LOGINYa, Dewi sadar dia terlahir kembali ditubuh yang berbeda, tubuh seorang permaisuri yang terbuang.
--- Tiga hari kemudian, Dewi — atau lebih tepatnya Ratu Dewi Huiyin—telah menyerap semua kenangan tubuh barunya. Proses itu menyakitkan, seperti menonton film tragedi yang panjang tentang kehidupan orang lain. Setiap penghinaan, setiap fitnah, setiap air mata, setiap malam kesepian yang dialami Huiyin yang asli kini menjadi bagian dari ingatannya. Huiyin dulunya adalah putri dari Jenderal besar yang berjasa. Pernikahannya dengan Kaisar Zheng He adalah pernikahan politik yang penuh harapan. Namun semua berubah ketika Selir Agung Lian Xiu masuk ke istana dua tahun lalu. Wanita licik itu perlahan meracuni pikiran kaisar dengan fitnah demi fitnah, Kaisar termakan oleh fitnah itu dan Huiyin diasingkan ke Istana Dingin—bagian istana yang ditinggalkan, tempat permaisuri yang tidak disukai dibuang untuk dilupakan. "Niang niang, Anda belum makan sejak kemarin," suara Yun Xiang, pelayan setia yang tersisa, memecah lamunan Dewi. Gadis berusia enam belas tahun itu membawa nampan dengan bubur sederhana dan acar sayur. Dewi tersenyum tipis. Di kehidupan lamanya, ia terbiasa dengan hidangan restoran bintang lima Michelin. Namun kini, bahkan bubur sederhana pun adalah kemewahan bagi seorang permaisuri yang terkucil. "Yun Xiang," kata Dewi sambil mengamati gadis itu. "Berapa banyak pelayan yang tersisa di istana ini?" "Hanya hamba dan Paman Wu yang menjaga gerbang, Niang niang. Yang lainnya... telah dipindahkan oleh perintah Selir Agung Lian." Tentu saja. Taktik klasik untuk mengisolasi lawan. Dewi terlalu kenal dengan politik kantor di dunia mode untuk tidak mengenali pola yang sama di istana kuno ini. "Katakan padaku tentang Selir Agung Lian," pinta Dewi sambil menyeruput bubur perlahan. "Bagaimana dia mendapatkan kepercayaan kaisar?" Yun Xiang ragu-ragu, takut berbicara tentang selir kesayangan kaisar. Namun tatapan lembut namun tegas dari Dewi membuatnya membuka mulut. "Selir Lian... dia sangat pandai menyenangkan hati Kaisar. Dia mengerti seni, musik, dan sastra. Setiap kali Kaisar lelah dengan urusan negara, Selir Lian selalu tahu cara menghiburnya. Dia juga..." Yun Xiang menunduk, "... juga cantik seperti bidadari yang turun dari langit." Dewi mengangguk perlahan. Ia sudah melihat potret Lian Xiu di kenangan Huiyin. Wanita itu memang cantik luar biasa, dengan wajah oval sempurna dan mata yang seolah berbicara. Namun kecantikan tanpa substansi hanya ilusi sementara. "Apa yang membuat kaisar mempercayai fitnahnya terhadapku?" tanya Dewi langsung. "Selir Lian mengatakan bahwa Niang niang telah... berselingkuh dengan salah satu pejabat istana. Dia memiliki 'bukti'—surat cinta yang konon katanya ditulis oleh Niang niang. Tentu saja itu bohong! Hamba tahu Niang niang tidak akan pernah—" "Surat palsu," potong Dewi datar. Matanya menyipit. "Klasik. Mudah dibuat, sulit dibantah." Yun Xiang menatap tuannya dengan bingung. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari Niang niang sejak tiga hari lalu. Cara bicaranya lebih tegas, tatapannya lebih tajam, dan anehnya... tidak ada lagi isak tangis yang biasa memenuhi istana ini setiap malam. Dewi bangkit dan berjalan ke jendela kayu yang retak. Dari sini, ia bisa melihat kejauhan istana utama dengan atap genteng keemasan yang berkilau di bawah sinar matahari. Di suatu tempat di sana, Kaisar Zheng He duduk di singgasananya, tidak tahu bahwa permaisuri yang ia campakkan telah berubah total. "Yun Xiang," kata Dewi tanpa berpaling. "Aku butuh informasi. Siapa saja yang masih netral di istana ini? Siapa yang tidak memihak Selir Lian?" "N-Niang niang?" "Aku tidak akan diam di sini menunggu mati seperti hantu terlupakan," Dewi berbalik, matanya berkilat dengan tatapan determinasi yang belum pernah dilihat Yun Xiang sebelumnya. "Jika