MasukPaviliun pesta yang tadinya dipenuhi musik dan tawa kini sunyi senyap. Semua mata tertuju pada sosok Ratu Dewi Huiyin yang berdiri dengan tenang di tengah kerumunan, setelah pengungkapan mengejutkan yang baru saja ia lontarkan.
Kaisar Zheng He bangkit perlahan dari singgasananya. Wajahnya tidak terbaca—antara terkejut, tidak percaya, dan mungkin... terkesan. "Permaisuri," suaranya bergema di seluruh paviliun. "Apa yang baru saja kau katakan? Kau yang mengirimkan semua desain dan saran itu kepada Menteri Li?" "Ya, Yang Mulia." Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama dua bulan terakhir, hamba telah mengamati kesulitan negara dari Istana Dingin. Meskipun hamba dikucilkan, hati hamba tetap untuk dinasti Chen dan kesejahteraan rakyat." Selir Lian melompat dari duduknya, wajahnya pucat namun berusaha mempertahankan senyuman. "Yang Mulia, ini pasti kebohongan! Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak pernah keluar dari istana, yang tidak memiliki pendidikan tentang pertanian atau konstruksi, tiba-tiba bisa menciptakan desain sebrilian itu?" Bisikan persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan. Memang, klaim Dewi terdengar mustahil. "Selir Lian bertanya dengan sangat baik," kata Dewi sambil berbalik menghadap wanita itu. Matanya tajam seperti pedang. "Pertanyaan yang sama seharusnya ditanyakan dua tahun lalu—bagaimana mungkin seorang permaisuri yang tidak pernah berselingkuh tiba-tiba memiliki 'surat cinta' kepada pejabat istana?" Keheningan mencekam. Dewi baru saja menyinggung skandal yang menjatuhkannya dahulu. "Itu berbeda—" Selir Lian mencoba membela diri. "Berbeda?" potong Dewi, suaranya tetap tenang namun menusuk. "Bukti palsu untuk menghancurkan reputasi. Fitnah tanpa pemeriksaan menyeluruh. Ya, memang sangat berbeda—karena yang satu adalah kebohongan, yang lain adalah kebenaran." Menteri Li Wei maju ke depan, tangannya gemetar memegang gulungan kertas. "Yang Mulia, izinkan hamba berbicara. Hamba menyimpan semua surat yang dikirimkan oleh... oleh orang misterius itu." Ia membuka gulungan pertama. "Tulisan tangannya identik dengan tulisan permaisuri. Dan yang lebih penting, detail teknis dalam desain ini menunjukkan pemahaman yang sangat mendalam—bukan sekadar saran asal-asalan." Kaisar mengambil gulungan dari tangan Menteri Li. Matanya menelusuri setiap garis, setiap diagram. Ia ingat betul tulisan tangan Huiyin—dahulu, permaisurinya sering menuliskan puisi dan surat untuknya. Tulisan ini... memang sama. "Jika ini benar darimu," kata Kaisar akhirnya, menatap Dewi dengan tatapan menyelidik. "Buktikan. Jelaskan kepada kami bagaimana sistem irigasi itu bekerja." Ini adalah ujian. Satu kesempatan untuk membuktikan diri atau dihancurkan selamanya. Dewi melangkah maju dengan tenang. "Bolehkah hamba meminjam kuas dan kertas?" Seorang pelayan segera membawakan meja tulis kecil. Dengan gerakan cepat dan presisi, Dewi mulai menggambar diagram yang rumit di hadapan semua orang. Tangannya bergerak dengan yakin, seolah telah melakukan ini ribuan kali. "Sistem irigasi tradisional mengalirkan air dari sungai utama ke sawah melalui saluran besar," jelas Dewi sambil menggambar. "Masalahnya, air terbuang sia-sia, dan sawah yang jauh dari sungai tidak mendapat cukup air saat kemarau." Ia menambahkan detail pada diagramnya. "Solusinya adalah sistem bertingkat dengan waduk kecil di beberapa titik strategis. Air ditampung saat musim hujan, kemudian dialirkan secara bertahap melalui saluran-saluran kecil