Namun itu David yang dulu. Setelah semua yang David lalui di kehidupannya sebelumnya, ia tak akan seperti itu lagi. “A–apa maksudmu?!” elak Amanda, tapi wajahnya jelas memerah malu, sorot matanya tampak ‘haus’. David bangkit, dengan sengaja memamerkan batang yang keras dan besar itu terpampang jelas menonjol di balik celana pendeknya. Ia melangkah mendekati Amanda, masih dengan senyum puasnya. Sementara itu, Amanda tampak lebih gelisah. Pandangannya tidak bisa fokus antara pergerakan David, dengan apa yang menonjol di bawah sana. “K–kau mau apa, sialan?!” gertak Amanda sambil mundur perlahan, ia menelan ludahnya dengan susah payah.Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me
David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be
Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat
Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar
David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah







