LOGINKeheningan yang ditinggalkan Lysander terasa berat dan dingin. Selama beberapa saat, satu-satunya suara di kantor pengurus yang pengap itu adalah isak tangis tertahan dari Elara, yang kini merosot di lantai, terlalu takut untuk berdiri.
Rania sendiri tidak bergerak. Matanya terpaku pada ruang kosong tempat Lysander lenyap. Tangannya, yang beberapa saat lalu memegang buku catatan hitam yang menjadi kunci kemenangannya, kini terasa ringan dan kosong secara absurd. Senjatanya telah dicuri, tepat di depan matanya, oleh hantu yang tersenyum. Otaknya berpacu lebih cepat dari sebelumnya, mencoba memasukkan data yang mustahil ini ke dalam kerangka logis. Sihir itu nyata. Itu adalah fakta pertama yang harus ia terima. Entitas dengan kekuatan tak terukur ada di istana ini. Itu fakta kedua. Dan yang paling mengerikan, entitas itu mengetahui rahasianya. Fakta ketiga. "Yang Mulia..." rintih Elara, suaranya pecah. "Si-siapa itu? Hantu? Iblis?" Rania akhirnya bergerak. Dia berjongkok di depan Elara, bukan untuk menghibur, melainkan untuk menilai. Mata gadis itu dipenuhi teror murni. Asetnya hampir rusak. "Dengar, Elara," kata Rania, suaranya rendah dan tajam, memaksa Elara untuk menatap matanya. "Aku tidak tahu dia itu apa. Tapi dia tidak membunuh kita. Dia mengambil buku itu, tapi dia meninggalkan kita tetap hidup. Mengerti?" Elara mengangguk ragu-ragu. "Itu artinya kita masih berada di dalam permainan," lanjut Rania, cengkeramannya di bahu Elara mengerat. "Tapi aturan mainnya baru saja berubah. Rencana kita untuk bergerak diam-diam sudah mati. Kita tidak punya waktu. Aku butuh kau untuk fokus. Bisa?" Melihat tatapan baja di mata Permaisurinya, sesuatu di dalam diri Elara yang gemetar itu menemukan pegangan. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengangguk lagi, kali ini lebih mantap. "Bisa, Yang Mulia." "Bagus." Rania berdiri. "Dia mengambil bukti fisiknya, tapi dia tidak bisa mengambil ini." Rania mengetuk pelipisnya sendiri. "Dia menyuruhku menggunakan salinannya di dalam kepalaku. Baiklah. Kita akan memberinya pertunjukan yang lebih baik." Dia berbalik dan melihat tumpukan perkamen kosong dan tinta yang mereka bawa. Rencananya untuk menyalin isi buku itu kini berubah. Dia tidak akan lagi hanya menyalinnya. Dia akan meningkatkannya. "Elara, kita kembali ke kamarku. Bawa semua perkamen dan tinta yang tersisa. Pekerjaan kita belum selesai. Justru baru dimulai." Malam itu, kamar Rania yang dingin berubah menjadi ruang strategi perang. Didorong oleh adrenalin dan ancaman dari kekuatan yang tak diketahui, Rania bekerja dengan intensitas yang mengerikan. Dia tidak bisa lagi mengandalkan bukti fisik yang bisa dicuri. Dia harus menciptakan senjata baru—sebuah argumen yang begitu logis, begitu padat dengan data, hingga tidak bisa dibantah, bahkan tanpa bukti aslinya. Dia mulai mendiktekan isi buku catatan hitam itu dari ingatannya, dan Elara menulis dengan panik untuk mengikutinya. Tapi Rania tidak hanya mendikte. Dia menambahkan analisisnya. "Tulis ini," katanya sambil mondar-mandir. "Judul: **Proposal Restrukturisasi Anggaran dan Peningkatan Efisiensi Operasional, Istana Bunga Es.**" Dia kemudian menjabarkan setiap poin korupsi, bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai "studi kasus inefisiensi". Dia mengubah pencurian gandum menjadi "penyusutan aset logistik". Perbaikan atap fiktif menjadi "alokasi anggaran tanpa realisasi proyek". Dia bahkan membuat Elara menggambar bagan-bagan sederhana. "Gambar sebuah balok. Tulis di atasnya 'Anggaran Resmi'. Sekarang gambar panah-panah yang keluar dari balok itu. Tulis di setiap panah: 'Kebocoran Material', 'Biaya Personil Fiktif', 'Pembelian Fiktif'. Ini namanya diagram alur. Ini menunjukkan ke mana uangnya pergi." Di halaman terakhir, dia mendiktekan bagian "Rekomendasi", mengusulkan dirinya sendiri untuk memimpin "proyek percontohan" untuk menerapkan sistem audit modern, lengkap dengan proyeksi penghematan sebesar 30% dari anggaran tahunan. Itu adalah sebuah proposal yang berani, arogan, dan sangat detail. Sebuah mahakarya dari dunia korporat yang dilemparkan ke jantung kekaisaran feodal. Saat fajar menyingsing, gulungan perkamen yang tebal itu selesai. Rania menatapnya dengan puas. Lysander ingin pertunjukan? Baiklah. Babak pertama akan segera dimulai. Dia memanggil Delia. Kepala pelayan itu datang dengan cepat, wajahnya patuh. "Puan Delia," kata Rania, menyerahkan gulungan tebal itu. "Aku ingin ini berada di atas meja kerja Kaisar Darrius sebelum tengah hari. Tepat di tengah mejanya." Delia menelan ludah, merasakan beratnya gulungan itu. "Tapi, Yang Mulia, protokol..." "Protokol sudah tidak berlaku," potong Rania dingin. "Kau akan mengantarkan ini. Jika ada yang menghalangi, katakan pada mereka bahwa isinya menyangkut keamanan dana pribadi Yang Mulia. Jika kau gagal..." Rania menatap lurus ke mata Delia, "...maka loyalitasmu yang baru ini tidak ada artinya. Dan aku tidak punya gunanya menyimpan karyawan yang tidak berguna." Ancaman itu, yang dibungkus dengan bahasa manajemen yang dingin, jauh lebih menakutkan daripada amarah biasa. Delia mengangguk cepat. "Saya mengerti, Yang Mulia. Anggap saja sudah beres." Dia mengambil gulungan itu dan pergi dengan tergesa-gesa. Rania kini sendirian di kamarnya. Dia berjalan ke jendela, menatap istana utama di kejauhan yang mulai bermandikan cahaya pagi. Dia telah mengambil risiko terbesarnya. Dia telah menantang Kaisar secara langsung, memaksanya untuk bereaksi. Dia tidak tahu apakah reaksi itu akan berupa minat atau perintah eksekusi. Dia telah melemparkan dadunya, di atas papan catur yang ternyata juga dihuni oleh hantu. *Proposal telah dikirim,* pikirnya, tangannya rata di kaca jendela yang dingin. *Sekarang, mari kita lihat apakah dewan direksi di kekaisaran ini cukup pintar untuk mengenali peluang investasi.*[LOKASI: RUANG KENDALI THE ARK - ZONA SEMBUNYI]"Sandi S.O.S kuno sudah siap," jari-jari Vee menari di atas keyboard holografik. Matanya memantulkan deretan kode biner berwarna hijau. "Aku menggunakan enkripsi militer Era Alpha. Bagi sensor kapal Vector, ini akan terlihat seperti suar darurat dari reaktor USS Valkyrie yang tiba-tiba aktif kembali setelah 500 tahun."Rick melipat tangannya di dada, menatap layar radar yang menampilkan formasi armada Frigate Vector di luar sabuk sampah."Buat sinyalnya berkedip tak beraturan. Seolah-olah reaktor itu hampir meledak tapi menyimpan data berharga," instruksi Rick. "Keserakahan adalah bug paling universal di otak manusia."Vee mengangguk. Dia menekan Enter.[TRANSMITTING: FAKE_DISTRESS.WAV][FREQUENCY: SECURE_BAND_7]Sinyal itu memancar menembus lautan sampah antariksa, langsung menuju ke jaring patroli Vector.Di luar angkasa, salah satu titik merah di radar—kapal Frigate bernama The Vulture—berhenti dari rute patrolinya. Kapal itu berputar
[LOKASI: RUANG HAMPA - ANTARA USS VALKYRIE DAN THE ARK]"JANGAN LEPAS BARANGNYA!" Teriak Rick lewat saluran radio yang penuh suara static.Di sekeliling mereka, kegelapan antariksa tidak lagi sunyi.Ribuan titik merah bermunculan dari balik asteroid. Seeker Drones milik Vector. Bentuknya seperti bola mata terbang dengan tentakel laser.Mereka mendeteksi ledakan dinding tadi. Sekarang mereka datang untuk pesta.Rick, Jax, dan Pip melayang di ruang hampa, menarik peti kargo raksasa berisi Oxygen Scrubber (Penyaring Udara) menggunakan kabel baja. Peti itu beratnya 2 ton di bumi, tapi di sini beratnya nol—masalahnya adalah inersia. Sekali peti itu bergerak, susah dihentikan."Mereka mengunci target!" teriak Pip panik.PEW! PEW! PEW!Hujan laser merah menghujani mereka. Laser itu tidak bersuara, tapi setiap kali mengenai peti kargo, peti itu bergetar hebat dan lapisan luarnya meleleh."Lindungi Scrubber-nya! Kalau itu hancur, kita semua mati lemas!" perintah Rick.Rick memutar tubuhnya di