yang terhubung. Dengan katup pengatur sederhana yang bisa dibuka tutup, petani bisa mengontrol aliran air ke sawah mereka sendiri." Semua orang mendengarkan dengan terpaku. Bahkan Selir Lian tidak bisa menyela—penjelasan Dewi terlalu detail, terlalu meyakinkan. "Yang paling penting," lanjut Dewi, "adalah sudut kemiringan saluran—tidak boleh terlalu curam atau air akan terlalu deras dan merusak tanaman, tidak boleh terlalu landai atau air akan menggenang. Sudut optimal adalah lima derajat dengan lebar saluran satu chi setengah." Menteri Li mengangguk-angguk dengan semangat. "Persis! Persis seperti yang tertulis dalam surat! Bahkan angka-angkanya sama!" Kaisar terdiam lama. Matanya menelusuri wajah permaisuri yang pernah ia cintai, yang ia campakkan karena fitnah, yang kini berdiri di hadapannya sebagai sosok yang sama sekali berbeda. "Dewi Huiyin," suara kaisar pelan namun tegas. "Jika semua ini benar... mengapa kau tidak datang langsung kepadaku? Mengapa harus melalui Menteri Li secara anonim?" Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Dewi melembut. "Karena hamba tahu Yang Mulia tidak akan mendengarkan. Dua tahun lalu, Yang Mulia memilih untuk percaya pada fitnah daripada pada istri yang telah bersumpah setia. Kepercayaan itu sudah hancur." Kata-katanya seperti cambuk yang menyayat hati kaisar. Beberapa menteri tua menunduk, mereka ingat betapa cepatnya kaisar menjatuhkan hukuman pada permaisuri tanpa investigasi menyeluruh. "Jadi hamba harus membuktikan nilai hamba terlebih dahulu," lanjut Dewi. "Bukan sebagai permaisuri, bukan sebagai istri, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar berguna bagi negara ini. Hamba tidak meminta belas kasihan Yang Mulia. Hamba meminta pengakuan atas kontribusi hamba." "Berani sekali!" Selir Lian tidak tahan lagi. "Yang Mulia, wanita ini jelas telah berubah! Sikapnya terlalu lancang, terlalu tidak hormat! Ini bukan cara seorang permaisuri seharusnya berperilaku!" "Kau benar," Dewi berbalik menghadap Selir Lian dengan tatapan dingin. "Hamba memang berubah. Permaisuri yang lama terlalu lemah, terlalu mudah diperdaya, terlalu percaya pada orang yang salah." Ia melangkah lebih dekat. "Tapi cobaan mengubah orang. Dan hamba belajar bahwa dalam istana ini, kebaikan saja tidak cukup. Kau harus memiliki nilai nyata." "Cukup!" Kaisar mengangkat tangan. Semua orang langsung terdiam. "Menteri Li, besok pagi kau akan membentuk tim untuk memverifikasi semua saran yang dikirimkan 'orang misterius' itu. Cocokkan dengan pengetahuan dan kemampuan permaisuri. Kita akan tahu kebenarannya dalam tiga hari." "Baik, Yang Mulia!" Menteri Li membungkuk dalam. Kaisar menatap Dewi lagi, kali ini dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Permaisuri, kau boleh kembali ke Istana Dingin. Tunggu hasilnya." "Hamba mohon diri, Yang Mulia." Dewi membungkuk hormat, kemudian berbalik pergi dengan langkah tenang. Namun sebelum keluar dari paviliun, ia berhenti sejenak dan berbalik. "Oh, satu hal lagi, Yang Mulia." Kaisar mengangkat alis. "Tentang desain paviliun baru yang diusulkan dalam surat ketiga—hamba sarankan menggunakan kayu jati dari selatan daripada kayu pinus dari utara. Lebih tahan lama untuk iklim kita, dan aromanya membantu mencegah serangga. Detail teknis ada di surat yang hamba kirimkan ke Menteri Li minggu lalu." Dengan itu, Dewi pergi, meninggalkan seluruh paviliun dalam kebingungan dan kekaguman. Selir Lian berdiri dengan kepalan tangan gemetar. Malam ini seharusnya menjadi penghinaan bagi permaisuri. Tapi entah bagaimana, wanita itu mengubahnya menjadi panggung kemenangannya sendiri. "Yang Mulia..." Selir Lian mencoba meraih lengan kaisar, tapi pria itu menghindar. "Lian Xiu," kata Kaisar dengan suara datar. "Aku lelah. Jangan ganggu aku malam ini." Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Kaisar Zheng He kembali ke kamar tidurnya sendiri—bukan ke kamar Selir Lian. Dan di kegelapan malam, di Istana Dingin yang sunyi, Dewi duduk di jendela menatap bulan. Yun Xiang berdiri di belakangnya dengan wajah khawatir. "Niang niang, apakah kita akan baik-baik saja? Selir Lian pasti akan membalas dendam..." Dewi tersenyum tipis. "Tentu saja dia akan balas dendam. Tapi kali ini, aku siap. Dan yang lebih penting—aku sudah membuat kaisar ragu. Keraguan adalah awal dari kebenaran." Ia bangkit dan meregangkan tubuhnya. "Persiapkan dirimu, Yun Xiang. Pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai."Tiga bulan telah berlalu sejak kejatuhan Selir Lian. Istana Chen berubah dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapapun. Dan pusat dari semua perubahan itu adalah Ratu Dewi Huiyin, yang kini tidak lagi tinggal di Istana Dingin yang suram, melainkan di Paviliun Mutiara Timur—kediaman megah yang dulunya ditempati oleh permaisuri-permaisuri agung dalam sejarah dinasti.Pagi itu, Dewi duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh gulungan-gulungan peta, diagram arsitektur, dan laporan dari berbagai departemen pemerintahan. Yun Xiang, yang kini telah diangkat sebagai kepala pelayan istri permaisuri, menuangkan teh dengan senyum bangga."Niang niang, Menteri Li dan timnya sudah menunggu di aula pertemuan," lapor Yun Xiang."Biarkan mereka masuk," kata Dewi tanpa mengangkat kepala dari diagram yang sedang ia pelajari.Menteri Li Wei masuk bersama lima pejabat senior lainnya. Pria tua itu sudah pulih sepenuhnya dari racun yang hampir membunuhnya, bahkan terlihat lebih bersemangat da
Aula Agung dipenuhi oleh seluruh pejabat tinggi istana, para menteri, dan anggota keluarga kerajaan. Suasananya tegang seperti senar yang akan putus. Di pusat ruangan, Kaisar Zheng He duduk di singgasana dengan wajah keras, tatapannya sulit dibaca.Di sebelah kirinya, Selir Agung Lian Xiu berdiri dengan elegan dalam hanfu ungu gelap, senyuman tipis bermain di bibirnya. Wajahnya menampilkan kesedihan yang sempurna—seperti seorang aktris yang telah berlatih perannya dengan matang."Yang Mulia," kata Lian dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. "Hamba mohon keadilan. Permaisuri telah melampaui batas. Tidak cukup dengan mengklaim prestasi orang lain, kini dia bahkan berusaha membunuh Menteri Li Wei—orang yang dia klaim sebagai saksinya sendiri!"Gumaman persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan yang memihak Selir Lian.Pintu besar Aula Agung terbuka. Dewi melangkah masuk dengan langkah mantap, Yun Xiang mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat. Meskipun lelah setelah menyelam
Fajar belum menyingsing ketika Dewi terbangun oleh suara langkah kaki terburu-buru di luar kamarnya. Instingnya yang diasah oleh pengalaman dua kehidupan langsung menajam. Ada yang tidak beres."Niang niang!" Yun Xiang masuk dengan wajah pucat pasi. "Menteri Li Wei... dia jatuh sakit tiba-tiba tadi malam! Para tabib mengatakan... dia diracun!"Dewi bangkit dengan cepat, pikirannya langsung bekerja. "Tentu saja. Aku seharusnya menduga ini." Ia mengutuk dirinya sendiri—di dunia mode, ia sudah belajar bahwa kompetitor yang terdesak akan melakukan apa saja. Seharusnya ia lebih waspada."Bagaimana kondisinya?""Kritis, Niang niang. Para tabib istana tidak bisa mengidentifikasi racunnya. Mereka bilang... jika tidak menemukan penawarnya dalam dua hari, Menteri Li akan..." Yun Xiang tidak sanggup melanjutkan.Dewi bergegas mengenakan pakaian luarnya. "Kita harus ke sana sekarang.""Tapi Niang niang, kita tidak diizinkan meninggalkan Istana Dingin tanpa izin—""Seorang pria akan mati, Yun Xian