mereka pikir aku sudah mati, maka aku akan bangkit dari kubur dan mengingatkan mereka siapa yang seharusnya menjadi ratu di istana ini." Di kehidupan lamanya, Dewi membangun kerajaan mode dari nol. Ia menghadapi pesaing kejam, politik industri yang kotor, dan pengkhianatan. Ia mati sekali—dan itu karena ia terlalu percaya. Kesalahan yang tidak akan ia ulangi. Kali ini, ia akan bermain dengan lebih cerdas. Lebih dingin. Dengan penuh strategis. "Dengarkan baik-baik," kata Dewi sambil duduk kembali, jari-jarinya mengetuk meja kayu dengan ritme seperti seorang jenderal merencanakan perang. "Ini yang akan kita lakukan..." Yun Xiang mendengar dengan mata terbelalak. Rencana yang dijelaskan Niang niang-nya begitu berani, begitu brilian, dan begitu... tidak lazim. Ini bukan cara permaisuri biasa bertindak. Ini seperti mendengar strategi seorang ahli taktik yang berpengalaman dalam medan perang yang jauh lebih berbahaya dari pedang dan panah—medan perang ambisi, kecerdasan, dan kekuasaan. "Niang niang," bisik Yun Xiang kagum setelah Dewi selesai menjelaskan. "Dari mana Anda tahu semua ini?" Dewi tersenyum misterius, matanya menatap jauh melampaui dinding istana, seolah melihat dua kehidupan yang berbeda menyatu menjadi satu. "Katakan saja... aku sudah pernah hidup di medan perang yang jauh lebih kejam dari istana ini," jawabnya lirih. "Dan kali ini, aku tidak akan kalah." Di kejauhan, lonceng istana berbunyi menandakan senja. Era baru untuk Ratu Dewi Huiyin baru saja dimulai. Dewi akan hidup dengan baik ditubuh barunya dan akan membersihkan namanya. "Tunggu saja pembalasanku."Tiga bulan telah berlalu sejak kejatuhan Selir Lian. Istana Chen berubah dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapapun. Dan pusat dari semua perubahan itu adalah Ratu Dewi Huiyin, yang kini tidak lagi tinggal di Istana Dingin yang suram, melainkan di Paviliun Mutiara Timur—kediaman megah yang dulunya ditempati oleh permaisuri-permaisuri agung dalam sejarah dinasti.Pagi itu, Dewi duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh gulungan-gulungan peta, diagram arsitektur, dan laporan dari berbagai departemen pemerintahan. Yun Xiang, yang kini telah diangkat sebagai kepala pelayan istri permaisuri, menuangkan teh dengan senyum bangga."Niang niang, Menteri Li dan timnya sudah menunggu di aula pertemuan," lapor Yun Xiang."Biarkan mereka masuk," kata Dewi tanpa mengangkat kepala dari diagram yang sedang ia pelajari.Menteri Li Wei masuk bersama lima pejabat senior lainnya. Pria tua itu sudah pulih sepenuhnya dari racun yang hampir membunuhnya, bahkan terlihat lebih bersemangat da
Aula Agung dipenuhi oleh seluruh pejabat tinggi istana, para menteri, dan anggota keluarga kerajaan. Suasananya tegang seperti senar yang akan putus. Di pusat ruangan, Kaisar Zheng He duduk di singgasana dengan wajah keras, tatapannya sulit dibaca.Di sebelah kirinya, Selir Agung Lian Xiu berdiri dengan elegan dalam hanfu ungu gelap, senyuman tipis bermain di bibirnya. Wajahnya menampilkan kesedihan yang sempurna—seperti seorang aktris yang telah berlatih perannya dengan matang."Yang Mulia," kata Lian dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. "Hamba mohon keadilan. Permaisuri telah melampaui batas. Tidak cukup dengan mengklaim prestasi orang lain, kini dia bahkan berusaha membunuh Menteri Li Wei—orang yang dia klaim sebagai saksinya sendiri!"Gumaman persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan yang memihak Selir Lian.Pintu besar Aula Agung terbuka. Dewi melangkah masuk dengan langkah mantap, Yun Xiang mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat. Meskipun lelah setelah menyelam