[LOKASI: SABUK SAMPAH ORBITAL - ZONA SEMBUNYI][STATUS THE ARK: LIFE SUPPORT 58%]Hening.Di luar angkasa, tidak ada suara ledakan, tidak ada suara angin, dan tidak ada suara teriakan. Hanya ada kehampaan yang menekan gendang telinga.The Ark bersandar miring di dalam rongga perut bangkai stasiun luar angkasa kuno yang disebut "Titan's Rib". Lambung kapal yang tadinya berkilau kini penuh goresan meteorit dan sisa karbon akibat gesekan atmosfer.Di Anjungan, lampu merah berputar pelan."Oksigen turun 2% per jam," lapor Elara, memijat pelipisnya yang pening. "Sistem daur ulang udara bekerja terlalu keras. Jika kita tidak menemukan filter CO2 baru atau Scrubber kimiawi... dalam 24 jam kita semua akan mati lemas."Rick melayang di tengah anjungan. Gravitasi buatan dimatikan di sektor non-esensial untuk menghemat energi. Dia sedang makan apel sintetik sambil melihat peta hologram puing-puing di sekitar mereka."Tenang, Elara. Lihat di sana." Rick menunjuk sebuah titik hijau di peta sonar j
[LOKASI: LOW ORBIT AETHELGARD - ZONA BLOKADE][KETINGGIAN: 300 KM DI ATAS PERMUKAAN]Langit biru telah berubah menjadi hitam pekat yang dihiasi bintang-bintang dingin.Di bawah mereka, planet Aethelgard terbentang—sebuah bola raksasa yang tertutup awan polusi abu-abu di selatan dan kerlap-kerlip lampu kota Sky Ring di utara.Tapi tidak ada waktu untuk mengagumi pemandangan.Di depan moncong The Ark, sebuah bayangan raksasa menutupi matahari.Kapal Induk The Harbinger. Bentuknya seperti mata panah hitam sepanjang 5 kilometer. Lambungnya dipenuhi ribuan meriam laser yang kini menyala merah, membidik satu titik kecil yang baru saja naik dari atmosfer: Kapal Rick.Di Anjungan Harbinger, Vector berdiri dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya diproyeksikan ke layar utama The Ark."Selamat datang di wilayahku, Tikus Tanah," suara Vector terdengar jernih, tanpa gangguan statis. "Kalian berhasil mengalahkan mainan daratku. Tapi di sini... di ruang hampa... hukum fisika adalah milikku."Ve
[LOKASI: GERBANG UTAMA SEKTOR 88 - SUBUH]Tanah bergetar. Kerikil melompat-lompat di atas aspal retak.Di cakrawala, matahari tidak terlihat. Yang terlihat adalah dinding debu dan logam yang bergerak mendekat.Legiun Emas Kaelus.Lima puluh ribu unit. Barisan depan terdiri dari Heavy Hover-Tanks dengan meriam plasma ganda. Di belakangnya, ribuan infanteri mengenakan Exoskeleton standar militer. Di udara, Gunship (pesawat tempur) berdengung seperti lalat pembunuh.Kaelus tidak main-main. Dia membawa kiamat ke depan pintu rumah Rick.Di sisi lain, di balik barikade rongsokan yang dibangun buruh Sektor 88, hanya ada 2.000 orang.Pasukan Rick. Mereka memakai rompi dari kulit monster, memegang senapan rakitan, dan berlindung di balik bangkai bus sekolah. Mereka gemetar. Perbandingan jumlahnya 1 banding 25."Mereka banyak sekali..." bisik salah satu mantan anak buah Varg, tangannya licin oleh keringat di gagang senapan."Tenang," suara berat terdengar dari depan barisan.Darrius berdiri di
[LOKASI: RUANG MEDIS VVIP - THE ARK][HARI KE-12 PENGEPUNGAN]Rick membuka matanya. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa sakit di sekujur tubuh, seolah-olah setiap piksel di avatarnya baru saja di-render ulang dengan resolusi rendah."Jangan bergerak," suara dingin Vee terdengar.Rick menoleh. Dia terbaring di dalam tabung regenerasi berisi cairan hijau Bacta. Di sebelahnya, Vee sedang memonitor grafik kestabilan datanya."Kau kehilangan 40% integritas kode tubuhmu saat masuk ke mesin itu," lapor Vee tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kalau aku telat menarikmu keluar 10 detik saja, kau akan jadi file corrupt selamanya.""Tapi aku menang, kan?" Rick mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku."Kau menang," Vee menghela napas, menekan tombol untuk menguras cairan tabung. "Dan kau dapat mainan baru."Tabung terbuka. Rick melangkah keluar, handuk otomatis mengeringkan tubuhnya. Dia memakai baju pasien."Mainan apa?"Vee melempar sebuah tablet ke arah Rick."Jax dan tim mekanik







