FAZER LOGIN"Lain kali, minta izin sebelum masuk, sialan!" bentak David keras. "Kau jadi melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat!"
Amanda tersentak. Pipinya langsung memerah padam. Sejak kapan David berani membentaknya?! Bukankah biasanya dia selalu menunduk? Takut padanya? Menuruti semua perintahnya tanpa protes? Apa yang sebenarnya terjadi pada bajingan ini? Tapi tunggu... Mata Amanda tanpa sadar menelusuri tubuh David lagi. Mengapa tubuhnya sangat berotot? Bahu yang lebar. Dada yang bidang. Lengan yang keras. Perut yang terukir sempurna. Apakah dia selama ini memang punya badan sebagus ini? Dia punya tubuh yang bagus dan batang yang besar. Mengapa Amanda tidak pernah menyadarinya selama ini? Terlebih, ukurannya... tidak masuk akal! Amanda telah tidur dengan banyak pria. Pria-pria kaya, tampan, yang percaya diri dengan penampilan mereka. Tapi tidak pernah ada yang sebesar itu. Tidak pernah. Tanpa sadar, bibir bawahnya terjepit di antara giginya. Bagaimana jika... sesuatu sebesar itu masuk ke dalamnya? Pikiran itu muncul tiba-tiba. Liar. Memalukan. Imajinasinya berlari tanpa kendali. David mendorongnya ke dinding. Tangan besarnya mencengkeram pinggulnya. Napas hangatnya di lehernya. Sesuatu yang besar dan keras itu menekan masuk... Apakah itu akan muat? Dengan ukuran sebesar itu, dia pasti akan menjerit. Amanda merasakan sesuatu yang aneh menggeliat di perutnya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuatnya ingin merapatkan pahanya. Tidak. Tidak. Tidak! Ini David. Bajingan pemalas yang bodoh. Adik tirinya yang tidak berguna. Tapi tubuhnya tidak peduli dengan logika. Tubuhnya bereaksi. Putingnya mengeras di bawah gaun tipis. Celana dalamnya terasa basah. Sial! David jelas melihat semua itu. Dia tersenyum puas. Dia dapat melihat bahwa Amanda sangat menginginkannya. Tatapan yang lapar. Pipi yang memerah. Cara dia menggigit bibir. Cara dadanya naik turun lebih cepat. Tapi apakah David akan begitu saja membiarkan Amanda merasakan tubuhnya? Tentu saja tidak! Dia akan membuat jalang ini memohon dan menangis dulu. Baru setelahnya dia akan menghancurkannya! David menekan perasaan senangnya, memasang wajah dingin. "Hei, mengapa kau melamun?" Amanda tersentak. Sadar dari lamunannya yang memalukan. "I-itu karena kau tidak mengunci pintu!" balasnya cepat, berusaha terdengar marah tapi suaranya sedikit gemetar. David mengerutkan keningnya. Mengambil satu langkah maju. Jarak mereka berkurang. Amanda bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh David. Bisa mencium aroma maskulin yang aneh tapi menarik. Dia menyadari betapa besarnya tubuh David sekarang. Betapa tegapnya. Betapa... menakutkan tapi juga menggairahkan. David bertanya dengan ekspresi yang seolah mengatakan betapa bodohnya Amanda. "Sungguh tidak masuk akal! Ketika rumah seseorang dimaling, apakah kau akan menyalahkan pemilik rumah karena tidak mengunci pintu?" Amanda terdiam. Mulutnya terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar. David benar-benar berani bicara kasar padanya?! Dia kemudian menatap wajah David. Wajah yang... lebih tampan dari yang dia ingat. Rahang yang lebih tegas. Mata yang tidak lagi menghindari tatapannya. Mata yang justru menatapnya dengan... sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan David yang dia kenal. Tidak menemukan jawaban yang masuk akal, Amanda menggelengkan kepalanya. Dia harus keluar. Harus keluar dari kamar ini sebelum dia melakukan sesuatu yang bodoh. "Terserah padamu," Amanda akhirnya berkata, berusaha keras untuk terdengar normal. Untuk terdengar seperti Amanda yang biasa. Dingin, tidak peduli. Tapi suaranya terdengar sedikit serak. "Intinya sarapan sudah siap. Cepat turun. Ayah dan Ibu menunggumu." Dia berbalik untuk pergi. Tapi sebelum melangkah keluar, matanya sekali lagi melirik. Refleks. Tidak bisa ditahan. Melirik ke arah tubuh kekar David. Ke arah... itu. Dan David tahu. Tentu saja dia tahu. Senyum di wajahnya melebar. Amanda cepat-cepat keluar, menutup pintu dengan sedikit terlalu keras. Pipinya masih memerah. Jantungnya masih berdetak kencang. Dan di antara pahanya, masih ada rasa hangat yang membuatnya kesal pada dirinya sendiri. Sial. Sial. Sial. Di dalam kamar, David masih berdiri di sana. Masih tersenyum. Ini jelas kesempatan yang sempurna untuk membalas dendam. Reaksi Amanda tadi... itu lebih baik dari yang dia bayangkan. Wanita sombong itu yang selalu merendahkannya, yang selalu memanggilnya bajingan bodoh, yang selalu memperlakukannya seperti sampah... baru saja menatap batangnya dengan mata penuh hasrat. Dia menginginkannya. David bisa melihatnya. Dan ini baru permulaan. David akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Semua. Perusahaan. Uang. Kekuasaan. Dan dalam prosesnya, dia akan menghancurkan Miranda dan Amanda. Tidak hanya secara finansial. Tidak hanya merebut warisan yang mereka curi. Dia akan menghancurkan mereka dengan cara yang lebih personal. Lebih intim. Dia akan membuat mereka jatuh cinta. Terobsesi. Bergantung. Mengemis untuk sentuhannya. Dan ketika mereka sudah tidak bisa hidup tanpa tubuhnya... ketika mereka sudah menjadi budaknya... Dia akan membuang mereka seperti sampah. David berjalan ke lemari, membukanya. Mengambil kemeja putih dan celana kasual yang bagus. Pakaian yang dulu dia pakai dengan postur yang berbeda. Sekarang dengan tubuh barunya yang berotot, pakaian-pakaian ini akan terlihat lebih ketat. Lebih menampilkan bentuk tubuhnya. Sempurna. Dia harus turun untuk sarapan. Bertemu dengan Richard. Bertemu dengan Miranda. Memulai permainan yang sesungguhnya. David memasang kemeja, mengancingnya satu per satu. Melihat pantulannya di cermin. Tubuh sempurna yang mengisi kemeja dengan pas. Wajah tampan yang penuh kepercayaan diri. Senyumnya tidak hilang. "Tunggu saja, kalian semua."David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah
Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat
Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar
Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,
Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan
Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b