Paviliun pesta yang tadinya dipenuhi musik dan tawa kini sunyi senyap. Semua mata tertuju pada sosok Ratu Dewi Huiyin yang berdiri dengan tenang di tengah kerumunan, setelah pengungkapan mengejutkan yang baru saja ia lontarkan.Kaisar Zheng He bangkit perlahan dari singgasananya. Wajahnya tidak terbaca—antara terkejut, tidak percaya, dan mungkin... terkesan."Permaisuri," suaranya bergema di seluruh paviliun. "Apa yang baru saja kau katakan? Kau yang mengirimkan semua desain dan saran itu kepada Menteri Li?""Ya, Yang Mulia." Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama dua bulan terakhir, hamba telah mengamati kesulitan negara dari Istana Dingin. Meskipun hamba dikucilkan, hati hamba tetap untuk dinasti Chen dan kesejahteraan rakyat."Selir Lian melompat dari duduknya, wajahnya pucat namun berusaha mempertahankan senyuman. "Yang Mulia, ini pasti kebohongan! Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak pernah keluar dari istana, yang tidak memiliki pendidikan tentang pertania
Dua bulan berlalu sejak Dewi mengirimkan desain irigasi ke Menteri Li Wei. Strategi pertamanya berhasil melebihi harapan—sistem pengairan yang ia rancang tidak hanya diterapkan, tetapi juga menyelamatkan hasil panen musim gugur. Kaisar Zheng He sangat terkesan hingga menganugerahkan Menteri Li promosi dan hadiah yang melimpah. Namun yang lebih penting, Menteri Li kini penasaran setengah mati tentang siapa dalang jenius di balik desain tersebut. Dewi telah mengirimkan tiga "saran" lagi secara anonim: reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, metode penyimpanan pangan yang tahan lama, dan desain arsitektur paviliun baru yang lebih efisien namun tetap megah. Semuanya sukses besar. Dan semuanya membuat nama Menteri Li melambung tinggi di mata kaisar. "Niang niang, ada kabar!" Yun Xiang berlari masuk ke istana dengan napas terengah-engah. "Kaisar akan mengadakan Pesta Peony—perayaan besar untuk merayakan pemulihan hasil panen! Semua anggota istana diundang, termasuk... Anda." Dewi m
Malam itu, di bawah cahaya lentera yang redup, Dewi duduk di meja kerjanya yang lapuk sambil menulis dengan kuas. Namun yang ia tulis bukanlah puisi atau surat—melainkan diagram strategi yang rapi, lengkap dengan panah dan catatan di pinggirnya. Kebiasaan dari kehidupan lamanya ketika merencanakan kampanye fashion atau strategi bisnis. Yun Xiang mengintip dari balik bahu tuannya, mencoba memahami tulisan aneh yang penuh dengan kata-kata asing dan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Ini disebut 'mind mapping,'" jelas Dewi tanpa menoleh. "Cara mengorganisir pikiran dan strategi secara visual. Lebih efisien daripada menulis panjang lebar." "Luar biasa..." gumam Yun Xiang kagum. Dewi menunjuk ke diagram yang ia buat. "Lihat. Di puncak ada Kaisar Zheng He. Di bawahnya, ada tiga faksi utama: Faksi Selir Lian yang kuat karena dia memiliki telinga kaisar, Faksi para menteri tua yang loyal pada tradisi dan keluarga Jenderal Huiyin, dan Faksi netral yang hanya peduli pada sta