Fajar belum menyingsing ketika Dewi terbangun oleh suara langkah kaki terburu-buru di luar kamarnya. Instingnya yang diasah oleh pengalaman dua kehidupan langsung menajam. Ada yang tidak beres."Niang niang!" Yun Xiang masuk dengan wajah pucat pasi. "Menteri Li Wei... dia jatuh sakit tiba-tiba tadi malam! Para tabib mengatakan... dia diracun!"Dewi bangkit dengan cepat, pikirannya langsung bekerja. "Tentu saja. Aku seharusnya menduga ini." Ia mengutuk dirinya sendiri—di dunia mode, ia sudah belajar bahwa kompetitor yang terdesak akan melakukan apa saja. Seharusnya ia lebih waspada."Bagaimana kondisinya?""Kritis, Niang niang. Para tabib istana tidak bisa mengidentifikasi racunnya. Mereka bilang... jika tidak menemukan penawarnya dalam dua hari, Menteri Li akan..." Yun Xiang tidak sanggup melanjutkan.Dewi bergegas mengenakan pakaian luarnya. "Kita harus ke sana sekarang.""Tapi Niang niang, kita tidak diizinkan meninggalkan Istana Dingin tanpa izin—""Seorang pria akan mati, Yun Xian
Paviliun pesta yang tadinya dipenuhi musik dan tawa kini sunyi senyap. Semua mata tertuju pada sosok Ratu Dewi Huiyin yang berdiri dengan tenang di tengah kerumunan, setelah pengungkapan mengejutkan yang baru saja ia lontarkan.Kaisar Zheng He bangkit perlahan dari singgasananya. Wajahnya tidak terbaca—antara terkejut, tidak percaya, dan mungkin... terkesan."Permaisuri," suaranya bergema di seluruh paviliun. "Apa yang baru saja kau katakan? Kau yang mengirimkan semua desain dan saran itu kepada Menteri Li?""Ya, Yang Mulia." Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama dua bulan terakhir, hamba telah mengamati kesulitan negara dari Istana Dingin. Meskipun hamba dikucilkan, hati hamba tetap untuk dinasti Chen dan kesejahteraan rakyat."Selir Lian melompat dari duduknya, wajahnya pucat namun berusaha mempertahankan senyuman. "Yang Mulia, ini pasti kebohongan! Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak pernah keluar dari istana, yang tidak memiliki pendidikan tentang pertania
Dua bulan berlalu sejak Dewi mengirimkan desain irigasi ke Menteri Li Wei. Strategi pertamanya berhasil melebihi harapan—sistem pengairan yang ia rancang tidak hanya diterapkan, tetapi juga menyelamatkan hasil panen musim gugur. Kaisar Zheng He sangat terkesan hingga menganugerahkan Menteri Li promosi dan hadiah yang melimpah. Namun yang lebih penting, Menteri Li kini penasaran setengah mati tentang siapa dalang jenius di balik desain tersebut. Dewi telah mengirimkan tiga "saran" lagi secara anonim: reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, metode penyimpanan pangan yang tahan lama, dan desain arsitektur paviliun baru yang lebih efisien namun tetap megah. Semuanya sukses besar. Dan semuanya membuat nama Menteri Li melambung tinggi di mata kaisar. "Niang niang, ada kabar!" Yun Xiang berlari masuk ke istana dengan napas terengah-engah. "Kaisar akan mengadakan Pesta Peony—perayaan besar untuk merayakan pemulihan hasil panen! Semua anggota istana diundang, termasuk... Anda." Dewi m
Malam itu, di bawah cahaya lentera yang redup, Dewi duduk di meja kerjanya yang lapuk sambil menulis dengan kuas. Namun yang ia tulis bukanlah puisi atau surat—melainkan diagram strategi yang rapi, lengkap dengan panah dan catatan di pinggirnya. Kebiasaan dari kehidupan lamanya ketika merencanakan kampanye fashion atau strategi bisnis. Yun Xiang mengintip dari balik bahu tuannya, mencoba memahami tulisan aneh yang penuh dengan kata-kata asing dan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Ini disebut 'mind mapping,'" jelas Dewi tanpa menoleh. "Cara mengorganisir pikiran dan strategi secara visual. Lebih efisien daripada menulis panjang lebar." "Luar biasa..." gumam Yun Xiang kagum. Dewi menunjuk ke diagram yang ia buat. "Lihat. Di puncak ada Kaisar Zheng He. Di bawahnya, ada tiga faksi utama: Faksi Selir Lian yang kuat karena dia memiliki telinga kaisar, Faksi para menteri tua yang loyal pada tradisi dan keluarga Jenderal Huiyin, dan Faksi netral yang hanya peduli pada sta







